Bab 34: Rahasia di Balik Asap

1247 Kata
Hujan mulai mengguyur Jakarta dengan deras, membasuh kaca jendela apartemen yang buram. Alana masih terpaku pada foto yang jatuh di lantai. Gemetar di tangannya tidak bisa berhenti. Aroma kayu cendana itu seolah-olah mencekiknya, mengingatkannya pada dekapan Nathan yang dingin namun kokoh. "Ken, apa yang kau sembunyikan?" tanya Alana, suaranya nyaris hilang di antara deru hujan. "Apa yang dikatakan Nathan padamu di atas gedung itu?" Kenzie tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju jendela, menutup tirai rapat-rapat seolah-olah ada ribuan mata yang sedang mengintip dari kegelapan. Ia berbalik, menatap Alana dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara benci, cinta, dan kemenangan yang getir. "Kau pikir dia melepaskan pegangannya karena ingin menyelamatkanmu, Al?" Kenzie tertawa pendek, tawa yang terdengar sangat hancur. "Dia jatuh agar aku dan kau bisa naik ke helikopter itu! Dia mengorbankan dirinya!" seru Alana. "Bukan, Sayang. Dia melepaskan pegangannya karena dia sudah kalah bertaruh denganku," Kenzie melangkah mendekat, mengunci pergerakan Alana di sudut sofa. Alana mengernyit bingung. "Bertaruh? Dalam situasi hidup dan mati seperti itu?" "Nathan selalu bertaruh, Alana. Baginya, hidup adalah meja judi," Kenzie mencengkeram lengan sofa di sisi kepala Alana. "Dia berbisik padaku tepat sebelum tangannya terlepas. Dia bilang, 'Bawa dia pergi, Kenzie. Biarkan dia melihatmu sebagai pahlawan, karena saat dia tahu kebenarannya, dia akan merangkak kembali mencariku di neraka.'" Alana merasakan jantungnya mencelos. "Kebenaran apa? Apa yang dia maksud?" "Tentang malam di London itu, Alana. Malam saat kau pikir kau hampir mati karena overdosis dan aku menyelamatkanmu ke rumah sakit," Kenzie menatap mata Alana dalam-dalam. "Kau ingat siapa yang memberikan minuman itu padamu di pesta?" Alana mencoba menggali ingatannya yang kabur. "Aku ingat pelayan... lalu semuanya gelap. Kau bilang itu Sterling yang menjebakku." "Itu bukan Sterling, Al. Itu Nathan," bisik Kenzie. Alana terperangah, dunianya seolah runtuh untuk kesekian kalinya. "Tidak mungkin. Nathan yang membawaku ke dokter terbaik! Dia yang menjagaku berhari-hari!" "Itulah permainannya! Dia memberimu racun agar dia bisa memberikan penawarnya. Dia ingin kau merasa bahwa tanpa dia, kau akan mati. Dia ingin menjadi satu-satunya oksigenmu," Kenzie mencengkeram bahu Alana. "Dia mengakuinya padaku, Al. Dia bilang dia lebih suka kau hancur di tangannya daripada utuh di tangan orang lain." "Lalu kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" Alana mendorong d**a Kenzie dengan emosi yang meledak. "Kenapa kau membiarkanku menangisinya selama tiga hari?!" "Karena aku ingin kau mencintaiku tanpa bayang-bayang dia!" teriak Kenzie. "Tapi lihat dirimu! Bahkan saat dia sudah menjadi abu, kau masih mencari aromanya di setiap sudut ruangan ini! Aku lelah menjadi pilihan kedua, Alana!" "Kau pikir dengan memberitahuku ini aku akan langsung jatuh ke pelukanmu?!" Alana berdiri, air mata mengalir deras di pipinya. "Kalian berdua sama saja! Yang satu sosiopat yang meracuniku, yang satu lagi pembohong yang memanfaatkan dukaku!" "Aku melakukannya karena aku tidak punya pilihan lain!" Kenzie mencoba meraih tangan Alana namun Alana menghindar. "Aku mencintaimu dengan cara yang waras, Alana! Aku tidak meracunimu!" "Tapi kau membiarkanku hidup dalam kebohongan!" Tiba-tiba, suara getaran ponsel kembali terdengar. Kali ini bukan ponsel Nathan, melainkan ponsel milik Kenzie sendiri. Sebuah panggilan video masuk dari nomor privat. Kenzie ragu sejenak, namun ia mengangkatnya. Layar ponsel itu menampilkan sebuah ruangan gelap dengan pencahayaan minim. Sesosok pria duduk di kursi tinggi, membelakangi kamera. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah liontin mawar biru yang sangat dikenal Alana. "Permainan yang bagus, Kenzie. Kau sangat berbakat dalam mendramatisir keadaan," suara itu bergema, dingin dan tenang. Alana menutup mulutnya dengan tangan. Suara itu. Suara yang seharusnya sudah terkubur di bawah reruntuhan gedung. "Nathan?" bisik Alana. Pria di layar itu perlahan memutar kursinya. Wajahnya dibalut perban di bagian dahi dan pipi, namun matanya tetap tajam, biru sedingin es, dan penuh kendali. "Halo, Mawar Kecilku. Kau merindukanku?" Nathan tersenyum tipis di balik luka-lukanya. "Kau... kau masih hidup," Kenzie menggeram, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. "Bagaimana bisa?" "Kau lupa siapa yang membangun gedung itu, Kenzie? Aku tahu setiap celah pembuangan sampah yang mengarah langsung ke sungai," Nathan menyesap minuman di gelasnya. "Dan kau... kau hampir saja berhasil membuat dia membenciku. Sayangnya, kau terlalu lambat." "Kau meracuninya di London, Nathan! Aku tidak bohong soal itu!" teriak Kenzie ke arah ponsel. "Memang," sahut Nathan tanpa rasa bersalah. "Dan kau, Kenzie, kau tahu itu sejak hari itu namun kau diam saja karena kau takut aku akan mengirimmu kembali ke asrama militer jika kau bicara. Kita berdua adalah penjahat dalam ceritanya, Kenzie. Jangan berlagak suci." Alana merebut ponsel itu dari tangan Kenzie. "Nathan, berhenti! Berhenti mempermainkan kami! Apa yang kau inginkan sebenarnya?" "Aku menginginkanmu kembali ke rumah, Alana. Di tempat yang seharusnya," Nathan menatap layar seolah-olah ia bisa menyentuh wajah Alana. "Kenzie tidak bisa melindungimu. Dia tidak punya cukup kegelapan untuk menjagamu dari dunia luar. Hanya aku yang bisa." "Aku tidak akan pernah kembali padamu!" teriak Alana. "Kau akan kembali," ucap Nathan dengan nada yang sangat yakin. "Karena kunci Singapura yang kuberikan padamu? Itu bukan kunci uang. Itu kunci dari sebuah data yang sedang dicari oleh kepolisian internasional sekarang. Jika kau tidak menyerahkannya padaku dalam dua puluh empat jam, kau akan dianggap sebagai kaki tangan Sterling." "Kau menjebakku lagi?" Alana merasa lemas. "Aku memberimu alasan untuk kembali, Alana. Pilihan ada di tanganmu. Datang padaku dan kita selesaikan ini sebagai keluarga, atau biarkan Kenzie mencoba membawamu lari sampai kalian berdua tertangkap di perbatasan." Nathan memutus sambungan telepon secara sepihak. Ruangan itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara hujan yang semakin deras. Kenzie menatap Alana dengan tatapan putus asa. "Al, kita harus pergi sekarang. Aku punya koneksi di pelabuhan. Kita bisa keluar dari sini malam ini juga," Kenzie memegang bahu Alana. Alana menatap Kenzie, lalu menatap kunci di tangannya. Ia merasa seperti berada di tengah dua badai yang siap menghancurkannya. "Ken... apakah kau benar-benar tidak tahu soal racun itu sampai Nathan mengatakannya padaku?" tanya Alana dengan nada menyelidik. Kenzie terdiam. Matanya beralih ke arah lain, menghindari tatapan Alana. "Ken?" desak Alana. Kenzie menghela napas panjang, ia melepaskan pegangannya pada bahu Alana. "Aku tahu, Al. Aku melihatnya memasukkan sesuatu ke gelasmu. Tapi aku diam saja karena aku pikir... aku pikir jika kau sakit, aku punya kesempatan untuk menjadi pahlawanmu saat dia sibuk dengan urusan kantornya." Alana mundur selangkah, menatap Kenzie dengan rasa jijik yang sama besar dengan rasa jijiknya pada Nathan. "Kalian berdua benar-benar monster," bisik Alana. "Al, dengarkan aku—" "Tidak! Jangan sentuh aku!" Alana berlari menuju pintu apartemen. "Kau mau ke mana?! Nathan menunggumu di luar sana!" teriak Kenzie sambil mengejarnya. Alana tidak peduli. Ia membuka pintu dan berlari keluar menuju lorong yang gelap. Ia tidak tahu harus ke mana, namun ia tahu ia tidak bisa tinggal di antara dua pria yang memuja dan menghancurkannya di saat yang bersamaan. Saat ia mencapai lobi apartemen yang sepi, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan pintu masuk. Kaca mobil itu turun perlahan. Bukan Nathan. Bukan juga Kenzie. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian sangat elegan menatap Alana dengan mata yang berkaca-kaca. "Alana? Akhirnya aku menemukanmu," ucap wanita itu. Alana mengernyit. "Siapa Anda?" Wanita itu tersenyum sedih, sebuah senyum yang sangat mirip dengan senyum Alana sendiri. "Aku adalah alasan kenapa ibumu memberikanmu pada Arkananta. Dan aku di sini untuk memberitahumu bahwa Nathan dan Kenzie... mereka berdua tidak tahu siapa kau sebenarnya." Alana tertegun di bawah guyuran hujan. "Apa maksud Anda?" "Kau bukan klon, Alana. Dan kau bukan anak Wijaya," wanita itu membuka pintu mobil. "Naiklah, sebelum mereka berdua sampai di sini. Aku akan menjelaskan kenapa darahmu adalah kutukan bagi siapapun yang memilikimu." Di lantai atas, Kenzie baru saja keluar dari lift dan melihat Alana masuk ke dalam mobil asing itu. Di saat yang sama, sebuah mobil lain milik Nathan muncul dari arah berlawanan. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN