Limusin hitam itu meluncur membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Di dalam kabin yang kedap suara, Alana duduk di tengah, diapit oleh Nathan dan Kenzie. Aroma parfum kayu cendana milik Nathan dan aroma maskulin yang segar dari Kenzie bercampur, memenuhi paru-paru Alana, menciptakan sensasi sesak yang anehnya mulai ia kenali.
"Rumah baru?" Alana memecah keheningan, menatap Nathan yang sejak tadi tidak melepaskan genggaman tangannya.
"Vila di Bogor terlalu banyak kenangan buruk, dan kediaman Menteng sudah dikepung wartawan karena penangkapan Ayah," sahut Nathan tenang. "Aku sudah menyiapkan sebuah penthouse tiga lantai di pusat kota. Keamanan tingkat tinggi, akses pribadi, dan yang paling penting... tidak ada yang bisa mengganggu kita di sana."
"Kita?" Kenzie mendengus, ia menyandarkan kepalanya di bahu Alana. "Maksudmu, kau yang menyiapkan semuanya dan aku hanya menumpang, Kak?"
"Kau bisa pergi kalau kau mau, Kenzie. Pintu selalu terbuka untukmu... untuk keluar," sindir Nathan tanpa menoleh.
"Sialan. Kau tahu aku tidak akan pernah meninggalkan Alana sendirian dengan sosiopat sepertimu." Kenzie mengeratkan pelukannya pada lengan Alana. "Al, jangan dengarkan dia. Di rumah baru nanti, aku akan pastikan kau punya ruang sendiri. Kau tidak perlu merasa terkurung."
Alana hanya diam, menatap tangannya yang terjepit di antara dua pria ini. "Bisakah kalian berhenti bertengkar? Aku lelah."
Nathan menghela napas, ia mengangkat tangan Alana dan mencium punggung tangannya dengan sangat lembut. "Maafkan kami, Al. Kau benar. Kita butuh istirahat."
Penthouse itu adalah definisi dari kemewahan yang dingin. Langit-langit tinggi, dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan skyline Jakarta, dan furnitur minimalis namun sangat mahal. Alana berdiri di tengah ruang tamu yang luas, merasa kecil di bawah kemegahan itu.
"Kamar utamamu ada di lantai tiga," Nathan menunjuk ke arah tangga spiral yang elegan. "Kamarku di sebelah kananmu, dan kamar Kenzie di lantai dua."
"Tunggu," Kenzie menyela cepat. "Kenapa aku di lantai dua?"
"Karena kau berisik," sahut Nathan pendek. Ia menoleh pada Alana. "Ayo, aku tunjukkan kamarmu."
Mereka bertiga naik ke lantai atas. Begitu pintu kamar Alana dibuka, Alana tertegun. Kamar itu didominasi warna putih dan pastel, sangat berbeda dengan kesan dingin di lantai bawah. Ada balkon pribadi yang luas dan sebuah perpustakaan mini di sudut ruangan.
"Kau menyukainya?" tanya Nathan, suaranya melembut saat ia berdiri di belakang Alana.
"Ini... indah. Terima kasih, Kak."
"Aku yang memilihkan bunganya!" Kenzie menyerobot masuk, menunjuk vas berisi mawar putih segar di meja samping tempat tidur. "Mawar biru milik Nathan terlalu mencolok. Putih lebih cocok untukmu sekarang. Melambangkan awal yang baru."
Nathan hanya memutar bola matanya. "Alana, mandilah. Aku sudah menyiapkan pakaian baru di walk-in closet. Setelah itu, kita makan malam. Ada hal yang harus kita bicarakan."
Makan malam itu berlangsung sunyi namun penuh ketegangan bawah sadar. Pelayan pribadi menyajikan hidangan tanpa suara, lalu menghilang. Alana duduk di kepala meja, dengan Nathan di sisi kanan dan Kenzie di sisi kiri.
"Jadi," Alana meletakkan garpunya. "Apa yang ingin kalian bicarakan?"
Nathan menyesap wine-nya perlahan. "Tentang bagaimana kita akan menjalani hidup mulai besok. Di depan publik, kau adalah adik kami yang baru kembali dari masa pemulihan trauma. Tidak boleh ada skandal. Tidak ada Sterling, tidak ada Wijaya."
"Dan di dalam rumah ini?" tanya Alana tajam.
Nathan menatap mata Alana, tatapannya berkilat gelap. "Di dalam rumah ini, tidak ada rahasia. Tidak ada batasan darah yang menghalangi kita lagi. Tapi aku ingin kita membuat aturan."
"Aturan apa?" Kenzie bertanya waspada.
"Tidak ada yang boleh menyentuh Alana tanpa izinnya," ucap Nathan tegas. "Kita bersaing secara adil, Kenzie. Siapa pun yang dia pilih nanti, yang lain harus menerima."
