Wanita Bersepatu Pink

1063 Kata
Tanpa Kio sadari, tangannya mengepal kencang, jika saja dia tahu sebelumnya. Maka dia akan menghadang mereka berdua saat mereka melintas di depan kamarnya. Jika saja dia lebih dulu tahu semuanya. Dia pasti akan melemparkan berlembar-lembar uang kertas ke wajah dua orang dungu itu. Kio mencoba meraba hatinya, ada rasa pedih yang dia rasakan di sana. Mengapa di dunia ini, harus ada anak manusia yang merasakan penderitaan seberat itu. Jika dia ada di posisi Hafa, pasti dia sudah bunuh diri, berlari dari seluruh kenyataan yang ditakdirkan untuknya. “Lalu, bagaimana kamun menjalani hari-hari kamu sebelum ini?” tanya Kio setelah Hafa berhasil meredakan tangis pilunya. “Aku hanya bisa menghibur diriku dan berlapang hati menerima semua kenyataan, karena mungkin sudah menjadi tugas aku untuk ditakdirkan dan terlahir menjadi putri seorang wanita malam seperti ibu. Sejujurnya, aku tidak menginginkan uang ibu, karena aku tahu itu bukan rizki yang baik yang bisa aku gunakan untuk makan atau membeli kebutuhanku. Tapi, aku tak punya pilihan, aku tetap harus memakainya. Walau sebisa mungkin aku menghindari hal itu.” Airmata Hafa kembali menetes. “Oh, Hafa malang sekali kamu ini.” Batin Kio. Kio sudah tak tahan lagi, ditariknya tangan Hafa dan kio membawa gadis itu keluar. “Apa? Ada apa? Kita mau kemana?” tanya Hafa panik. Kio mengunci bibirnya rapat. Dia melangkah maju dan seperti menyeret Hafa menjauh dari kamar apatermennya. Mata Hafa terbelalak ngeri karena Kio justru membawa Hafa kembali ke lorong dimana kamar yang sebelumnya di datangi Hafa berada. “Tunjuklah, kamar mana yang tadi mau kalian datangi?” pinta Kio. Hafa terlihat sangat takut. “Apa-apaan! Ternyata cowok ini bagian dari orang-orang itu? Apakah aku sudah tertipu olehnya, apa-apaan ini!” batin Hafa ketakutan. “Tunjuk Hafa!” kio terlihat sangat emosi, rahangnya mengatup geram. “Tidak! Aku tidak mau! Lepasin aku! Lepasin!” teriak Hafa. “Kamu mau apa bawa aku kembali lagi kesini?” Hafa jadi histeris, dia benar-benar tak menyangka ternyata Kio adalah salah satu dari mereka, salah satu dari semua orang jahat itu. Hafa mencoba melepaskan cengkraman tangan Kio yang begitu erat, dia dapat melihat bahwa warna kulitnya berubah menjadi merah. “Kio, tolong lepasin aku. Biarin aku pergi dari sini, aku enggak mau kesana.” Hafa berurai airmata. Kio tampak sangat marah, dia seperti akan menikam siapa saja yang lewat di hadapannya. Mereka berdua saling meneriaki satu sama lain, hal itu mengundang perhatian seluruh penghuni apartemen yang kamarnya terletak di sekitar mereka. Salah satu kamar terbuka, seorang dengan kepala botak dengan galak melongokan kepalanya ke luar kamar. “Sialan! Apaan sih brisik amat!” ujarnya kesal. Dia nampaknya sedang dimarahi oleh orang yang ada di dalam kamar itu. Ya, itu si botak dengan wajah kumah dan berminyak. Tapi mata pria itu terbelalak saat dilihatnya Hafa ada di tempat yang tak jauh darinya. “Bos, Hafa tuh Bos!” dia berteriak dan mengambil ancang-ancang untuk mengejar Hafa, kalau-kalau gadis itu tiba-tiba berlari. “Enggak! Lepasin aku! Kio! Kamu sebenarnya siapa? Anak buah mereka? Tolong lepaskan aku. Kio! Tolonglah!” Hafa meraung-raung ketakutan, kenapa dia jadi kembali ke keadaan semula? Begitulah pikiran Hafa, hal mengerikan tiba-tiba terasa menjalar dalam kepalanya. Kio menatap lurus ke arah pria botak itu, dia berjalan mendekatinya seraya menyeret Hafa. Sementara gadis itu meronta-ronta dan memelas agar dia mau melepaskan dia dari genggaman tangannya yang menyakitkan itu. Pria botak itu bertepuk tangan. “Waw, waw! Keren! Apa kamu pesuruh bos yang baru? Baiklah, masuklah, bawa Hafa ke dalam! Terimakasih sudah membawa Hafa kembali, kamu telah menyelamatkan aku dan kawanku.” Ujarnya merepet bak cuitan penyiar radio. Kio tak menggubris ucapan pria itu. Hafa masih berusaha melepaskan dirinya, dia gterus menarik lengannya yang sudah berkeringat dan terasa amat nyeri. Namun, sepertinya sudah sangat terlambat. Dia kini sudah berada di dalam bersama Kio. Di dalam sana, Hafa melihat seorang wanita peruh baya tengah duduk dengan anggun di sebuah meja kerja, di tanganya ada sebatang rokok berwarna putih yang mengepulkan asap. Bibir wanita itu semerah darah segar, bulu matanya menjulang panjang dan terlihat lebat dengan cara tak wajar. Dia memakai tangtop berwarna hitam pekat dan juga sebuah rok mini dari bahan jeans. “Bos, itu bocahnya dateng. Wah, hebat orang suruhan bos itu bisa menemukan Hafa dengan cepat.” Pujinya. “Baron tutup pintunya!” bentak wanita itu. Si botak yang memanggil wanita itu dengan sebutan bos menyeringai aneh, dan bergegas menutup pintu. Kio masih memegang tangan Hafa erat. Tatapan matanya terpaku pada wanita yang ada di hadapannya itu. “Karim! Bawa bocah perawan itu kesini!” suruh wanita itu pada si botak satunya lagi. Yang dipanggi karim itu mendekati mereka dan hendak menyentuh Hafa saat Kio mulai bicara. “Oh, jadi nama kalian Baron dan Karim?” ujar Kio dingin. “Kenalannya nanti aja!” karim berusaha menyentuh bahu Hafa tapi tangan Kio yang bebas dengan cepat menepis tangan kekar pria itu. “Heh. Apa-apaan lu!” bentaknya kesal. “Tidak ada yang bisa menyentuh siapapun yang sudah bersamaku!” tukas Kio tajam. Wanita yang duduk di sofa itu masih terlihat santai, dia menghisap rokoknya dan mengepulkan asap ke udara. Dia tersenyum menyebalkan saat memandang ke arah Kio dan Hafa. “Elu lagi ngomong apaan sih! Ngelantur lu ya! Udah sini, Hafa biar langsung di urusin sama bos! Tugas elu Cuma sampai di sini aja! Udah!” Karim berusaha menggapai lengan Hafa. Kio dengan cepat menangkisnya lagi. “Eish! Bocah ini!” karim mulai marah. “Stop! Jangan pernah mencoba sentuh gadisku ini!” Kio mengancam Karim dengan rahang mengeras. Karim dan Baron bertatapan dan mereka terawa terbahak-bahak. Wanita itu melemparkan rokoknya ke lantai dan menginjaknya dengan sol sepatunya yang berwarna pink norak. Dia mendekati Kio dan Hafa, berdiri di depan mereka seraya melipat kedua lengannya di depan perutnya. “Apa mau kamu anak muda?” tanyanya dengan seringai yang dibuat-buat agar terlihat anggun tapi menyeramkan. “Berapa kamu akan menjual Hafa pada p****************g?” tanya Kio dengan mata setajam mata pisau cukur dengan iklan norak di televisi. “Apa?” wanita itu tergelak, seorang Kio baru saja melemparkan joke yang amat lucu tak tertahankan. “Hei, bocah tengik! Siapa kamu sebenarnya?” bentak Baron, dia mendekati Kio dan meraih bagian leher hoodie kio. Wanita itu melotot, dia mengusir Baron agar tak ikut campur dengan mengibaskan tanganya, persis seperti mengusir lalat hijau penghuni bak sampah. “Katakan! Berapa kamu akan menjual Hafa?” tekan Kio. Hafa tak mengerti, apa sebetulnya yang hendak Kio lakukan. Dia gemetar, sisa tangisnya masih ada walau sekarang sudah agak mereda, perlahan dia tahu bahwa Kio bukanlah bagian dari mereka. Jelas, kerena mereka sama sekali tidak mengenal Kio. Sudah pasti, Kio bukan salah satu dari mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN