Kabar Duka
"Selamat, saudari Rida Utami. Anda berhasil lulus sidang skripsi siang ini," ujar Bapak Masud, dosen penguji pada sidang skripsi Rida siang ini.
"Terima kasih, Pak ... Bu ...," balas Rida dengan senyumnya yang merekah. Ia tak bisa menyembunyikan rona kebahagiaan dari wajahnya. Ia sudah tak sabar ingin membagikan kabar bahagia ini pada sang kakek.
Namun, terlebih dahulu Rida harus menyimak mengenai poin-poin revisi yang jumlahnya cukup lumayan. Setelah menyelesaikan semua urusannya. Rida pun keluar dari ruang sidang dengan senyum kelegaan. Rasanya ia telah berhasil mendaki bukit terjal untuk mencapai finish.
Beberapa teman satu jurusan yang sama dengan Rida turut memberi ucapan selamat padanya karena telah menyelesaikan sidang skripsi. Sebagai mahasiswa jurusan pendidikan matematika, proses pembuatan skripsi jurusannya tentu saja sangat melelahkan. Jadi, saat ia telah berhasil menyelesaikan persidangan rasanya seperti separuh beban hidup telah terangkat dari pundak. Sangat melegakan.
Rida menyempatkan diri mengucapkan kata-kata penyemangat pada teman-temannya yang masih menanti giliran ujian. Setelah dirasa cukup, ia lantas berjalan ke tempat yang sepi guna menghubungi sang kakek. Ia hendak mengabarkan berita bahagia bahwasannya ia telah menyelesaikan persidangan. Ia bisa berbangga karena mampu menyelesaikan wisuda dengan masa kuliah 7 semester.
Saat Rida mengecek ponsel, ia sangat terkejut begitu mendapati banyak panggilan telepon tak terjawab dari Bulek Basiroh, tetangga rumah Rida.
"Apa terjadi sesuatu di rumah?" gumam Rida bertanya-tanya. Gadis manis berlesung pipi itu segera menghubungi balik Bulek Basiroh.
"Halo, Bulek Bas?" sapa Rida begitu telepon diangkat.
"Rida ... kamu di mana sekarang?" tanya Bulek Bas to the point.
"Aku di kampus, Bulek. Baru saja selesai sidang skripsi," jawab Rida. "Ada apa, Bulek?" tanyanya mencoba tenang. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang terjadi di rumah. Apa ada sesuatu yang terjadi pada kakeknya?
"Tidak ada," jawab Bulek Bas cepat. "Tapi, bisakah kamu pulang ke rumah jika kegiatanmu di kampus sudah selesai?" imbuhnya gugup.
Menilik respons Bulek yang berlawanan dengan klaim tidak ada apa-apa, Rida langsung tahu jika sesuatu telah terjadi di rumah. Ditambah lagi dengan suara sengau Bulek seperti orang yang telah banyak menangis. Rida menghela napas panjang sebelum mengajukan pertanyaan. Ia berupaya menenangkan diri untuk kemungkinan terburuk.
"Bagaimana keadaan kakek, Bulek?" tanya Rida. Ia mengusahakan intonasi suaranya tetap datar agar Bulek Bas mau memberitahukan kabar yang beliau sembunyikan.
"Anu ...." Bulek Bas gelagapan ditanya terus terang oleh Rida. Apalagi ia sudah dipesan untuk tidak memberitahukan apa yang terjadi pada Rida. Mereka khawatir Rida menjadi gegabah saat mengetahui sesuatu terjadi pada sang kakek. Kakek yang adalah satu-satunya keluarga Rida yang tersisa.
"Iya?" desak Rida dengan nada ditenang-tenangkan.
Bulek Bas terlihat goyah karena Rida begitu tenang. Apakah tidak apa-apa memberi tahu Rida? Namun, setelah berpikir, Bulek pun memutuskan untuk tidak memberitahukannya.
"Bulek sudah menyuruh Yanto menjemputmu di kampus. Pasti Yanto sudah sampai sana. Nanti kamu pulang sama Yanto saja biar cepat sampai di rumah," ujar Bulek Bas akhirnya. Suara Bulek Bas terdengar serak seperti menahan air mata hingga ucapannya hampir tidak terdengar.
Rida langsung terduduk di bangku taman. Bahunya lemas. Ia sangat paham bagaimana kebiasaan warga daerahnya menyembunyikan kabar buruk pada seseorang. Kebahagiaan yang dirasakan Rida beberapa detik yang lalu sirna sudah. Balon kebahagiaannya telah pecah meluluhlantakkan hati. Kendati ia sudah menyimpulkan kabar yang disembunyikan Bulek, tak urung ia tetap bertanya sekali lagi untuk memastikan.
"Apakah kakekku pergi dengan damai?" tanya Rida. Tanpa terasa air mata telah bergulir di pipinya yang berlesung.
Suara isakan Bulek Bas terdengar nyaring sebagai jawaban atas pertanyaan Rida. Ia menguatkan menjawab di sela raungannya. "Iya, kakekmu begitu tenang," ucapnya.
"Baiklah ...." Ada jeda sebentar karena Rida harus mengontrol dirinya. Suaranya bergetar dan tangannya gemetar. Ia sampai harus menopang ponselnya dengan dua tangan karena tubuhnya lemas.
"Kamu tetap kuat ya, Nak. Ada Bulek bersamamu. Jangan berkendara sendirian. Bulek tidak mau kamu kenapa-kenapa. Pulanglah bersama Yanto. Anak itu pasti sudah sampai sana," ujar Bulek Bas.
Yanto adalah putra sulung Bulek Bas. Karena mereka bertetangga, Yanto sudah seperti kakak laki-laki bagi Rida.
"Baiklah, aku akan menunggu Kak Yanto dan pulang bersamanya," janji Rida sebelum menutup telepon.
Begitu telepon terputus, Rida langsung menangis terisak. Hatinya sangat sedih. Bagaimana tidak, saat ini ia telah resmi hidup sebatang kara. Ia sendirian di bumi yang seluas ini.
Terang sudah, kenapa beberapa hari terakhir sang kakek selalu membahas tentang masa depan. Juga membahas kemungkinan tentang sosok yang harus jadi suami Rida.
Rida sudah curiga karena pembahasan itu sangatlah detail seolah kakeknya tengah menceritakan masa depan padanya. Akan tetapi kecurigaan itu belum bisa ditanggapinya dengan serius karena fokusnya telah terpusat pada persiapan ujian skripsi.
Rida kembali menangis mengingat pembicaraan mereka semalam. Sang kakek berpesan padanya dengan sungguh-sungguh bahwa ia harus menikah tepat saat ia berulang tahun, jika kelak sang kakek meninggal. Kakeknya mengatakan bahwa kelak suaminya yang akan menjaga Rida jika sang kakek tiada.
"Kakek akan panjang umur dan terus menjagaku," begitu jawaban Rida semalam. Tak tahunya ucapan sang kakek menjadi wasiat terakhir yang harus Rida laksanakan.
Dengan berderai air mata, Rida mengingat secara lengkap wasiat itu. Mengingat suami yang dimaksud sang kakek ternyata memiliki persyaratan yang spesifik. Pria itu harus punya nama dan weton khusus. Menurut sang kakek, mereka akan bertemu di kaki Gunung Kendil dan naik gunung bersama. Jika sampai batas waktu yang ditentukan dan Rida belum bertemu pria itu, maka ia harus tetap naik gunung apapun yang terjadi.
Kakeknya bilang jika pernikahan itu akan menyelamatkan nyawa Rida, dan melepas semua nasib buruk yang melekat padanya. Seperti yang sudah Rida ketahui, bahwasannya kehidupannya sangatlah tidak mudah. Bisa dikatakan Rida telah digariskan sial. Bagaimana tidak? Ayahnya meninggal saat Rida masih dalam kandungan, ibunya juga meninggal saat melahirkan. Praktis Rida langsung menjadi yatim piatu begitu ia lahir. Untung ia punya seorang kakek dari pihak ibu yang membesarkannya.
Tak hanya sampai di situ kemalangan yang menimpa Rida. Masa kecil Rida juga dihabiskan dengan rasa sakit dan obat-obatan. Rida tumbuh dengan badan yang lemah dan penyakitan. Perekonomian mereka juga tidak begitu baik sehingga mereka pernah mengandalkan uluran tangan tetangga untuk makan.
Menjelang dewasa, kehidupan mereka perlahan membaik. Perekonomian menjadi lebih stabil karena Rida sudah lebih sehat dan tidak lagi ke rumah sakit secara rutin. Rida juga mendapat beasiswa kuliah di kampus impiannya. Semuanya sempurna, tapi kehidupan yang lebih baik itu hanya sebentar. Buktinya, saat ini ia harus kembali sendirian. Kakeknya harus pergi meninggalkannya sendirian.
"Kakek ... jangan pergi .... Jangan tinggalkan aku sendiri .... Aku tidak mau sendirian ...," ucap Rida di sela derai air mata.
Tangisan Rida mengundang mahasiswa lain untuk mendekatinya. Siapa gerangan yang menangis sembari mengenakan jas almamater? bukankah jas almamater hanya dipakai oleh mahasiswa yang tengah melaksanakan sidang? apakah gadis itu gagal sidang skripsi sampai sesedih itu? Namun, saat mereka mengetahui bahwa yang tengah menangis adalah orang yang mereka kenal, kontan saja mereka langsung mendekat untuk menghiburnya.
"Rida? kamu tak apa?" tanya Musa. Musa adalah teman akrab Rida yang juga sidang hari ini. Padahal ia baru saja melihat Rida tersenyum lega keluar dari ruang sidang, bagaimana bisa temannya menangis tiba-tiba?
Mendengar ada suara familiar, Rida pun mendongak. Ia melihat Musa berdiri jongkok di depannya dengan raut khawatir. Ia hanya bisa balas memandang Musa dengan aksa yang memerah saga.
"Apa terjadi sesuatu?" ulang Musa.
Rida tak kuasa menjawab pertanyaan yang Musa lontarkan. Jadi, ia hanya menggeleng dan kembali menangis.
Musa menyuruh teman-teman yang mengelilingi Rida supaya pergi sehingga ia bisa berbicara dari hati ke hati dengan tenang.
"Apa yang terjadi, Rida?" tanya Musa. Pemuda itu menggenggam tangan Rida dengan lembut. Mencoba memberi kekuatan pada gadis ayu di depannya.
"Kakekku ... hiks ...." Rida tak sanggup meneruskan ucapannya dan kembali terisak.
"Ya, ada apa dengan Kakek Suro?" tanya Musa. Jantungnya berdegup kencang mengantisipasi ucapan Rida selanjutnya.
"Kakek meninggal!"
Degh!
Wajah Musa langsung pucat pasi. Apa yang ditakutkan terucap juga dari bibir Rida.
"Kakek meninggalkanku sendirian ...," lanjut Rida. Tangisnya kembali pecah.
Musa tak kuasa mendengar pengakuan Rida langsung memeluk gadis itu. Rasanya ia bisa paham bagaimana rasa sedih itu karena ia juga mengenal Kakek Suro secara pribadi. Ia juga tahu betul jika Rida hanya punya sang kakek sebagai sandaran hidup. Kalau sang kakek meninggal, praktis Rida akan sendirian.
Rasa sakit dan kehilangan yang amat sangat membuat Rida tak kuasa menahan diri. Ia pun jatuh pingsan dalam pelukan sahabatnya. Ia berharap apa yang terjadi hari ini hanya mimpi.