Langit Bebiru, pria penyintas yang sudah 9 tahun berada di Santara. Dia dikirim saat berusia 20 tahun, sama seperti Embun. Berbagai cara ia lakukan untuk sampai di posisi ini. Di level 3 untuk jadi anggota militer Santara. Cukup melewati satu level lagi, ia akan resmi menjabat dan langsung ditempatkan di Kerajaan Bali. Santara terdiri dari Kerajaan Bali, Kerajaan Papua, Kerajaan Sulawesi, Kerajaan Jawa, Kerajaan Sumatera dan Kerajaan Kalimantan. Semua kerajaan itu diurut berdasarkan levelnya, dari yang terbawah sampai yang teratas.
Puncak Santara ada di Kerajaan Kalimantan. Dan sampai disana adalah tujuan Langit. Anggota militer diuji dengan banyak hal. Terutama soal fisik dan intelegensi. Jika gagal di salah satunya, maka tidak akan bisa lanjut. Akan lebih baik jika salah satu bisa dikuasai dengan sempurna.
Langit melewati ribuan derita untuk bisa mencapai level 3. Bahkan untuk melakukan itu, ia harus ikut komunitas beladiri. Beruntung dia masuk ke Sang Wali Aires. Wali Aires memang berhikmat dan bijaksana dalam setiap keputusannya. Dia orang yang berintelegensi tinggi. Dan itu membuat anak laki-lakinya, Gustiawan Aires, berhasil melewati tahap demi tahap dengan cukup mudah.
“Hebat juga kau penyintas, berhasil sampai sini.”
Anoda, seorang bangsawan yang selalu menganggap Langit musuh. Dia pernah kalah dalam pertarungan adu panco yang diadakan Raja Sumatera di tiap daerah. Kekalahan itu membuatnya membenci Langit.
“Jangan terlalu percaya diri. Dia lebih hebat daripada kau.”balas Awan dengan tawa khasnya. Dia menyilangkan kakinya di atas tanah. Istirahat dengan sebotol air pelega dahaga.
“Kau juga sama. Kau tak ada hebatnya. Kau hanya mengandalkan otakmu itu. Itu tak berguna bagi masa depan Santara. Santara butuh orang yang pandai melibas leher musuh. Sedang kalian, sibuk membuat taktik yang kadang tidak berguna.”
“Taktik juga diperlukan. Biar gak sembarangan bicara. Seperti kau, hanya modal suara jelek yang bisa menghancurkan Santara dalam waktu singkat.”balas Langit mendekat ke arah Anoda. Dia hendak melayangkan pedang di sisi kirinya.
“Apa kau? Jangan sok hebat!”
“Kau yang sok hebat!”
“Diam!”
Pria itu membuat semua orang diam. Dimas Anggara, pemimpin militer bagian Sumatera. Dia tampan dan penuh keadilan. Tiada yang berani melawan ketegasannya. Mereka langsung diam.
“Jika istirahat tak kalian gunakan dengan baik, kalian tak akan pernah berhasil. Diluar sana, banyak yang ingin seperti kalian.”ucapnya tegas dengan tangan menyilang di balik punggung. Badannya tegap dibalik seragam yang digunakan. “Dua minggu lagi dilakukan pemilihan khusus. Kalian tahu apa yang terjadi? Posisi kalian bisa terancam. Orang diluar sana banyak yang berpotensi, tapi belum punya komitmen.”
“Mulai sekarang, latihan lebih giat lagi.”lanjutnya mengakhiri.
“Siap pak!”jawab mereka serempak.
Anoda pergi dengan wajah bengisnya. Dia memang hobi mencari masalah. Masalah terakhir yang menimpanya adalah menangkap pencuri yang bukan pencuri. Terpaksa dia membayar mahal untuk menebus dosa-dosanya.
“Lang, kau mengerti ucapan komandan? Dia bilang akan ada pemilihan khusus. Aku khawatir.”Awan tampak berpikir.
“Tenang saja, kau hebat membuat taktik. Tak ada yang melampauimu soal itu.”
“Tetap saja, aku kalah dalam fisik.”
“Jangan dipikirkan. Ikut aku, kita harus latihan lagi.”
Langit berjalan ke arah tempat latihan. Ia mengambil salah satu pedang dan menebaskannya pada kayu berdiameter besar itu. Dia juga sama seperti Awan, khawatir tentang posisinya di keanggotaan militer Sumatera. Mereka berdua berada di urutan bawah. Walaupun di bawahnya masih ada, tapi mereka juga bisa tersingkir. Tergantung siapa yang paling banyak progress-nya.
Anoda tersenyum dari jauh. Merasa diri hebat karena berada di ranking sepuluh besar. Harapan Anoda adalah kehancuran mereka berdua. Andai ada orang lain yang bisa membuat mereka tersingkir dari keanggotaan ini. Siapapun itu, lebih baik daripada dua orang ini.
Setelah latihan dan mendapat wejangan dari Komandan Dimas, mereka bergegas pulang. Pulang itu momen terbaik bagi Awan. Mobil yang mereka tumpangi biasanya melewati asrama putri. Dan Awan bisa melihat gadis yang dia sukai.
“Hey, santailah sedikit. Berkali-kali kita lewat sini, tak ada satupun yang kau suka?”tanya Awan pada Langit yang sibuk menatap langit.
“Tidak.”
“Mungkin ya Lang, di Indonesia hatimu pernah dilukai wanita. Itulah mengapa gairahmu tak ada.”
“Tidak. Aku sudah ingat semua masa laluku. Tak ada yang seperti itu.”
“Lalu kenapa Lang?”
“Hanya sedang tidak ingin.”
“Jangan katakan kau menyukai adikku?”
“Dia juga adikku. Kau pikir saja, hidup sembilan tahun dengan dia itu maknanya apa? Jangan buat alasan yang gak masuk akal.”
Mereka sampai di rumah dan disambut oleh para pelayan. Seperti biasa, dibantu membawa barang-barang mereka. Dan yang tersisa cuma tas berbahan kulit kerbau yang ukurannya tidak besar. Tas itu milik pribadi dan boleh dibawa ke dalam rumah. Anambas menambah peraturan itu karena Langit dan Awan pernah menyerang satu sama lain dengan pedang. Kejadian yang menggemparkan semua orang. Tidak hanya membuat malu keluarga Aires tapi juga aib bagi kerajaan.
Embun berlari menghampiri mereka. Dia buru-buru pakai kebaya, hingga ada bagian yang belum terkancing. Nafasnya tersengal-sengal sebelum bicara dengan mereka.
“Tunggu sebentar!”ucapnya sambil berbalik badan. Mengancing kebaya bagian kiri. Kebaya di tempat itu kancingnya di sisi kanan atau kiri. Jadi tidak ada yang kancingnya di belakang. Gunanya biar tidak susah mengencangkannya. Apalagi itu adalah pakaian sehari-hari.
“Kata Ara, kalian habis latihan kan? Jadi anggota militer?”
“Iya,”jawab Awan singkat.
Jujur saja, Langit dan Awan sama-sama bingung melihat tingkah perempuan itu. Dia juga lupa pakai kemben, sampai-sampai bagian atasnya tidak simetris. Dan yang paling aneh, rambutnya acak adul. Tak ada satupun wanita terhormat yang berpenampilan seperti itu. Apalagi saat hendak bertemu pria dewasa.
“Aku mau ikut. Bagaimana caranya?”
Langit dan Awan malah tertawa. Tawa yang membuat kemarahan Embun terlihat. Wajah kesal disusul tatapan tajam.
“Aku serius!”
“Jangan bermimpi.”jawab Langit singkat. Dia bergegas pergi, menggubris perempuan itu tak ada gunanya.
“Kau dengar kan? Jangan bermimpi terlalu tinggi. Lagian ya,,”
Embun langsung mengambil kertas di dalam tas Awan. Kertas brosur tentang undangan kepada semua masyarakat. Sedang dibuka pendaftaran khusus untuk masuk militer.
“Terima kasih untuk ini. Lain kali, aku traktir makan enak.”
“Heh, kau mau apa dengan brosur itu?”
“Aku akan daftar pembukaan khusus ini,-”Embun menunjuk ke arah kertas brosur, “Pembukaan khusus yang ditanggung jawabi oleh Komandan Dimas Anggara!”ucapnya sambil membaca tulisan di kertas itu.
Dimas Anggara? Seperti nama artis di Indonesia.
Embun tersenyum sebelum kembali ke kamarnya. Awan menggeleng kepala. Hanya orang gila yang percaya diri untuk mencoba hal itu. Tahun lalu saja tak ada yang lolos pembukaan khusus. Kemungkinan besar untuk lolos hanya 1%. Terbukti dari orang-orang yang kini sudah masuk level 3. Garis awalnya saja sudah beda, otomatis akan sulit bagi mereka.
Tiada peduli untuk berhenti. Embun sangat antusias. Dia cuma punya sepuluh hari untuk menunjukkan kemampuannya. Brosur itu menekankan tiga poin penilaian. Kemampuan bela diri, taktik atau intelegensi dan attitude atau tata krama. Sial! Ucapan Ara sangat benar. Di Santara, tata krama adalah hal yang sangat krusial.
Keesokan harinya, Embun mengikuti langkah Arafuru. Sebelum minta tolong pada Awan atau Langit, dia memanfaatkan kesempatan yang mudah. Dan kesempatan itu jatuh pada Arafuru.
“Nona mau kemana?”tanya pelayan yang bekerja untuk Embun.
“Apa Sang Wali ada di rumah?”
“Tidak nona.”
“Aku hendak pergi bersama Ara. Bilang pada Sang Wali, aku tertarik sekolah dan belum sempat bilang. Aku mau coba satu hari sebelum memutuskan.”
“Baik nona!”
Embun memilih kebaya yang paling sederhana yang ada di lemarinya. Kebaya dengan ukiran teratai di bagian pinggangnya. Bukan karena ukiran itu, kebaya ini berukuran besar dan tak menyesakkan d**a. Ia mengikat rambutnya dengan jepitan berwarna keemasan. Sepatu yang dipakai kali ini cukup membuat nyaman. Lembut, ringan dan nyaman dipakai. Dan warnanya tidak norak.
Dia bergegas menyusul Ara yang sedari tadi sudah di dalam mobil. Mobil yang mirip dengan keluaran lama di Indonesia. Kalau pernah nonton warkop DKI, maka mobilnya persis seperti itu.
“Kau sungguh niat sekolah?”
“Sebenarnya tidak. Aku mau masuk militer.”
“Kau bodoh. Persentase perempuan yang diterima hanya 10%. Dan beberapa gugur di tengah jalan. Dan tak ada satupun yang sampai ke Kerajaan Kalimantan.”
“Aku akan jadi perempuan pertama yang bisa sampai ke Kerajaan Kalimantan.”
“Bodoh!”
“Jelaskan padaku, kenapa anggota militer dibutuhkan di Santara?”
“Untuk menjaga perdamaian antar kerajaan dan juga menjaga Santara dari pihak asing.”
Apakah pihak asing yang dimaksud negara lain? Di Indonesia, pihak asing adalah sahabat. Mungkin Santara punya versi lain.
“Kemarin aku mengambil brosur dari Awan. Aku perlu tahu tata krama di Santara. Itu jadi poin penting untuk masuk militer.”
“Terserah saja. Menurutku, semua itu akan sia-sia.”
Mereka sampai di tempat yang dinamakan sekolah. Gedung berornamen penuh warna dengan manusia yang banyak. Di Santara, perempuan tak boleh mengenakan celana. Kecuali seorang abdi kerajaan. Contohnya saja, anggota militer.
Suasana mistis terasa menembus kulit Embun. Mengapa sekolah jadi sehoror ini? Dia mengikuti Ara yang berjalan tak menggubris sekitar. Sekolah ini lebih terlihat seperti kampus. Sekolah yang tidak memandang umur dan rata-rata berwajah tua. Ada yang kumisnya sampai ke leher hingga wanita yang tampak lebih tua dari Malaka.
“Bertindaklah seperti biasa. Aku tak mau kehadiranmu diketahui oleh guru.”
“Ara, apa disini ada setan?”
“Kau sudah gila?”
“Aku merinding dari tadi.”
“Kau tak biasa melihat kaum haram. Itu sebabnya kau merinding.”
“Maksudmu kaum sesama jenis?”
“Bukan. Ayo cepat, gurunya sudah datang.”
Arafuru membawa Embun ke kursi paling belakang. Persis seperti perkuliahan, kursi berjejer hingga ke atas. Embun bisa menyimpulkan kalau tata krama dalam kerajaan berkaitan dengan sopan santun yang dulu ada di film-film luar negeri. Peletakan garpu, cara makan yang benar, berdansa, minum tuak, memberi hormat, mengenakan kebaya, dan lain sebagainya. Embun diberikan kertas yang menjelaskan itu semua. Cukup menarik untuk dipelajari.
Saat mereka hendak pulang, Embun merasa pandangannya kabur. Ada sesuatu yang melintasi pikirannya. Sesuatu yang berbau kekerasan. Jambakan rambut, darah, pukulan hingga suara tawa. Semua itu hampir membuat Embun jatuh, tapi Arafuru menopangnya segera.
“Kau kenapa?”tanya Arafuru sambil menyuruhnya untuk duduk. Embun tak bisa menjawab. Ingatan macam apa itu? Terlalu membuatnya merasa sakit.
“Aku tidak apa-apa.”
“Hmm, baiklah. Sebaiknya kita pulang, hari ini ayah dan ibu pulangnya lebih cepat.”seru Arafuru sambil berjalan.
“Kenapa dengan hari ini?”
“Ada acara keagamaan di rumah.”
“Agama?”
“Ah, kata Langit, di Indonesia ada lima agama ya? Disini ada banyak, tapi tidak ada yang bermasalah. Di Indonesia sering terjadi perpecahan hanya karena agama. Entah menyangkut hidup dan mati, penghinaan, menolak pembangunan ibadah dan lain-lain. Benar kan?”
“Bagaimana kau tahu semua itu?”
“Sembilan tahun Langit di Santara, semua ingatannya dicatat dalam buku. Dia sering berbagi cerita dengan aku dan Awan. Dulu dia tak seperti sekarang. Dia sangat menyeramkan.”
Siapapun yang sampai ke Santara pasti mengalami rasa takut. Bangun di tempat aneh ini bisa memunculkan sifat asli manusia. Dan bisa saja itu berkaitan dengan kehidupannya dulu. Bisa saja masa lalu Langit di Indonesia begitu buruk. Lalu kenapa dia ingin tahu tentang Indonesia? Bukankah hidup bahagia di Santara lebih baik?
Mobil melaju kencang, melewati para kaum pelayan yang kerap jadi pemandangan aneh di mata Embun. Jika diibaratkan, mereka seperti pengemis di Indonesia. Embun menghela nafas penuh tanya. Dia harus berusaha keras, mulai detik ini.
Tak lama setelah kepulangan Anambas dan Malaka, acara keagamaan dimulai. Tak hanya keluarga Aires yang hadir, tapi juga para kaum pelayan di sekitar rumah mereka. Mereka melakukannya di depan rumah yang luas. Dan muncullah kepala kerbau dibawa oleh para pelayan. Kepala kerbau itu dihiasi bunga teratai dan bunga lainnya. Penuh warna dan indah. Secara bergantian, mereka memberikan sesajen seperti daging ayam utuh, ikan mas dan pisang.
“Dewa, mohon bantu kami mewujudkan mimpi keluarga Aires!”
“Puji Dewa!”
“Terima kasih Dewa!”
“Terima kasih Dewa!”
Embun melirik ke arah Langit yang tetap diam. Dia tidak melakukan pemujaan. Dia hanya diam sambil memperhatikan acara itu. Diam-diam, Embun mendekat ke arahnya.
“Langit, kenapa tidak ikut?”
“Hanya tidak ingin.”
“Aku boleh bertanya?”
“Tidak.”
“Kenapa kau masuk militer?”
“Bukan urusanmu.”
“Aku akan masuk sana. Aku mengambil pendaftaran khusus.”
“Untuk apa kau masuk sana?”
“Aku akan memberitahumu setelah kau memberitahu alasanmu.”
Langit tak menanggapinya. Mimpi itu kunci, kunci yang bisa membuka segala kemungkinan. Dan Langit seribu persen tidak yakin kalau Embun akan berhasil melakukannya. Dia hanya menyia-nyiakan waktunya. Pertama, dia perempuan. Kedua, dia penyintas yang bahkan masih baru di Santara. Ketiga, dia tak punya keahlian apapun. Lihat saja tingkah dan gayanya, tidak mencerminkan seseorang yang berhikmat.
Tapi Embun sangat percaya diri. Dia menemui Ara setelah acara keagamaan itu usai. Dia meminta dijelaskan tentang tata krama kerajaan. Dia membagi sepuluh hari untuk tiga kriteria yang diajukan pihak militer. Tiga hari untuk mempelajari tata krama, dua hari untuk mempelajari intelegensi dan empat hari untuk bela diri.
“Kalau mau tahu seputar intelegensi di sana, kau bisa minta tolong kakakku.”
“Apa kakakmu sehebat itu?”
“Ya, dia ahlinya taktik. Alasan dia diterima karena itu.”
“Aku takut dia tak menerimaku sebagai murid. Tapi akan ku coba. Dan lagi, tolong bantu aku mencari guru beladiri.”
“Hmm, jangan Langit ya. Aku tidak mau kau jatuh cinta padanya.”
“Terserahlah. Siapapun yang bisa membantuku.”
“Aku akan cari tahu besok.”
“Terima kasih Ara. Aku janji akan berterima kasih pada Dewa jika berhasil melakukan ini.”ucap Embun tegas. Arafuru tersenyum mendengarnya. Mungkin, Embun adalah penyintas pertama yang berambisi menyembah dewa dalam waktu singkat saat tiba di Santara. Dia cepat beradaptasi meskipun masih terbilang baru di Santara.
Waktu yang tersisa dihabiskan Embun untuk belajar tentang tata krama kerajaan. Cukup sulit bagi manusia biasa sepertinya. Apalagi di Indonesia hal seperti itu adalah tabu. Tapi Embun cukup yakin bisa inteligensi dan beladiri. Alasannya, tangannya tak selembut tangan wanita biasa. Tangan yang terlihat kasar dengan banyak bekas luka. Dan masalah intelegensi, Embun yakin kalau dia cukup pintar. Seakan muncul ingatan kalau di masa lalu dia adalah orang berprestasi. Hanya saja, pergi ke sekolah hari ini berhasil membuatnya hampir pingsan. Apa mungkin dia punya kisah suram dengan sekolah?