“Katakan! Berapa harga yang kamu inginkan untuk melepaskan Hafa?” ulang Kio.
“Setinggi mungkin!” seringai wanita itu dengan suara dinginnya.
“Setinggi mungkin?” kio menaikan sebelah alisnya.
Wanita itu menatap Kio lekat.
“Apakah dia itu putranya? Rasanya aku pernah melihat wajah seperti ini!” batin wanita itu.
“Sebutkan jumlahnya, dan sebutkan pula jumlah hutang Ibu Hafa serta bunganya! Sebutkan angka!” tukas Kio dengan tekad penuh. Tekad bahwa dia akan segera melepaskan Hafa dari jerat hutang dan barisan masalah yang terus saja menerpanya itu.
Wanita itu terhenyak dengan keberanian Kio, dia berpikir pasti cowok itu cukup kaya, sehingga berani membayar semuanya.
“Cih, sombong sekali kamu anak muda!” wanita itu memikirkan berapakah angka yang akan dia sebutkan untuk menguras dompet anak muda itu. Dia pasti sangat kaya, dan dia pasti lebih kaya dari itu jika memang dia adalah putra laki-laki tengik itu. Begitulah pikiran wanita itu.
“Jangan buang-buang waktuku lebih banyak lagi, sebutkan saja!”Kio benar-benar sangat kesal.
Wanita itu tersenyum dan menjulurkan lidahnya.
“Hutang Hesty hanya lima belas juta, tapi, angka itu terlalu kecil untuk anak muda kaya raya ini.” Pikir wanita itu picik.
“Hutang ibunya padaku, tiga puluh juta!” ujar wanita itu dengan mantap.
“Apa?” kio terbelalak kaget.
Wanita itu tertawa meremehkan.
“Lihat anak muda yang sok jadi hero itu, dia kaget denger uang yang enggak seberapa itu. Aku bahkan beluom bilang mau jual Hafa berapa ke pelanggan kita.”
Kio diam saja, dia benar-benar kesal.
Wanita itu memutari Hafa dan Kio. Wanita itu menyentuh dagu Hafa dan membelai punggung Kio yang berdiri membelakanginya.
“Dan sudah ada pelanggan yang berani membayar dua puluh juta untuk bisa bersenag-senang dengan gadis yang masih segar ini.” Dia sekali lagi menjulurkan lidah.
Sekali lagi Kio tersentak.
“Apa?” dia menatap nanar ke arah wanita yang kini sudah kembali berdiri di depan Kio.
Wanita itu tertawa seperti tokoh antagonis dalam film-film.
“Apa itu terlalu banyak buat kamu? Ha-ha-ha, jangan berlagak jadi pahlawan kalau miskin!” sindir wanita yang bermake up super tebal itu.
Hafa meringis, dia sudah tak berdaya, habislah dia kali ini, kenapa juga Kio dengan percaya diri membawa Hafa kemari dan juga menantang orang-orang ini. Hafa sudah tak bisa berpikir jernih, baginya hidupnya selesai detik itu juga, di kamar yang berbau asap rokok itu.
Wanita itu masih tertawa, tawanya makin keras seiring perasaan yang timbul bahwa dia ternyata sudah berdiri di atas harga diri bocah laki-laki itu yang beberapa detik tadi nampak sangar bagai singa penguasa hutan.
“Keterlaluan!” bentak Kio di antara suara tawa wanita itu.
“Apa?” wanita itu berhenti tertawa.
“Serendah itu anda menilai manusia! Tanpa anda sadari, anda telah merendahkan diri anda sendiri.” Kio sangat kesal.
Kio meraih selembar kertas dari sakunya, dia lalu berjalan ke arah meja yang berdiri membisu dengan empat kakinya dan menyambar sebuah bolpoin yang tergeletak di atas permukaan kaca meja itu. Kio menggerakan bolpoin di atas kertas kecil tadi. Dia kemudian mencoret di sana seperti sedang membubuhkan tanda tangan untuk para fans nya.
Kio kembali ke hadapan wanita tadi, dia meraih tangan wanita itu mengangkatnya sampai batas pinggang, membuat telapaknya berada di sisi atas, kemudian kio menaruh kertas itu dengan menepukkan tangannya sendiri dan memegang kertas itu. Terdengar suara tepukan keras saat kio meletakan kertas itu di atas telapak tangan wanita, mereka nampak sedang tos.
Wanita itu bingung sejenak, kemudian dia menatap kertas itu, sebuah cek. Di sana tertulis nominal yang dia sebutkan tadi. Lima puluh juta rupiah, dan tertera tanda tangan dengan nama Kiofaye di bawahnya.
Kio menatap dengan wajah puas, dia kemudian beralih kepada dua botak yang ternganga, mereka berdiri tak jauh. Kio membuka dompetnya, mengambil seluruh yang yang ada di dalam dompetnya. Kio tak menghitung jumlahnya, tapi kedua botak itu terpukau dengan harum uang kertas itu. Dari ketebalan tumpukan uang kertas pecahan ratusan itu, dapat diterka jumlahnya, pasti lebih dari dua juta. Kio memperlihatkan uang itu di depan wajah mereka, mereka meneguk ludah demi melihat kertas berwarna merah itu.
Kio melemparkan ke udara, dan dengan segera, uang kertas itu berhamburan di atas kepala mereka. Mereka seperti dihujani uang. Kio lalu meraih tangan Hafa dan bergegas keluar dari kamar itu. Sementara dua botak tadi saling berebut mengumpulkan uang yang terjatuh ke lantai satu per satu.
Wanita itu masih tertegun. Banyak pikiran yang menganggunya saat itu.
“Woy, ini punya gue!” suara ribut Karim dan Baron sama sekali tak dia hiraukan. Dia sibuk tenggelam dalam alam pikirannya, sepertinya wanita itu punya kisah sendiri akhirnya dia kini sampai pada fase itu. Memiliki profesi yang tidak lazim dan tentu saja melanggar hukum. Anak muda tadi, bisa saja melaporkan dia dengan dugaan perdagangan manusia. Tapi, alih-alih melakukan itu, pemuda tadi justru melunasi semua hutang, dia bahkan memberikan sejumlah uang yang harusnya dia terima dari seorang p****************g.
“Dapet berapa lu? Gue setuja tiga ratus!” ujar Baron.
Sementara Karim masihi sibuk menghitung uang itu.
“Sejuta dua ratus, lah kok banyakan elu?” karim tak senang.
“Yaelah beda cepe doang rim!”
“Enggak bisa! Elu beliin gue mie ayam dah!”
“Ayo dah!” sahut Baron yang ternyata setia kawan karena merasa senasib sepenanggungan dengan Karim.
Wanita tadi kembali duduk dan menyalakan sebatang rokok, seketika asap mengepul di depan wajahnya yang terlihat cantik meski dia sudah berumur.
“Apakah mungkin, dia itu?” wanita itu menghisap rokoknya lagi dengan tatapan kosong.
*
Kio dan Hafa kembali ke kamar kio. Cowok itu meminta Hafa duduk sementara dia masuk ke dalam ruangan di sisi lainnya. Kio membuka lemarinya dan memilah-milah isinya, nampaknya dia ingin mengambilkan baju untuk di pakai Hafa.
“Argh, kok baju gue gini semua ya!” dia mengacak-acak isi lemarinya. Hanya ada t shirt, hoodie dan celana jeans seukuran dirinya.
Tapi tiba-tiba perhatian dia tertuju pada sebuah paperbag di sudut kamarnya. Dia cepat- cepat mengecek isi paperbag itu. Benar, itu milik Gwen, adiknya. Pekan lalu Gwen datang untuk mengambil ponsel baru yang Kio belikan, rupanya dia meninggalkan satu kantong belanjaannya karena terlalu senang dengan ponsel barunya itu, bagaimana tidak karena itu sebuah ponsel dengan buah apel yang tergigit sedikit sebagai ikonnya, dan lagi itu keluaran terbaru dengan tiga kamera beresolusi tinggi di bagian belakangnya, dia sangat girang karena dia akan tampak sangat cantik jika berswafoto dengan benda itu.
Kio meraih sebuah celana jeans ukuran perempuan, dan sebuah cardigan berwarna coklat muda, juga ada sebuah tshirt berwarna putih.
“Ah, pas banget nih, mereka punya ukuran badan sama kayaknya!” sorak Kio senang.
Dia kembali ke ruang utama dengan sebuah paperbag.
“Ini!” ujar Kio seraya mengulurkan paper bag itu pada Hafa.
“Apa ini?” tanya Hafa bingung.
“Hadiah!” jawab Kio pendek.
“Hadiah? Maksudnya apa?”
“Ya hadiah aja. Enggak ada maksud apa-apa.” Kio bersikap cuek. Dia pergi ke dapur dan meraih dua botol air mineral.
“Ini minum!”
“Lho, ini saja belum habis!” tolak Hafa.
Kio lalu menghela nafas dan duudk di sisi Hafa.