Bab 40: Jangkar Takdir

1188 Kata

Pasir putih yang semula terasa seperti surga kini berubah menjadi panggung eksekusi. Alana berdiri kaku, matanya tidak lepas dari siluet kapal hitam yang membelah cakrawala. Deru mesinnya terdengar rendah, seperti geraman pemangsa yang telah lama menunggu. "Tidak mungkin," bisik Alana. "Aku melihat kapal itu meledak. Aku melihatnya tenggelam!" "Nathan tidak pernah bertaruh pada satu nyawa, Al," Kenzie terbatuk, mencoba berdiri meski tubuhnya limbung. Ia mencengkeram bahu Alana untuk keseimbangan. "Dia sosiopat yang teliti. Dia sudah menyiapkan skenario ini." "Tapi dia memberikan sumsummu padaku! Dia memberikan serum itu!" Alana menoleh pada Kenzie dengan panik. "Kenapa dia melakukan semua itu jika hanya untuk memburu kita lagi?" "Karena dia ingin kau utuh, Alana. Dia tidak mau memiliki

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN