Bab 30: Labirin Pengkhianatan

1255 Kata
Laras pistol hitam itu berkilat dingin di bawah lampu kristal. Pengacara Wijaya, pria yang selama ini tampak membungkuk hormat, kini berdiri tegak dengan tatapan predator. Nathan menarik Alana ke belakang punggungnya sementara Kenzie langsung memasang posisi menyerang. "Pak Hendra? Apa-apaan ini?" Alana berteriak dengan suara parau. "Maaf, Nona Alana. Tapi loyalitasku tidak pernah pada Wijaya, apalagi pada Arkananta," Hendra tersenyum tipis. "Aku bekerja untuk seseorang yang jauh lebih sabar menunggu momen ini." "Sterling," desis Nathan. "Kau anjing peliharaan Sterling selama ini." "Bukan Sterling, Nathan," potong Hendra. "Sterling hanyalah pion. Pengalihan isu yang sempurna agar kalian tidak melihat siapa yang sebenarnya mengendalikan bursa saham dunia dari balik bayang-bayang." "Cukup omong kosongnya!" Kenzie menerjang maju namun Hendra dengan tenang melepaskan satu tembakan ke arah lantai tepat di depan kaki Kenzie. Phut! Suara peredam itu terdengar seperti embusan napas kematian. Kenzie terpaksa berhenti. "Jangan bergerak, Tuan Muda Kenzie. Aku tidak ingin mengotori karpet mahal ini dengan darahmu. Belum saatnya," Hendra beralih pada Alana. "Nona, berikan liontin mawar biru itu. Sekarang." "Kenapa kau begitu menginginkannya?" Alana bertanya dengan tangan yang mencengkeram jas Nathan. "Karena di dalam situ bukan hanya kunci brankas," Hendra melangkah maju. "Di dalam situ ada mikrocip yang berisi daftar seluruh pejabat yang telah disuap oleh aliansi Wijaya-Arkananta selama tiga puluh tahun. Itu adalah kunci untuk menghancurkan negara ini, atau menguasainya." Nathan tertawa sinis dengan suara yang merendahkan. "Kau pikir aku akan memberikannya padamu? Aku lebih baik menelannya daripada memberikannya pada pengkhianat sepertimu." "Kau mungkin tidak peduli pada nyawamu, Nathan," Hendra mengarahkan pistolnya tepat ke dahi Alana. "Tapi bagaimana dengan nyawa adik kesayanganmu ini? Atau mungkin tunanganmu? Aku bingung menyebut statusnya sekarang." "Jangan sentuh dia!" Kenzie berteriak dengan mata yang berkilat penuh amarah. "Mundur, Kenzie!" perintah Nathan tanpa menoleh. Ia menatap Hendra dengan mata elang. "Kau menembaknya, kau kehilangan segalanya. Mikrocip itu memiliki protokol penghancuran otomatis jika detak jantung Alana berhenti. Aku yang memasangnya." Hendra tertegun sejenak. "Kau berbohong." "Coba saja," tantang Nathan. "Kau tahu aku cukup gila untuk melakukan itu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memiliki Alana, hidup atau mati, kecuali aku." "Kau sosiopat menjijikkan, Nathan!" teriak Kenzie. "Kau menjadikannya bom waktu?" "Aku menjadikannya aman, Kenzie! Sesuatu yang tidak bisa kau lakukan dengan otot bodohmu itu!" Nathan membentak. Alana merasa dunianya runtuh. Ia menatap Nathan dengan ngeri. "Kau memasang sesuatu di tubuhku tanpa izin? Kak, kau bilang kau melindungiku!" "Memang, Alana! Ini satu-satunya cara agar orang-orang seperti Hendra tidak berani menarik pelatuknya!" Nathan membalas dengan mata yang memancarkan obsesi mengerikan. Hendra menurunkan pistolnya sedikit dan tampak bimbang. "Jika itu benar, maka aku akan membawamu hidup-hidup, Nona. Sterling akan senang membedahmu dengan tenang di laboratoriumnya." "Tidak akan ada yang membawanya!" Kenzie kembali menerjang dan kali ini ia berhasil menendang tangan Hendra. Pistol itu terlempar ke sudut ruangan. Kenzie dan Hendra terlibat baku hantam yang brutal. Kenzie menghajar Hendra dengan pukulan liar untuk meluapkan seluruh emosinya. Namun Hendra ternyata terlatih dalam bela diri taktis. Ia berhasil memukul balik Kenzie hingga terjerembap ke meja jati. "Kenzie!" Alana hendak berlari menolong namun Nathan menahan lengannya dengan kuat. "Tetap di sini, Alana! Ini kesempatannya!" Nathan menarik Alana menuju lukisan mawar. Ia menekan liontin mawar biru ke lubang kunci di balik bingkai. Klik. Lukisan itu bergeser secara otomatis memperlihatkan sebuah brankas baja kecil yang tertanam di dinding. Nathan dengan cepat menekan kode digital. "Apa yang kau lakukan, Kak? Tolong Kenzie!" tangis Alana. "Kenzie bisa menjaga dirinya sendiri! Aku butuh dokumen di dalam sini untuk mengeluarkan kita dari Jakarta malam ini!" Nathan merogoh isi brankas. Namun wajah Nathan mendadak pucat. Di dalam brankas itu tidak ada tumpukan dokumen atau uang. Hanya ada sebuah surat kecil dengan logo rumah sakit jiwa di Swiss. "Apa ini?" Nathan membuka surat itu dengan tangan gemetar. Kenzie berhasil memukul Hendra hingga pingsan dengan vas bunga besar. Ia terengah-engah dan mendekati Nathan serta Alana. "Apa yang kau temukan? Uangnya?" Nathan tidak menjawab. Ia membaca surat itu dengan mata yang membelalak. "Tidak. Ini tidak mungkin. Ayah membohongi kita semua." Alana merebut surat itu dari tangan Nathan. Di sana tertulis bahwa pasien bernama Alana Wijaya didiagnosis mengalami amnesia disosiatif akibat trauma berat. Catatan tambahan menyebutkan bahwa pasien bukan anak dari Wijaya maupun Arkananta. Pasien adalah satu-satunya saksi kunci pembunuhan istri Wijaya yang dilakukan oleh putra tertua Arkananta sepuluh tahun lalu. Alana menatap Nathan dengan pandangan yang kosong. "Putra tertua. Itu kau, Kak." Nathan mundur selangkah dengan wajah yang kehilangan warna. "Alana, aku bisa jelaskan. Malam itu adalah kecelakaan. Aku hanya ingin melindungi Ibu kita!" "Kau membunuhnya?" Kenzie menatap kakaknya dengan jijik. "Kau membunuh ibu Alana lalu kau berpura-pura menjadi pahlawannya selama sepuluh tahun?" "Aku melakukannya untuk kita, Kenzie! Wijaya ingin menghancurkan Ayah!" Nathan berteriak defensif. "Kau menghancurkan jiwanya, Nathan!" Kenzie menarik Alana ke sisinya. "Ayo, Al. Kita pergi dari sini. Aku tidak akan membiarkanmu bersama pembunuh ini satu detik pun." Alana masih terpaku pada surat itu. "Lalu siapa aku? Jika aku bukan anak mereka, siapa aku sebenarnya?" Tiba-tiba suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah balkon. Sesosok pria dengan jubah sutra mahal melangkah masuk sambil memegang sebuah cerutu yang masih menyala. Wajahnya sangat mirip dengan Alana namun dengan versi yang jauh lebih tua dan kejam. "Kau adalah mahakarya terbesarku, Alana," ucap pria itu. "Lord Sterling?" Kenzie menodongkan pistol Hendra yang tadi terjatuh. "Bukan Sterling, Kenzie. Panggil aku Tuan Besar," pria itu tersenyum. "Sterling hanyalah sepupuku yang bodoh. Dan Alana, kau bukan anak saksi kunci. Kau adalah klon pertama yang berhasil diciptakan dari sel telur mendiang istri Wijaya dan DNA-ku sendiri." Ruangan itu mendadak sunyi sesunyi kuburan. "Klon?" Alana berbisik dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Kenapa kau pikir kau begitu sempurna? Kenapa kau pikir dua pria ini begitu terobsesi padamu? Karena kau dirancang untuk dicintai, Alana. Kau adalah produk dari proyek Mawar Biru yang diinginkan seluruh dunia," pria itu melangkah mendekat. Nathan tertawa histeris dengan tawa yang benar-benar gila. "Produk? Kau bilang wanita yang kucintai adalah sebuah produk?" "Produk yang sangat mahal, Nathan. Dan sekarang masanya sudah habis. Aku datang untuk menjemput propertiku," pria itu memberi isyarat ke arah luar balkon. Tiba-tiba helikopter tempur muncul di depan jendela dan mengarahkan lampu sorotnya ke dalam ruangan. Belasan tali meluncur turun dan tentara bayaran mulai masuk ke dalam ruangan. Nathan menarik pistol dari balik saku celananya sementara Kenzie berdiri di depan Alana dengan tangan terkepal. "Kau harus melangkahi mayatku sebelum menyentuhnya!" teriak Kenzie. "Dengan senang hati," sahut Tuan Besar. Pria itu menekan sebuah tombol di jam tangannya. Seketika Alana berteriak kesakitan sambil memegang kepalanya yang terasa seperti meledak. "Alana! Ada apa?!" Nathan menangkap tubuh Alana yang limbung. "Chip-nya," Alana mengerang. "Kak, chip-nya aktif." Nathan menatap Tuan Besar dengan amarah yang mematikan. "Kau yang memasang chip itu, bukan aku?" Tuan Besar tersenyum puas. "Tentu saja. Dan sekarang, Alana, aktifkan Protokol Pemusnahan A. Habisi siapapun yang ada di ruangan ini." Mata Alana yang tadinya bening mendadak berubah menjadi abu-abu metalik yang dingin. Ia berdiri dengan gerakan yang kaku dan menatap Nathan serta Kenzie seolah-olah mereka adalah orang asing yang harus dimusnahkan. "Alana, ini aku, Kenzie," Kenzie mencoba menyentuh bahu Alana. Alana dengan cepat memutar tangan Kenzie dan membantingnya ke lantai dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Nathan menodongkan pistolnya ke arah Tuan Besar namun Alana sudah berdiri di depan pria itu untuk menghalangi tembakan Nathan. "Tembak dia, Nathan," tantang Tuan Besar. "Tembak wanita yang kau puja atau biarkan dia merobek jantungmu sekarang juga." Nathan menatap mata Alana yang hampa. Tangannya yang memegang pistol gemetar hebat. "Alana, kumohon," bisik Nathan. Alana melangkah maju dan tangannya mencekik leher Nathan dengan kekuatan baja. "Maaf, Kak," suara Alana terdengar dingin seperti mesin. "Target teridentifikasi. Eliminasi dimulai." ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN