Pagi ini sarapan dilakukan dengan serempak. Sebagai wujud menghormati dewa di acara kemarin. Biasanya sarapan bisa dilakukan sendiri-sendiri. Mengingat setiap orang punya jadwal yang berbeda-beda. Anambas cukup heran melihat Embun. Gadis itu terlihat biasa meskipun belum ada seminggu di Santara. Dia cukup hebat mampu beradaptasi dengan dunia yang berbeda jauh dengan Indonesia.
“Sudah bagaimana denganmu Embun? Apa kau merasa ada yang kurang dengan Arafuru?”tanya Anambas sambil memasukkan jus lidah buaya ke dalam mulutnya. Jus yang membuat Embun merasa mual. Dia berjanji kalau sampai kapanpun, dia gak akan mau meminum minuman aneh itu.
“Tidak ada yang kurang Wali. Arafuru membantu banyak hal.”ucap Embun tegas. “Dan saya punya keinginan untuk Wali.”
“Apa itu?”tanya Anambas. Langit, Awan dan Arafuru saling melirik. Mereka agak ragu jika Anambas menyetujui hal ini.
“Saya ingin masuk anggota militer. Berdasarkan brosur yang saya dapat dari Awan, akan dilakukan pemilihan khusus minggu depan. Bolehkan Wali?”tanya Embun dengan nada suara yang sangat hormat. Dia belajar dari pengalaman. Dia melihat sikap Awan dan Arafuru pada Anambas. Dan dia melakukan hal yang sama.
“Apa kau ingat sesuatu tentang masa lalumu?”
“Tidak. Aku belum ingat. Tapi aku masuk militer untuk mengingat masa lalu itu.”
“Itu tak akan mudah.”ucap Malaka memberi pendapatnya. Dia tampak menyepelekan Embun. “Aku akan menjelaskan sedikit untuk memberi pandangan. Kau masih baru di sini, mungkin kau tak tahu apa-apa.”lanjutnya. “Setelah sarapan, temui aku di Kastil No 15.”
“Baik. Jika kau sudah mendengar pandangan dari istriku, dan kau masih tetap mau melakukan itu. Aku akan menyetujuinya.”ucap Anambas.
Keputusan yang membuat Langit dan Awan tak habis pikir. Bagaimana bisa Anambas membiarkan gadis itu melakukan hal semaunya? Bahkan Langit dilarang waktu pertama kali mau ikut anggota militer. Dia disuruh latihan dulu bertahun-tahun. Lalu kenapa Embun dibiarkan begitu saja?
Kastil No 15 berada di area perumahan keluarga Aires. Kastil berukuran sedang yang ditujukan untuk rapat atau pertemuan keluarga. Ada satu ruang khusus yang biasa digunakan Malaka untuk menghasilkan ide baru dalam bisnis keluarganya. Dan disana juga ia mengelola keuangan secara manual. Kastil itu berisi banyak buku-buku. Membuat Embun tertarik untuk membacanya.
“Dunia Santara menganggap derajat perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Kau akan mendapat diskriminasi dari berbagai sisi kalau masuk anggota militer.”
“Contohnya apa Wali?”
“Contohnya, tak ada ruang khusus untuk perempuan mandi, tidur atau melakukan apapun. Kau harus bertindak sebagai seorang pria.”
“Aku tidak masalah dengan hal itu.”
“Bagaimana dengan ini. Kau harus bisa beladiri. Dan lawanmu adalah pria-pria yang sudah kuat?”
“Aku sudah tahu itu Wali. Aku hanya ragu dengan pakaian ini.”ucap Embun sambil melihat badannya yang sesak karena kebaya ketat itu. Andai di Santara bisa pakai celana, Embun akan memilih hal itu.
“Ternyata kau sudah tahu banyak hal.”ucap Malaka dengan wajahnya yang keibuan. Arafuru beruntung mendapat ibu seperti dia. Bahkan kepada seorang penyintas seperti Embun, dia menganggapnya anak. “Tak ada masalah dengan pakaian, seorang anggota militer diberi pakaian khusus. Dan perempuan akan pakai celana juga.”
Embun sangat lega mendengarnya. Dia tidak akan mampu melakukan semua itu jika harus pakai kebaya berbentuk gaun ini.
“Jadi, kau sudah punya guru untuk latihan?”
“Aku hendak minta tolong pada Awan dan Langit.”
“Mungkin kau akan kesusahan membujuk mereka. Tapi berusahalah.”
“Jadi, Wali sudah setuju saya masuk anggota militer?”
“Ya. Itu keputusanmu sendiri. Apapun yang terjadi selanjutnya, kau akan bertanggung jawab penuh.”
“Baik Wali. Terima kasih!”
“Ah, satu lagi. Selama latihan, kau akan tetap pakai gaun kebaya.”ucap Malaka kemudian. Ia langsung pergi saat pelayan datang untuk memberinya pesan dari Anambas. Mereka harus pergi untuk menjalankan bisnis. Ia meninggalkan Embun disana seorang diri. Embun berpikir keras, bagaimana caranya ia latihan beladiri dengan gaun kebaya?
Embun kembali ke kamar sambil berusaha mengumpulkan niat. Dia jadi ragu, apakah ini keputusan yang tepat? Masuk anggota militer yang tiada perempuan disana. Sanggupkah ia bersaing dengan mereka yang sudah di level 3? Mereka yang level 3 hanya perlu melewati satu level lagi untuk dinobatkan jadi anggota militer yang sesungguhnya. Sedangkan Embun, dia belum melewati tiga level itu. Dan dia harus bersaing dengan orang-orang hebat itu.
“Rasanya aku tak sanggup. Apa menyerah saja?”ucapnya sambil merebahkan diri di atas lantai. Dia menatap langit-langit kamar yang tampak sama di segala sisi. Dan akhirnya ia tertidur.
Hingga sebuah suara menghentikan tidurnya. Pelayan yang datang dengan bakul makan siang. Mereka membuat mimpi Embun tak sampai ke garis finish.
“Nona, sudah waktunya makan siang. Karena tak ada orang di rumah selain nona, kami akan sajikan di kamar.”ucap salah satu diantara mereka. Embun tak menjawab karena pikirannya masih pada mimpi barusan. Itu sekedar mimpi atau bagian dari masa lalunya?
Dia ke meja sambil menulis sesuatu yang ia ingat tentang mimpi tadi. Embun Deangkasa, nama lengkapnya. Dia adalah orang yang suka belajar hingga berhasil memenangkan berbagai piala. Bahkan universitas hendak merekrutnya masuk tanpa tes ujian. Lalu,,,,Lalu,,,tak ada lagi yang terlintas.
“Arghh!!”keluhnya kesal. Dia memukul-mukul kepalanya. Ayolah, ingatan itu perlu kembali. Dia harus yakin bahwa pilihannya menjadi anggota militer adalah tepat. Dia membaca brosur itu lagi. Dengan segera, dia mengambil gaun kebaya dari dalam lemari. Dia memastikan wajahnya terlihat baik. Dia mengikat rambutnya agar tak mengganggu mata.
“Pelayan, apa saya bisa ke alamat ini?”tanyanya pada pria yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamarnya.
“Apa nona sudah mendapat izin dari Tuan atau Nyonya?”
“Ah,, sudah.”ucap Embun berbohong.
“Saya akan siapkan mobil untuk nona.”
“Baik.”
Embun berjalan mempraktekkan tata krama kerajaan yang baru saja dia pelajari. Dia berjalan dengan sopan bahkan memberi hormat pada para pelayan. Para pelayan bisik-bisik membicarakannya. Mereka kagum atas perubahan Embun yang sangat signifikan. Tata kramanya bisa menyamai keanggunan Arafuru. Sesuatu yang terlihat luar biasa untuk seorang penyintas. Mereka bahkan berpikir, apa mungkin Embun sudah pernah mempelajarinya di masa lalu? Dia terlihat seperti anggota kerajaan yang hendak melakukan kunjungan ke tempat tertentu. Embun merasa sangat percaya diri karena dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan untuk saat ini.