Lampu sorot dari kapal-kapal yang mengepung kabin itu berayun liar, menciptakan siluet yang berkejaran di dinding. Namun, di dalam ruangan yang kedap suara itu, hanya ada keheningan yang menyesakkan. Nathan tidak melepaskan cengkeramannya pada rahang Alana. Matanya yang tajam seolah ingin menembus isi kepala gadis itu, mencari sisa-sisa pengkhianatan yang mungkin masih tertanam. "Kenzie benar-benar murid yang cepat belajar, bukan?" Nathan berbisik, suaranya sangat tenang namun bergetar oleh amarah yang tertahan. "Dia menggunakan taktikku. Dia menggunakan sekutuku. Semuanya hanya untuk menjemputmu." "Lepaskan aku, Nathan," Alana membalas dengan suara datar. "Kapal-kapal itu tidak akan berhenti menembak sampai aku berada di sana. Kau dengar alarm itu? Itu adalah hitung mundur untuk egomu."

