Tepat saat jarum jam berada di angka 8 malam, Lova mulai bereaksi. Tangannya yang berada dalam genggaman Mirza mulai bergerak. Tak hanya itu, bibirnya seolah sedang meringis menahan sakit. "Lova," ujar Mirza sambil menyentuh pipi Lova dengan lembut. Kedua mata Lova mulai terbuka saat merasakan sentuhan itu di pipinya. Kini, pandangannya berfokus pada Mirza yang ada di sampingnya. "Kak ..." "Udah, kamu tenang ... aku ada di sini," timpal Mirza seakan tahu apa yang akan diutaran Lova padanya. Bahkan itu terlihat sekali dari mimik wajahnya saat menatap. Lova mengangguk dan semakin mengeratkan genggaman tangannya di tangan Mirza agar ia tak ditinggalkan lagi. "Lova, kamu udah sadar, Nak?" Mencoba memenangkan hatinya, tiba-tiba sebuah pertanyaan itu ia dapatkan. Sontak, pandangannya

