Chapter 38 - Family

1003 Kata
Perempuan itu tertawa bersama dengan beberapa petinggi kerajaan di rumahnya. Mereka menikmati  daging dan minuman keras tanpa mempedulikan sekitar. Raja sedang ada tugas ke Kerajaan Bali. Hubungan kerjasama dengan kunjungan terkait masalah di sana.  “Tenang saja Indi, sebentar lagi kau akan jadi ratu. Posisi tertinggi dari semua perempuan di Santara.”ucap Panglima Niagara. Panglima dengan posisi paling tinggi di Kerajaan Kalimantan. “Aku hanya merasa tidak nyaman dengan tanggal yang disediakan raja. Mengapa harus di waktu itu? Menurutku, itu terlalu lama. Aku takut jika terjadi masalah.” “Iya benar. Jangan terlalu negatif pada masa depan. Berjalan lurus saja.” “Ayo, kita minum dulu.” Tak lama seorang biduan datang memberikan mereka hiburan. Suasana ramai terdengar dari persinggahan Indiri, selir yang dicintai raja. Begitulah yang dapat dipahami para pelayan di rumah itu. Mereka selalu mengadakan pesta saat raja tidak ada di singsana. Semua juga tahu kalau mereka sedang mereka sangat berharap pelantikan ratu segera dilakukan. Ditempat yang tak jauh dari sana, seorang putri tampak melamun melihat langit yang biru. Putri yang kecantikannya selalu jadi pembicaraan masyarakat di Kerajaan Kalimantan. Dia selalu mampu menarik perhatian semua orang dengan kelembutannya dan keramahannya. Dia sangat mirip dengan mendiang Ratu Kalis. Sayang sekali, ratu yang dicintai rakyat itu malah meninggal akibat penyakit yang tak bisa dihindari.  “Putri Merime, Tuan Hujan datang.”ujar pelayan tiba-tiba. Perempuan itu hanya mengangguk seakan menyuruh pelayan untuk membiarkan Hujan datang. Tak lama, pria dengan penutup kepala datang. Pria yang mengenakan batik berwarna hitam itu memberi hormat lalu duduk disampingnya. “Sepagi ini, kau tetap saja berdiam dan melihat langit.” “Aku tidak tahu. Aku rindu pada adikku.” “Wah, berarti sudah tepat aku datang kemari. Ada surat untukmu.”ucap Hujan sambil memberikan sebuah kertas pada Merime. Merime terlihat kaget dengan mata melotot. Bagaimana bisa sebuah surat sampai ke tangan Hujan? Pengamanan di kerajaan tak semudah itu dapat dilewati. Apalagi jika surat itu dikirim melalui pos. Hal itu seperti sebuah kemustahilan bagi Merime. “Bagaimana bisa?” “Seseorang yang membawanya. Tenang saja, dia baik-baik saja.” “Aku tidak paham. Raja tak pernah bisa mempercayai anak-anaknya.” “Tapi kita harus percaya pada dia. Dia pasti akan datang.” “Kau sedang tidak bercanda kan?” “Tidak mungkin dia membiarkan selir itu jadi ratu. Seseorang yang bersalah harus dihukum.”balas Hujan tegas. Dan itu membuat Merime menyunggingkan senyuman di wajahnya. Udah lama dia tak mendengar kabar Samudera, adiknya. Kepergian Samudera di masa lalu sangat menyakitkan baginya. Kehilangan adik hanya karena fitnah keji yang dibuat oleh selir jahat itu.  Tiba-tiba, seorang anak laki-laki mendatangi mereka bersama pria yang membawanya. Pangeran Antario yang tersenyum lebar saat melihat Hujan.  “Paman, kenapa tidak bilang mau kesini? Aku mau bermain lagi.”ucap Salio, tuan muda di keluarga Antario. “Paman kan cuma sebentar. Lain kali kita bermain ya.”balas Hujan ramah. “Saya izin pergi, pangeran.” “Iya, terima kasih sudah datang.”ucap Pangeran Antario sambil tersenyum. Lalu dia duduk disamping Putri Merime.  “Ini surat dari Samudera.”ucapnya sambil terisak. Dia memeluknya erat. Sejak awal, Merime sangat terpukul atas kepergian Samudera. Bahkan ketika Merime menikah dengan Pangeran Antario, tak ada Samudera disisinya. Tidak bisa dihitung sebesar apa rasa benci Merime pada Selir Indiri. Dia hanya menahan semua itu demi keselamatannya sendiri. Hujan sudah bilang agar tak membuat perlawanan. Akan lebih baik dengan pura-pura tidak tahu apa-apa. Setidaknya, Merime tak harus pergi seperti yang terjadi pada Samudera.  Ketika Salio lahir, Merime sangat merindukan Samudera. Waktu berjalan begitu cepat. Kini Salio sudah berusia lima tahun, tapi dia tak pernah sekalipun bertemu pamannya. Dan Hujan selalu datang menggantikan peran itu. Peran yang seharusnya dilakukan oleh Samudera Alia. Kepahitan itu selalu membayang-bayangi Merime. Rasa bersalah karena membiarkan Samudera pergi dan ketakutan jika adiknya itu sudah tiada. Merime jelas tahu bahwa Samudera tidak punya pengalaman untuk bertahan hidup diluar sana. Diberikan fasilitas dan hidup mewah di kerajaan pasti akan membuatnya susah beradaptasi. Tapi siapa sangka, surat dari Samudera ini melegakan hati Merime. Surat yang membuktikan bahwa adiknya itu masih hidup. *** Saat pagi datang dan matahari menunjukkan sinarnya, mereka bersiap untuk meninggalkan tempat ini. Pulau yang indah dengan pemandangannya. Untuk berjaga-jaga, sudah dibuat palang sebagai ancaman bagi pihak asing jika kembali melakukan kekacauan. Ancaman agar tak ada yang sepele pada Santara. Embun mempercepat langkahnya menuju mobil dengan tas besar di pundaknya. Dia duduk dibangku yang dekat jendela. Tiba-tiba saja Anoda datang dan duduk disampingnya. Samudera dan Langit yang tadinya mau duduk di tempat itu terpaksa mencari tempat duduk lain.  Sebungkus roti mengalihkan perhatiannya. Dia sibuk dengan roti itu dan tidak mempedulikan tatapan Anoda disampingnya. “Kau hebat ya.”ucap Anoda. “Hebat apanya? Kemarin aku melempar batu paling banyak ya?” “Bukan itu. Kau mampu membuat Henry tidak marah lagi padaku.” “Memangnya, Henry bilang apa padamu?” “Dia cuma bilang maaf. Kurasa itu karenamu. Kau bicara padanya kan kemarin?” “Iya, sebenarnya itu bukan karena aku. Itu karena dirimu sendiri.” “Maksudnya.” “Sudah, lupakan. Ini, makan saja.”ucapnya sambil melempar sebungkus roti. Anoda langsung terkesima dan memakan roti itu. Entah kenapa, ada perasaan hangat di hatinya. Setidaknya, Henry tak lagi marah padanya. Dia juga menyesal karena mengatakan perkataan yang jahat kemarin.  Perjalanan mereka cukup lama untuk sampai persinggahan terakhir di Kerajaan Sumatera. Hari yang akan membosankan karena mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain latihan. Ini memang sebuah pencapaian besar bagi mereka. Tapi menjalani semua ini terasa begitu melelahkan. Terutama latihan yang tiada ujungnya ini. Embun termenung di dekat jendela. Sesekali dia melihat ke arah tempat latihan. Ternyata berada di Santara tak seburuk yang ia bayangkan. Ia punya banyak teman yang sudah seperti saudara. Siapa sangka, ketika dia mencari keluarganya, malah muncul keluarga yang lain. Keluarga yang sangat memahami dirinya. Dan mereka sudah melalui banyak hal selama ini. Embun selalu mengingat pertemuan pertamanya dengan orang-orang itu. Tapi niat untuk bertemu ibu tidaklah luntur karenanya. Walaupun Embun harus mati, Embun harus tetap pada tujuannya. Kembali ke Indonesia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN