Sementara itu Hesty terduduk lemas di sofanya. Rasa bersalah benar-benar menjalar ke seluruh persendian tubuhnya, meracuni aliran darahnya. Membuat dia sungguh tak berdaya. Tak ada yang ingin dia lakukan, bahkan menyentuh makanan atau minum segelas airpun tak dia lakukan sama sekali.
“Hafa, sedang dimana kamu saat ini. Maafkan ibu yang amat bodoh ini, Nak.” Tapi nyatanya wanita itu masih sanggup bersuara meski tak terdengar sampai ke kampung sebelah.
“Bagaimana aku bisa sebodoh ini, aku bekerja menjual tubuhku selama bertahun-tahun. Tapi, aku tetap tak punya apapun, tidak punya tabungan barang sedikit, tidak punya benda berharga yang dapat dijual lagi. Aku hanya memiliki Hafa yang sudah aku besarkan dengan kasih sayang yang aku punya. Aku benar-benar tidak memiliki apapun. Upaya aku selama bertahun-tahun benar-benar tak ada hasilnya. Apa ini yang disebut rizki yang tidak halal, karena itu sama sekali tidak berkah. Maka benar-benar tak ada yang tersisa. Hanya ada malu karena oekerjaan ini bagai aib, dan juga tubuhku yang semakin kotor di setiap harinya. Apa yang harus aku lakukan kini, bahkan aku telah menjerumuskan Hafa dalam lubang yang sama.” Wanita itu masih sanggup monolog, mengeluarkan segala hal yang ada di pikirannya.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering.
Sebuah panggilan dari seorang pelanggan yang sudah belasan kali kencan dengan Hesty yang sungguh molek tubuhnya itu.
Hesty rupanya menaruh hati pada suami wanita lain itu, betapa tidak, jika pria itu mengajak Hesty kencan, dia tidak akan perhitungan saat membelikan Hesty makanan ataupun barang yang Hesty inginkan. Meski bukan jenis barang branded yang dapat dijual kembali, setidaknya Hesty bisa punya koleksi tas dan sepatu yang pantas jika dia gunakan untuk menjajakan dirinya agar tampak menawan dan tidak terkesan murahan. Seperti wanita penjaja dirinya sendiri yang biasa mangkal di sepanjang rel kereta.
“Iya Mas Ardi.” Rupanya hesty masih punya kekuatan untuk bicara lewat telepon. Bahkan suaranya terdengar sangat tenang dan terkesan tersipu malu karena harus bicara pada seseorang yang dia kagumi itu. Bukan hanya royal dalam membelikan Hesty banyak barang, dia juga lumayan tampan. Alangkah senangnya kalau dia jadi istrinya, begitulah pikiran Hesty. Tak mengapa jika harus jadi istri kedua atau simpanan.
“Sayang, nanti malam jalan yuk!” ajak pria berumur lima puluh tahunan itu. Dia betul-betul nampak lebih muda dari usianya. Mungkin karena dia selalu bahagia atau karena makanan yang dia makan selalu bergizi. Dia sering cerita pada Hesty kalau istrinya selalu memberikan makanan yang lezat dan bergizi. Tapi, wanita itu tidak bisa seperti hesty, pandai menghibur dan juga nyaman di ajak bicara. Begitu kata si p****************g itu.
“Boleh, Mas. Jemput ke rumah atau ketemu di tempat biasa?” tanya Hesty yang cepat-cepat beranjak ke kamarnya, melihat wajahnya ke cermin dan mengecek luka di wajahnya.
“Ah, masih bisa di akali dengan di tutup foundation.” Begitu kira-kira yang dia pikirkan saat mendapati beberapa luka gores dan memar di wajahnya.
Detik itu juga, Hesty seolah lupa dengan Hafa dan masalah yang tengah menjeratnya itu, entah ibu macam apa dia. Bahkan binatangpun tak pernah membiarkan anaknya terluka.
Dia mulai bergegas mandi setelah panggilan telepon terputus. Hari sudah sore, tida tidak boleh membuang waktu untuk duduk santai karena dia harus menghias diri dengan berbagai variant warna dari komponen make up nya.
“Permisi!” suara seseorang berseru di depan pintu yang dibiarkan terbuka.
“Assalamu’alaikum!” kali kedua suara itu memberikan salam.
Hesty mempertajam pendengarannya.
“Siapa ya? Mas Ardi kah? Kok udah dateng aja. Hi-hi-hi.. aku belum selesai pake bulu mata nih.” Dia cepat-cepat menyelesaikan sisa pekerjaannya dan memakain sepatu, kemudian meraih tas kecil dari balik pintu.
“iya!” dia keluar dari kamar dan cepat-cepat ke ruang tamu.
Tapi itu bukan Ardi yang dia harapkan.
Itu Irham, kawan Hafa.
“Cari siapa ya?” tanya Hesty seraya memperhatikan anak muda itu dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.
“Saya Irham, tetangga Ibu.”
“Tetangga? Lho, aku baru tahu kalau Pak Guntara punya anak laki-laki.” Ujar Hesty.
“Bukan Pak Guntara, tapi saya tinggal di rumah sebelah warung sembako.” Jawab Irham.
“Oh, iya deh terserah. Terus ada apa?” tanya Hesty tak peduli, dia melongok keluar berharap Ardi cepat datang. Karena dia sudah berkeringat, dia tak ingin bedaknya luntur. Dia mengibas-ibaskan tangannya ke wajah, agar memberi angin sejuk pada wajahnya guna mengeringkan keringat, dia tidak bisa menyeka keringat di wajahnya dengan tisu, karena jika itu dia lakukan maka seluruh make up nya akan berpindah dari wajah ke tisu.
Irham terlihat kikuk, dia berusaha mencari kalimat yang tepat dan tidak menyinggung.
“Eh, malah diem aja.” Hesty tak sabaran, entah mau apa anak itu tiba-tiba nongol di depan rumahnya.
“Begini Ibu, saya baru pulang. Dan tadi Ibu saya cerita kalau Hafa di bawa sama orang ya. A-ada ap-pa ya Bu?” Tanya Irham takut-takut.
Sebetulnya Irham sudah dilarang oleh Ibunya, dia tidak boleh ikut campur dengan urusan orang lain. Tapi, baginya Hafa bukan hanya sekedar orang lain. Hafa sangat berarti baginya. Setelah mendengar cerita dari ibunya bahwa Hafa di seret paksa oleh dua orang berbadan besar. Irham jadi sangat khawatir, dia cepar-cepat mendatangi rumah ini meski Ibunya bersikeras melarang Irham.
Hesty terpaku karena pertanyaan dari Irham.
Dia tertegun dan diam tanpa berkata apa-apa.
“Bu, maaf kalau saya lancang. Hanya saja, saya khawatir dengan kondisi Hafa. Sebetulnya ada masalah apa? Barangkali saya bisa bantu.” Irham merasa lidahnya benar-benar tak bertulang, semjua kalimat itu dia lontarkan begitu saja.
Tepat di saat itu sebuah mobil berwarna putih masuk ke halaman rumah Hesty.
Hesty jadi punya kesempatan untuk mangkir dari pertanyaan Irham. Dia cepat-cepat menyingkirkan tubuh Irham yang berdiri di pintu dan melangkah keluar.
Dia tersenyum seraya melambai saat pengemudi mobil itu keluar. Pria dari dalam mobil itu nampak masih mengenakan pakaian formal. Tampak jelas dia bukan seorang karyawan biasa. Irham menatap pria itu dengan tatapan penuh arti. Ah, dia pasti direktur atau semacamnya. Entah bagaimana perasaan anak-anaknya jika mereka tahu ayahnya main gila bersama seorang p*****r. Begitulah pikir Irham.
“Mas Ardi!” sapa Hesty dia dengan cepat meraih lengan pria itu.
“Halo Sayang!” sapanya ramah dan cukup manis.
“Mau minum dulu?” tanya Hesty pada Pria yang dipanggil Ardi itu.
“Enggak perlu, kita langsung pergi saja. Ayo!” pria itu merangkul pundak Hesty dengan tanpa rasa canggung meski di sana ada Irham.