Guncangan pada helikopter itu perlahan stabil, namun guncangan di dalam jiwa Nathan dan Kenzie baru saja dimulai. Suara Tuan Arkananta yang menggema melalui intercom tadi terasa seperti vonis mati. Rahasia yang baru saja mereka ketahui bahwa Alana adalah darah daging Arkananta bukan lagi rahasia pribadi, melainkan senjata pemusnah massal yang dipegang oleh ayah mereka sendiri. Nathan melepaskan cengkeramannya dari bahu Alana. Ia berdiri, meski kabin masih sedikit bergoyang, dan menatap ke arah kamera pengawas kecil yang tersembunyi di sudut langit-langit helikopter. "Kau ingin bermain, Ayah?" desis Nathan dengan suara yang mengandung racun. "Kau ingin menghancurkan reputasi yang bahkan kau sendiri bangun dengan darah dan air mata?" "Reputasi bisa dibangun kembali, Nathan. Tapi pengkhian

