Malam itu, dibawah sinar rembulan yang terang, semua saling mengungkapkan fakta yang selama ini dirahasiakan. Dengan kesepakatan kedua belah pihak, disetujui untuk saling menjaga rahasia. Kesepakatan ini akan menguntungkan mereka.
“Sudah hampir pukul 12, ayo pergi.”ajak Samudera. Mereka berjalan menuju mobil. Sesuai dengan jadwal yang sudah diberitahukan. Jika sudah pukul 12, semua Tim X harus segera pulang.
Mereka berjalan bersama dalam diam. Samudera langsung masuk ke dalam mobil. Jelas dia butuh waktu untuk memahami bahwa ucapan Embun itu bukanlah mimpi.
“Kenapa?”tanya Embun sambil melirik tajam ke arah Langit yang menarik tangannya dengan keras.
“Kau dari mana? Sedang memadu kasih dengan Samudera?”
“Bicara apa sih? Jangan ngawur.”
“Jelas sekali aku lihat kalian pergi berdua. Pakai acara pegangan tangan lagi.”ucapnya tegas. Seperti dia sedang protes pada kelakuan Embun tadi. Tidak terima atau memang cemburu semata?
“Kau kira,,,,”
“Ayo cepat! Kalian sedang apa lagi?”ucap Anoda dari dalam mobil.
Embun tidak mengindahkan Langit dan langsung masuk mobil. Langit mengikut dengan perasaan tak menentu. Jelas sekali dia melihat Embun merangkul Samudera. Ada apa dengan mereka berdua? Tidak mungkin mereka saling jatuh hati? Langit tak ingin percaya pada persepsinya itu.
Waktu memang berhasil mengubahnya. Embun begitu menarik di matanya. Ketika pertemuan intens bisa mengubah perasaannya, disitulah ia bingung harus bagaimana. Sepanjang perjalanan, Langit melihat ke arah Embun. Embun sibuk menatap jalanan dari jendela. Langit tidak paham dengan keinginannya. Dia tidak suka melihat Embun terlalu dekat dengan Samudera. Bahkan Samudera itu penuh rahasia, jika Samudera merahasiakan sesuatu yang besar, Embun pasti akan berpikir dua kali untuk dekat dengannya.
Sedang Samudera merasa jantungnya berdetak tidak normal. Dia sedang berbagi rahasia dengan Embun. Tak cuma itu, dia sedang diancam. Tapi ia juga sedikit lega, setidaknya Panglima Niagara tidak menyadari kehadirannya. Jika dia tahu, habislah Samudera. Tak cuma diusir, dia bisa saja dibunuh oleh panglima jahat itu.
Samudera mencoba menerima semua resiko ini. Akan ada hari dimana semua orang tahu kalau dia adalah seorang pangeran. Entahlah, apakah raja masih ingin menganggapnya seorang pangeran atau tidak. Ataukah dia ingin memiliki calon pangeran dari selirnya itu? Samudera mencoba untuk menerima kenyataan yang mau tidak mau harus dihadapi di masa depan.
***
“Ada yang bisa ke kerajaan? Kami butuh empat orang untuk membantu persiapan sambutan keluarga calon ratu.”ucap seorang panglima besar di Tim X yang sedang sibuk latihan. Semua hening dan berada dalam zona berpikir keras.
“Bisa, panglima!”balas Embun secepat kilat. Semua orang melihat ke arahnya. Embun itu terlalu berani untuk bicara sebebas itu pada seorang panglima. Argh, bahkan kepada Dimas Anggara saja dia bisa sebebas itu.
“Baik. Persiapkan diri besok pagi.”
“Siap!!”
Dengan bersemangat, Embun membalikkan badannya. “Siapa yang mau ikut?”
Tidak ada yang menjawab. Semua kembali latihan dengan baik. Embun jadi sedikit ciut karena cuma dia yang bersemangat masuk ke area kerajaan.
“Langit, Samudera dan Anoda. Kalian bisa ikut kan?”
“Tidak. Aku mau fokus latihan. Aku ingin seperti idolaku, Panglima Niagara.”balas Anoda tegas. Wajahnya penuh semangat menjalani latihan yang membosankan itu.
“Aku juga, aku ingin fokus latihan.”ucap semua orang. Embun menarik nafas panjang. Mereka sama sekali tidak berperikemanusiaan. Seharusnya mereka mengerti keadaan Embun saat ini. Dia sudah terlanjur mengiyakan ajakan panglima yang barusan datang.
“Ikut sebentar.”ucap Embun pada Samudera yang tidak peduli padanya sedari tadi. Dia tetap fokus pada latihannya meningkatkan massa otot.
“Aku mau kau ikut.”
“Wah, kau sudah gila? Banyak orang yang mengenalku disana.”
“Apa kau tidak rindu kakakmu? Dan juga Hujan?”ucap Embun mencoba mencari alasan. Padahal itu cuma cara terbaik agar Samudera mau ikut.
“Jangan kau kira aku bodoh. Kau berbuat seperti ini untuk keuntungan sendiri kan? Kau ingin mencari tahu tentang Indonesia dengan masuk ke kerajaan.”
“Ya, itu benar. Dan aku butuh kau. Tapi kau juga pasti akan diuntungkan jika ikut. Setidaknya kau bisa bertemu kakakmu.”
“Bodoh. Jangan kebanyakan mimpi.”ucap Samudera sambil duduk dengan tangan bersandar di kaki yang ditekuk. “Hampir semua orang disana mengenalku. Kau kira mudah untuk menghindari mereka?”
“Bukankah kau sudah lama pergi dari sana? Sudah lebih dari 6 tahun.”
“Wah, tidak ku sangka. Orang sepertimu bisa tahu hal itu juga. Entah dari mana kau bisa tahu.”ucap Samudera dengan perasaan tertekan. Bahkan untuk informasi detail itu, Embun bisa tahu. Sangat tidak masuk akal.
“Begini saja,”ucap Embun dengan senyuman manis di wajahnya. “Aku akan membantumu bertemu dengan kakakmu. Aku jamin, kau tak akan ketahuan.”
“Siapa yang akan percaya padamu?”
“Percayalah, kau tentu tak ingin diam saja kan? Dan jika butuh bantuan, aku bisa membantumu menggagalkan pelantikan ratu. Jelas aku berhutang budi padamu. Dan aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan.”
Tawaran berharga itu mampu membuat Samudera luluh. Dia memang pintar mempengaruhi orang lain. Untuk keamanan Samudera, Embun sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Mudah saja.
Selanjutnya adalah mengajak Anoda. Pria dengan ambisi besar itu harus bisa dibujuk rayu agar mau menuruti perkataan Embun. Embun mendekatinya saat sedang istirahat di sisi gedung.
“Aku mau kau ikut besok.”
“Mau bicara apalagi? Aku tak mau.”
“Aku janjikan hal baik padamu jika mau ikut.”
“Jangan berbohong. Tak ada hal baik untukku di tempat itu. Mengatur barang-barang kerajaan tak akan membuat kemampuanku meningkat.”
“Tapi kau bisa bertemu kekasihmu disana.”tebak Embun sembarangan.
“Hah? Biella ada disana?”
“Kemungkinan besar. Tapi kau harus memastikan sendiri.”jawab Embun. Embun tahu tentang Biella dari Arafuru. Mereka berada di posisi yang sama untuk jadi perias kerajaan. Terakhir Arafuru bilang bahwa kerajaan sedang merekrut beberapa perias untuk merayakan hari pelantikan ratu. Dan jika berhasil, Arafuru akan berangkat ke Kerajaan Kalimantan. Disaat yang sama, dia melihat foto Biella ketika masih sekolah. Kemungkinan besar, Biella akan ikut jika dia lolos perekrutan. Ini hanya tebakan. Dan jadi tawaran menarik untuk dikatakan kepada Anoda yang keras kepala.
“Kau tidak sedang berdusta kan?”
“Aku serius.”
“Baiklah.”
Dua orang itu sudah ada dalam genggaman. Tinggal satu orang lagi yang harus Embun yakinkan. Manusia yang akhir-akhir ini membuatnya marah dan kesal. Langit Bebiru, pria yang kerjanya marah-marah. Terutama soal kemarin malam. Setan apa yang membuat pria itu semakin hari semakin menyebalkan saja. Dan sekarang, timbul rasa segan bagi Embun untuk mengajaknya ikut.
“Henry, benar tidak ingin ikut jalan-jalan ke kerajaan?”tawar Embun dengan keramahannya yang paling maksimal.
“Tidak. Aku tidak tertarik pada hal seperti itu.”tolak Henry tegas.
Dengan mengatur nafas, Embun berjalan ke arah Langit. Dia mencoba memikirkan kemungkinan terburuk. Tapi tidak ada salahnya jika mencoba dahulu. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali. Pepatah yang tepat untuknya saat ini.
“Langit, hmm.”ucap Embun ragu. “Mau ikut besok tidak? Mengatur persiapan pelantikan ratu.”lanjutnya dengan suara paling lembut. Dia ingat kalau kemarin dia memasang wajah bengis sewaktu berhadapan dengan Langit. Harga dirinya sudah jatuh sekarang.
“Baiklah. Aku bisa.”ucap Langit tanpa banyak basa basi.
“Ah, terima kasih.”ucap Embun dan ia bergegas pergi. Dia sangat tidak mengira kalau Langit akan bersedia tanpa diberikan sentuhan kata dan kalimat manis. Seakan Dewa sedang mendukungnya untuk tetap maju ke depan.
Embun kembali untuk latihan. Latihan yang sama sekali tak membuatnya bersemangat. Sudah waktunya ada pergerakan dari proses pencarian ini. Dia tidak mau jalan ditempat saja. Semoga di tempat itu dia bisa menemukan fakta baru tentang penyintas. Atau setidaknya, dia bisa mendapatkan informasi tentang Indonesia. Embun harus bergerak cepat. Dia tahu bahwa tak banyak waktu yang dia miliki.
Andari Kwari. Ingatan tentang ibunya yang cantik itu sudah sepenuhnya kembali. Ibu adalah status yang tak pernah menyalahi kodratnya. Saat Andari Kwari dan Embun ada di mobil, mereka hanya ingin minggat ke rumah nenek. Saat tahu Embun mendapat pembullyan di sekolahnya, Andari tak terima dan ingin membawanya jauh. Dia tak ingin putrinya itu ditindas terus menerus. Rasa bersalah membuatnya menangis sepanjang perjalanannya. Kurangnya perhatian yang dia berikan selama ini jadi faktor paling utama.
Sampai akhirnya, kecelakaan terjadi. Kecelakaan yang membuat Embun hampir meninggal. Tidak ada harapan untuknya. Dengan pertimbangan yang matang, Andari memutuskan Embun untuk pergi ke Santara. Hanya sampai disitu. Embun tidak yakin apa yang terjadi selanjutnya. Dia hanya mendengar suara Andari yang berkata,
“Maafkan ibu nak, kamu harus pergi ke Santara. Demi hidupmu. Jangan pernah kembali ke sini, karena kau akan mati.”
Perkataan itu terus terngiang-ngiang di kepala Embun. Tapi itu tak sedikitpun mengubah rencananya. Bertemu ibu adalah tujuannya yang paling utama. Bagaimanapun caranya, dia harus bisa.