Helikopter itu mendarat darurat di sebuah lapangan tua di pinggiran Jakarta. Suara baling-baling yang melambat terdengar seperti detak jantung yang sekarat. Alana melompat turun sebelum pijakannya stabil, lututnya menghantam rumput kering, namun ia tidak peduli. Ia berbalik menatap langit arah pusat kota yang kini memerah karena api.
"Nathan!" teriak Alana. Suaranya hilang ditelan angin malam.
Kenzie turun di belakangnya dengan langkah gontai. Wajahnya yang penuh lebam tampak pucat di bawah sinar bulan. Ia mendekati Alana, mencoba menyentuh bahunya, namun Alana menepisnya dengan kasar.
"Kenapa kau tidak menariknya lebih kuat?!" Alana berbalik, matanya menyala karena amarah dan duka yang bercampur. "Kau membencinya, kan? Kau ingin dia hilang agar kau bisa memilikiku sendirian?"
Kenzie terpaku, tangannya menggantung di udara. "Al... kau pikir aku sejahat itu? Dia kakakku. Aku sudah mengulurkan tangan sekuat tenaga!"
"Tapi kau membiarkannya bicara soal perpisahan! Kau membiarkannya melepas pegangannya!" Alana terisak, tubuhnya merosot ke tanah. "Dia selalu jahat, dia posesif, dia monster. Tapi dia tidak seharusnya mati di sana demi kita!"
Kenzie berlutut di depan Alana, memaksa gadis itu menatap matanya. "Dia tidak mati demi kita, Alana. Dia mati demi *kau*. Dia tahu jika dia ikut naik ke helikopter itu, kau tidak akan pernah benar-benar bebas. Dia tahu kau akan selalu melihat bayangan dosanya setiap kali kau menatapnya."
"Dan sekarang aku harus melihat bayangan kematiannya setiap kali aku menatapmu!" balas Alana pedih.
Kenzie terdiam. Rahangnya mengeras. Ia menarik Alana ke dalam pelukannya, meski Alana memukul-mukul dadanya dengan lemah. "Pukul aku, Al. Salahkan aku. Tapi jangan pernah katakan aku membiarkannya mati. Aku mencintainya sama besarnya dengan aku membencinya."
---
Tiga hari kemudian.
Sebuah apartemen kecil di kawasan tersembunyi menjadi tempat perlindungan mereka. Tidak ada kemewahan Arkananta, tidak ada pelayan. Hanya kesunyian yang mencekam. Alana menghabiskan waktunya duduk di balkon, menatap kunci brankas Singapura yang diberikan Nathan.
Kenzie masuk membawa dua cangkir kopi. Ia meletakkannya di meja kecil, lalu duduk di lantai di samping kursi Alana.
"Makanlah sedikit, Al. Kau tidak menyentuh makananmu sejak kemarin," ucap Kenzie lembut.
"Aku masih merasakannya, Ken," bisik Alana. "Aroma parfumnya yang bercampur asap. Caranya menatapku sebelum jatuh. Kenapa dia harus memberikan kunci ini?"
"Itu tiket kebebasanmu," Kenzie menunduk. "Dia ingin kau pergi jauh. Jauh dariku juga, mungkin."
Alana menoleh, menatap Kenzie yang kini terlihat sangat rapuh tanpa kesombongan Arkananta-nya. "Kau ingin aku pergi?"
Kenzie mengambil tangan Alana, mencium telapak tangannya yang dingin. "Hatiku bilang jangan. Hatiku ingin mengurungmu di sini, menjagamu sampai aku mati. Tapi kepalaku... kepalaku terus mendengar suara Nathan yang menyuruhku menjagamu. Dan menjaga bukan berarti memiliki secara paksa."
"Kau sudah banyak berubah, Ken," Alana mengusap bekas luka di pipi Kenzie.
"Kehilangan kakak membuatmu sadar bahwa waktu itu singkat, Al. Aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku menjadi monster yang kau benci," Kenzie menatap mata Alana dalam-dalam. "Tapi aku masih mencintaimu. Sangat mencintaimu hingga rasanya sesak setiap kali melihatmu menangis untuknya."
"Aku tidak menangis karena cinta, Ken. Aku menangis karena rasa bersalah," Alana memalingkan wajah.
