Beberapa saat setelah proses menyakitkan itu, Lova mulai perlahan menginjakkan kakinya. Ya ... setidaknya rasa sakit bekas cengkeraman Farel di kakinya sudah mulai terasa berkurang. "Jangan dipaksain kalau memang masih sakit, Lov," saran Andine saat sobatnya itu mencoba berjalan perlahan. "Justru itu yang lebih bagus," sela Farel pada perkataan Andine. "Jadi, urat-uratnya nggak tegang lagi. Kalau cuman duduk doang, kapan sembuhnya," tambahnya. Andine memberengut. "Ah, kesal juga gue lama-lama sama ni orang," umpatnya sedikit berbisik pada Windi yang duduk di sebelahnya. Windi yang awalnya hanya tersenyum saat mendengar Andine mengumpat kesal tentang Farel, tiba-tiba pikirannya malah seolah memikirkan sesuatu kejadian yang sepertinya tak sengaja ia lupakan. Pandangannya ia arahkan pada

