Menunggu Mirza kembali, itu seperti membuat dirinya harap-harap cemas. Takut, kalau kalau dirinya ditinggalkan lagi. Tatapan matanya tak lepas dari gagang pintu, berharap dibuka dari arah luar. "Kok, Kak Mirza belum balik?" tanya Lova dengan Diana yang masih berada di sampingnya. Bahkan sentuhan yang diterimanya dari wanita paruh baya ini sama persis dengan yang diterimanya dari Mirza. Mungkin kalau mamanya masih ada, ia akan mendapatkan sikap seperti ini juga, ya. "Lova, maafin Papa, ya," ucap Arnel berharap. "Papa tahu ini semua akibat dari kesalahan yang Papa lakukan. Tapi tolong jangan bersikap seperti ini sama Papa." Jangankan memberikan jawaban, bahkan ia seolah tak perduli mau papanya bilang apapun. Karena yang sedang ia pikirkan saat ini adalah Mirza. Kenapa dia belum kembali.

