Bab 31: Denyut Terakhir

1487 Kata
Cengkeraman tangan Alana di leher Nathan semakin menguat. Wajah Nathan mulai membiru, namun ia tidak melepaskan pistolnya, juga tidak mengarahkannya pada Alana. Ia hanya menatap mata abu-abu metalik itu dengan sisa-sisa napas yang tersengal. "Alana... lihat aku," bisik Nathan parau. "Target... harus... dieliminasi," suara Alana terdengar datar, tanpa emosi, seperti mesin yang sedang membacakan baris kode. Kenzie bangkit dari lantai dengan susah payah, tulang rusuknya terasa retak akibat bantingan Alana tadi. Ia melihat kakaknya hampir mati dan Alana berubah menjadi monster. "Hentikan! Alana, ini Kenzie!" teriak Kenzie sambil menerjang ke arah Tuan Besar yang berdiri santai di dekat balkon. Tuan Besar hanya melambaikan tangan, dan dua tentara bayaran langsung menghadang Kenzie, menghantam perutnya dengan popor senjata. Kenzie tersungkur, memuntahkan darah ke atas karpet. "Sia-sia, Kenzie. Dia tidak bisa mendengarmu. Frekuensi chip itu sudah mengunci pusat logikanya," Tuan Besar menghisap cerutunya dalam-dalam. "Nathan, kenapa kau tidak menembak? Bukankah kau selalu bilang kau adalah pemenang yang dingin?" Nathan menjatuhkan pistolnya ke lantai. Klung. Suara logam itu bergema di ruangan yang tegang. "Aku... tidak akan... menyakitinya," desis Nathan sambil memegang pergelangan tangan Alana yang mencekiknya. "Bodoh. Cinta benar-benar merusak produk terbaikku," Tuan Besar menggelengkan kepala. "Alana, selesaikan sekarang. Patahkan lehernya." Jari-jari Alana mulai menekan lebih dalam. Bunyi gemertak halus terdengar dari leher Nathan. Namun, tepat sebelum kesadaran Nathan hilang, ia membisikkan satu kata yang sangat pelan. "Mawar... Biru... Enam... Satu..." Seketika, gerakan Alana membeku. Matanya berkedip-kedip cepat, beralih dari abu-abu ke bening, lalu kembali lagi ke abu-abu. Cengkeramannya melonggar. "Apa yang kau lakukan?" Tuan Besar berteriak, wajahnya berubah tegang. "Alana! Lanjutkan perintah!" "Kode... interupsi... terdeteksi," Alana bergumam, tubuhnya gemetar hebat seolah-olah ada dua kekuatan yang sedang bertarung di dalam kepalanya. Nathan jatuh terduduk, terbatuk-batuk sambil menghirup oksigen dengan rakus. Kenzie melihat kesempatan itu dan menendang kaki salah satu tentara bayaran, lalu merebut pistol di lantai dan menembak lampu kristal utama. Prang! Ruangan seketika menjadi gelap gulita, hanya menyisakan lampu sorot helikopter yang bergerak liar dari luar. "Alana, lari ke balkon!" teriak Kenzie dalam kegelapan. "Jangan biarkan mereka pergi!" raung Tuan Besar. Suara tembakan membabi buta memenuhi ruangan. Nathan merangkak dalam gelap, menarik kaki Alana yang masih berdiri kaku. "Alana, ikut aku!" "Sistem... gagal... rebooting..." Alana terjatuh di pelukan Nathan. Nathan menggendong Alana dan berlari menuju pintu rahasia di balik rak buku, sementara Kenzie terus membalas tembakan tentara bayaran untuk memberikan waktu bagi mereka. "Kenzie, cepat!" teriak Nathan dari ambang pintu rahasia. "Pergilah dulu! Bawa dia ke laboratorium bawah tanah di Menteng! Hanya ada alat pemutus sinyal di sana!" Kenzie berteriak sambil berlindung di balik meja jati. "Kau akan mati di sini, Bodoh!" "Aku lebih baik mati daripada melihatnya menjadi boneka pria itu lagi! Pergi, Nathan!" Nathan ragu sejenak, namun ia melihat laser merah dari senjata tentara bayaran mulai membidik ke arah Alana. Ia tidak punya pilihan. Ia menutup pintu rahasia itu tepat saat sebuah ledakan kecil menghantam rak buku tersebut. --- Dua jam kemudian, di sebuah laboratorium tersembunyi di bawah kediaman lama Arkananta di Menteng. Alana terbaring di atas meja operasi perak, tubuhnya dipenuhi kabel-kabel sensor. Nathan berdiri di depan monitor, jemarinya bergerak secepat kilat di atas papan ketik. Pelipisnya berdarah, namun ia tidak peduli. "Ayo, sedikit lagi..." gumam Nathan. "Di mana... aku?" suara Alana terdengar lemah. Matanya terbuka, kali ini murni berwarna bening, namun tampak sangat ketakutan. "Kau aman, Alana. Aku sedang mematikan sinyal dari Tuan Besar," Nathan mendekat, membelai dahi Alana. "Maafkan aku. Maafkan aku karena selama ini aku tahu tentang chip itu namun aku pikir aku bisa mengendalikannya sendiri." "Kak... Kenzie di mana?" Alana mencoba duduk namun tubuhnya terlalu lemah. Nathan terdiam. Ia menatap pintu laboratorium yang tertutup rapat. "Kenzie sedang... dia sedang mengalihkan perhatian mereka. Dia akan menyusul." "Kau berbohong," Alana menatap mata Nathan. "Dia tertangkap, kan? Atau dia..." "Dia kuat, Alana. Kenzie jauh lebih keras kepala daripada yang kau kira," Nathan mencoba meyakinkan, meski hatinya sendiri dipenuhi kecemasan. Tiba-tiba, layar monitor di laboratorium itu berubah menjadi statis, lalu menampilkan wajah Tuan Besar yang sedang duduk di ruang kerja yang tadi hancur. Di belakangnya, Kenzie tampak terikat di kursi dengan wajah yang babak belur, sebuah bom waktu melingkar di lehernya. "Halo, Nathan. Kau pikir laboratorium tua milik ayahmu itu bisa melindungimu?" Tuan Besar tersenyum licik. "Lepaskan Kenzie!" teriak Alana sambil berusaha melepas kabel di tubuhnya. "Tentu, Alana. Aku akan melepaskannya. Tapi dengan satu syarat," Tuan Besar mendekatkan kamera ke wajah Kenzie yang setengah sadar. "Nathan, kau punya waktu tiga puluh menit untuk mengembalikan Alana ke helipad di atas gedung ini. Jika tidak, Kenzie akan menjadi kembang api tercantik yang pernah kau lihat." "Jangan datang, Nathan! Jangan bawa dia ke sini!" Kenzie berteriak meski suaranya tercekik. Tuan Besar memukul wajah Kenzie dengan ujung cerutunya. "Diamlah, Properti Rusak." Layar itu mati. Keheningan yang mengerikan menyelimuti laboratorium. Nathan menatap Alana, lalu menatap peralatan operasinya. "Aku bisa melepaskan chip itu sekarang, Alana. Tapi itu butuh waktu satu jam. Dan kita hanya punya tiga puluh menit sebelum Kenzie mati," suara Nathan terdengar sangat hancur. Alana menatap tangan Nathan yang gemetar. Ia tahu pilihan ini mustahil. Jika Nathan melakukan operasi, Kenzie mati. Jika mereka pergi sekarang, Alana akan tetap menjadi boneka yang bisa dikendalikan kapan saja. "Lakukan operasinya, Kak," ucap Alana tenang. "Tapi Kenzie—" "Lakukan operasinya. Aku punya rencana," Alana memegang tangan Nathan. "Percayalah padaku kali ini. Kita akan menyelamatkan Kenzie dengan caraku." "Cara apa? Kau bahkan tidak bisa berdiri!" Alana tersenyum, senyum yang sangat mirip dengan ibunya, penuh dengan kecerdikan yang mematikan. "Tuan Besar bilang aku adalah produk terbaiknya, kan? Maka biarkan produk ini memberikan kejutan terakhir untuk penciptanya." Nathan menatap Alana lama, lalu ia mengangguk. Ia mulai menyiapkan laser bedah. "Ini akan sangat menyakitkan, Alana. Tanpa bius total, karena kita butuh sarafmu tetap aktif untuk mem bypass enkripsinya." "Lakukan saja. Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan pengkhianatan kalian selama ini." Satu jam berlalu dalam ketegangan yang menyiksa. Nathan berhasil mengeluarkan mikrocip berdarah itu dari tengkuk Alana tepat saat alarm di ponselnya berbunyi. Waktu habis. Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari atas gedung. Laboratorium itu berguncang hebat. "Kenzie!" Alana berteriak. Nathan segera mengecek cctv gedung. "Bukan bom di leher Kenzie. Itu serangan dari luar. Wijaya... Ayahmu... dia membawa tentara bayarannya sendiri untuk merebutmu kembali dari Tuan Besar!" "Jadi sekarang mereka saling bunuh?" Alana bangkit, mengenakan jaket kulit hitam milik Nathan. "Bagus. Itu artinya tidak ada yang mengawasi pintu belakang." "Kau mau ke mana?" Nathan menahan lengan Alana. "Menjemput Kenzie. Dan mengakhiri semua ini," Alana menatap Nathan dengan tatapan yang tajam. "Kau ikut denganku, atau kau mau tetap di sini menjadi pecundang yang bersembunyi di balik monitor?" Nathan tertegun, lalu sebuah seringai tipis muncul di bibirnya. Ia mengambil dua pistol otomatis dari lemari senjata. "Aku tidak pernah menjadi pecundang, Alana. Aku hanya menunggu undanganmu." Mereka berdua lari menaiki tangga menuju atap gedung yang kini sudah menjadi medan perang. Di atas sana, helikopter Tuan Besar mencoba lepas landas, sementara anak buah Wijaya menghujani mereka dengan tembakan. Alana melihat Kenzie masih terikat di kursi di tengah helipad, sementara Tuan Besar bersiap masuk ke dalam helikopter. "Tuan Besar!" teriak Alana. Pria itu menoleh dan tersenyum lebar. "Ah, kau datang juga, Sayang! Tepat waktu. Aktifkan Protokol—" "Protokol itu sudah mati, seperti ambisimu!" Alana mengangkat mikrocip berdarah di tangannya, lalu menghancurkannya dengan tumit sepatunya. Tuan Besar tertegun. "Bagaimana mungkin... kau masih hidup tanpa chip itu?" "Karena aku bukan produkmu," Alana menodongkan pistol yang diberikan Nathan tepat ke arah tangki bahan bakar helikopter. "Aku adalah mawar yang memiliki duri sendiri." "Alana, jangan!" teriak Kenzie dari kursinya. "Tangkinya akan meledak!" Alana tidak peduli. Ia menatap mata Tuan Besar dengan kebencian yang murni. "Selamat tinggal, Pencipta." Tepat saat Alana hendak menarik pelatuknya, sebuah peluru melesat dari arah kegelapan dan menghantam bahu Alana hingga ia terjatuh. "Berhenti!" suara itu terdengar sangat berwibawa. Wijaya muncul dari balik reruntuhan pintu akses, memegang senapan laras panjang. Di sampingnya, Tuan Arkananta yang entah bagaimana bisa lolos dari penjara, berdiri dengan wajah penuh dendam. "Kalian semua tidak akan mendapatkan dia," ucap Wijaya dingin. "Jika aku tidak bisa memilikinya sebagai aset Wijaya, maka tidak ada seorang pun yang boleh memilikinya." Wijaya mengarahkan senjatanya bukan ke arah Tuan Besar, tapi ke arah Kenzie yang masih terikat bom. "Satu gerakan lagi, dan aku akan meledakkan putra kesayanganmu ini, Arkananta," ancam Wijaya. Alana menatap Nathan, lalu menatap Kenzie, dan terakhir menatap kedua ayahnya yang gila itu. Ia menyadari satu hal: selama pria-pria ini masih hidup, ia tidak akan pernah benar-benar bebas. "Kak Nathan..." bisik Alana sambil menekan luka di bahunya. "Kau punya satu peluru cadangan di sakumu, kan?" Nathan menatap Alana, lalu ia merogoh sakunya. Ia tahu apa yang diminta Alana. Ini adalah pilihan yang akan mengubah hidup mereka selamanya. "Pilih satu, Alana," bisik Nathan sambil menyodorkan pistolnya kembali. "Siapa yang harus mati duluan agar drama ini berakhir?" Alana mengambil pistol itu dengan tangan gemetar, matanya beralih dari Wijaya ke Arkananta, lalu ke Tuan Besar. "Bukan mereka," ucap Alana lirih. Ia mengarahkan pistol itu ke kepalanya sendiri. "Alana, jangan!" teriak Nathan dan Kenzie bersamaan. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN