Tinggal Di Sini?

1062 Kata
“Sebaiknya kamu ganti dulu pakaian kamu dengan itu, nanti kamu bisa cerita ke aku semuanya.” Hafa selalu terlihat ragu dalam beberapa hal, bukan karena dia tak punya pendirian yang pasti. Hanya saja, dia kini berada di tempat asing dan semua hal terjadi begitu saja dan tanpa jeda. “Itu, di kamar mandi. Kamu bisa bersih-bersih dulu, terus ganti baju.” “Apa aku boleh mandi?” tanya Hafa kemudian.. Kio terhenyak. Dia masih terus berpikir bahwa gadis itu terlampau lugu dan poloa. “Iya. Boleh kok!” “Makasih, ka-kalau gitu, aku mandi dulu ya, Terimakasih!” Kio mengangguk sekali. Dia mendadak jadi lebih gugup dari tadi. Dia gelisah dalam duduknya. Kio mondar mandir di ruang tamu itu, entah bagaimana bisa dirinya mengeluarkan uang sebanyak itu tanpa pikir panjang dan tanpa pertimbangan matang, apa gerangan yang membuat dia menjadi sepeduli itu pada gadis yang baru saja dia temui. Dia akhirnya kembali duduk dan menyalaka televisi karena dia tak nyaman mendengar suara gemercik air dari kamar mandinya, menyadari bahwa ada seorang gadis yang tengah mandi di dalam sana. Kio memegangi dagunya. “Ada cewek, mandi di kamar mandi gue!” dia bergeleng-geleng mengusir pikiran kotor yang dibawa iblis dan sampai di kepalanya. Seolah bergeleng akan membuat semuanya menghilang. Berkali-kali Kio menoleh ke pintu kamar mandi, tapi gadis itu belum juga keluar dari dalam sana. Tapi saat dia menoleh di kali terakhir itu, tiba-tiba Hafa keluar dari dalam kamar mandi, dengan outfit yang tadi diberikan Kio untuknya. Kio sontak mengalihkan pandanganya ke arah televisi yang sedang menyayangkan sebuah acara anime. “Ehm, ini aku pinjem dulu, nanti aku balikin kalau udah di cuci.” Ujar Hafa tak enak karena ternyata baju itu sangat mahal, dia menemukan sebuah label merk yang terdapat angka berderet tercetak di sana. “Eh, apa? Enggak apa-apa. Enggak masalah.” Hafa berdiri di hadapan Kio, dia hendak duduk tapi rasanya malu sekali. “Hah, kenapa dia malah berdiri kaya model gitu sih! Mana cantik banget lagi. Aduh!” batin Kio gabut. “Eh, duduk di sini!” ujar Kio. “Iya, makasih!” Mereka terdiam, saling diam untuk beberapa waktu. Kio tadi sudah menyusun rencana tentang apa saja yang akan dia katakan pada Hafa setelah dia selesai mandi, tapi kini semuanya lenyap. “Ehm, aku enggak tahu berapa lama aku bisa melunasi semua yang kamu pinjamkan, tapi aku janji aku akan lunasi semuanya.” Hafa mulai bicara. Kio menoleh, baguslah dia bicara duluan, begitu pikiran Kio. Kio masih pura-pura dingin tak berusaha untuk tak terlihat peduli dengannya. “Hem, aku tahu, aku akan butuh waktu yang sangat lama. Tapi, aku akan bersungguh-sungguh...” “Hei, aku mau kamu jadi asisten aku!” kio tiba-tiba memotong ucapan Hafa. “Ap-pa?” tanya Hafa kaget. Asisten macam apa yang dia maksud itu. “Iya, kan aku ini selebgram, ya bisa dibilang aku ini artis.” Ujar Kio menyombongkan diri. “Lalu?” hafa masih tak mengerti dengan apa yang Kio maksud. “Ya, lalu begitu, kamu harus jadi asisten pribadiku. Karena setiap artis selalu butuh asisten pribadi untuk mengurus semua keperluan dia.” Papar Kio panjang lebar. “Maksudnya, jadi pembantu?” tanya Hafa bingung. “Nah, iya. Semacam itulah, tapi tenang aja kerjaan kamu enggak berat kok.” “Apa aja memangnya kerjaan aku? Terus terang aku masih sekolah, jadi belum punya banyak pengalaman kerja, aku Cuma sering bantu bibi kantin jualan dan cuci piring saja.” “Oh ya! Digaji berapa?” tanya Kio tertarik. Hafa menggeleng. “Enggak usah malu, kasih tau aja kamu digaji berapa sama dia!” Sekali lagi Hafa menggeleng. “Kenapa harus malu sih?” tanya Kio. “Ehm, aku enggak digaji.” Ucap Hafa terus terang. “What?” “Ehm aku udah bersyukur karena aku bisa makan minum gratis disana, lagipula selama ini aku enggak terlalu banyak butuh uang.” Hafa sekali lagi berterus terang tentang keadaan dirinya yang serba apa adanya dan kondisinya yang amat sederhana. “Begitu ya. Kalau gitu, ya sudah kamu harus jadi asisten aku, biar impas.” “Impas?” Hafa bingung. “iya, karena aku udah bantu kamu, bayar hutang kamu, maka kamu juga harus bantuin aku. Caranya dengan jadi asisten pribadi aku.” “Oh, begitukah?’ tanya Hafa. “Iya begitu!” jawab Kio menahan tawa, entah kenapa dia jadi sering tertawa saat itu. gadis polos itu teramat sangat jenaka untuknya. “iya, nanti aku tanya Ibu dulu.” jawab Hafa kemudian. “Tanya Ibu? Kamu mau pulang sementara Ibu kamu baru aja jual kamu?” Kio agak heran dengan hafa dan berpikir akan kembali ke rumah yang bak neraka itu. “Entah aku benar atau tidak, tapi rumah itu pasti seperti neraka untuk kamu.” Tambah Kio. Hafa hanya terdiam. “Benar kan?” ujar Kio. “iya,benar.” Lirih Hafa. Sejujurnya dia tak ingin membagi ini dengan siapapun, karena itu adalah aib baginya, kehidupan malam ibunya mungkin bukan sepenuhnya menjadi salahnya. Karena Kio sudah terlanjut tahu poin besar masalah dalam hidupnya, dan juga entah mengapa merasa ada kenyamanan saat bicara dengan cowok ini. Dia ingin sekali membuka semua kisahnya dan berkeluh kesah pada cowok di depannya ini, tapi siapalah dia, dia hanyalah seorang gadis yang berhutang besar padanya. Dan bahkan dia akan menjadi pembantunya. “Saranku, tinggal saja di sini.” Ucap Kio tak terduga. “Apa? Tti-tinggal disini?” Hafa terkejut dengan perkataan Kio. “Iya, tinggal di sini!” tekan Kio dengan mengulangi kalimat yang sama. “Enggak mungkin, nanti kita bisa di grebeg.” Tolak Hafa, nampak jelas dia sangat takut akan hal yang dia katakan itu. Kio tertawa renyah. "Grebeg itu apa?" tanya Kio. Hafa berpikir sejenak. "Digrebek karena tinggal dengan lawan jenis yang tidak ada hubungan darah atau pernikahan." Kio tertawa lagi, dia hanya bisa tertawa dan tertawa lagi karena tingkah gadis itu. “Kenapa mereka harus menggrebek tuan rumah yang tinggal dengan pembantunya?” kio masih saja tertawa geli mendengar ucapan Hafa yang sangat polos itu. “Eh, iya!” Hafa jadi mengkerut rasa percaya dirinya. Dia berpikir dia sangat bodoh danterlalu percaya diri, bagaimana mungkin dia berpikir bahwa Kio menganggap dirinya sebagai seorang gadis. Kio pastilah hanya menganggap Hafa sebagai asistennya saja, lagipula dia pasti tak ada pilihan lain selain membiarkan Hafa tinggal di sini, dia pasti takut Hafa kabur dan mangkir membayar uang yang dia pinjamkan. Begitulah pikiran Hafa. “Nah, iyakan!” kio merasa menang saat itu. Dia yakin bahwa Hafa akan mau menjadi asisten pribadi dia, karena dia tak bisa menemukan cara lain untuk membayar hutang yang jumlahnya sangat banyak itu “Yes, aku berhasil! Sekarang aku bisa lihat wajah dia setiap hari.” Pekik Kio dalam hati. Hafa masih mempertimbangkan itu sementara Kio beranggapan dia telah menang. Hafa masih bingung bagaimana jika ibunya mencarinya. Namun dia juga tidak tahu, apakah kini ibunya peduli dengannya atau tidak pada dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN