Kakek, Jangan Pergi

1385 Kata
Musa langsung gelagapan saat Rida jatuh pingsan. Dengan sigap ia meminta tolong mahasiswa yang kebetulan lewat di dekat mereka untuk membantunya memindahkan Rida. Musa membopong Rida ke klinik kampus sementara teman-teman yang lain membantu membawakan barang bawaan Rida dan tas ransel milik Musa. Di tengah perjalanan menuju klinik mereka berpapasan dengan Yanto. Melihat Rida dalam kondisi pingsan, Yanto langsung panik. Ia membatin, apakah Rida sudah mengetahui kepergian kakeknya? "Kenapa dengan Rida, Musa?" tanya Yanto cepat. Yanto mengenal beberapa teman Rida, Musa termasuk di antaranya. "Apa yang terjadi padanya?" tanyanya panik. Raut wajahnya tampak khawatir bercampur takut. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Rida. "Oh, Kak Yanto," ucap Musa lega. Akhirnya ia bertemu dengan kenalan Rida. "Rida pingsan, Kak. Sepertinya ia baru saja mendapat kabar mengenai kakeknya," jawab Musa. Ia berjalan lebih cepat karena tubuh Rida terasa semakin berat bagi orang yang jarang olahraga sepertinya. Yanto langsung paham jika Musa sudah kepayahan. Ia segera mengambil alih Rida dari bopongan Musa. Mudah saja bagi Yanto yang bertubuh solid membawa Rida yang notabene cukup langsing. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di klinik. Beberapa mahasiswa kedokteran yang magang di klinik tampak antusias karena kedatangan pasien. Dengan gerak cepat mereka melakukan pertolongan pertama dan mendiagnosa. Yanto dan Musa menunggu di luar klinik dan menanti dengan sabar proses penanganan Rida. Musa tampak terduduk setengah melamun sementara Yanto sibuk mengabari orang rumah perihal kejadian yang menimpa Rida. Setelah cukup lama menelepon, Yanto duduk di samping Musa sembari masih sibuk dengan ponselnya. "Apa yang terjadi dengan Kakek Suro? Apa beliau sempat sakit sebelumnya?" tanya Musa membuka obrolan. Ia penasaran apa yang menjadi lantaran kematian Kakek Suro. "Kakek Suro sudah uzur," jawab Yanto singkat. Bahkan bagi dirinya, kematian Kakek Suro cukup mengejutkan. "Begitu, ya .... Aku tadi sempat kaget saat melihat Rida menangis. Aku tidak terpikirkan yang aneh-aneh soalnya aku baru saja melihat Rida tersenyum lega setelah menyelesaikan sidang skripsi. Tidak tahunya, Kakek Suro meninggal. Aku turut berduka," ucap Musa. "Ya, aku juga." "Kenapa orang rumah mengabari seperti ini. Harusnya menunggu Rida sampai rumah dulu. Kalau dia pingsan seperti ini kan kasihan," ujar Musa sedikit kesal. "Aku juga sependapat. Padahal aku sudah bilang pada ibu agar tidak memberitahu Rida lewat telepon. Biar aku saja yang memberitahunya, tapi masih saja diberitahu. Kan kasihan Rida jika ia sampai pingsan seperti ini," balas Yanto menyayangkan. "Lalu bagaimana dengan Rida kedepannya, Kak?" tanya Musa. "Apa itu berarti ia akan sendirian?" "Tidak!" bantah Yanto cepat. "Rida masih punya aku!" pungkasnya. Musa melirik Yanto sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sebagai seorang pria ia tahu arti ucapan itu. Namun, ia hanya bisa menduga. Apakah Yanto menyukai Rida sebagai tetangga yang sangat dekat layaknya keluarga atau sebagai seorang pria kepada wanitanya? Namun, apapun wujud rasa sayang Yanto ... sebagai sahabat dekat Rida, Musa bersyukur ada orang sebaik Yanto di samping Rida. Ia berharap Yanto bisa membantu Rida melewati kesendirian yang menyedihkan. "Pasien sudah siuman," ucap seorang mahasiswa magang dari dalam klinik. Yanto dengan sigap segera bangkit mengikuti orang tersebut masuk ke dalam klinik. Musa juga mengekor di belakang tubuh tegap Yanto. Ekspresinya diliputi kelegaan. Untung Rida cepat siuman. Suara rengekan Rida menyambut Musa begitu ia masuk ke ruangan. "Aku ingin pulang, Kak Yanto. Antarkan aku pulang sekarang," pinta Rida. Matanya sembab, tapi syukurlah, ia terlihat lebih tegar dibanding tadi. "Baiklah," jawab Yanto. "Mari pulang sekarang," lanjutnya lembut. Ia membantu memapah Rida. "Aku ikut dengan kalian," ujar Musa. "Kamu tak harus ikut. Kamu harus sidang, kan?" ujar Rida. Meski ia tengah kesusahan, tapi ia tidak ingin merepotkan. "Sudah, aku sudah sidang," jawab Musa cepat. "Baiklah kamu bisa ikut dengan kami. Aku membawa mobil," sela Yanto. Sebenarnya ia bertugas membawa Rida dengan cepat apapun yang terjadi karena jenazah Kakek Suro hanya tinggal menunggu satu-satunya keluarga terakhir Kakek Suro, yaitu Rida. Jika Musa atau siapapun itu ingin ikut, maka mereka harus bergegas. "Aku akan membawa kendaraan sendiri," tolak Musa halus. Ia juga hendak mengajak beberapa anak di kelasnya untuk melayat. "Bagaimana dengan sepedaku?" tanya Rida sembari berjalan tertatih dibantu Yanto. Saat ini mereka berjalan ke arah tempat parkir. "Ah, iya. Aku lupa mengenai itu," ujar Yanto. "Aku tadi langsung datang tanpa berpikir yang lebih jauh. Seharusnya aku membawa teman." "Berikan kontaknya padaku. Biar aku yang membawanya," usul Musa. "Aku akan ke sana bersama anak-anak." Rida langsung menyetujui. Jadi tanpa banyak kata ia menyerahkan kunci sepeda motornya pada Musa. Bagi Rida, yang terpenting sekarang adalah bagaimana ia bisa sampai rumah dengan cepat. Semoga tetangganya masih berkenan menunggunya melihat jasad sang kakek untuk terakhir kali. *** Dalam perjalanan pulang, Rida hanya terdiam tanpa kata. Pikirannya berkecamuk memikirkan banyak hal. Ia memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Perasaan sepi dan sendiri langsung terasa seiring jarak yang kian dekat dengan rumah. Air mata Rida terjatuh tanpa terasa. Rasanya sangat menyakitkan menyadari bahwa saat ini ia hanya tinggal sebatang kara. Bagaimana bisa ia terlahir begitu naas? Apa salahnya? Siapa juga yang ingin hidup sesial ini? Rida sangat ingin punya keluarga lengkap yang utuh. Ia juga penasaran bagaimana rasanya punya saudara kandung, seperti Kak Yanto dan Faiz, adiknya. Namun, kenapa semua malah berakhir seperti ini? Kenapa hidupnya jadi seperti ini? Kenapa ia jadi sendirian seperti ini? "Rida ...," panggil Yanto di sela-sela menyetir. "Ya, Kak," jawab Rida dengan nada pelan sembari mengusap air mata yang tak sengaja menetes di pipi. "Kamu masih punya aku, Adik Faiz, Paklek, dan Bulek. Jangan pernah berpikir bahwa saat ini kamu sendirian. Keluargaku adalah keluargamu juga," ujar Yanto memberi semangat. Rida mengangguk lemah. Meski ucapan Yanto terdengar menjanjikan, tapi ia sadar bagaimanapun dekatnya ia dengan keluarga Bulek Bas, tetap saja mereka bukan keluarga sungguhan. Namun, untuk saat ini keberadaan keluarga Bulek Bas memang berarti segalanya bagi Rida. Andai tidak ada Bulek Bas. Rida tidak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini sendirian. Yanto melambatkan kendaraannya saat mendekat ke arah rumah. Banyaknya kendaraan yang terparkir di sepanjang bahu jalan memaksa Yanto untuk memarkirkan kendaraannya agak jauh dari rumah. Tampak terlihat banyak pelayat memenuhi setiap kursi yang disediakan di halaman rumah Rida. Melihat banyaknya pelayat yang memenuhi rumah, sangat terlihat bahwa almarhum Kakek Suro adalah orang baik semasa hidupnya. Rida menguatkan diri berjalan ke arah rumah. Tak diingatnya lagi barang bawaan, salinan skripsi, maupun tas kuliahnya. Semua fokusnya telah tertuju pada sang kakek. Air matanya sudah jatuh memburamkan penglihatan. Ia berulang kali mengambil napas panjang meneguhkan hati agar tetap sadar dan tidak jatuh pingsan. Rida berjalan di antara kerumunan para pelayat yang sengaja menyibak memberinya jalan. Dengan dipapah Yanto, Rida pun sampai di depan rumah. Saat Rida sampai di teras rumah, rasanya kedua kaki menjadi lemas dan enggan digerakkan. Sepertinya ia tidak siap melihat jasad sang kakek. Bulek Bas langsung menyambut Rida dan merangkulnya. Ia memapah Rida dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Alunan surat yasin menyambut Rida begitu ia berada di ambang pintu. Dari jauh ia melihat sang kakek telah terbujur kaku di tengah ruangan. Seluruh tubuhnya ditutupi selembar kain batik. Para pelayat yang ada di ruangan membaca surat yasin dengan alunan cepat. Namun, alunan mereka melambat saat Rida memasuki ruangan. Para pelayat yang tak kuat hati langsung terisak begitu melihat Rida. Anak malang yang kini sebatang kara. Air mata Rida berlinang. Ia menghambur ke tengah ruangan dimana jasad sang kakek berada. Ia berlutut di samping tubuh kaku sang kakek. Matanya telah buram sepenuhnya oleh air mata. Rida lantas menyeka air mata dan menarik napas panjang untuk menguatkan diri sebelum membuka kain batik yang menutupi wajah sang kakek. Akan tetapi, begitu ia melihat wajah sang kakek yang terpejam rapat, detik berikutnya keteguhan hatinya goyah. Rida langsung menangis tersedu-sedu memanggil-manggil kakeknya. "Kakek ... kenapa pergi meninggalkanku? kakek ... kenapa kakek meninggalkan Rida sendirian?" racau Rida seraya memeluk tubuh sang kakek yang telah terbujur kaku. Rida menciumi wajah sang kakek seolah tak rela berpisah dengan satu-satunya keluarganya yang tersisa. "Kakek ... Jangan pergi ... Kakek ...!" Rida menjerit histeris sampai Bulek Bas turun tangan menenangkannya. "Yang tabah, Rida. Mari ikut Bulek saja ... Biar Kakek Suro dimandikan dan dikafani," ujar Bulek Bas seraya menarik tubuh Rida agar menjauh dari tubuh Kakek Suro. Namun, Rida menolak. Ia tak ingin berpisah dengan kakeknya. Bila perlu, ia ingin mati saja menemani sang kakek. Bulek Bas segera menarik tubuh Rida dari jasad sang kakek agar sang kakek segera diproses, tapi Rida memberontak. Bulek Bas yang lemah hati tak kuasa menahan Rida agar tidak kembali memeluk kakeknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN