Tedy membuka pintu kamar rawat Tasya dengan perlahan, harapannya akan melihat Tasya tersenyum padanya pupus sudah. Wanita itu masih tergolek di atas ranjang dengan napas yang teratur. Wajah cantiknya kini penuh penuh luka dan lebam kebiruan. "Sialan ..." batinnya mengutuk orang suruhannya. Andreas masih setia menunggu Tasya, dia hanya diam ketika melihat Tedy mendekati ranjang Tasya dan kemudian pria itu membelai rambutnya. Walaupun hatinya cemburu, namun perasaan itu ditepisnya. Apapun yang dapat membangunkan Tasya, Andreas bersedia melakukannya walaupun itu belaian dari pria lain. Setelah puas memandangi Tasya dalam tidur panjangnya, Tedy membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah sofa. Dihempaskan tubuhnya pada sofa berwarna hitam itu, lalu mengeluarkan ponselnya. Sejenak dia sibuk me

