Bab 36: Gema di Ruang Hampa

896 Kata
Suasana di ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan deru napas yang tertahan. Tuan Arkananta menatap Alana dengan mata menyipit, mencari tanda-tanda kebohongan di wajah gadis itu. Namun, ia hanya menemukan ketenangan yang dingin, ketenangan dari seseorang yang sudah tidak lagi takut kehilangan apa pun. "Kau menggertak, Alana," desis Tuan Arkananta. "Pemicu itu membutuhkan akses enkripsi yang hanya dimiliki Nathan." "Atau akses biometrik dari 'mahakarya' yang kau ciptakan sendiri, Ayah," sahut Alana. Ia mengangkat tangan kirinya yang masih terbalut kain basah bersimbah darah. "Darahku adalah kuncinya, ingat? Aku sudah menempelkan telapak tanganku pada sensor di bawah meja saat Eleanor membawaku masuk tadi." Nathan tertegun. Matanya bergerak cepat menyapu kolong meja kayu jati di sudut ruangan. "Alana... jangan gila. Kalau kau meledakkannya, kau juga akan hancur!" "Bukankah itu yang kalian inginkan? Memiliki aku sampai ke sel terakhir?" Alana menatap Nathan dengan pedih. "Maka nikmatilah kehancuran ini bersamaku, Kak." "Al, hentikan!" Kenzie berteriak, ia mencoba melangkah maju namun Nathan menahan bahunya. "Kita bisa bicara, kita bisa keluar dari sini! Jangan dengarkan orang tua bangka itu!" Tuan Arkananta memberi isyarat pada pengawalnya untuk mengecek kolong meja. Namun, sebelum pria itu sempat bergerak, suara bip yang nyaring dan rendah menggema dari lantai di bawah mereka. Bip... Bip... Bip... "Sialan! Dia benar-benar melakukannya!" raung salah satu pengawal, ia mulai mundur dengan panik. "Diam di tempat!" bentak Tuan Arkananta. Ia menatap Alana dengan kemarahan yang meluap. "Kau pikir aku akan membiarkanmu menang? Jika gedung ini meledak, semua riset tentangmu akan hilang!" "Itulah intinya," Alana tersenyum manis, air mata mengalir melewati senyumannya. "Tidak akan ada lagi perburuan. Tidak ada lagi donor yang harus cacat demi aku. Semuanya berakhir di sini." Kenzie melepaskan diri dari cengkeraman Nathan dan berlari memeluk Alana. Ia tidak mencoba merebut pemicu yang mungkin ada di tangan Alana, ia hanya mendekapnya erat. "Kalau kau mau pergi, aku ikut, Al. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian di kegelapan itu lagi." Nathan menatap pemandangan itu dengan rahang mengeras. Rasa cemburu, cinta, dan penyesalan bergolak di dadanya. Ia menoleh ke arah ayahnya, lalu ke arah pintu keluar. "Kenzie, bawa dia lewat jalur belakang! Sekarang!" Nathan tiba-tiba menerjang ke arah kursi roda ayahnya, menjatuhkan dua pengawal yang mencoba menghalangi jalannya. "Nathan! Apa yang kau lakukan?!" teriak Kenzie. "Aku akan menahan pemicu manualnya dari panel pusat di bawah meja! Pergi!" Nathan menghantam wajah seorang pengawal dan merampas senjatanya. "Jika kau tidak membawanya pergi dalam tiga puluh detik, aku akan meledakkan tempat ini lebih cepat!" "Kak, kau akan mati!" Alana menjerit dalam pelukan Kenzie. Nathan menoleh sejenak, menatap Alana dengan pandangan yang paling lembut yang pernah ia miliki. "Setidaknya sekali dalam hidupku, biarkan aku menjadi pria yang kau butuhkan, bukan monster yang kau takuti. Pergi, Kenzie! Itu perintah!" Kenzie ragu sejenak, namun ia melihat kesungguhan di mata kakaknya. Ia menarik paksa Alana menuju pintu rahasia di balik tirai Eleanor. "Maafkan aku, Kak," bisik Kenzie sebelum menarik Alana menghilang ke dalam kegelapan lorong. Di dalam ruangan, Nathan kini berhadapan langsung dengan ayahnya dan moncong senjata para pengawal yang tersisa. Suara bip itu semakin cepat. "Kau bodoh, Nathan," ucap Tuan Arkananta dingin. "Kau mengorbankan segalanya demi seorang wanita yang bahkan tidak akan mengingat namamu setelah ini." Nathan tersenyum tipis, ia duduk di lantai dan menyandarkan punggungnya pada meja tempat sensor itu berada. "Dia mungkin tidak mengingat namaku sebagai pahlawan, Ayah. Tapi dia akan hidup bebas. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membayar semua racun yang kuberikan padanya." --- Di luar kediaman, Kenzie dan Alana berlari menembus hutan kecil di belakang rumah tersebut. Hujan masih turun, membasahi wajah mereka. Tiba-tiba, sebuah ledakan hebat mengguncang bumi. BOOM! Alana jatuh tersungkur. Ia berbalik dan melihat api membubung tinggi ke langit malam, menghanguskan rumah Eleanor beserta seluruh rahasia di dalamnya. "NATHAAAANN!" Alana menjerit histeris, mencakar tanah yang becek. Kenzie memeluknya dari belakang, air matanya sendiri jatuh membasahi rambut Alana. "Dia sudah pergi, Al... Dia sudah pergi..." Mereka terdiam dalam duka yang mendalam selama beberapa menit, hingga suara deru mobil terdengar mendekat dari arah jalan setapak. Bukan polisi, melainkan mobil hitam legam yang sangat akrab. Pintu mobil terbuka. Seorang pria keluar dengan langkah tenang, memegang payung hitam untuk melindungi dirinya dari hujan. "Drama yang cukup meyakinkan, bukan?" Alana dan Kenzie tersentak. Mereka menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya. "Kak Nathan?" Kenzie berdiri, tangannya gemetar. "Bagaimana... kau baru saja meledak di dalam sana!" Pria itu menurunkan payungnya sedikit, memperlihatkan wajah yang bersih tanpa luka baru. Ia tersenyum, namun senyum itu terasa berbeda. Lebih dingin. Lebih asing. "Nathan Arkananta yang kau kenal memang sudah mati di dalam sana bersama Ayah," ucap pria itu. "Aku adalah Nathan yang sudah melepaskan beban nama Arkananta. Dan sekarang, Alana..." Pria itu mengulurkan tangannya pada Alana. "Pilihanmu masih tetap sama. Hidup bersamaku dalam perlindungan yang abadi, atau lari bersama Kenzie yang bahkan tidak tahu bahwa ledakan tadi hanya memusnahkan bukti, bukan memusnahkan musuh kita." Kenzie menodongkan pistolnya pada pria di depannya. "Kau bukan Nathan! Siapa kau?!" Pria itu tertawa rendah. "Aku adalah jawaban dari semua pertanyaanmu, Kenzie. Dan jika kau menarik pelatuk itu, kau tidak akan pernah tahu di mana Nathan yang asli berada." Alana menatap pria di depannya, lalu menatap Kenzie yang tampak bingung. Ia menyadari satu hal: permainan ini jauh lebih besar dan lebih gila dari yang ia bayangkan. "Di mana dia?" tanya Alana dengan suara bergetar. Pria itu hanya tersenyum dan menunjuk ke arah bagasi mobil yang sedikit terbuka. "Pilihlah, Alana. Masa depanmu, atau masa lalumu?" ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN