Bab 35: Darah yang Lebih Kental dari Obsesi

1396 Kata
Hujan semakin menderu saat Alana duduk terpaku di kursi belakang sedan mewah itu. Di luar, ia bisa melihat mobil Nathan dan Kenzie terhenti, terhalang oleh mobil pengawal wanita di depannya. Melalui kaca yang basah, ia melihat Kenzie keluar dari mobil, berteriak sambil memukul kap mesin, sementara Nathan hanya berdiri mematung di samping mobilnya, matanya tajam menembus kegelapan, mengunci sosok Alana di balik kaca film yang gelap. "Siapa Anda sebenarnya?" bisik Alana. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang dari saat ia berada di bawah todongan pistol. Wanita itu melepas sarung tangan sutranya. "Namaku Eleanor. Aku adalah adik kandung ibumu. Dan aku di sini bukan untuk hartamu, Alana. Aku di sini untuk nyawamu." "Nyawaku? Nathan dan Kenzie sudah cukup membuatku ingin mati," Alana tertawa getir. "Mereka mencintaimu dengan cara yang salah karena mereka mengira kau adalah kunci kekuasaan," Eleanor menatap Alana dengan iba. "Mereka tidak tahu bahwa kau membawa kelainan genetik yang langka. Darahmu... itu bukan berkah untuk kloning atau kekuatan. Itu adalah bom waktu biologis. Ibumu memberikanmu pada Arkananta agar kau bisa mendapatkan perawatan medis terbaik tanpa diketahui publik." Mobil itu melaju kencang, meninggalkan dua pria Arkananta yang kini saling berhadapan di lobi apartemen. --- Tiga puluh menit kemudian, di sebuah kediaman pribadi yang tersembunyi di pinggiran kota. Alana berdiri di ruang tamu yang hangat, namun hatinya membeku. Pintu depan terbanting terbuka. Nathan masuk lebih dulu, wajahnya dipenuhi amarah yang dingin. Di belakangnya, Kenzie menyusul dengan napas tersengal dan tangan yang terkepal. "Lepaskan dia, Eleanor!" raung Nathan. "Aku tahu siapa kau. Kau tidak punya hak atas dia!" "Hak?" Eleanor berdiri di depan Alana. "Kalian berdua hampir membunuhnya dengan obsesi kalian! Nathan, kau meracuninya di London karena kau pikir tubuhnya bisa menahan dosis itu. Dan kau, Kenzie, kau membiarkannya karena kau ingin menjadi pahlawan. Kalian berdua adalah racun yang sebenarnya!" Kenzie melangkah maju, matanya berkaca-kaca menatap Alana. "Al, aku bersumpah aku tidak tahu soal kelainan itu. Aku hanya ingin bersamamu!" "Bersamaku?" Alana melangkah keluar dari perlindungan Eleanor. "Kalian berdua datang ke sini untukku, atau untuk memastikan 'milik' kalian tidak diambil orang lain?" Nathan mendekati Alana, suaranya melembut namun tetap penuh intimidasi. "Alana, ikut aku sekarang. Aku punya tim medis di Singapura yang bisa menyembuhkanmu. Kenzie tidak punya apa-apa. Dia hanya punya janji kosong." "Dan kau hanya punya kontrak dan jarum suntik, Nathan!" balas Kenzie sengit. "Al, ikut aku. Kita lari ke tempat yang tidak ada laboratorium, tidak ada rumah sakit. Kita hidup normal!" "Normal?" Eleanor tertawa sinis. "Tanpa perawatan Nathan, dia akan mati dalam setahun. Dan dengan obsesi Nathan, dia akan hidup sebagai tahanan di laboratorium. Kalian berdua bukan jawaban untuknya." Alana menatap Nathan, lalu beralih ke Kenzie. "Kalian dengar itu? Pilihanku adalah mati dengan bebas bersamamu, Ken, atau hidup sebagai b***k medis bersamamu, Nathan. Tidak ada cinta di sana." "Ada cinta, Alana!" Nathan mencengkeram bahu Alana, memaksa gadis itu menatap matanya yang biru kelam. "Aku menghabiskan jutaan dolar untuk riset ini bukan hanya untuk perusahaan. Aku ingin kau tetap hidup agar aku bisa memilikimu selamanya! Apakah itu bukan cinta?" "Itu adalah ego, Kak," bisik Alana. Kenzie menarik tangan Nathan dari bahu Alana. "Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu itu! Kau yang membunuh ibunya, kau yang meracuninya. Kau tidak berhak bicara soal cinta!" "Dan kau?" Nathan menyeringai meremehkan. "Kau yang selalu menjadi bayang-bayangku. Kau mencintainya hanya karena kau ingin merebut sesuatu dariku. Kau tidak pernah benar-benar melihat Alana. Kau hanya melihat piala kemenangan atas kakakmu!" "Itu tidak benar!" Kenzie memukul wajah Nathan. Perkelahian pecah di tengah ruangan. Nathan dan Kenzie bergulat di lantai, saling menghantam dengan kemarahan yang telah tertimbun selama sepuluh tahun. Alana hanya berdiri mematung, melihat dua pria yang paling berarti dalam hidupnya saling menghancurkan. "CUKUP!" teriak Alana. Keduanya berhenti. Nathan menyeka darah dari bibirnya, sementara Kenzie memegang perutnya yang kesakitan. "Kalian ingin aku memilih?" Alana mengambil sebuah pisau kecil dari meja pajangan Eleanor. "Alana, jangan!" teriak Nathan dan Kenzie bersamaan. Alana menempelkan ujung pisau itu ke telapak tangannya. "Jika darahku adalah apa yang kalian perebutkan, maka lihatlah betapa sia-sianya darah ini." Alana mengiris telapak tangannya. Darah merah segar menetes ke lantai marmer putih. "Alana, berhenti!" Kenzie berlari mendekat, merobek kemejanya untuk membalut luka Alana. "Aku tidak peduli soal darahmu, soal riset, atau apa pun! Aku hanya ingin kau!" Nathan juga mendekat, namun ia terhenti saat melihat warna darah Alana yang sedikit berbeda, lebih gelap dan kental. Matanya menunjukkan ketakutan yang nyata. "Dosis itu... racun di London itu... ternyata mempercepat reaksinya." Alana menatap Nathan dengan senyum pedih. "Jadi, kau benar-benar membunuhku, Kak?" Nathan jatuh terduduk di kursi. Keangkuhannya runtuh. "Aku pikir... aku pikir aku bisa menguatkanmu." Kenzie memeluk Alana erat, menyembunyikan wajahnya di leher gadis itu. "Aku akan membawamu pergi, Al. Persetan dengan setahun atau sebulan. Kita pergi sekarang." Eleanor mendekati mereka, wajahnya tampak sangat serius. "Ada satu cara. Tapi itu membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari seseorang yang memiliki kecocokan genetik yang hampir mustahil. Dan karena Alana bukan anak kandung Wijaya maupun Arkananta, kalian berdua tidak akan bisa menolongnya." "Tunggu," Nathan berdiri, menatap Eleanor dengan tajam. "Kau bilang dia bukan anak Arkananta. Tapi kau tidak tahu apa yang dilakukan Ayahku di laboratorium sepuluh tahun lalu sebelum ibunya meninggal." Kenzie menoleh. "Apa maksudmu?" Nathan menatap Kenzie dengan tatapan yang sangat dalam, sebuah tatapan persaudaraan yang jarang terlihat. "Ayah tahu soal kelainan ini. Dia menyuntikkan sebagian DNA kita ke dalam rahim ibunya saat Alana masih berupa janin sebagai percobaan awal," Nathan menarik napas panjang. "Secara biologis, Alana memang bukan adik kita. Tapi di dalam darahnya... ada bagian dari aku dan kau, Kenzie." Alana terperangah. "Jadi itu sebabnya kalian merasa sangat terikat padaku?" "Bukan hanya itu," Nathan menatap Kenzie. "Hanya salah satu dari kita yang bisa menjadi donor. Dan prosedurnya... prosedurnya sangat berisiko bagi pendonornya. Ada kemungkinan kelumpuhan permanen atau kematian." Kenzie berdiri tegak, tanpa ragu sedikit pun. "Ambil punyaku. Ambil semuanya jika perlu." "Tidak," Nathan menyela. "Kau masih muda, Kenzie. Kau punya masa depan dengan dia. Biar aku yang melakukannya." "Kau ingin menjadi pahlawan lagi, Nathan? Tidak akan kubiarkan!" Kenzie mencengkeram kerah baju Nathan. "Ini kesempatanku untuk membuktikan bahwa aku lebih mencintainya daripada kau!" "Ini bukan soal kompetisi, Bodoh! Ini soal siapa yang paling mungkin bertahan dalam operasi itu, dan fisikku lebih stabil darimu!" balas Nathan. Alana menatap kedua pria itu. Cinta segitiga yang tadinya penuh dengan perebutan posesif, kini berubah menjadi perebutan untuk mengorbankan nyawa. "Kalian berdua gila," bisik Alana. Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari lorong depan. Sekelompok pria berseragam hitam masuk, namun mereka bukan anak buah Nathan atau Kenzie. Seorang pria tua dengan kursi roda elektrik masuk ke dalam ruangan. Tuan Arkananta. Ia tampak lebih segar, seolah pelariannya dari penjara telah dipersiapkan dengan sangat matang. "Sungguh drama yang mengharukan," ucap Tuan Arkananta, suaranya parau namun penuh otoritas. "Tapi kalian lupa satu hal. Donor itu tidak perlu dipilih." Nathan menatap ayahnya dengan ngeri. "Ayah? Apa yang kau lakukan di sini?" Tuan Arkananta tersenyum dingin. "Aku tidak akan membiarkan salah satu dari putraku mati demi seorang eksperimen yang gagal. Alana akan kembali ke laboratorium pusat malam ini. Dan kalian berdua... kalian akan ikut denganku untuk memastikan riset ini selesai dengan benar." "Kami tidak akan membiarkanmu menyentuhnya!" Kenzie menodongkan pistol yang tadi ia sembunyikan. Tuan Arkananta memberi isyarat pada anak buahnya. Puluhan laser merah langsung membidik d**a Nathan, Kenzie, dan Alana. "Pilihannya sederhana," Tuan Arkananta menatap Alana. "Kau ikut denganku secara sukarela dan aku membiarkan kedua putraku hidup. Atau kau menolak, dan aku akan membunuh mereka di depan matamu sebelum mengambil mayatmu untuk dibedah." Alana menatap Nathan yang siap menerjang, dan Kenzie yang siap menembak. Ia tahu, jika ia tidak membuat keputusan, malam ini akan berakhir dengan pertumpahan darah saudara. Alana melangkah maju, melepaskan diri dari genggaman Kenzie. "Alana, jangan!" teriak Nathan. Alana menatap Tuan Arkananta, lalu ia menoleh ke arah Nathan dan Kenzie dengan air mata yang mengalir di pipinya. "Kak Nathan... Ken... berjanjilah padaku satu hal." "Apa pun, Al! Apa pun!" sahut Kenzie. Alana tersenyum sangat manis, senyum yang akan menghantui mimpi mereka selamanya. "Berjanjilah untuk tidak saling membenci saat aku sudah tidak ada lagi di antara kalian." Alana berjalan menuju Tuan Arkananta. Namun, sebelum ia sampai, ia membisikkan sesuatu ke telinga pengawal terdekat yang membuat pria itu tertegun dan menurunkan senjatanya. "Apa yang kau katakan padanya?!" teriak Tuan Arkananta. Alana berbalik, matanya berkilat penuh kemenangan yang mengerikan. "Aku memberitahunya bahwa bom di gedung itu bukan diledakkan oleh Sterling. Tapi olehku. Dan aku baru saja mengaktifkan pemicu yang sama di bawah lantai ruangan ini." ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN