Tak Perlu Menyesali Masa Lalu

1281 Kata
Semua orang di sana menyantap makanan dengan pikiran yang tak tenang. Sedari tadi, Jenny tak membagi rencana apa pun yang ada di kepala wanita itu. Tak ada seorangpun yang mampu menebak rencana apa yang dimaksudkan Jenny untuk masa depan mereka. Apakah setelah semuanya berakhir, mereka tak lagi bisa bekerja dan harus kembali ke kampung halaman masing-masing atau diberikan tugas lain? Bi Ira yang tak sabar pun memecahkan keheningan di antara mereka. “Apa rencanamu, Jen? Kamu tampak begitu mantap untuk bercerai. Yang pastinya kamu sudah memiliki rencana sendiri untuk masa depanmu, bukan?” Jenny tersenyum penuh arti dan mengangguk antusias. “Ya, untuk kita semua. Aku akan membuka butik dengan uang yang kudapatkan dari perceraian nanti. Kalian semua akan bekerja di sana. Bi Ira yang akan mengawasi keuangan butik dan nggak perlu lagi bekerja membersihkan rumah ini. Aku mempunyai banyak relasi orang terkenal yang rela membayar mahal demi memperbaiki penampilan mereka. Aku pikir, ini bisa jadi bisnis yang sangat bagus.” “Tapi siapa nanti yang akan menjaga dan menemanimu di sini, Jen,” Bi Ira tak mampu menyembunyikan kekhawatirannya. Ia tahu benar, jika Jenny adalah seseorang yang tak tahan dengan kesepian. Sunyi bisa membuatnya merasa sesak nafas. Jenny menggenggam tangan Bi Ira yang berada di meja dan tersenyum menenangkan. “Tenang saja, Bi. Bibi tetap boleh tinggal bersamaku, tapi nggak perlu membersihkan rumah. Toh, nantinya hanya kita yang tinggal di sini, jadi aku akan mempekerjakan seorang asisten rumah tangga yang nggak tinggal di rumah. Aku lelah dengan segala perhatian dan sorotan. Semua perhatian itu membuat orang berpikir, jika aku adalah wanita glamour yang tak bisa melakukan apa pun selain menjual tubuhku,” Jenny tertawa sumbang. Perkataan Altair tentang bagaimana pemikiran pria itu padanya sungguh telah menyakiti sanubarinya. Ia memang menggunakan tubuh dan kecantikannya dengan baik, namun tak pernah sekalipun ia menjual diri hanya untuk mendapatkan rupiah. Memang, kesan tak baik kerap muncul jika kau bekerja di dunia hiburan dan mampu bersinar di sana. Orang-orang tak mengetahui jika kerja keras adalah kunci untuk mencapai kesuksesan, bukan seberapa hebat pelayanan kita di ranjang. Jenny memang kerap bertemu banyak hidung belang yang menawar untuk menikmati tubuhnya, namun ia adalah gadis yang sombong. Mengapa harus menjual martabat dan tubuhmu, jika kamu bisa menggunakan kemolekan tubuhmu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih menarik. Oleh karena itu, Jenny dijuluki sebagai model yang tak bisa disentuh. Pembawaanya yang kerap sarkas dan kejam, membuat tak ada seorang pun berani menganggu dirinya. Lalu, secara ajaib datang Altair di dalam hidupnya. Pria yang menjanjikan berjuta cinta dan juga kebahagiaan. Lelaki itu tak pernah menyerah walau diperlakukan buruk oleh Jenny, hingga tanpa sadar Jenny telah terjebak dalam permainan cinta lelaki yang ia pikir akan memberikannya cinta sejati yang diidam-idamkannya. Siapa sangka, pernikahan mereka tak berlangsung lama. Kekayaaan dan pamor pria itu sebagai pengusaha sukses membuat banyak orang menariknya ke dalam dunia politik. Semua itu adalah awal dari kehancuran pernikahan keduanya. Altair terkena star sindrom, dibutakan oleh ketenaran dan juga pujian seberapa hebat dirinya. Pria itu lebih sering bersandiwara dibandingkan Jenny, hingga perlahan membuat pernikahan mereka pun terasa seperti sandiwara yang membuat Jenny tak lagi bisa merasakan perasaan nyata di antara mereka. “Kamu mencoba bersembunyi, Jen,” wanita itu menatap Jenny sendu, sedang Jenny tersenyum dan menggeleng. Bukan itu yang hendak dilakukannya. Ia ingin menjadi gila. Oleh karena itu, ia tak ingin ada banyak orang yang tinggal bersamanya dan semakin pusing melihat kegilaannya nanti. Jenny ingin menikmati hidup seperti sebelum ia menikah dengan Altair. Kehidupannya seakan berhenti berputar saat pernikahannya dengan pria itu, namun tak ada yang Jenny sesali dari perubahan drastis itu. Hanya saja, apa yang telah dikorbankannya tak setimpal dengan semua luka yang dihadapinnya kini. Semua terlalu mengerikan bagi hatinya yang rapuh. Banyak orang mengatainya beruntung saat menikah dengan Altair, namun tak ada yang taku betapa menyedihkan pernikahan yang mereka jalani. Lambat laun, Altair hanya menjadikan Jenny sebagai bonekanya. Dipamerkan di saat yang tepat, lalu bisa diabaikan sesukanya. Pria itu tak lagi memikirkan perasaannya, lupa jika dirinya juga punya hati. “Bibi terlalu banyak berpikir. Aku hanya ingin suasana di rumah ini lebih sepi,” Jenny mengusap punggung tangan wanita itu, “Lagipula, aku mempercayai kalian semua. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mempekerjakan kalian. Aku baru terjun dalam dunia bisnis dan dukungan kalian semua yang kubutuhkan,” Jenny menatap satu persatu orang yang ada di sana. Semuanya mengangguk setuju dan seakan pasrah mengikuti Jenny pada petualangan barunya. Jenny lalu menoleh pada Bi Ira. “Bibi juga mempunyai kehidupan sendiri. Mungkin ini saatnya Bibi mencari lelaki di luar sana yang bisa Bibi nikahi dan mulai membangun keluarga bahagia untuk diri Bibi sendiri,” Jenny tersenyum pada wanita paruh baya itu. Wanita itu segera menggeleng keras. “Kamu nggak bisa menyingkirkan Bibi begitu saja. Bibi akan membantu di butikmu, tapi Bibi akan selalu tinggal bersamamu. Kamu hanya akan membuat Bibi khawatir jika Bibi nggak melihat bagaimana kamu menjalani hari.” Jenny menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan. “Baiklah, Bi. Aku memang nggak akan pernah bisa lepas darimu,” mereka berdua berbagi senyum, lalu ponsel Jenny yang berbunyi menghentikan percakapan itu. “Dia sudah mengirimkan surat cerai yang sudah ditandatanganinya kembali?” tanya Jenny begitu pria di seberang sana mengatakan ‘halo’ padanya. “Kau terlalu bersemangat. Aku mau gila rasanya lihat nominal dan tuntutanmu. Kau harus tambahkan lah komisiku kalau kek ginya ceritanya,” terdengar nada kesal di seberang sana. Dengan logat Batak yang begitu kental pria itu berbicara. “Tuntutan itu wajar dan nggak seberapa dengan apa yang dia lakukan. Dia pasti takut, kalau aku akan membuat skandal baru dan memberatkannya mengajukan diri sebagai Gubernur. Dia jauh lebih licik dariku dan pernikahan kamu hanyalah bagian dari strategi politiknya.” “Cem mana lah kau bisa berakhir begini. Udah ku bilang dulu, lebih baik kau nikah sama aku, Jen. Jelas masa depanmu. Gini-gini aku ini lelaki paling setia yang tersisa di bumi ini.” Jenny terbahak. “Kau Bang. Kalau bebek dibedakin pun bakalan kau sosor. Nggak dapat Almira, akulah yang jadi sasaranmu. Nggak usahlah kamu kayak orang putus asa gitu, Bang.” Pria itu tertawa dari seberang sana. “Tampaknya inilah yang buat aku takut sama kau dan nggak pernah serius berharap menikahi kau, Jen. Kau terlalu pintar menganalisa. Aku ngajak kau nikah dulu tuh karena nggak ada lagi kandidat. Kau lihatlah sekarang, cuma aku yang nggak nikah. Tapi sebenarnya, aku merasa beruntung juga. Setidaknya, nggak berakhir seperti kalian yang sudah menikah bukannya bahagia, malah sengsara lahir bathin.” Jenny kembali terbahak. Kini, ia sudah bisa menertawai hasil dari kebodohannya yang terjebak ilusi cinta. “Dah lah … aku mau cerai dan menikmati masa janda, bukannya mau nikah lagi, jadi nggak usah berusaha lagi ya, Bang Carlos yang gantengnya kebangetan.” Keduanya tertawa secara bersamaan. Sejujurnya, mereka tahu benar, jika tak mungkin ada nuansa romantis di antara mereka. Carlos terlalu banyak tahu tentang kebusukan Jenny dan begitu pula sebaliknya. Keduanya tahu benar, jika mereka hanya dua orang yang terlalu terbuka dan bersama adalah hal yang paling mengerikan. “Aku harap, keputusanmu sudah tepat, Jen. Suamimu memang sudah keterlaluan. Itulah makanya kusarankan untuk menggagalkannya masuk ke dunia politik. Bukan hanya terbuai oleh kekuasaan dan juga uang, tapi dunia itu juga dipenuhi skandal dengan beberapa wanita panggilan. Aku sudah memperingatkanmu. Nggak ada politik yang bersih, begitupun orangnya.” Jenny tersenyum tipis. Ya, Carlos pernah memperingatkannya, namun Jenny tak bisa mencegah pria yang terlalu ambisius itu. Lagipula, cinta membuat Jenny terlalu mempercayai semua kesemuan yang pria itu persembahkan padanya. “Ya … aku salah jika itu yang kamu harapkan keluar dari bibirku,” Jenny berkata sarkastis, “Sebentar lagi aku ke kantor. Kita bahas semuanya di sana.” Panggilan segera terputus, Jenny mengemaskan barangnya ke dalam tas dan berdiri. Ia berpamitan pada Bi Ira, lalu pergi keluar dari rumah itu. Kini, matanya sudah bisa melihat lebih jelas dan Jenny akan membangun hidupnya kembali. Tak ada gunanya menyesali keputusan yang diambilnya di masa lalu, inilah saatnya untuk menjalani hidupnya seperti yang seharusnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN