Bab 29: Di Antara Dua Predator

1193 Kata
Lampu utama kamar dipadamkan, menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur di sudut ruangan yang membiaskan bayangan panjang di dinding. Alana bisa merasakan kasur empuk itu amblas di kedua sisinya. Kehadiran Nathan dan Kenzie terasa begitu nyata, begitu mendominasi, hingga udara di kamar itu seolah-olah menipis. Alana berbaring telentang, kaku seperti papan. Di sisi kanannya, Nathan berbaring dengan posisi miring, menumpu kepalanya dengan tangan, terus-menerus menatap profil wajah Alana dalam kegelapan. Di sisi kirinya, Kenzie berbaring telentang, namun jemarinya tidak berhenti mengusap punggung tangan Alana dengan gerakan yang ritmis dan posesif. "Kau tidak bisa tidur, Al?" bisik Kenzie. Suaranya rendah, hampir menyerupai gumaman yang menggetarkan bantal. "Bagaimana aku bisa tidur jika aku merasa seperti mangsa yang sedang diawasi?" sahut Alana tanpa menoleh. Nathan terkekeh, suara tawa yang dingin namun terdengar sangat dekat di telinga Alana. "Mangsa? Kau adalah ratunya di sini, Alana. Kami hanya pengawal yang memastikan tidak ada mimpi buruk yang berani mendekatimu." "Atau memastikan tidak ada satu pun dari kalian yang mencuri start," sindir Alana tajam. Nathan mengulurkan tangannya, merapikan anak rambut Alana yang berantakan. Jemarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit dahi Alana, membuat gadis itu sedikit tersentak. "Kenzie tidak akan berani melakukan apa pun selama aku ada di sini. Begitu pun sebaliknya. Bukankah ini yang kau inginkan? Keseimbangan?" "Keseimbangan yang memuakkan," gumam Alana. Hening kembali menyelimuti. Namun, ketegangan justru semakin memuncak. Alana bisa merasakan tatapan Nathan yang membakar kulitnya, dan di saat yang sama, ia merasakan Kenzie menarik tangannya lebih dekat, mencium buku-buku jarinya dengan lembut. "Ingat saat kita masih kecil, Al?" Kenzie berbisik, mengabaikan kehadiran Nathan. "Saat kau takut petir dan kau bersembunyi di bawah selimutku? Aku berjanji padamu saat itu bahwa aku akan selalu melindungimu. Janji itu tidak pernah berubah." "Berhenti menjual kenangan masa kecil, Kenzie," potong Nathan datar. "Kau hanya membuat dirimu terlihat menyedihkan. Alana sekarang butuh kepastian masa depan, bukan nostalgia yang sudah basi." "Setidaknya aku punya kenangan yang nyata dengan dia, Nathan! Bukan sekadar dokumen perwalian dan kontrak bisnis!" balas Kenzie, ia mulai bangkit duduk, menatap kakaknya melewati tubuh Alana. "Diamlah, atau aku akan menyeretmu keluar sekarang juga," ancam Nathan, suaranya naik satu oktav. Alana memejamkan mata rapat-rapat. "Cukup! Jika kalian bertengkar lagi, aku yang akan keluar!" Kedua pria itu terdiam. Alana merasakan Nathan kembali berbaring, namun kali ini pria itu menggeser tubuhnya lebih dekat hingga lengan mereka bersentuhan. Di sisi lain, Kenzie pun tidak mau kalah, ia merapatkan tubuhnya, memeluk lengan Alana dengan posesif. Alana menunggu. Ia mengatur napasnya agar terdengar teratur, berpura-pura jatuh ke dalam tidur yang lelap. Satu jam berlalu. Napas Kenzie mulai terdengar berat dan stabil, pria itu selalu mudah tertidur jika merasa nyaman. Namun, Alana tahu Nathan adalah tipe orang yang bisa terjaga sepanjang malam hanya untuk menjaga teritorinya. Perlahan, Alana mulai menggerakkan kakinya, mencoba melepaskan diri dari himpitan mereka. Nathan tidak bergerak, namun Alana bisa merasakan mata pria itu masih terbuka lebar di balik kegelapan. "Kau mau ke mana, Alana?" tanya Nathan, suaranya sangat lirih, hampir seperti desisan. "Aku... aku ingin minum. Tenggorokanku kering," Alana mencari alasan tercepat. Nathan bangkit duduk, gerakannya sangat anggun dan tanpa suara. "Aku akan mengambilkannya untukmu." "Tidak perlu. Aku ingin berjalan sedikit. Aku merasa sesak di sini," Alana segera turun dari tempat tidur sebelum Nathan bisa melarangnya. Alana berjalan menuju pintu kamar, namun matanya melirik ke arah balkon tempat Kenzie tadi masuk. Ia tahu Nathan akan mengawasinya jika ia keluar lewat pintu utama. Alana berbelok menuju kamar mandi yang luas di dalam kamarnya, mengunci pintu dari dalam, dan menyalakan keran air agar suaranya terdengar seperti ia sedang membasuh muka. Di dalam kamar mandi, Alana menarik napas panjang. Ia membuka jendela kecil di bagian atas yang terhubung dengan koridor layanan di lantai tiga. Dengan susah payah, ia memanjat rak handuk dan berhasil menyelinap keluar. Ia harus sampai ke ruang kerja ayahnya. Koridor itu gelap dan sunyi. Alana berjalan tanpa alas kaki, langkahnya nyaris tak terdengar di atas karpet tebal. Ia turun menuju lantai dua menggunakan tangga pelayan. Di depan pintu ruang kerja Tuan Arkananta, terdapat garis segel polisi, namun pintunya tidak benar-benar terkunci rapat karena Nathan sering masuk ke sana untuk mengambil dokumen. Alana menyelinap masuk. Ruangan itu beraroma cerutu tua dan debu. Ia segera mencari lukisan mawar yang disebutkan dalam surat ibunya. Lukisan itu berukuran besar, menggambarkan mawar merah yang hampir layu, tergantung di balik meja kerja jati yang megah. Dengan tangan gemetar, Alana meraba bingkai lukisan itu. Di bagian belakang bawah, ia menemukan sebuah lubang kunci kecil yang sangat tersembunyi. "Kuncinya... aku butuh kuncinya," bisik Alana panik. Ia teringat kalung mawar biru yang sempat ia jatuhkan di aula. Nathan mengambilnya kembali malam itu. Apakah kunci itu ada di dalam liontinnya? Tiba-tiba, lampu ruangan menyala terang. Alana tersentak dan berbalik. Di ambang pintu, Nathan berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya tampak sangat tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan "tahanan" tidurnya. "Kau mencari ini, Sayang?" Nathan mengangkat liontin mawar biru di tangannya. Alana memucat. "Kau... kau sudah tahu?" "Aku sudah tahu tentang surat ibumu sejak lama, Alana. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk melihat apakah kau akan cukup berani untuk mencarinya sendiri," Nathan berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti dentuman hakim. "Berikan padaku, Nathan. Itu milik ibuku!" Nathan berhenti tepat di depan Alana, ia mengangkat liontin itu tinggi-tinggi. "Di dalam sini memang ada kunci. Tapi kunci ini tidak hanya membuka brankas di balik lukisan ini. Kunci ini membuka rahasia yang akan membuatmu memohon padaku untuk tidak pernah meninggalkanku." "Apa maksudmu?" Nathan tersenyum tipis, ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah pemantik api. "Ibarmu bukan ingin melindungimu dari Wijaya, Alana. Dia ingin melindungimu dari kenyataan bahwa kau bukanlah anak Wijaya, dan bukan anak Arkananta." Alana terperangah. "Apa?" "Kau adalah anak dari pria yang membunuh ibumu. Dan pria itu... saat ini sedang berada di Jakarta, bekerja untuk Lord Sterling." Suara debuman keras terdengar dari arah pintu. Kenzie muncul dengan napas tersengal, wajahnya penuh amarah. "Jangan bohongi dia lagi, Nathan! Aku sudah membaca file aslinya!" Kenzie berlari menuju Alana dan menariknya menjauh dari Nathan. "Al, jangan dengarkan dia! Nathan sengaja memanipulasi surat itu agar kau merasa tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain dia!" Nathan menatap Kenzie dengan pandangan meremehkan. "Kau pikir kau pahlawan, Kenzie? Kau bahkan tidak tahu bahwa Sterling datang ke sini bukan untuk aset Wijaya, tapi untuk menjemput putrinya yang hilang." Alana menatap kedua pria itu bergantian, kepalanya terasa berputar hebat. "Jadi... Lord Sterling... adalah ayahku?" "Tidak!" teriak Kenzie. "Ya," sahut Nathan di saat yang bersamaan. Di tengah perdebatan itu, ponsel di meja kerja berbunyi nyaring. Sebuah panggilan video masuk dari nomor tak dikenal. Nathan menekan tombol speaker. Layar monitor besar di ruang kerja menyala, memperlihatkan sosok Tuan Arkananta di dalam sel penjara, namun ia tidak tampak sedih. Ia justru tertawa terbahak-bahak. "Kalian bertiga benar-benar bodoh," suara Tuan Arkananta bergema. "Alana, kau ingin tahu siapa ayahmu? Lihatlah ke arah pintu sekarang juga." Pintu ruang kerja perlahan terbuka kembali. Seorang pria dengan setelan rapi masuk, namun wajahnya tidak asing lagi bagi mereka. Itu adalah pengacara keluarga Wijaya yang selama ini membantu mereka. Pria itu tersenyum dingin dan mengeluarkan sebuah pistol peredam suara. "Maaf, Nona Alana. Tapi permainan ini harus berakhir sekarang sebelum kau menemukan apa yang ada di balik lukisan itu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN