Sampai di kelas, ia segera duduk di kursinya. Tatapan Odit dan Windi, terlihat begitu aneh ke arahnya. “Jangan natap gue kayak gitu lagi,” komentar Lova. “Hadeh, Lova ... lo ngingetin gue sama Pak Mirza tau, nggak,” ujar Windi. Tiba-tiba Vianka berjalan mendekatinya sambil bersidekap d**a. “Udah, deh, lain kali kalau make parfum yang bener dong. Masa iya punya Pak Mirza dipake juga! Pacaran aja kok belagu.” Lova tertawa mendengar penjelasan Vianka. “Denger, ya ... gue itu nggak pernah pake parfumnya Pak Mirza, yakali parfum cowok gue pake.” “Kita semua juga tahu seperti apa aroma parfumnya Pak Mirza,” balas Vianka lagi. Odit tertawa mendengar penjelasan Vianka. “Nah, kali ini dengan terpaksa gue punya pendapat yang sama dengan si cunguk ini.” sambil menunjuk ke arah Vianka. “Sial

