Chapter 10

1348 Kata
Bianca terlihat begitu menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Darren. Wanita itu tidak henti-henti mendesah dan menyebut nama pria di hadapannya. Meski kenyataan pahit harus ia terima, karena pria itu menyebutnya dengan nama lain. Darren meninggalkan banyak tanda kemerahan pada d**a Bianca. ia juga memainkan vibrator yang masih ada di dalam liang senggama wanita itu. Dengan tangan yang masih terikat ke atas, Bianca hanya bisa menikmati semua sentuhan yang Darren lakukan. "Aahh ... Darren," desah Bianca. Tubuh wanita itu menggelinjang karena geli, getaran yang dihasilkan oleh alat itu membuatnya sangat frustasi. Bahkan entah sudah berapa kali ia mendapatkan pelepasannya. Kini Darren memutuskan untuk mengeluarkan vibrator ,dan digantikan dengan jarinnya yang mengaduk liang nikmat Bianca. Satu tangan Darren melebarkan posisi kaki Bianca agar jarinya dapat masuk lebih dalam. "Aahh ... lebih dalam lagi ... yess," desah Bianca. "Kau menyukainya ,Al?" "Yeah, terus ... aahhh." Darren tersenyum, lalu ia mengeluarkan jarinya. Tidak menunggu lama, kejantanan Darren kini sudah masuk dan memenuhi intim kewanitaan Bianca. Merasa miliknya penuh, Bianca memejamkan mata semakin rapat, tangannya yang terikat ke atas mencengkeram seprai. Wanita itu tidak menahan desahannya, ia terus mengeluarkan suara yang membuat Darren semakin b*******h untuk memasukinya. "Aah, milikmu selalu sempit, sayang," ujar Darren. Pria itu bergerak memompa tubuh Bianca, hingga gerakan itu membuat d**a Bianca juga ikut bergerak sesuai iramanya. Darren pun memejamkan matanya, merasakan miliknya yang terjepit di dalam sana. Tangan Darren menahan kaki Bianca agar tetap melebar, sehingga membuat miliknya dapat masuk lebih dalam lagi. "Ahh, s**t!" umpat Darren. Darren merendahkan tubuhnya, lalu ia kembali menyusu pada puncak d**a Bianca. Bibirnya mengulum dan sesekali mengigit puncak d**a itu. Beberapa kali terlihat Bianca seperti terpekik karena ulah Darren. "Akh ... yeah, terus." Setelah puas menikmati d**a Bianca secara bergantian, Darren melepaskan tautannya dan membalik tubuh Bianca hingga menelungkup. Darren menindih tubuhnya dengan kembali memasukkan kejantanannya ke dalam liang itu. "Aahhh ... nikmat sekali , Al," ujar Darren dengan suara paraunya. Pinggulnya kembali bergerak dan membuat kewanitaan Bianca terasa penuh. Tangan Darren meraih d**a kenyal Bianca dari belakang. Darren memberikan pijatan lembut sehingga membuat Bianca sangat menikmati kegiatan itu. "Kau menyukainya ,Al?" tanya Darren dengan berbisik tepat di telinga Bianca. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya. Tubuhnya sudah terasa lemas karena Darren membuatnya berkali-kali mendapatkan pelepasan itu. Darren kembali melepaskan kejantanannya dari dalam liang itu. Kini ia melepaskan ikatan pada tangan Bianca, dan menyuruh wanita itu mengulum kejantanannya. Bianca hanya bisa menuruti keinginan pria itu. Mulutnya kini terasa penuh dengan kejantanan milik Darren. Dengan posisi telentang Darren memejamkan matanya merasakan miliknya sedang dimanjakan oleh wanita itu. "Aahh, ya ... terus, oh ... nikmat sekali, Al," desah Darren. Tangan Darren meraih rambut Bianca, dan membuat gerakan naik-turun. Beberapa kali wanita itu terlihat seperti tersedak karena milik Darren masuk terlalu dalam. "Berikan kepuasan padaku ,Alexa," ujar Darren. Bianca melepaskan kejantanan itu, lalu ia mulai naik ke atas tubuh Darren ,dan memasukkan kembali kejantanan itu pada liang senggama miliknya. Bianca bergerak mencari kenikmatannya, dengan mata terpejam Bianca merasakan akan kembali mendapatkan pelepasannya.  "Ahh, Darren ... aku akan sampai," ujar Bianca. "Keluarkan, Al." "Aah, aahh, aahhh ...." Tubuh Bianca terasa lemas dan akhirnya jatuh diatas tubuh Darren. Pria itu mencium puncak kepala Bianca, lalu membalikkan posisi mereka. Kini Darren kembali mengambil kendali atas permainan itu. Dengan kembali menyerang kewanitaan Bianca, membuatnya mendesah. Tubuh keduanya sudah basah karena keringat, bahkan suhu dingin di kamar itu tidak dapat menurunkan suhu di sana. Darren memeluk tubuh Bianca, dengan pinggul yang masih bergerak untuk memompa. Hingga beberapa menit kemudian, kejantanan Darren berkedut dan mengeluarkan cairan putih kental di dalam rahim Bianca. "Aahh ...." Darren merebahkan tubuhnya di samping Bianca, lalu ia memejamkan matanya setelah pegulatan panas itu. *** Tiffany merasa sedikit kebingungan karena kejadian yang baru saja ia alami. Wanita itu ingin keluar dari kamar dan bertanya pada seseorang, tetapi ia takut jika kembali tersesat. Beruntung baginya, beberapa saat kemudian seseorang membuka pintu. "Nona, waktunya makan," ucap Henna dengan membawa senampan makanan. "Terima kasih, ehm ... maaf, tapi ... apa aku bisa bertanya padamu?" "Tentu saja, silakan bertanya ,Nona." "Apa kau tahu tentang kejadian yang menimpa diriku?" "Entahlah ,Nona. Aku hanya tahu jika kau terjebak di dalam ruang penyimpanan minuman milik keluarga," jelas Henna. "Aku tidak dapat mengingat hal itu, apa aku bisa bertemu dengan Tuan Darren?" "Ia akan datang jika sudah selesai dengan pekerjaannya," jelas Henna. "Baiklah, sebaiknya aku menunggu saja." Henna tersenyum dan kembali melangkah menuju pintu keluar. Tetapi sebelum Henna benar-benar pergi, Tiffany kembali bertanya pada wanita itu. "Apa kau bisa menemani aku berkeliling?" tanya Tiffany. "Ya, jika kesehatanmu sudah pulih. Aku akan mengantarkan dirimu berkeliling. Untuk saat ini sebaiknya kau tetap di dalam kamar," terang Henna. "Baiklah, terima kasih." Setelah Henna keluar dari kamar itu, Tiffany mulai memakan makanannya hingga tak tersisa. "Apa yang harus aku lakukan di kamar ini?" gumam Tiffany. Sudah puluhan kali ia berkeliling dan mengamati isi kamar itu. Tetapi kini rasa bosan telah membuatnya sedikit frustasi. Tiffany masuk ke dalam walk in closet dan mencoba semua pakaian yang ada di dalam sana. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah pintu rahasia yang ada di dalam lemari pakaian itu. "Pintu?" Tiffany mencoba membuka pintu itu perlahan, hingga akhirnya pintu itu terbuka dan menampilkan sebuah lorong yang terlihat sudah lama tidak digunakan. Terlihat dari sarang laba-laba yang hampir menutup pintu itu. Rasa penasaran Tiffany membuatnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam lorong gelap itu. "Kenapa tidak ada cahaya?" Tiffany mencoba mencari saklar agar dapat membuat pencahayaan di sana menyala. Akhirnya Tiffany menemukan sebuah saklar yang ada di balik pintu lorong itu. "Seperti ini akan lebih baik," gumamnya. Lorong yang terlihat begitu panjang, dan Tiffany tidak dapat melihat ujung dari lorong itu. Ia melangkah menyusuri lorong itu hingga mendengar suara desahan dari sana.  "Suara apa itu?" Tiffany terus melangkah dan akhirnya tiba di sebuah pintu. Ia menempelkan telinganya untuk mempertajam pendengarannya.  "Ahh, Darren ... aku akan sampai," ujar Bianca. "Keluarkan, Al." "Aah, aahh, aahhh ...." Tiffany membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Ia berlari kembali ke dalam kamarnya. Dengan jantung yang berdegub kencang, Tiffany mencoba mengatur napasnya. "Dasar pria! Ternyata ia sama saja dengan banyaknya pria lainnya," ucap Tiffany. Wanita itu kini kembali menutup pintu rahasia itu, lalu ia merapikan ruangan itu. Saat Tiffany keluar dari walk in closet, Cloud tengah duduk di sofa . Hal itu membuat Tiffany terkejut, tentu saja karena ia hanyalah seorang tawanan. "Kau sudah menemukan pintu itu, apa yang kau temukan di sana?" tanya Cloud. Tiffany terlihat ketakutan, ia ingin menjawab tetapi rasa takutnya membuat dirinya hanya bungkam. "Nona, aku harap kau tidak berbuat hal buruk di sini, karena setiap gerakan aku dapat mendeteksinya," jelas Cloud. "Ma-maafkan aku, pintu itu tidak sengaja aku temukan saat memilih pakaian," ujar Tiffany. "Aku tahu, kau tidak perlu menjelaskan apapun." Tiffany kembali terdiam dengan wajah yang kini berkeringat. Cloud bangkit dari posisinya, lalu mengatakan sesuatu sebelum keluar dari dalam kamar itu. "Tuan sedang sibuk saat ini, jika kau ingin bertemu dan berbincang dengannya, aku akan menyampaikan keinginanmu itu," jelas Cloud. Setelah pintu kamar itu kembali tertutup, Tiffany terduduk di atas lantai dengan jantung yang masih berpacu.  "Sampai kapan aku akan merasa menderita?" gumamnya. Tiffany kembali bangkit , lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia kembali memejamkan matanya di sana ,terlelap di dalam alam mimpinya akan membuatnya jauh lebih baik. Ceklek Suara pintu yang kembali terbuka membuat Tiffany melirik ke arah pintu kamar. Ia melihat seseorang yang masuk begitu saja ke dalam kamar itu. "Siapa kau?" tanya Tiffany. "Astaga, maaf ... sepertinya aku lupa dengan kamarku sendiri," ujar pria itu. "Tunggu, kau siapa?" tanya Tiffany sekali lagi. Pria itu hanya tersenyum lalu keluar dari kamar itu. "Sial, kenapa banyak orang aneh di sini." Kini Tiffany tidak dapat terlelap, karena setelah itu ia kembali terbangun dengan Darren yang masuk ke dalam kamar itu. Wajah Tiffany seperti muak dengan pria itu setelah mendengar suara desahan dari seorang wanita. "Apa kau ingin tidur?" tanya Darren. "ya, tetapi sayangnya tidak bisa, karena beberapa orang keluar dan masuk seenaknya di sini," jelas Tiffany. "Benarkah? Kalau begitu aku akan mengunci kamar ini ,agar tidak ada yang bisa mengganggu kita," ujar Darren yang ditanggapi dengan kerutan dahi Tiffany. "ya, aku akan menemani dirimu hingga terlelap."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN