Perjalanan udara dari London menuju Jakarta memakan waktu belasan jam, namun bagi Alana, waktu seolah berhenti di dalam kabin mewah jet pribadi Arkananta. Sejak pengakuan tentang status darah mereka terungkap, suasana menjadi canggung namun anehnya... jauh lebih intim.
Nathan dan Kenzie tidak lagi saling pukul. Sebaliknya, mereka seperti sedang berlomba memberikan kenyamanan terbaik untuk Alana, seolah ingin menghapus trauma malam sebelumnya dengan kemewahan dan perhatian yang manis.
Alana duduk di kursi first class yang luas, menatap hamparan awan di luar jendela. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah selimut kasmir yang sangat lembut tersampir di bahunya.
"Udara di kabin ini terlalu dingin untukmu, Alana," suara Nathan terdengar lembut di dekat telinganya.
Nathan tidak langsung pergi. Ia duduk di sandaran tangan kursi Alana, jemarinya yang panjang merapikan anak rambut Alana yang menutupi wajah. Matanya yang biasanya dingin kini tampak hangat, menatap Alana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Makanlah sedikit. Aku sudah meminta koki menyiapkan pasta favoritmu," ucap Nathan sambil menyodorkan sepiring hidangan yang aromanya sangat menggugah selera.
"Aku tidak lapar, Kak," bisik Alana.
"Kau harus makan agar tidak sakit. Aku tidak suka melihatmu pucat seperti ini," Nathan mengambil garpu, memutar sedikit pasta, dan menyodorkannya ke bibir Alana. "Hanya satu suapan. Untukku."
Alana baru saja hendak membuka mulut saat sebuah tangan lain menepis pelan tangan Nathan. Kenzie muncul dari arah bar pesawat dengan segelas jus jeruk segar dan sekotak cokelat mahal.
"Jangan dipaksa, Kak. Dia sedang tertekan, pasta itu terlalu berat untuk perutnya," sela Kenzie. Ia berlutut di depan kursi Alana, menatap gadis itu dengan mata yang penuh binar kejujuran. "Minum ini saja, Al. Jus ini segar, dan aku punya cokelat yang bisa membuat perasaanmu lebih baik."
Kenzie memegang tangan Alana, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Maafkan aku soal yang di gunung tadi. Aku hanya... aku sangat takut kehilanganmu."
Alana menatap kedua pria itu. Nathan dengan perhatiannya yang elegan dan dominan, serta Kenzie dengan perhatiannya yang lebih mentah dan emosional. Di tengah kemarahan karena fakta saudara kandung, Alana tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa perhatian ini membuatnya merasa... diinginkan.
"Kalian tidak perlu melakukan semua ini," ucap Alana lirih.
"Kami melakukannya karena kami ingin, Al," sahut Nathan. Ia mengabaikan gangguan Kenzie dan tetap menyodorkan suapan pasta itu. "Status apa pun yang Ayah berikan pada kita tidak akan mengubah fakta bahwa kau adalah pusat duniaku."
Kenzie mendengus, namun ia tidak melepaskan tangan Alana. "Dan duniaku juga. Aku tidak peduli soal dokumen itu, Al. Di mataku, kau tetap Alana-ku yang cantik."
Selama sisa penerbangan, Alana terjepit di antara dua bentuk perhatian yang berbeda. Saat ia tertidur karena kelelahan, ia merasakan kepalanya disandarkan dengan lembut ke bahu seseorang. Saat ia terbangun dalam keadaan haus, segelas air sudah tersedia di depan matanya.
Momen manis yang paling menggetarkan adalah saat helikopter mereka mendarat untuk transit di sebuah pulau tropis pribadi milik keluarga Arkananta sebelum lanjut ke Jakarta. Tuan Arkananta harus mengurus dokumen di kota terdekat, meninggalkan mereka bertiga di vila tepi pantai selama beberapa jam.
Malam itu, Alana berjalan sendirian di pinggir pantai. Deburan ombak yang tenang sedikit menenangkan hatinya. Tiba-tiba, ia merasakan seseorang berjalan di sampingnya. Kenzie.
Tanpa bicara, Kenzie melepas jaketnya dan menyampirkannya ke bahu Alana. Ia kemudian menarik Alana ke dalam pelukan singkat yang terasa sangat hangat.
"Kau ingat dulu? Saat kita masih remaja dan aku sering mencuri bunga dari taman Ibu untukmu?" tanya Kenzie sambil tertawa kecil. "Aku selalu ingin menjadi pelindungmu, Al. Bahkan sekarang, meski keadaannya kacau, aku ingin kau tahu kalau aku akan selalu ada di pihakmu."
Kenzie mencium kening Alana dengan sangat lembut, sebuah ciuman yang terasa sangat tulus dan jauh dari nafsu kasar yang biasa ia tunjukkan. "Jangan takut pada Nathan. Aku tidak akan membiarkannya mengurungmu lagi."
Belum sempat Alana menjawab, Nathan muncul dari arah balkon vila dengan membawa sebuah kotak perhiasan kecil. Ia mendekati mereka berdua dengan langkah yang anggun.
"Kenzie benar soal satu hal, Alana. Kau butuh pelindung," Nathan membuka kotak itu, memperlihatkan sebuah kalung berlian dengan liontin mawar biru yang sangat indah. "Tapi kau juga butuh kekuatan. Kalung ini adalah simbol bahwa kau adalah seorang Arkananta. Gunakan ini, dan tidak ada seorang pun di Jakarta yang berani menyentuhmu."
Nathan melingkarkan kalung itu di leher Alana. Jemarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Alana, mengirimkan sensasi aneh yang membuat Alana bergidik. Nathan membisikkan sesuatu di telinganya yang membuat jantung Alana berdebar kencang.
"Malam ini, tidurlah yang nyenyak. Di Jakarta nanti, permainan baru akan dimulai. Tapi ingatlah, di antara kami berdua... hanya aku yang benar-benar tahu apa yang kau inginkan di dalam hatimu yang paling dalam."
Alana berdiri di antara mereka berdua, di bawah cahaya bulan yang memantul di permukaan laut. Ia merasa hatinya terombang-ambing. Kenzie memberinya kenyamanan yang manis, sementara Nathan memberinya perlindungan yang megah. Keduanya mencintainya dengan cara yang sama-sama kuat, dan fakta bahwa mereka bersaudara justru membuat ketegangan itu semakin terasa... terlarang dan manis secara bersamaan.
Saat mereka kembali ke pesawat untuk leg terakhir menuju Jakarta, Alana duduk di antara mereka. Kenzie memegang tangan kirinya, sementara Nathan menyandarkan kepala di bahu kanannya.
Pesawat itu mendarat di Jakarta saat matahari terbit. Tuan Arkananta sudah menunggu di landasan pacu dengan barisan mobil mewah dan puluhan wartawan yang sudah ia siapkan untuk "pengumuman besar".
Begitu pintu pesawat terbuka, Nathan dan Kenzie masing-masing berdiri di sisi Alana. Mereka berdua menawarkan tangan mereka secara bersamaan untuk membantu Alana turun.
Alana menatap kedua tangan itu. Tangan Nathan yang kuat dan penuh kendali, atau tangan Kenzie yang hangat dan penuh janji.
Di depan sana, ribuan lampu flash kamera sudah menanti.
"Pilihlah satu tangan, Alana," bisik Nathan. "Tunjukkan pada dunia siapa yang berhak berdiri di sampingmu."
"Atau pegang tangan kami berdua," sahut Kenzie dengan seringai nakalnya. "Biarkan mereka tahu bahwa putri Arkananta tidak akan pernah kekurangan cinta."
Alana menarik napas panjang, ia menatap ayahnya yang tersenyum penuh kemenangan di ujung tangga. Ia tahu, pilihannya saat ini akan menentukan bagaimana ia akan menjalani hidup di Jakarta sebagai pusat dari cinta segitiga yang paling skandal dalam sejarah Arkananta.