Kenzie tertawa sinis. "Kau bicara soal keadilan? Kau yang selalu menggunakan kekuasaanmu untuk mengurungnya!"
"Dan kau selalu menggunakan emosimu untuk memanipulasinya!" balas Nathan.
"Cukup!" Alana membanting sendoknya ke atas piring porselen. "Kalian bicara seolah-olah aku benar-benar barang yang bisa diperebutkan dengan aturan main."
"Al, bukan begitu maksud kami—" Kenzie mencoba meraih tangan Alana, namun Alana menariknya kembali.
"Kalian bilang kita tidak sedarah, itu bagus. Tapi itu tidak menghapus kenyataan bahwa kalian adalah monster yang menghancurkan satu sama lain hanya untuk aku," Alana berdiri, menatap mereka berdua dengan mata yang berkaca-kaca. "Jika kalian benar-benar mencintaiku, beri aku ruang untuk bernapas."
Alana berbalik dan berlari menuju kamarnya di lantai tiga. Ia mengunci pintu dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidur. Rasa lelah fisik dan mental benar-benar menghantamnya. Ia baru saja hendak memejamkan mata saat ia menyadari pintu balkonnya tidak terkunci.
Sesosok tubuh melompat masuk dari balkon.
"Ken?!" Alana terlonjak duduk.
Kenzie berdiri di sana dengan napas sedikit memburu, pakaiannya berantakan. Ia tidak mendekat, hanya berdiri di ambang pintu balkon yang terbuka.
"Aku tidak bisa tidur kalau tahu kau sedang menangis, Al," bisik Kenzie. Suaranya terdengar sangat manis dan tulus. "Aku tahu Nathan ingin membuat aturan formal yang membosankan itu. Tapi aku tidak bisa mengikuti aturan kalau itu artinya aku tidak bisa melihatmu."
Kenzie berjalan mendekat, ia berlutut di tepi tempat tidur Alana. "Aku tidak ingin memaksamu, Al. Aku hanya ingin kau tahu, kalau kau butuh seseorang untuk diajak lari dari kegilaan Nathan, aku ada di sini. Lewat balkon ini, kapan saja."
Kenzie memegang tangan Alana, mencium ujung jemarinya. "Selamat malam, mawar putihku."
Kenzie baru saja hendak berbalik pergi lewat jalan yang sama, saat pintu kamar Alana tiba-tiba terbuka dari dalam. Nathan berdiri di sana dengan kunci cadangan di tangannya, wajahnya terlihat sangat mengerikan karena amarah yang tertahan.
"Aku sudah menduga kau akan melakukan hal menjijikkan seperti ini, Kenzie," ucap Nathan dingin.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam, Kak! Kau sendiri kenapa masuk dengan kunci cadangan?" balas Kenzie menantang.
Nathan melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dan menguncinya kembali. Ia berjalan mendekat, berdiri di antara Kenzie dan Alana.
"Aku masuk karena aku merasa ada bau tikus di kamar ini," Nathan menatap Kenzie, lalu beralih pada Alana. "Kau lihat sendiri, Alana. Kenzie tidak akan pernah menghargai ruang pribadimu. Hanya aku yang bisa menjamin ketenanganmu."
"Ketenangan? Kau baru saja melanggar privasinya dengan kunci itu!" teriak Kenzie.
Alana menatap kedua pria itu yang kini berdiri sangat dekat dengannya. Ketegangan erotis dan kemarahan bercampur menjadi satu di udara kamar yang sempit.
"Kalian berdua... keluar sekarang juga!" perintah Alana.
Nathan tidak bergerak. Ia justru duduk di sisi tempat tidur yang lain, mengunci tatapan Alana dengan pandangan yang sangat posesif.
"Aku tidak akan membiarkan dia membawamu kabur lewat balkon itu, Alana. Malam ini, aku akan tidur di sini. Di kursi itu, memastikan tidak ada penyusup."
"Dan aku akan tetap di sini juga!" Kenzie duduk di lantai, bersandar pada kaki tempat tidur. "Aku tidak akan membiarkanmu sendirian dengannya!"
Alana memegang kepalanya yang berdenyut. "Kalian gila. Benar-benar gila."
Nathan mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu yang membuat jantung Alana hampir berhenti berdetak.
"Memang, Alana. Dan kau harus terbiasa dengan kegilaan ini, karena ada satu rahasia lagi yang belum dikatakan Wijaya padamu di aula tadi."
Alana menatap Nathan dengan takut. "Rahasia apa lagi?"
Nathan melirik Kenzie, lalu kembali pada Alana dengan senyum yang sangat manis namun penuh ancaman.
"Tentang wasiat asli ibumu. Tentang siapa yang sebenarnya memiliki hak atas dirimu secara legal sampai kau berusia dua puluh lima tahun."