Bab 32: Duri Terkahir Sang Mawar

1610 Kata
Angin kencang dari baling-baling helikopter menyambar rambut Alana yang berantakan. Darah dari bahunya merembes ke jaket kulit hitam, namun ia tidak merintih. Ujung pistol dingin itu menekan pelipisnya sendiri. Kesunyian yang mencekam mendadak menyelimuti atap gedung, mengalahkan deru mesin dan teriakan tentara bayaran di kejauhan. "Alana, turunkan senjatanya!" teriak Kenzie. Suaranya pecah, matanya membelalak menatap pemandangan mengerikan di depannya. Bom di lehernya masih berdetak, namun ia tidak lagi peduli pada nyawanya sendiri. Nathan berdiri mematung. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang selalu memiliki rencana cadangan itu kehilangan kata-kata. Tangannya yang biasanya stabil kini gemetar hebat. "Alana... jangan lakukan ini. Aku akan melepaskan segalanya. Aku akan membiarkanmu pergi. Tolong, turunkan itu." Wijaya dan Arkananta, dua pria tua yang telah menghabiskan puluhan tahun saling menjatuhkan, kini terdiam. Mereka menatap "aset" paling berharga mereka sedang bersiap untuk menghancurkan dirinya sendiri. "Kalian semua bicara soal cinta," Alana berteriak, suaranya parau namun tegas menembus kebisingan angin. "Tapi yang kalian cintai hanyalah bayangan kalian sendiri di dalam diriku! Ayah Wijaya ingin hartaku, Ayah Arkananta ingin kekuasaanku, dan Lord Sterling... dia ingin pencapaian gilanya!" Alana melirik Nathan dan Kenzie dengan tatapan yang sangat pedih. "Dan kalian berdua... kalian mencintai rasa memiliki yang kalian sebut sebagai pengabdian. Kalian mengurungku, membohongiku, bahkan memasang cip di tubuhku! Aku bukan manusia bagi kalian. Aku hanya mawar dalam vas kaca yang kalian perebutkan sampai vas itu retak!" "Al, aku mencintaimu!" Kenzie meronta di kursinya, air mata mengalir deras. "Persetan dengan harta dan kekuasaan! Aku hanya ingin kau hidup!" "Kalau begitu, biarkan aku bebas, Kenzie!" Alana menekan pistol itu lebih keras. "Satu-satunya cara agar kalian berhenti saling membunuh adalah jika alasan kalian bertarung sudah tidak ada lagi. Jika aku mati, perang ini selesai. Arkananta dan Wijaya tidak punya lagi alasan untuk berebut!" Tuan Besar, yang berdiri di tangga helikopter, mendadak tertawa kecil. "Kau pikir dengan kematianmu semuanya berakhir, Alana? Kau adalah klon. Aku punya ribuan sampel DNA-mu. Aku bisa menciptakanmu kembali dalam waktu satu tahun!" Nathan menoleh pada Tuan Besar dengan kilat mata yang murni berisi haus darah. "Kau tidak akan punya waktu setahun, bajingan." Tanpa peringatan, Nathan menarik pistol cadangan dari saku belakangnya dan menembak tepat ke arah tangki bahan bakar cadangan yang ada di dek helipad, dekat dengan posisi Tuan Besar. Duar! Ledakan kecil itu membuat helipad berguncang hebat. Tuan Besar terlempar ke arah pagar pembatas, sementara helikopter oleng dan menjauh dari atap gedung. "Nathan, apa yang kau lakukan?!" Wijaya berteriak sambil mencoba membidik Nathan. Namun, Nathan tidak memedulikan Wijaya. Ia berlari menerjang ke arah Kenzie, mengabaikan peluru yang menyerempet lengannya. Dengan satu gerakan cepat, ia memotong tali pengikat Kenzie menggunakan pisau lipat yang selalu ia bawa. "Bawa dia pergi dari sini, Kenzie!" perintah Nathan sambil mendorong adiknya ke arah Alana. "Dan kau?!" "Aku akan menyelesaikan urusan dengan dua pria tua ini!" Nathan berbalik, berdiri di depan Wijaya dan Arkananta, menghalangi pandangan mereka dari Alana. "Tembak aku, Ayah! Tembak putra sulungmu jika kau ingin sampai ke Alana!" Alana terpaku melihat Nathan yang berdiri tegap sebagai tameng hidup. Di saat yang sama, Kenzie berhasil mencapai posisi Alana. Ia tidak mencoba merebut pistol itu dengan kasar, ia hanya memeluk kaki Alana, menangis tersedu-sedu. "Bunuh aku saja dulu, Al," bisik Kenzie. "Jika kau harus