Chapter 39 - My Secret

1276 Kata
Selamat datang di Kerajaan Kalimantan. Kerajaan paling mewah di Santara. Peranan teknologi terbaru sangat terasa disana. Ketika padi harus diolah secara manual, maka disana sudah ada mesin yang mengelolanya. Teknologi benar-benar diaplikasikan dengan baik. Bahkan penggunaan ponsel pintar sudah mulai bisa digunakan oleh para keturunan bangsawan. Hanya saja, masih Kerajaan Kalimantan saja yang terjangkau sinyal. Jadi, jika dibawa ke Kerajaan lain, maka tak bisa dilakukan komunikasi jarak jauh. Keadaan tampak lebih modern. Bahkan Embun sampai lupa kalau ini adalah Santara. Banyak sekali kesamaan dengan Indonesia. Hanya saja, di tempat ini semua orang berpakaian yang sama. Tak ada variasi dalam penampilan kecuali warna dan modelnya.  “Indah sekali tempat ini.”komentar pertama Embun saat tiba disana. Walaupun sudah tersentuh teknologi, tempat itu juga tak lepas dari hijaunya pepohonan. Semuanya diatur sedemikian rupa agar seimbang di semua hal.  “Silahkan beristirahat. Saya bangga kalian berada disini. Kita tidak tahu bagaimana selanjutnya. Yang pasti, kita harus tetap siaga.”ucap Komandan Dimas Anggara. Dia segera pergi meninggalkan anggotanya.  “Kita akan bagaimana sekarang?”tanya Langit bingung. Sudah sampai di tempat ini, tapi belum ada yang bisa dia lakukan. Langit seperti kehilangan arah. Tanpa Awan, dia tidak bisa melakukan semuanya dengan sempurna. “Tenang saja,” “Bagaimana bisa tenang? Tujuan kita adalah ke Indonesia.” “Aku tahu. Tapi kita tak menemukan apa-apa lagi.” “Argh, aku juga. Kita cuma punya buku ini.”ucap Embun dengan pasrah. Ternyata tak mudah untuk menemukan informasi seorang penyintas. Walaupun mereka sudah bertemu dengan beberapa penyintas di Santara, tapi orang-orang itu tak punya banyak informasi. “Langit, kau jadi ikut?”tanya Anoda dari jauh. “Iya. itu sudah perintah komandan.” “Kalian akan kemana?”tanya Embun penasaran. “Mengambil tuak dari hutan. Akan ada perayaan di kemiliteran nanti malam. Tetaplah disini.”ucap Anoda dari jauh. “Baiklah.”balas Embun sekedar. “Nanti kita bicara lagi.”ucap Langit mengakhiri. Dia bergegas pergi menyusul Anoda. Tinggallah Embun sendirian di tempat itu. Yang lain pergi untuk latihan. Mereka semakin bersemangat untuk latihan. Tapi Embun punya prediksi bahwa misi di tempat ini tak akan serumit di Kerajaan Sumatera. Tak ada perang yang terlalu berat di kerajaan sebesar Kalimantan. Embun menatap kertas-kertas itu dengan malas. Kertas yang kini sudah tidak ada gunanya. Tapi dia terpaku pada satu hal. Nama yang tertera pada buku dengan penulis lepas berinisial SA. Dia sudah menuliskan banyak sekali tentang seorang penyintas. Walaupun tak ada data yang menunjukkan cara kembali ke Indonesia, tapi setidaknya orang itu pasti tahu lebih banyak daripada isi buku itu.  “Apa aku harus mencari tahu tentang penulis ini? Kalau ketemu pasti akan lebih mudah mencari tahu soal Indonesia.”pikirnya dalam hati. Inisial itu berenang-renang di kepalanya. Sampai hari hampir sore, dia masih tetap di meja itu memikirkan tentang penyintas dan Indonesia.  Dia menatap inisial itu dalam waktu yang lama. Sampai akhirnya dia terperangah pada satu nama. Inisial yang sangat cocok dengan nama orang yang ia kenal. “Argh, tidak mungkin.”gumamnya tidak percaya. “Tapi bagaimana aku tahu jika tak langsung bertanya?”lanjutnya lagi dengan pikiran yang tidak tenang. Dia tidak ingin berpikiran terlalu jauh. Tapi penemuan ini membuatnya kepikiran. Hingga pesta di kemiliteran Sumatera dimulai. Semua anggota diperkenankan menggunakan baju bebas. Tak usah menggunakan seragam yang kaku itu. Ini saatnya bersenang-senang untuk merayakan naik kelasnya para anggota. Dan yang paling spesial, akan ada pihak kerajaan yang datang. Seketika Embun kepikiran dengan Samudera. Bagaimana jika orang-orang itu mengenal Samudera? Itu akan sangat berbahaya untuknya. Kekhawatiran Embun ternyata tak terlihat di wajah Samudera. Pria itu malah berkemas dengan baik. Merapikan wajahnya di cermin. Dia juga tampil sempurna dengan batik yang kini melekat di badannya. Sebuah pemandangan yang membuat Embun tidak habis pikir. Atau dia sebenarnya sedang takut dan hanya berpura-pura di depan yang lain? “Kita akan makan daging lagi. Rasanya perutku semakin keroncongan.”ucap Anoda antusias. “Di dalam pikiranmu, hanya ada makanan.” “Ya, makanan itu segalanya untukku.” “Kalau aku pribadi tidak sabar melihat raja. Katanya raja akan ikut.”ucap Henry melakukan tebak-tebakan tidak berhadiah. Embun sibuk melihat raut wajah Samudera yang kini berubah drastis. Dia terlihat kaget saat mendengar raja akan datang. “Hey, belum tentu. Untuk apa raja ke tempat kumuh seperti ini. Palingan, pengawalnya yang datang.”ucap Langit dengan wajah datar. “Ya, Langit benar. Akan datang panglima kepercayaan raja. Panglima Niagara, panglima paling keren di seluruh Santara.”ucap Anoda dengan suara keras. Anoda terlihat membanggakan panglima itu. Jelas saja, ayah nya juga seorang panglima. Dan dia juga punya cita-cita yang sama, menjadi panglima kepercayaan raja.  “Sudahlah, ayo pergi.”ucap Embun yang sudah siap sedari tadi. Dia sudah rapi dengan kebaya yang tidak terlalu mencolok. Dia tidak mau jadi pusat perhatian karena menjadi satu-satunya perempuan di kemiliteran. Dan yang terutama, acara hari ini cuma pesta perayaan yang berpusat pada menikmati acara dan makanan.  Mobil mewah membawa mereka ke tempat acara. Tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh kurang dari dua puluh menit. Mereka disambut oleh pengisi acara yang cantiknya luar biasa. Dan mereka duduk di tempat yang sudah disediakan. Semua masih tampak normal, hingga orang yang ditunggu-tunggu datang. Panglima Niagara, panglima kepercayaan Raja Kalimantan. Panglima yang memiliki kekuasaan paling tinggi dan reputasi yang bagus. Embun sibuk memperhatikan tingkah Samudera yang tak biasa. Dia terlihat panik. Ya, Embun pintar membaca mimik wajah seseorang.  Pria itu berjalan dengan percaya diri. Dia tersenyum ramah kepada semua orang. Dia terlihat sangat berwibawa. Itulah yang bisa Embun simpulkan.  “Terima kasih untuk kalian yang sudah berjuang sampai disini. Dan sekarang, akan berbicara panglima paling tinggi di Santara. Panglima Niagara.”ucap perempuan itu sambil mempersilahkan pria itu untuk memberikan beberapa pidato. “Selamat malam kepada kalian semua. Saya sangat bangga kalian berada disini. Wajah kalian menunjukkan bahwa Santara akan punya masa depan cerah. Selanjutnya kita akan terus bekerjasama.”ucapnya dengan senyum sumringah di wajahnya. Dan dia menelusuri setiap orang satu per satu. Dan itu berhasil membuat Samudera gentar. Dia berusaha menghindari pandangannya dari pria itu. Dan anehnya, pria itu juga tampak diam saat melihat gerak gerik Samudera.  Embun langsung merangkul Samudera. Samudera yang kaget hanya bisa melotot melihatnya.  “Ayo, ikut.” “Kemana?” “Udah.” Mereka berdua pergi bersama. Dan Embun merangkulnya seperti layaknya pasangan kekasih. Samudera yang bingung hanya bisa pasrah dibawa Embun ke arah mana. Hingga mereka sampai di taman. “Aku tahu kau siapa.”ucap embun jujur. “Aku juga tahu kau sedang menghindar dari Panglima Niagara. Aku tak tahu alasanmu apa, tapi kau terlihat tidak ingin bertemu dengannya.” “Jangan mengarang cerita. Aku tidak ada hubungannya sama dia.” “Aku tidak mengarang cerita. Aku tahu kau seorang pangeran.” Samudera kaget dan merasa terpojok. Embun menambah cerita yang membuat Samudera tidak habis pikir. Ternyata Embun mengetahui terlalu banyak. Bahkan dia tahu tentang masa lalunya yang buruk. “Tenang saja, aku tetap percaya padamu. Kau tak mungkin membunuh kan?”ucap Embun dengan penuh keyakinan. Samudera terlihat marah dan emosi. “Kau jangan sok tahu!” “Kenapa marah? Aku tak akan takut hanya dengan gertakan.”ucap Embun tak peduli. Gertakan itu tidak menyeramkan sama sekali. Embun itu perempuan yang pernah bersinggungan dengan kematian. Dibanding ucapan Samudera, hidup di ujung kematian jauh lebih menyeramkan. “Aku juga tau apa tujuanmu ada disini?”ucap Samudera mencari pengalihan. Sepertinya dia tak ingin terlihat kalah di depan Embun. “Aku tidak masalah dengan itu.”ucap Embun tegas. Dia tetap terlihat tenang. Tapi Samudera berdiam dengan kepala bersandar di tangan. Dia masih tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini. Kejutan yang membuatnya merasa terpojok. Argh, bagaimana Embun bisa mengetahui semuanya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN