Ia menghampiri dan duduk di samping Lova yang posisinya berada di ruang keluarga. Mata itu seolah dia fokuskan menatap layar TV, tapi ia yakin sekali kalau pikirannya tak pada layar datar itu. Lengannya ia lingkarkan di pinggang Lova, membuat tubuh gadis itu semakin mendekat padanya. “Kamu kenapa, sih? Jangan membuatku bingung dan mesra bersalah saat kamu marah padaku.” “Aku lagi nonton TV, jangan menggangguku,” balasnya masih terus menatap lurus ke depan. Mirza mengambil alih remote Tv yang ada di genggaman Lova, kemudian menekan tombol off ... dan dalam sekejap layar itu mati. “Kenapa dimatiin, sih, Kak?” tanya Lova kesal. Ya, rasa kesal itu bisa terlihat jelas oleh Mirza. Tapi ia juga kesal saat ia bicara, Lova justru mengabaikannya. “Aku serius, Lov. Kamu ada masalah apa? Tiba-t

