Bab 28: Belenggu Sang Ibu

1501 Kata
Hening seketika menyelimuti kamar itu. Hanya suara detak jam dinding dan napas Kenzie yang masih memburu karena emosi. Alana menatap Nathan dengan tatapan tidak percaya. Wasiat? Ibunya sudah meninggal sepuluh tahun lalu dalam kecelakaan yang ia kira disengaja oleh Arkananta. Bagaimana mungkin ada sebuah wasiat yang muncul sekarang? "Apa maksudmu, Kak?" Alana bertanya, suaranya bergetar. "Ibu tidak meninggalkan apa-apa selain luka." Nathan memperbaiki posisi duduknya di tepi tempat tidur, memberikan kesan d******i yang mutlak. "Ibumu adalah wanita yang sangat cerdas, Alana. Dia tahu Arkananta dan Wijaya adalah dua sisi dari koin yang sama, haus kekuasaan. Dia menyiapkan sebuah dokumen legal yang dititipkan pada firma hukum di Singapura, yang hanya boleh dibuka jika kau ditemukan kembali atau saat kau berusia dua puluh satu tahun." Kenzie yang tadi duduk di lantai kini bangkit, menatap Nathan dengan curiga. "Dan kau sudah membacanya? Bagaimana bisa kau mendapatkan akses ke sana?" "Aku adalah CEO Arkananta Group, Kenzie. Tidak ada pintu yang tertutup bagiku jika aku cukup sabar mencarinya," sahut Nathan dingin. Ia beralih kembali pada Alana. "Dalam wasiat itu, ibumu menyatakan bahwa seluruh aset Wijaya yang diwariskan kepadamu tidak bisa kau kelola sendiri sampai usia dua puluh lima tahun. Dan yang paling penting... kau harus berada di bawah perwalian salah satu putra sah Arkananta untuk menjaga keamanan aset tersebut." Alana tertawa getir, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Jadi, bahkan ibuku sendiri menyerahkanku kembali pada monster?" "Bukan menyerahkanmu, Al. Dia ingin melindungimu dari Wijaya," Nathan mengoreksi dengan lembut, jemarinya mencoba meraih jemari Alana. "Dia tahu Wijaya akan menggunakanmu sebagai alat politik jika dia masih hidup. Dia memilih 'iblis' yang dia kenal daripada 'malaikat' yang dia curigai." Kenzie mengepalkan tinjunya. "Dan siapa yang dipilih sebagai wali? Kau? Atau aku?" Nathan terdiam sejenak, sebuah senyum penuh kemenangan tersirat di sudut bibirnya. "Ibumu tidak menyebutkan nama secara spesifik. Dia hanya menulis 'putra tertua atau putra yang mampu menjamin stabilitas'. Dan saat ini, secara hukum, aku adalah orangnya." "Persetan dengan itu!" Kenzie berteriak, ia melangkah mendekati Nathan. "Kau memanipulasi dokumen itu, kan? Kau ingin mengunci Alana agar dia tidak punya pilihan lain!" "Dokumen itu asli, Kenzie. Periksa saja sendiri jika kau punya akses ke firma hukum Tan & Associates di Singapura," tantang Nathan. Alana merasa kepalanya seolah ingin pecah. Ia menatap kedua pria itu bergantian. "Jadi ini alasan kalian begitu 'manis' di pesawat? Karena kalian tahu aku adalah kunci dari kekayaan yang luar biasa? Kalian tidak mencintaiku, kalian hanya mencintai apa yang aku bawa!" "Al, jangan bicara begitu!" Kenzie berlutut kembali di samping Alana, menatapnya dengan mata yang basah. "Aku bahkan tidak tahu soal wasiat itu sampai detik ini! Bagiku, kau adalah Alana-ku. Harta atau tidak, aku akan tetap memanjat balkon ini hanya untuk melihatmu tidur." "Dan aku," Nathan menyela, suaranya berat dan penuh emosi yang tertahan. "Aku sudah menghancurkan Ayahku sendiri untukmu, Alana. Aku mempertaruhkan nyawaku di London dan di gunung salju itu. Jika ini hanya soal uang, aku bisa mendapatkan sepuluh kali lipat dari aset Wijaya dengan cara lain. Tapi aku menginginkanmu. Hanya kau." Nathan berdiri, mendekati Alana hingga jarak mereka hanya beberapa inci. "Wasiat itu bukan belenggu bagiku, tapi perlindungan bagimu. Selama kau berada di bawah perwalianku, Wijaya tidak bisa menyentuhmu secara hukum. Kau aman." "Aman darinya, tapi tidak aman darimu," bisik Alana. Nathan menundukkan kepalanya, membisikkan sesuatu di telinga Alana yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. "Setidaknya di tanganku, kau akan menjadi ratu. Di tangan Wijaya, kau hanyalah pion." Kenzie menarik bahu Nathan, mencoba menjauhkan kakaknya dari Alana. "Cukup, Nathan! Kau membuatnya ketakutan!" "Dia harus tahu kenyataannya, Kenzie! Dunia luar tidak semanis cokelat yang kau berikan padanya!" balas Nathan. "Kalian berdua... keluar sekarang!" Alana berteriak, ia menunjuk ke arah pintu dengan tangan yang gemetar. "Aku ingin sendiri! Sekarang!" Nathan menatap Alana lama, seolah ingin memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja, sebelum akhirnya ia mengangguk kecil. "Baik. Aku akan keluar. Tapi ingat, Alana... besok pagi, pengacara akan datang untuk menandatangani dokumen perwalian itu. Kau tidak punya pilihan lain jika ingin tetap bebas dari Wijaya." Nathan berjalan keluar dengan langkah yang mantap dan elegan. Kenzie masih diam di tempat, ia menatap Alana dengan penuh sesal. "Al... aku minta maaf," bisik Kenzie. "Aku akan mencari cara lain. Aku janji. Aku tidak akan membiarkan Nathan memegang kendali penuh atas hidupmu." "Keluar, Kenzie," ucap Alana dingin. Kenzie menghela napas panjang, ia mencium puncak kepala Alana dengan sangat lembut sebelum akhirnya keluar lewat pintu balkon tempat ia masuk tadi. Alana sendirian di kamarnya yang luas. Ia berjalan menuju meja rias, menatap bayangannya di cermin. Kalung mawar biru sudah tidak ada, berganti dengan gelang perak pemberian Kenzie yang masih melingkar di tangannya. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas yang baru saja diganti kuncinya. Ia membuka laci meja rias, mencari sesuatu yang mungkin bisa membantunya. Di sana, ia menemukan sebuah amplop tua yang terselip di balik tumpukan buku. Amplop itu sudah agak menguning, dengan tulisan tangan ibunya yang sangat ia kenali. Dengan tangan gemetar, Alana membuka amplop itu. Isinya bukan dokumen legal, melainkan sebuah foto lama dan secarik surat pendek. “Alana, mawar kecilku. Jika suatu saat kau merasa terjepit di antara dua bayangan Arkananta, carilah kunci di balik lukisan mawar di ruang kerja ayahmu. Hanya kau yang bisa membukanya. Jangan percaya pada siapa pun, bahkan pada mereka yang mengaku mencintaimu.” Alana tertegun. Lukisan mawar di ruang kerja Tuan Arkananta? Ruang kerja itu sekarang pasti disegel oleh Nathan setelah penangkapan ayah mereka. Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya. Bukan gedoran kasar Kenzie atau ketukan formal Nathan. Ini ketukan yang sangat ragu-ragu. "Nona Alana? Ini Bi Sumi," suara pelayan tua yang sudah bekerja di keluarga Arkananta sejak Alana kecil terdengar dari balik pintu. Alana membuka pintu. Bi Sumi berdiri di sana dengan wajah cemas, memegang sebuah nampan berisi s**u hangat. "Nona... ada sesuatu yang harus saya sampaikan," bisik Bi Sumi sambil masuk dan menutup pintu dengan rapat. "Tadi saya tidak sengaja mendengar Tuan Nathan bicara di telepon. Dia tidak memberitahukan seluruh isi wasiat itu pada Nona." Alana mengerutkan kening. "Apa maksud Bibi?" Bi Sumi mendekat, suaranya hampir menyerupai bisikan angin. "Wasiat itu mengatakan bahwa perwalian akan berakhir seketika... jika Nona menikah dengan salah satu dari mereka atas kemauan Nona sendiri." Alana terperangah. Jadi itu alasannya Nathan begitu gencar mendekatinya? Dia tidak hanya ingin menjadi wali, dia ingin menjadi suaminya agar kekuasaan itu menjadi permanen? "Dan ada satu lagi, Nona," Bi Sumi menelan ludah, matanya berkaca-kaca. "Tuan Kenzie... dia tahu soal ini sejak di London. Dia hanya pura-pura tidak tahu agar Nona merasa dia adalah satu-satunya orang yang bisa dipercaya." Alana merasa dunianya benar-benar runtuh. Kenzie? Kenzie yang manis dan jujur itu juga membohonginya? "Nona harus hati-hati," Bi Sumi memegang tangan Alana. "Mereka berdua sedang bermain sandiwara untuk memenangkan hati Nona. Mereka bertaruh, Nona... mereka bertaruh siapa yang akan mendapatkan tanda tangan Nona di buku nikah lebih dulu." Alana terdiam, air matanya kini mengalir tanpa suara. Ia merasa dikhianati oleh semua orang yang ia cintai. Ia menatap gelang perak di tangannya, lalu melepasnya dengan kasar dan melemparnya ke sudut ruangan. "Terima kasih, Bi," ucap Alana dingin. "Bibi bisa keluar sekarang." Setelah pelayan itu pergi, Alana berdiri di tengah ruangan. Matanya kini tidak lagi menunjukkan ketakutan, melainkan amarah yang sangat dingin. Jika mereka ingin bermain, maka ia akan memberikan permainan yang tidak akan pernah mereka lupakan. Ia mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan singkat. “Kak Nathan, aku setuju untuk menandatangani dokumen perwalian itu besok pagi. Tapi dengan satu syarat.” Hanya dalam hitungan detik, balasan masuk. “Apa syaratnya, Sayang?” Alana tersenyum pahit, jarinya bergerak cepat di atas layar. “Aku ingin kita bertiga tinggal di kamar yang sama mulai malam ini. Aku ingin melihat siapa yang paling tulus menjagaku saat aku menutup mata.” Alana melempar ponselnya ke tempat tidur. Ia tahu pesan itu akan membuat Nathan dan Kenzie saling membunuh dalam kecemburuan, dan di tengah kekacauan itu, ia akan mencari jalan menuju ruang kerja ayahnya. Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka dengan kasar. Nathan dan Kenzie berdiri di sana secara bersamaan, keduanya menatap Alana dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kau serius dengan pesan itu, Alana?" tanya Nathan, matanya berkilat penuh gairah dan kecurigaan. Kenzie melangkah maju, wajahnya tampak bingung namun ada kilat harapan di sana. "Al... kau benar-benar ingin kami berdua di sini?" Alana tersenyum manis, senyum paling palsu yang pernah ia buat, lalu ia duduk di tengah tempat tidur besar itu dan menepuk sisi kiri dan kanannya. "Kenapa tidak? Bukankah kalian bilang tidak ada lagi batasan darah? Mari kita lihat, siapa yang akan bertahan sampai matahari terbit tanpa saling menyakiti." Nathan dan Kenzie saling berpandangan, ketegangan di antara mereka meningkat hingga ke titik didih. Mereka berdua berjalan mendekati tempat tidur, masing-masing menempati sisi yang diminta Alana. Alana berbaring di tengah, memejamkan mata saat ia merasakan tangan Nathan membelai rambutnya di satu sisi, dan tangan Kenzie menggenggam jemarinya di sisi lain. "Selamat tidur, mawar kecilku," bisik Nathan. "Selamat tidur, Al," gumam Kenzie. Alana tidak menjawab. Di balik kelopak matanya yang tertutup, ia membayangkan lukisan mawar di ruang kerja ayahnya. Ia tahu, malam ini adalah awal dari peperangan yang sesungguhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN