Ini bukan suatu kebetulan. Ketika Anoda kembali bertemu Biella. Anoda memperhatikan dari jauh walau tak bisa mengungkapkan perasaannya. Sedangkan Biella hanya tersenyum untuk menutupi rasa kagetnya.
Mereka berempat berpencar untuk memastikan keamanan terjaga dengan baik. Anoda tak bisa melepaskan pandangan dari Biella. Perempuan itu tidak berubah sedikitpun. Dia masih suka tersenyum dan ramah pada siapapun.
Berbeda dengan Anoda, Arafuru malah mencari perhatian Langit. Disaat yang sama, Langit malah berfokus pada hal lain. Dia tak ingin menerima semua perhatian itu. Semua ini tak sesuai dengan harapan Embun. Dia menghela nafas panjang. Dia akan sangat senang jika berhasil menyatukan Langit dan Arafuru. Setidaknya, Embun melakukan sesuatu pada Awan. Awan akan senang diatas sana saat melihat adiknya merasakan kebahagiaan.
Semua angan itu berhenti saat ada keputusan untuk siaga menyambut kehadiran keluarga ratu. Sekarang perhatian Embun berfokus pada Samudera. Dia masih saja kesal karena tidak menemukan apapun di tempat ini. Dia tak punya kesempatan untuk masuk ke gudang penyimpanan dokumen. Tak ada waktu untuk melakukan hal itu. Tapi setidaknya, Embun jadi tahu seluk beluk tempat ini. Ya, dia bisa datang lain kali.
“Tenang saja.”ucap Embun memegang tangan Samudera. Samudera mengangguk. Panglima Niagara dan Indiri datang dengan segala kemewahan yang terpancar di dalam diri mereka. Mereka disambut dengan sangat meriah. Mereka masuk ke ruang tertutup yang tak bisa dilihat oleh anggota militer.
Dan tak lama, raja datang dengan kegagahannya. Mahkota yang melingkar di kepalanya seakan menunjukkan bahwa dia begitu berkuasa dan berdaulat. Manusia yang terlihat sangat sempurna di mata Embun. Seketika dia tersenyum karena terkesima. Tidak menyangka bahwa raja terlalu sempurna untuk disebut sebagai manusia. Bahkan ketampanannya begitu terpancar jelas.
“Kau kenapa?”tanya Samudera saat raja sudah masuk ke ruangan itu.
“Dia sangat tampan.”
Samudera tersenyum kecut. “Kau ternyata cuma melihat dari penampilan.”ucapnya begitu kecewa. Begitu banyak ekspektasi yang ada di kepalanya untuk seorang Embun Deangkasa. Tapi perempuan itu malah mematahkan ekspektasi itu.
“Tak ada orang yang tak melihat dari penampilan. Walau begitu, aku tetap fokus pada sikap dan perilaku.”balas Embun membela diri.
Setelah itu, kejadian yang berlangsung sangat membosankan. Embun tak punya kesempatan untuk mencari tahu tentang Indonesia. Dibanding itu, dia harus menghadapi Arafuru yang menahannya untuk pergi.
Arafuru terlihat cantik dengan kebaya yang ia kenakan. Dia juga terlihat lebih dewasa. Kecantikannya terpancar karena dia sangat ahli merias. Sayangnya, Langit memilih untuk pulang lebih dulu karena tak ingin bertemu dengan Arafuru. Tinggallah disana Anoda yang sedang melepas rindu dengan Biella. Begitu juga Embun dengan Arafuru yang memaksanya untuk bertemu.
“Maafkan aku, Langit tiba-tiba harus pergi duluan.”
“Tidak apa. Aku cuma ingin bertemu denganmu.”
“Kau rindu juga pada orang sepertiku?”
“Kau sekarang sangat hebat.”
“Jangan begitu. Jika menjadi perias bisa masuk tempat ini, aku pasti akan memilih jadi perias.”
“Tapi kau butuh waktu lama untuk melakukannya. Mungkin beberapa tahun lagi baru kau bisa masuk sini.”
“Jadi maksudmu, ini sudah pilihan yang tepat?”
“Tentu saja.”
Berbicara dengan Arafuru memberikan Embun sedikit nafas untuk memikirkan hal baik. Setidaknya dia tidak harus memikirkan beratnya menghadapi masa yang akan datang. Ya, dia bisa sedikit tenang dengan perasaan yang tidak diburu.
“Aku hanya sedih meninggalkan ibu dan ayah.”ucap Arafuru tiba-tiba. Pernyataan yang membuat Embun langsung sedih. Saat ini, dia berada di kondisi yang sama dengan Arafuru. Jika menyangkut orang tua, Embun tak bisa meniadakannya. Hatinya langsung sakit. Entah seperti apa masa depan yang dirancang Dewa untuknya. Apa benar dia sudah tak bisa bertemu ibunya? Sungguh Dewa sangat tidak berhati.
“Banyak yang berubah setelah Awan pergi. Ibu tak lagi bersemangat menjalankan bisnisnya. Dia lebih sering di rumah.”
“Maafkan aku, Ara.”
Arafuru malah tertawa. “Ini bukan salahmu. Aku hanya kecewa pada keputusan Dewa untuk mengambil nyawa Awan. Kenapa harus Awan?”
Seketika suasana menjadi mencekam. Langit yang tampak biru cerah itu tak memberi mereka hati yang lapang. Dibanding itu, muncul kenangan manis yang kini terasa pahit. Kenangan manis yang bahkan tak bisa diulang lagi. Rasanya sangat menyakitkan.
“Dan mulai sekarang, kau tidak usah membantuku mendapatkan Langit. Kurasa, dia tak pernah mau memberikan hatinya padaku.”ucap Arafuru membuat Embun bingung dan kaget. Perkataan ini tidak ada dalam kamus Arafuru Aires. Dia adalah perempuan yang bertekad kuat untuk mendapatkan Langit. Itu sudah berlangsung sangat lama, mengapa baru sekarang dia memutuskan untuk menyerah?
“Ada apa denganmu? Ini bukan Arafuru yang kukenal.”
“Semua pasti akan berakhir ketika sudah waktunya.”
“Tapi kau perlu berusaha keras. Suatu hari nanti, Langit akan berubah.”
“Bagaimana bisa berubah ketika dia sudah langsung menolak?”ucap Arafuru dengan sedikit emosional. Sekarang Embun paham mengapa dia menyerah. Semua karena penolakan yang dilakukan Langit secara blak-blakan. Embun tidak menyangka ada peristiwa seperti itu dibelakangnya.
“Maafkan aku, Embun. Aku terlalu emosional.”
“Tidak. Semua orang berhak mengutarakan apa yang dia rasakan.”balas Embun menenangkan.
Mereka berdua kembali terdiam. Embun tidak tahu harus bagaimana menghadapi Arafuru yang seperti ini. Ditambah lagi, Langit menolaknya begitu sadis. Rasanya Embun ingin menjatuhkan sejuta omelan pada Langit Bebiru. Pria itu benar-benar tidak punya hati. Setidaknya, dia memberikan kata-kata yang baik pada Arafuru agar perempuan itu tidak marah.
“Kau sendiri bagaimana? Adakah yang kau sukai sekarang?”tanya Arafuru kemudian. Pertanyaan aneh itu terlontar tanpa rasa bersalah.
“Ada sih. Tapi aku cuma sekedar menyukainya. Kau tahu, cinta yang tak mungkin digapai?”
“Kenapa tidak mungkin?”
“Dia orang Santara, sedangkan aku orang Indonesia. Kau tahu kan, jika tujuanku tercapai, aku benar-benar akan pergi dari tempat ini.”
“Ahh, ternyata menyenangkan masuk kemiliteran. Aku bisa berkenalan dengan pria baru.”
“Kau juga, pasti akan mendapatkannya. Pria-pria di kerajaan terlihat sangat mempesona.”bisik Embun disusul tawa.
“Aku ingin memberimu bantuan.”
“Apa maksudmu?”
“Jika kau ingin mencari tahu tentang Indonesia, aku akan membantumu.”ungkap Arafuru dengan percaya diri yang tinggi. Dia tampak yakin dibalik wajah itu. Wajah cantik yang menyimpan banyak sekali kepahitan.
“Tidak. Aku tidak mau.”
“Ayolah, apa salahnya aku ikut? Aku tahu, kau dan Langit punya tujuan yang sama. Aku bisa membantumu karena aku ada di dalam istana sampai ratu dilantik.”ucap Arafuru menyakinkan. Perkataan yang sebenarnya sangat menguntungkan bagi Embun. Tapi banyak sekali perasaan yang tidak jelas di dalam dirinya.
“Aku tetap tidak mau.”
“Kenapa?”
“Aku tak mau kau terluka. Kau tahu kan, Awan sampai harus mati gara-gara masuk militer. Aku merasa bersalah padanya.”
“Ini semua tidak ada hubungannya dengan Awan. Ini semua keinginanku sendiri.”
Embun tidak tahu harus menjawab apa. Mengaitkan keluarga Sang Wali membuatnya jadi lebih tidak tahu diri.
“Aku harus kembali. Aku selalu bersedia membantumu. Jika kau berubah pikiran, bilang saja padaku.”ucap Arafuru sambil memeluknya erat. Lalu dia pergi menghilang di balik pintu gerbang. Embun menghela nafas panjang. Semua kebaikan itu terlalu berat untuk diterima. Tak lama, Anoda datang dengan senyuman lebar di wajahnya. Dapat dipastikan kalau sesi melepas rindu itu berlangsung dengan baik. Dia mengajak Embun untuk segera pergi. Kembali ke markas untuk mengemban tugas.