Pedang adalah senjata yang menghapus segala sengsara dan memerdekakan. Banyak problematika yang terjadi antar kerajaan. Terutama singgungan antara Sumatera dan Jawa. Ada saja kejadian yang memicu pertengkaran di antara dua kerajaan itu.
“Kaki di angkat kuat, lalu dijatuhkan perlahan. Kau harus bisa menentukan waktu mengangkat dan menurunkan senjata!”teriak Dimas sambil berjalan memperhatikan para calon anggota militer yang sedang berjuang itu. Ini sudah hari kelima sejak pembukaan pendaftaran khusus. Baru lima orang yang mendaftar, dan lagi belum tentu mereka bisa mengalahkan kandidat yang ada disini.
“Kepada lawan tak usah diberi hati. Tapi bantai tanpa kompromi!!”
Semua mendengarkan dengan baik. Dimas mengabdikan diri untuk menuntun kandidat militer dari Sumatera untuk bisa melampaui semesta. Dia mengutamakan niat untuk membawa nama baik tanah kelahirannya.
Seorang pria berseragam pengawal datang mendekat ke arahnya. Membuat sikap tegaknya berubah jadi biasa. Dia mendengarkan dengan baik. Ternyata ada seorang perempuan yang mendaftar jadi anggota militer. Ini terlihat sangat unik. Dia akan jadi perempuan pertama yang mendaftar di Kerajaan Sumatera.
“Lanjutkan tanpa saya awasi! Lakukan dari awal hingga akhir!”
“Siap Komandan!”teriak semua pria berseragam itu.
Dimas bergegas dengan badan tegapnya untuk menemui perempuan yang datang itu. Dia sangat menghargai semua orang, bahkan jika itu adalah perempuan. Semua memiliki hak yang sama di muka bumi. Tergantung pribadi masing-masing untuk sampai di bagian mana. Apakah ia sanggup memperluas haknya sebagai rakyat atau malah menetap di hak yang sama sampai maut datang?
Dia melihat Embun yang tampak seperti perempuan biasa. Perempuan yang tak terlihat kuat. Dibanding itu, Embun terlihat sangat konyol ketika menghitung jumlah pernak pernik di kebayanya.
“Hormat komandan!”teriaknya sambil menegakkan badannya. Dia tampak serius melakukan hal itu.
“Silahkan duduk kembali.”
“Baik!”
Embun langsung duduk dengan keanggunannya. Bagi Dimas, dia seperti punya kepribadian ganda. Dia mampu bertingkah sebagai perempuan berada tapi bisa sebagai seorang abdi kerajaan. Unik sekali manusia di depannya itu.
“Kau tidak sedang bermain-main kan mendaftar jadi anggota militer?”
“Tidak ada kata main-main untuk Santara. Aku memang terpanggil untuk melakukan ini.”
“Kau seorang perempuan.”ucap Dimas menguji perempuan itu. Menguji mental penting untuk mendapat kandidat yang tepat.
“Perempuan lahir sama seperti laki-laki. Kenapa harus ada perbedaan di antara keduanya? Laki-laki dan perempuan bisa lahir dari ibu yang sama. Tapi kenapa harus dibedakan? Bukankah ini sama saja komandan mendiskriminasi ciptaan Dewa? Dewa saja adil kepada kalian para laki-laki. Tapi kenapa untuk menerima perempuan kalian tidak bisa?”
“Kau hebat dalam berkata-kata.”
“Itu bukan sekedar kata. Itu adalah fakta yang tak akan bisa kau acuhkan.”
“Kau seorang penyintas?”
“Dari mana kau tahu?”
“Aku punya trik sendiri untuk mengetahuinya. Hmm, ceritakan padaku tentang Indonesia.”
“Indonesia, berada di antara Benua Asia dan Benua Australia. Dan dia berada di poros maritim dunia. Sama saja seperti Santara. Bedanya, Santara tak dipisah oleh pulau. Kalau Indonesia, masing-masing daerahnya dipisah pulau-pulau besar.”
“Kau sangat pintar. Sudah berapa lama di Santara?”
“Baru satu minggu.”
“Hah?”
“Aku akan menaklukkan pria bodoh di dalam sana. Izinkan aku ikut berpartisipasi.”
Dimas cukup puas dengan jawaban Embun. Dia memberinya formulir pendaftaran. Embun terlihat sumringah dan memasukkannya ke dalam tas yang terbuat dari bulu hewan yang diolah sedemikian rupa.
Dimas bergegas pergi meninggalkannya. Embun sangat senang. Dia sudah tak sabar untuk melampaui semuanya. Dan masalah yang harus dia hadapi adalah mencari orang lain untuk dijadikan guru.
Embun merasa sangat terpacu melihat orang-orang itu. Terutama Dimas, komandan yang membuatnya yakin kalau di Santara adil itu bukan sekedar kata. Dia bergegas pulang dengan mobil yang membawanya tadi. Dia tidak mau kehilangan momen kembali ke rumah tanpa sepengetahuan Sang Wali dan Arafuru.
Ingatan itu datang lagi. Embun hampir tak bisa fokus, untungnya dia duduk di kursi mobil. Dia berjanji pada dirinya sendiri, tiada yang tahu ingatannya itu. Biarlah hanya dirinya sendiri.
“Jangan percaya pada siapapun!”ingatan yang muncul di kepalanya. Seorang wanita mengatakan hal itu dengan suara lantang. Entahlah, dia tak tahu siapa wanita itu.
Tak sesuai harapan, Arafuru melihatnya dengan heran. Embun langsung meraih tangan perempuan itu dan membawanya ke kamar. Dia mengatur nafas sebelum bicara.
“Kau dari mana?”selidik Arafuru.
“Aku pergi ke markas militer. Tolong jangan bilang Wali.”
“Kau melakukan sesuatu yang melanggar peraturan.”
“Ya. Aku tahu. Makanya, maklumi satu kali ini saja.”
“Baiklah. Lagian ya, ibu tak terlalu peduli selagi tidak ketahuan.”balas Arafuru. Embun lega sekali. Rupanya Wali lebih fleksibel terhadap asuhannya dibanding anak sendiri.
“Bantu aku bicara sama Awan. Aku butuh dia untuk menyusun taktik pertarungan perebutan wilayah.”ucap Embun memohon. Dia sudah memikirkan beberapa hal yang penting untuk dipelajari. Setelah membaca riwayat peperangan antar kerajaan, dia mendapat intuisi baru. Sejarah memberinya kesempatan untuk mengelola pengetahuan. Belajar dari sejarah akan menghasilkan pola baru dalam menghadapi lawan.
“Begini saja. Temui dia di danau teratai saat senja datang. Dia sedang membudidayakan tanaman antik disana. Kau gunakan otakmu untuk merayunya.”ucap Arafuru. Embun menganguk mengiyakan.
Saat senja hampir tiba, Embun memakai kebaya baru yang ditaruh para pelayan tadi pagi. Diantara tiga kebaya itu, ada satu yang cukup menarik hatinya. Bukan kebaya yang glamor dengan kain brokat, tapi jenis kain satin yang mengkilap dan licin. Warnanya menyatu dengan alam. Tidak terlalu menghalau pandangan mata. Dia memilih kebaya itu untuk dipakai. Dia sudah belajar banyak dan mulai terbiasa. Untuk menghindari kemben yang menyiksa bagian daada, dia mengambil pengait agar badannya terbentuk sempurna.
Dia bergegas pergi menuju danau teratai. Sesuai ucapan Arafuru, Awan ada disana. Tapi ternyata tak seorang diri, dia bersama Langit. Embun tidak suka Langit. Pria itu terlalu sombong untuk diajak kerjasama. Tapi waktu yang mepet tak mengundur niatnya.
“Aku janjikan cara terbaik merawat bunga itu. Tapi kau ajari aku merancang taktik perang.”ucapnya tanpa basa basi. Bunga itu hampir layu. Dia akan mati jika tak diberi pupuk. Dan manusia di Santara tidak tahu kalau kotoran hewan bisa membantu menggemburkan tanah. Mereka menganggap bunga itu suci. Dan kotoran hewan akan membuatnya jadi buruk.
“Aku tak percaya. Kau orang baru disini.”tolak Awan.
“Jangan kira Awan itu bodoh. Dia bisa mencium bau bunganya ketika berubah. Kau cuma membuang-buang waktu.”ucap Langit yang seakan tahu maksud dan tujuan Embun.
“Kau tak usah ikut campur. Aku bisa membuat pupuk dari bahan hayati. Tumbuhan di hutan bisa diracik jadi pupuk.”ucap Embun ngasal. Sebenarnya itu tak ada dalam rencananya.
“Benarkah?”tanya Awan percaya. Dia malah percaya disaat Embun tidak percaya pada dirinya sendiri.
“Tentu saja. Aku janji dan kalau kuingkari, kau bisa membalas.”ucap Embun percaya diri. Langit menatapnya penuh selidik. Mungkin dia mengira kalau Embun seorang siswa di bidang pertanian. Tapi tenang saja, ini hanya bualan semata.
“Baik. Aku ajari kau. Tapi kau harus membuktikan lebih dulu.”
“Tidak. Aku sudah gak punya waktu. Kau ajari aku lebih dulu. Aku janji akan membuat bunga itu hidup kembali. Aku mohon!”ucap Embun dengan pinta yang sangat serius. Langit bergegas pergi. Dia juga malas melihat Embun menjilat di depan Awan. Terserah saja. Semua perbuatannya, dia yang mempertanggungjawabkan.
“Dengar! Ketika perang perebutan wilayah terjadi, kau harus mengacu pada peraturan umum Santara.”ucap Awan di perpustakaan. Tempat Malaka mencari ilmu untuk menjalankan bisnisnya. Pelayan pernah bercerita kalau Malaka tak pernah absen masuk perpustakaan. Minimal lima hari dalam seminggu. Dia benar-benar kutu buku.
“Ini buku sejarah masing-masing kerajaan. Dan ini, buku tentang militer Santara.”ucap Awan meletakkan buku-buku tebal itu di atas meja. Berhasil membuat Embun terkesima. “Kau hanya perlu membaca intisari dari masing-masing sejarah. Sedangkan buku militer, kau perlu membacanya dengan detail.”lanjutnya.
“Argh, ini terlalu banyak. Aku cuma punya dua hari untuk belajar taktik.”
“Makanya ayah melarangmu ikut. Tapi kau terlalu berambisi.”
“Argh, setidaknya aku berusaha.”
“Ya sudah. Kau kumpulkan saja pertanyaan yang mengganjal di hatimu. Aku akan menjawab sehabis pulang dari markas.”ucap Awan. Embun mengiyakan dan melihatnya berlalu.
Tinggallah Embun seorang diri disana. Mengubah posisi duduknya senyaman mungkin. Dan menulis poin penting di bukunya. Dia jadi ingat semboyan dari salah satu tokoh penting di Indonesia. Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Betapa sejarah itu berpengaruh dalam hidup manusia di masa depan.