"Benarkah?" Kenzie berdiri, menarik Alana agar ikut berdiri dan menghimpitnya di pagar balkon. "Lalu kenapa kau masih memakai kalung mawar biru yang dia berikan? Kenapa bukan gelang perakku?"
Alana terengah, posisi mereka sangat dekat hingga ia bisa merasakan napas Kenzie yang hangat. "Ini... ini hanya pengingat agar aku tidak lupa pada apa yang terjadi."
"Bohong," bisik Kenzie. Ia mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. "Kau mencintainya dengan cara yang berbeda dari caramu mencintaiku. Kau mencintai kegelapannya, sementara kau mencintai cahayaku. Bukankah begitu?"
"Ken, jangan..."
"Katakan padaku, Al. Jika dia masih hidup sekarang, siapa yang akan kau pilih untuk tetap tinggal di apartemen ini?" Kenzie mendesak, suaranya serak karena cemburu yang masih tersisa.
Alana tidak menjawab. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingin mendorong Kenzie, namun tubuhnya justru terasa lemas di bawah pengaruh pesona pria itu. Kenzie baru saja hendak mencium Alana saat ponsel yang tergeletak di meja bergetar hebat.
Bukan ponsel Kenzie. Bukan juga milik Alana.
Itu ponsel rahasia milik Nathan yang sempat terbawa di saku jaket yang dipakai Alana.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak terdaftar. Alana gemetar saat membacanya.
“Mawar biru tidak pernah layu di dalam api. Periksa rekening Singapura-mu sekarang. Ada sesuatu yang tidak bisa kau bawa pergi ke tempat bebas.”
Alana menatap Kenzie dengan ngeri. "Ken... pesan ini... ini gaya bicara Nathan."
Kenzie merebut ponsel itu, matanya membelalak. "Tidak mungkin. Aku melihat gedung itu meledak, Al! Tidak ada yang bisa selamat dari sana!"
"Tapi bagaimana jika dia sudah merencanakan ini semua?" Alana mulai panik. "Bagaimana jika dia memalsukan kematiannya hanya untuk melihat apakah aku benar-benar akan lari padamu?"
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu apartemen. Tiga ketukan pelan yang sangat ritmis.
Ketukan yang sangat dikenal oleh Kenzie dan Alana. Ketukan khas Nathan saat ia ingin meminta izin masuk ke kamar Alana dulu.
Kenzie segera mengambil pisau dapur di dekat meja, wajahnya kembali beringas. "Tetap di belakangku, Alana."
Kenzie mendekati pintu, tangannya gemetar saat memegang gagang pintu. Ia membukanya sedikit, dan sebuah amplop putih jatuh ke lantai. Di dalamnya terdapat sebuah foto terbaru: foto Kenzie dan Alana yang sedang berpelukan di balkon apartemen itu beberapa menit yang lalu.
Di balik foto itu tertulis:
"Tiga hari adalah waktu yang cukup untuk berduka, Kenzie. Sekarang, kembalikan milikku sebelum aku benar-benar datang untuk menjemputnya."
Kenzie membuka pintu lebar-lebar, namun lorong apartemen itu kosong melompong. Hanya ada aroma parfum kayu cendana yang sangat samar tertinggal di udara.
"Dia masih hidup," bisik Alana, kakinya terasa lemas. "Dia mengawasi kita selama ini."
Kenzie membanting pintu dan menguncinya rapat. Ia berbalik menatap Alana dengan tatapan yang liar dan penuh obsesi yang kembali tersulut.
"Jika dia masih hidup, maka perang ini belum berakhir, Alana," ucap Kenzie sambil mencengkeram bahu Alana. "Aku tidak akan membiarkannya mengambilmu lagi. Tidak setelah aku melihatnya mati di depanku!"
"Tapi Ken, dia Nathan! Dia akan menghancurkan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia mau!"
Kenzie menarik Alana ke dalam pelukan yang sangat posesif, seolah-olah ingin menyatukan tubuh mereka.
"Biarkan dia mencoba, Al. Tapi ada satu hal yang dia tidak tahu tentang apa yang terjadi di helikopter saat kau tidak melihat."
Alana mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"
Kenzie menatap mata Alana dengan senyum yang sangat manis namun mengerikan.
"Dia memberikan kunci itu padamu, tapi dia memberikan sesuatu yang lain padaku... sebuah pengakuan yang akan membuatmu membencinya selamanya jika kau mengetahuinya."
---