mati, aku tidak mau melihat sedetik pun dunia tanpamu. Tembak aku, lalu tembak dirimu sendiri. Aku akan menunggumu di sana." Tangan Alana yang memegang pistol mulai goyah. Kebencian murninya luluh melihat kerapuhan Kenzie. Pria liar yang biasanya menghancurkan apa saja demi mendapatkan keinginannya, kini bersimpuh memohon nyawa di kakinya. Tiba-tiba, suara alarm bom di leher Kenzie berubah menjadi nada cepat yang melengking. Pip-pip-pip-pip! "Waktunya habis!" teriak Tuan Besar dari kejauhan, ia berdiri dengan luka bakar di wajahnya sambil memegang alat pemicu jarak jauh. "Jika aku tidak bisa memilikimu, tidak ada yang boleh!" Nathan berbalik, matanya membelalak melihat lampu merah di leher Kenzie yang berkedip sangat cepat. "Kenzie! Alana, lari!" Alana melihat maut di depan matanya. Namun, ia tidak lari. Ia justru menjatuhkan pistolnya dan memeluk leher Kenzie. Ia meraba bagian belakang pengunci bom itu dengan jemari gemetarnya. "Alana, apa yang kau lakukan?! Lari!" Kenzie mencoba mendorong Alana menjauh. "Diam, Kenzie! Aku ingat... aku ingat sesuatu saat cip itu aktif!" Alana berteriak panik. "Ada kode pembatalan darurat dalam sistem bio-metrikku! Sterling memasangnya agar bomnya tidak meledak jika aku berada terlalu dekat!" Alana mencengkeram wajah Kenzie, menempelkan keningnya ke kening pria itu. Ia memejamkan mata, mencoba menggali sisa-sisa memori digital yang sempat tertanam di otaknya. Protokol Sembilan... Mawar... Putih... Nol... Alana menggigit bibirnya hingga berdarah, lalu ia membisikkan serangkaian angka ke arah mikrofon kecil di perangkat bom tersebut. Klik. Lampu merah itu mendadak berubah menjadi hijau, lalu mati total. Bom itu terlepas dari leher Kenzie dan jatuh ke lantai dengan suara denting logam yang melegakan. Kenzie menarik napas panjang, hampir pingsan karena ketegangan yang luar biasa. Nathan yang melihat itu segera melepaskan tembakan ke arah Tuan Besar yang mencoba melarikan diri ke dalam helikopter yang kembali mendekat. Peluru Nathan mengenai bahu Tuan Besar, membuatnya jatuh dari tangga helikopter dan menghantam lantai beton dengan keras. Wijaya dan Arkananta berdiri kaku. Tentara bayaran mereka sudah mulai mundur karena melihat pasukan polisi yang mulai mengepung gedung dari bawah. "Sudah berakhir, Ayah," ucap Nathan dengan suara dingin yang mematikan. "Polisi sudah di bawah. Seluruh bukti penggelapan dana, perdagangan manusia, dan pembunuhan ibu Alana sudah kukirim ke pusat data internasional sepuluh menit yang lalu. Kalian berdua akan menghabiskan sisa hidup kalian di lubang yang paling gelap." Tuan Arkananta tertawa getir, ia menjatuhkan senjatanya. "Kau benar-benar putraku, Nathan. Kau menghancurkan ayahmu sendiri tanpa berkedip." "Aku belajar dari yang terbaik," sahut Nathan tanpa emosi. Alana masih terduduk di lantai, memeluk Kenzie yang gemetar. Ia menatap Nathan yang kini berjalan mendekati mereka. Nathan berlutut di depan Alana, wajahnya penuh luka dan jelaga, namun matanya memancarkan rasa lega yang tulus. "Kau aman sekarang, Alana," bisik Nathan. Ia mengulurkan tangannya, namun kali ini ia tidak menyentuh Alana secara paksa. Ia menunggu. Alana menatap tangan Nathan, lalu menatap wajah Kenzie. Ia menyadari satu hal: meski semua pria tua itu pergi ke penjara, ia tetap terjepit di antara dua saudara yang mencintainya dengan cara yang mengerikan. "Apakah kita benar-benar aman?" tanya Alana lirih. "Atau ini hanya awal dari sangkar yang baru?" Kenzie menggenggam tangan Alana. "Aku akan pergi, Al. Jika kau memintaku pergi, aku akan menghilang dari hidupmu. Aku tidak ingin kau memegang pistol itu lagi." Nathan terdiam, rahangnya mengeras. "Aku tidak bisa menjanjikan kebebasan total, Alana. Dunia ini kejam. Tapi aku bisa menjanjikan bahwa tidak akan ada lagi rahasia. Tidak ada lagi cip. Hanya kau dan pilihannmu." Alana bangkit berdiri dengan bantuan Kenzie. Ia menatap pemandangan kota Jakarta dari atap gedung. Lampu-lampu kota tampak seperti permata yang berserakan, indah namun dingin. "Aku punya pilihan?" tanya Alana lagi. "Ya," jawab Nathan dan Kenzie bersamaan. Alana menarik napas panjang, ia mengambil pistol yang tadi ia jatuhkan, lalu berjalan menuju tepi gedung. Ia melemparkan senjata itu jauh ke bawah, melihatnya hilang ditelan kegelapan malam. "Kalau begitu, pilihanku adalah..." Alana menggantung kalimatnya, membuat Nathan dan Kenzie menahan napas. Alana berbalik, menatap mereka berdua dengan senyum tipis yang penuh misteri. "Pilihanku adalah, tidak satu pun dari kalian. Aku akan pergi ke tempat di mana tidak ada Arkananta, tidak ada Wijaya, dan tidak ada mawar biru." "Alana, kau tidak bisa bertahan sendirian di luar sana!" Nathan memprotes. "Siapa bilang aku sendirian?" Alana merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah paspor yang tadi sempat ia ambil dari brankas rahasia di ruang kerja. Paspor itu atas nama dirinya yang asli, yang disiapkan oleh ibunya bertahun-tahun lalu. "Ibu sudah menyiapkan ini. Dia tahu hari ini akan datang," Alana berjalan menuju pintu keluar. "Jangan ikuti aku. Jika kalian benar-benar mencintaiku seperti yang kalian katakan... biarkan aku menemukan siapa diriku tanpa kalian." Alana melangkah masuk ke dalam koridor tangga, meninggalkan Nathan dan Kenzie yang berdiri mematung di tengah reruntuhan helipad. Namun, tepat saat pintu itu hendak tertutup, sebuah suara ledakan besar kembali terdengar dari bawah gedung. Seluruh bangunan berguncang hebat, jauh lebih kuat dari ledakan sebelumnya. "Alana, kembali!" teriak Nathan. Alana menoleh ke arah jendela koridor. Di bawah sana, gudang penyimpanan bahan kimia di lantai dasar telah diledakkan. Api mulai menjalar naik dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Ini adalah protokol penghancuran diri yang dipicu oleh Tuan Besar sebagai rencana terakhirnya. "Gedung ini akan runtuh!" Kenzie berlari dan menarik tangan Alana kembali ke arah helipad. Satu-satunya jalan keluar adalah helikopter Tuan Besar yang kini dikuasai oleh pilot tentara bayaran yang sedang bingung. "Naik ke helikopter itu! Sekarang!" Nathan mendorong Alana dan Kenzie menuju tangga helikopter yang menggantung. Alana berhasil naik lebih dulu, disusul oleh Kenzie. Namun, saat Nathan hendak melompat, lantai helipad di bawah kakinya retak dan amblas. "Nathan!" Alana berteriak, mengulurkan tangannya sekuat tenaga. Nathan berpegangan pada ujung besi yang panas, tubuhnya menggantung di atas kobaran api yang mulai menjilat-jilat ke atas. "Tarik dia, Kenzie! Cepat!" Alana menangis histeris. Kenzie merangkak di pintu helikopter, mengulurkan tangannya pada kakaknya yang selama ini ia benci namun juga ia hormati. "Pegang tanganku, Kak! Jangan berani-berani kau mati sekarang!" Nathan menatap tangan Kenzie, lalu menatap Alana yang menangis di atas sana. Di bawahnya, ledakan demi ledakan terus terjadi, meruntuhkan struktur gedung. "Kenzie..." suara Nathan terdengar sangat tenang di tengah kekacauan itu. "Jaga dia. Jangan biarkan dia menangis lagi." "Apa yang kau bicarakan?! Pegang tanganku!" raung Kenzie. Nathan tersenyum, sebuah senyuman tulus yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Ia melepaskan satu tangannya dari besi, lalu merogoh saku jasnya dan melemparkan sebuah kunci kecil ke arah Alana. "Itu kunci brankas di Singapura. Pergilah dan hiduplah dengan bebas, Alana." "Nathan, tidak! Jangan lepaskan!" Alana menjerit. Namun, besi penyangga itu patah. Nathan jatuh ke dalam asap hitam yang pekat tepat saat ledakan besar berikutnya menghancurkan seluruh atap gedung. "NATHAAAANN!" ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN