Kemewahan itu terpancar dari luar. Semua serba bertabur emas dan indah dipandang mata. Kerajaan Kalimantan memang sangat hebat di semua sisi. Bahkan pria dan wanita yang berlalu lalang tampak memukau dengan penampilan mereka yang memancarkan kemewahan. Bahan kebaya yang terlihat mahal, sepatu yang berkilauan hingga wajah yang ceria dan gembira. Tempat ini tampak seperti surga dunia.
Tugas anggota militer adalah memastikan keamanan sekaligus mengangkat sebagian alat-alat berat yang dibutuhkan. Alat-alat yang seharusnya dibawa oleh pria. Dan untuk Samudera Alia, Embun meriasnya sedemikian rupa. Riasan yang bisa menyamarkan wajah aslinya. Ditambah dengan kumis palsu yang ditempel dengan lem. Anoda dan Langit bingung melihat penampilan Samudera. Tapi Embun bilang ini semua demi sesuatu yang rahasia. Dan dengan sukarela, Samudera dan Langit tidak masalah dengan itu. Semua karena kebaikan hati Embun di masa lalu.
“Sebenarnya aku masih takut.”ungkap Samudera dengan mimik wajah yang tidak biasa. Ketika di markas, dia sangat percaya diri. Tapi kali ini, dia seperti ketakutan. Embun bisa paham karena apa yang dia lewati selama ini pasti berat.
“Kalian!”panggil seorang panglima. Mereka berempat langsung berjalan menuju ke arahnya dan berdiri tegak dalam posisi siaga.
“Kalian ke bagian perias dan memastikan tidak ada masalah disana.”
“Siap, panglima!”
“Hmm, atau kalian terlalu banyak.”
“Tidak, panglima!”ucap Embun dengan suara kerasnya. “Saya rasa, dibutuhkan pengawasan ketat untuk meja rias calon ratu.”lanjutnya dengan ragu. Tapi keraguan itu malah dianggap sebagai pujian. Panglima membiarkan mereka pergi melakukan misi ini.
“Kenapa bicara seperti itu?”tanya Anoda panik.
“Aku dan Samudera harus pergi sebentar. Jika ada yang bertanya, usahakan beri jawaban yang membuat kami aman.”ucap Embun dengan penuh keyakinan.
“Hey, kalian hendak kemana?”tanya Langit penasaran. Memang benar jika dia dengan sukarela melakukan ini. Bahkan ketika Samudera bertingkah tidak biasa, dia masih bisa mengerti. Tapi kenapa sekarang mereka ingin pergi begitu saja tanpa penjelasan.
“Tenang saja. Mereka akan memberitahu nanti. Usahakan kembali dengan cepat.”ucap Anoda berusaha menyakinkan.
Embun mengangguk dan segera menarik tangan Samudera untuk pergi. Dia sedikit beruntung karena Anoda dan Langit tidak banyak tingkah. Setidaknya, satu dari sekian beban di pundaknya sudah menghilang.
“Kita mau kemana?”tanya Samudera bingung. Si pemilik rencana hanya Embun seorang. Samudera bahkan tak bisa berpikir ketika menginjakkan kaki di tempat ini. Dia dipenuhi perasaan yang tidak jelas. Takut sesuatu terjadi ketika jati dirinya terungkap. Banyak sekali kekhawatiran di dalam hatinya. Kekhawatiran yang tidak diketahui Embun sama sekali.
“Bertemu kakakmu. Setelah itu, kau bantu aku pergi ke ruang rahasia penyimpanan dokumen.”
“Kau gila? Aku tidak pernah membuat persetujuan untuk hal itu.”
“Sudah, ikut saja.”ucap Embun dengan tegas. Dia memaksa Samudera untuk membawanya ke tempat tinggal Putri Marime, tapi pria itu hanya diam dengan pikiran yang tidak jelas. Tapi Embun malah berjalan sendiri. Dia tahu akan kemana dengan peta yang disimpan di kantong bajunya.
“Bagaimana kau tahu?”
“Selalu ada jalan. Sudah sana, aku akan menunggu disini.”
“Tidak. Aku tidak bisa.”
“Baiklah. Ayo kita kesana bersama.”
“Tapi,,,”
“Ikuti saja.”
Mereka masuk ke dalam tempat tinggal Putri Marime dengan lebih dulu memastikan kalau tidak ada penjaga yang mencurigai mereka. Hingga akhirnya, mereka berpapasan dengan Putri Marime yang sedang duduk di kursi taman. Perempuan itu terlihat kaget dan tidak mengira kalau Samudera adalah pria yang ada di depannya saat ini.
“Kalian siapa?”tanya Putri Marime dengan melindungi anak kecil disampingnya. Dia terlihat takut mendapat tamu yang seperti orang asing itu. Dilihat dari wajahnya, Samudera yakin bahwa kakak perempuannya itu mengalami banyak tekanan dari orang-orang kerajaan.
“Ini aku.”ucap Samudera sambil melepaskan kumis yang menempel di wajahnya. Dan seketika, Putri Marime tersenyum dan langsung memeluknya erat. Pelukan hangat yang menentramkan hatinya. Dia sangat rindu pada adik laki-lakinya itu. Tidak disangka, mereka masih bisa bertemu walaupun sudah sekian tahun berlalu.
“Kalian ikut aku.”ucapnya tegas. Dia menarik tangan Samudera untuk masuk ke rumahnya. Dan Embun menyusulnya dari belakang. Embun sangat enggan masuk ke kerajaan yang mewah itu. Rasanya seperti sebuah kehormatan ada disana. Tak hanya masuk rumah, Putri Marime membawa mereka ke suatu ruang rahasia yang tiada penjaga disana.
“Ada apa kak?”
“Aku sangat yakin kalau ada mata-mata Selir Indiri disini. Aku tak ingin kedatangan kalian jadi diketahui.”
“Jika memang sudah yakin, kenapa tidak beritahu raja?”
“Raja tak akan mau mempedulikannya. Aku tak pernah bicara lagi dengannya sejak dia mengusirmu begitu saja.”
Samudera seketika langsung sedih. Ternyata banyak sekali yang berubah setelah kepergiannya. Bahkan dia sudah punya keponakan yang bisa berjalan sendiri. Dia tidak bisa berpikir tentang semua ini. Semuanya berubah sangat drastis. Terutama soal hubungan Putri Marime dan Raja Kalimantan.
“Aku senang, kau baik-baik saja.”
“Hmm, maaf saya ikut campur. Saya rasa, sudah saatnya kami pergi.”
“Dia siapa?”
“Dia temanku. Kami bersama di kemiliteran.”
“Dia perempuan?”
Embun kaget mendengarnya. Dengan penampilan yang seperti ini, Putri Marime bisa mengetahui dirinya yang sebenarnya? Sangat tidak masuk akal. Biasanya orang-orang melihatnya seperti seorang pria.
“Bagaimana bisa tahu?”
“Wah, kau terlihat sangat hebat. Bagaimana bisa kau ada di kemiliteran? Aku tak menyangka.”
Tiba-tiba terdengar suara pelayan mengetuk pintu. Dia menyuruh Putri Marime untuk menghadiri sebuah acara. Dan bersamaan dengan itu, Embun dan Samudera harus kembali ke tempat perias calon ratu agar tidak ketahuan. Dia harus berpura-pura mengemban tugas yang diberikan panglima.
“Datanglah ke tempat ini pada akhir pekan. Aku ingin tahu seperti apa rencanamu. Aku juga akan menyuruh Hujan ikut.”ucap Putri Marime mengakhiri. Kertas itu dibawa Samudera. Mereka berjalan penuh hati-hati agar tak seorangpun yang tahu.
Ruang perias tampak ramai dengan perempuan yang sibuk mengatur segala perkakas. Langit dan Anoda juga sibuk melakukan penjagaan.
“Kalian dari mana sebenarnya?”tanya Langit pada Embun yang baru saja tiba. Dengan suara nafas tersengal-sengal dan keringat mengucur deras di wajahnya. Tentu Langit masih penasaran.
“Akan ada waktunya aku bicara. Sebentar lagi, para perias pilihan kerajaan akan datang.”ucap Embun sambil melihat jam di tangannya.
“Maksudmu, Biella akan datang?”tanya Anoda sumringah.
“Iya. Arafuru juga akan datang.”balasnya tegas. Balasan yang ditujukan untuk Langit Bebiru. Sudah lama Langit tahu kalau Arafuru menyimpan rasa padanya. Tapi dia mencoba meniadakan hal itu. Dia tak ingin menghadapi Arafuru yang sudah kuanggap seperti adiknya sendiri. Bagaimana bisa dia memiliki rasa yang seperti itu?
Tanpa banyak menunggu, beberapa orang datang dengan tampilan yang luar biasa. Para perias yang sudah melewati berbagai tahapan agar bisa ada di Kerajaan Kalimantan. Ini adalah prestasi yang luar biasa. Tak sembarang orang bisa jadi perias calon ratu. Dan muncullah dari kejauhan Arafuru Aires dan Biella. Seketika Embun merasa lega. Kedatangan Biella cuma seperti tebakan yang dia harapkan. Siapa sangka perempuan itu benar-benar datang dan membuatnya lepas dari masalah. Setidaknya, dia tidak mengingkari janji pada Anoda.