Chapter 9

1213 Kata
Tiffany membuka matanya perlahan. Cahaya menyilaukan membuatnya harus mengerjapkan mata beberapa kali. Ia mulai melihat ke sekitarnya, hingga menemukan seorang pria tengah berdiri di sampingnya. "Kau baik-baik saja?" tanya Pria itu. "Tu-tuan ... apa kau seorang malaikat penjaga nirwana?" tanya Tiffany. "Tuan, wanita ini masih dalam pengaruh alkohol, efeknya akan menghilang dalam beberapa jam, sebaiknya kita biarkan saja dulu ia beristirahat," jelas seorang pria dengan jas putih. "Baiklah, sebaiknya kau di sini dan memastikan kondisinya. Aku ada sedikit pekerjaan," ujarnya. "Baik, Tuan." Pria itu berjalan keluar dari kamar Tiffany menuju satu ruangan yang menjadi tempat hukuman. Di dalam ruang hukuman itu, seorang wanita tengah terikat dengan tangan yang berada di belakang. Mulutnya tertutup sebuah kain hitam, wajahnya sembab karena sudah seharian ini ia menangis tanpa suara.  "Tuan," sapa seorang Cyborg. "Cloud, sudah kau tanyakan pada wanita ini tentang perbuatannya?" tanya pria itu. "Tuan Darren, ia mengatakan hanya ingin membela diri karena Nona Tiffany melukainya," terang Cloud. Darren terkekeh mendengar penjelasan dari Cloud. Ia mendekati wanita itu dengan memegang dagunya. Mata mereka saling menatap, dan wanita itu terlihat seperti memohon untuk tidak dihukum. "Cloud, lepaskan ikatannya. Aku ingin mendengarkan ia menjelaskan semuanya," ujar Darren. Setelah terlepas dari ikatan itu, Bianca meringkuk di kaki Darren. Wanita itu memohon ampunan pada Darren ,tetapi ia juga menceritakan jika memang Tiffany yang melukai dirinya terlebih dahulu. "Wanita itu ingin kabur dari Sala, aku hanya mencegahnya agar ia tidak pergi. Tetapi ia mencoba mendorong tubuhku, lalu aku sedikit terjatuh. Saat ia berjalan menuju lift, aku mencegahnya dan ikut masuk ke dalam lift. Aku menekan lantai bawah agar ia tidak kabur, lalu saat ia mencari jalan keluar dengan masuk ke dalam gudang minuman, aku menguncinya agar kau bisa menghukumnya nanti," jelas Bianca. "Cloud, antar wanita ini ke kamarnya," ujar Darren yang akhirnya keluar dari ruang hukuman. Pria itu kembali melihat Tiffany di kamar. Di sana, Tiffany masih memejamkan mata setelah terbangun beberapa saat. Dokter yang ada di sana juga dengan sigap menunggu dan memantau kesehatan Tiffany. "Bagaimana keadaannya?" tanya Darren yang baru saja masuk. "Kondisi Nona ini sudah jauh lebih baik sekarang," jelas Dokter itu. "Kau bisa pergi, tinggalkan kami." Dokter itu menundukkan kepala sekilas, lalu melangkah keluar dari kamar. Sementara itu, Darren mendekati Tiffany ,lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya membelai wajah wanita itu dengan lembut. Ia juga melihat bekas air mata yang masih melekat di pipi mulusnya. "Aku mencarimu beberapa tahun ini ... dan sekarang aku bisa mendapatkan dirimu," gumam Darren. "Ehm." Merasa terganggu dengan sentuhan Darren, akhirnya Tiffany kembali membuka matanya. Ia melihat Darren dengan mata sayu dan beberapa kali mengedipkan matanya. "Tuan, apa yang terjadi?" tanya Tiffany. "Aku dengar kau menyerang Bianca, apa itu benar?" "Ha? Bi-Bianca? Siapa wanita itu?" tanya Tiffany. "Kau lupa dengan kejadian sebelum mabuk?" "Aku? Mabuk? Jangan bercanda Tuan ...." "Apa wajahku menunjukkan jika aku sedang bercanda?" "Tidak." Wajah Tiffany tertunduk, ia benar-benar tidak dapat mengingat apapun selama matanya terpejam. Entah kesialan apa lagi yang akan menimpa dirinya saat ini, karena ia melihat kemarahan di wajah Darren. "Tuan, aku minta maaf jika berbuat salah, saat ini aku memang tidak bisa mengingat apapun," jelas Tiffany. Darren menyeringai, lalu tiba-tiba saja tubuh Darren semakin mendekat. Otomatis hal itu membuat Tiffany sedikit menghindari dengan bergerak perlahan.  "Kau mengingatkan aku pada seseorang," ujar Darren. "Tu-tuan ... bisakah kau sedikit menjauh ... aku merasa tak nyaman saat ini," ujar Tiffany. Darren menjauhkan dirinya dari Tiffany lalu berjalan keluar dari kamar itu. Tiffany melihat punggung Darren yang menghilang dibalik pintu kamar.  Wanita itu kembali mencoba untuk mengingat apa yang sudah terjadi pada dirinya. "Sial! Aku benar-benar tidak bisa mengingat." Tiffany kembali menarik selimut untuk menutup tubuhnya. Ia berharap saat matanya kembali terbuka, ingatan akan kejadian sebelum ia tidak sadarkan diri kembali sepenuhnya. *** Bianca sudah berpakaian rapi, setelah membersihkan dirinya. Wanita itu sedikit merutuki kesialan yang terjadi hari ini. Beruntung ia bisa dengan mudah mengatur CCTV yang ada di Sala. Ya, Bianca memang tidak bisa diremehkan, karena ia juga memiliki otak yang jenius. "Apa Darren sudah menghukum wanita itu? Atau bahkan ia sudah mengusirnya dari Sala?" gumam Bianca sembari merias wajahnya. Setelah selesai dengan make up-nya, Bianca berjalan keluar untuk melihat apa yang terjadi saat ini. Saat membuka pintu, ada satu cyborg yang berjaga di sana dan menghalangi langkah Bianca untuk keluar dari kamarnya. "Kenapa kau menghalangi aku?" tanya Bianca kesal. "Tuan Muda memerintahkan kami untuk menjaga anda dari Nona Tiffany," jelas cyborg itu. "Apa? Baiklah, kalau begitu kau bisa mengikuti kemanapun aku pergi," ujar Bianca. "Tidak bisa, kau harus terus berada di dalam kamar sampai Tuan Muda mengizinkan dirimu keluar dari kamar ini," tambah cyborg itu. Bianca yang kesal kembali masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu kamarnya. Ia melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi telungkup. Wanita itu berteriak, tetapi tidak terlalu terdengar ,karena ia menggunakan bantalan yang menutup wajah. Ceklek Suara pintu kamar yang terbuka membuat Bianca seketika mengganti posisinya. Ia melihat Darren yang masuk ke dalam sana dengan wajah datarnya. "Darren, kau sudah menghukum wanita itu?" tanya Bianca dengan penuh semangat. "Ya, aku sudah menghukumnya," ujar Darren yang akhirnya membuat Bianca melompat mendekati Darren dan meraih lengan pria itu. "Duduklah, aku ingin kita menikmati waktu bersama, kau tau jika beberapa hari ini kau terlalu sibuk dengan urusanmu," ujar Bianca. Wanita itu menarik tangan Darren dan mengajaknya untuk duduk di tepi ranjang. Bianca terus menggoda Darren agar mendapatkan perhatian. Sayangnya, saat ini Darren sedang dalam kondisi yang kurang baik. Ia baru saja menghadapi kenyataan jika adiknya akan menikah.  "Apa kau lelah? Aku akan melayanimu dengan baik hari ini," ujar Bianca. "Ya, aku sangat lelah. Tetapi aku juga ingin bermain," ujar Darren. "Baiklah, permainan apa yang akan kau mainkan? Aku akan menuruti semua keinginanmu," jawab Bianca dengan semangat. "Pakailah pakaian anak sekolah yang ada di lemari," ujar Darren. Bianca tidak membantah, ia berlari menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya dengan yang Darren inginkan. Setelah selesai, Bianca kembali menghampiri Darren. "Bagaimana? Apa aku masih cocok menjadi anak sekolah?" tanya Bianca. "Ya, kau sangat cocok dengan pakaian itu. Sekarang, gerai rambutmu, aku tidak suka melihatnya terkuncir kebelakang seperti itu," ujar Darren. Dengan segera Bianca melepaskan ikatan rambutnya. Kini wnaita itu sudah benar-benar terlihat seperti Alexa. Ya, adik kesayangan Darren yang paling ia cintai. Cinta layaknya seorang pria dengan wanita. "Kau sungguh canti, Alexa," ucap Darren. Bianca terdiam, meski sudah terbiasa dengan sifat aneh yang dimiliki pria itu, Bianca tetap menyukainya dan ingin membuatnya normal. Bianca mendekati Darren, lalu mendorong tubuh pria itu hingga terlentang di atas ranjang. Wanita itu naik ke atas tubuh Darren, lalu mencium bibirnya dengan lembut. Tangannya menahan berat tubuhnya, sementara bagian bawah tubuh Bianca kini tengah menggesek pada kejantanan Darren. Ciuman itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya gairah pria itu memuncak. Darren melepaskan dasinya untuk mengikat tangan Bianca ke atas. Tidak ada kata protes ,Bianca menikmati setiap permainan Darren meski ia harus dipanggil dengan nama Alexa. Darren melepaskan pakaianya hingga tidak ada sehelai benang yang menutupinya. Bianca yang melihat tubuh polos Darren hanya tersenyum miring. Ia membiarkan pria itu menjamah tubuhnya, memberikan sentuhan-sentuhan lembut hingga bagian intimnya terasa basah. "Ahhh ... Darren, jangan mempermainkan aku," ujar Bianca saat Darren menyentuhnya. Darren meraih sesuatu dari saku jasnya, ia mengeluarkan sebuah benda berbentuk bola. Lalu tanpa permisi, Darren melepaskan pakaian dalam Bianca. Kemudian pria itu melebarkan posisi kaki Bianca hingga terlihat jelas liang senggamanya.  "Aaahhh ...." Desahan Bianca menandakan jika sesuatu telah masuk ke dalam liang itu. Setelah itu, Darren membuka pakaian Bianca dengan paksa, hingga seragam sekolah itu robek. "Kau sungguh liar ,Darren," ucap Bianca. Darren menyusu pada d**a Bianca, sementara tangan kanannya menekan sesuatu seperti remote kontrol. Seketika tubuh Bianca menggelinjang tak beraturan. Rasa geli dan nikmat tengah ia rasakan. "Aahh, Darren ... apa itu?" tanya Bianca. "Mainan baruku, apa kau menyukainya?" "Yeah ... ahh." "Maka nikmatilah, Al."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN