Chapter 37 - Why?

1590 Kata
Hari itu sudah tiba. Hari dimana pertumpahan darah akan terjadi. Semua anggota tim  menunggu dalam keadaan pria. Luka yang selama ini menyakiti mereka seketika menghilang dengan obat yang diberikan dokter dan tabib. Mereka menunggu dengan sabar kedatangan musuh dari ujung lautan yang biru. “Kuharap tak akan ada yang mati.” “Setidaknya, biarkan hidup walau harus berakhir di rumah sakit.” “Tetaplah saling menjaga. Semua pasti akan berakhir baik.” Harapan mereka tercurah begitu saja. Tak ingin jika misi terakhir ini jadi tragedi berdarah yang mengambil nyawa mereka masing-masing. Apalagi tujuan sudah semakin di depan mata. Kerajaan Kalimantan sudah ada tepat di depan mata. Jangan biarkan perjuangan selama ini hanya sia-sia belaka. Tak lama, berderet kapal besar yang berjalan ke arah mereka. Mereka cukup tidak percaya diri karena luar biasanya kapal itu. Harapan terbesar adalah berhasil menumbangkan kapalnya.  “Siap!! Tembak sekarang!”teriak Ketua Mandala memecah keheningan. Semua memulai dan membidik orang-orang yang terlihat mata.  Panah ditembakkan, senjata silih berganti menghantam setiap manusia. Dan mereka juga menerima perlakuan yang sama. Ketika senjata api menghancurkan tempat-tempat persembunyian mereka. Mereka berlari mencari tempat persembunyian lain. Peperangan itu terjadi cukup lama. Membuat semua orang lelah. Dan yang paling parah, banyak nyawa yang harus dikorbankan. Hingga Ketua Mandala mengumumkan akan menggunakan cara terakhir. Cara paling ampuh dan paling beresiko. Melempar granat ke arah lawan. Mereka hanya punya tiga granat. Sedangkan kapal yang hancur masih satu saja. Tersisa 6 kapal lagi. Jumlah yang cukup banyak. Sedangkan granat yang mereka punya tak cukup mampu melampaui jarak yang sejauh itu. “Dimas, suruh Tim X mengarahkan beberapa kapal ke arah barat. Bagaimanapun caranya, mereka harus bisa.” “Baik, siap ketua!”balas Dimas penuh hormat. Ia bergegas berlari menuju ke arah timnya. Dan ia kaget mendapati jumlah mereka yang semakin sedikit. “Komandan, Divum dan Fajar sudah tewas. Sedangkan Hasa luka parah.”ucap Anoda memberikan laporan. “Sisanya?” “Hanya luka ringan. Mereka sedang melayangkan tembakan ke arah lawan.” “Ajak semuanya ke arah barat. Saya tunggu kalian di sana.”ucapnya tegas. “Siap, komandan.” Dengan langkah cepat, Anoda menemui teman-temannya. Mereka masih fokus mematikan lawan satu per satu. Bukan hal yang mudah karena terkadang mereka tidak bisa melihat lawan yang bersembunyi. Apalagi kapal itu sering berpindah posisi. Membuat mereka tidak bisa akurat dalam membidik. “Kita diperintahkan ke sisi barat. Sekarang!” “Hah? Ini sasaran sedang empuk untuk dibunuh.”Komentar Embun sambil mengambil peluru dari tasnya. “Ada perubahan rencana. Beberapa orang sudah mati.” Mendengar hal itu mereka segera bersiap. Kematian beberapa orang dari tim mereka bukan hal yang pantas untuk membuat mereka lemah. Malahan, mereka harus lebih semangat untuk berjuang. Perjuangan itu harus sampai akhir. “Dengarkan saya, kalian harus berhasil membuat beberapa kapal mengarah ke sini. Nanti akan ada granat yang dilemparkan. Tugas kita cuma membawa mereka ke arah barat. Sisanya, biar mereka yang melakukannya.” “Siap komandan!” “Apakah ada yang punya ide?”tanya Dimas lagi. Semua tampak berpikir. Cara terbaik untuk menghalau mereka ke sisi barat adalah dengan mencari masalah. Ya, mencari masalah tanpa menembakkan senapan. Semudah melakukan bentrokan antara warga dan pemerintah. Itulah yang ada dalam pikiran Embun Deangkasa. “Saya punya ide.” Apa yang Embun pikirkan rupanya masuk akal bagi Komandan Dimas Anggara. Ide sederhana itu pun direalisasikan. Mereka mengumpulkan batu dan mulai melempari kapal dengan sembarangan. Mereka ingin menunjukkan diri bahwa mereka ada di sisi barat.  “Ini namanya tawuran.”ucap Embun sambil melemparkan batu. “Apa kau juga begini di Indonesia?”tanya Langit tidak percaya. “Jelas tidak. Aku tidak gila hingga melakukan itu. Hanya saja, itu cara paling mungkin untuk menarik perhatian.”ungkap Embun tegas. Tak perlu menunggu lama, perhatian musuh datang kepada mereka. Kapal dialihkan ke arah mereka.  “Akhirnya. Tapi tetap, kita harus melempar batunya. Jangan lengah!”teriak Dimas memberikan perintah. Kapal itu bergerak menuju ke sisi barat. Tidak cuma Tim X yang mengubah posisi kapal. Ada juga beberapa tim lain yang melakukan hal yang sama. Mengubah posisi kapal ke timur.  “Sekarang!!”teriak Ketua Mandala saat semua sudah terpisah.  “Brak!!” Dentuman keras terdengar. Kapal-kapal itu hanyut dan hancur hanya karena granat yang dilemparkan. Sayangnya ada satu kapal yang bergerak mundur. Saat beberapa orang hendak melakukan pembataian, Ketua Mandala menyuruh untuk berhenti. “Biarkan mereka pergi. Itu akan jadi jalan untuk mereka memberi tahu petingginya. Mengabarkan kalau Santara tak semudah itu untuk dijajah.”teriaknya keras dan tegas. Semua berteriak gembira karena misi kali ini sudah usai. Walau tetap saja, kematian tak bisa dihindari. Selalu ada air mata dari mereka yang ditinggalkan. Apalagi mereka yang bersahabat erat. Saat Embun melihat duka itu, dia jadi terbawa pada ingatan tentang Awan. Semua orang seperti diberikan porsi untuk merasakan duka di waktu yang berbeda. Itu memang sangat menyedihkan. Tapi tiada yang akan paham bagaimana menghindarinya. Duka itu sesuatu hal yang pasti bagi umat manusia. Sayangnya, sesering apapun duka itu datang, manusia tidak akan bisa terbiasa.  Tim X sudah kehilangan dua orang. Tapi mereka harus pura-pura tegar agar tak terlihat lemah di depan Ketua Mandala. Mereka menikmati makan malam tanpa rasa semangat. Ketika hari mulai malam, mereka memasang kembang api di depan tempat tinggal. Terhidang banyak makanan enak dan juga minuman. Mereka dikirimi banyak sekali makanan untuk perayaan karena telah berhasil melewati misi terakhir ini. “Aku tidak menyangka kita sampai di titik ini. Kita akan dilantik saat sampai di Kerajaan Kalimantan. Gila bukan?”ucap Anoda sambil meneguk bir itu.  “Prak!!”terdengar suara meja dipukul keras.  “Jangan sok hebat kau? Apa tidak ada sedikit empati pada mereka yang baru saja mati?” “Kau terlalu emosional. Dia tak akan bisa hidup meski kau tangisi.” “Diam!”teriak Henry dengan wajah merahnya. Dia terlihat sangat marah. Dua orang yang tewas hari ini adalah sahabat baik Henry. Sejak dari pertemuan pertama hingga sekarang mereka selalu solid. Entah apa yang terjadi tadi, sehingga mereka tidak bisa saling menyelamatkan satu sama lain. Bahkan ketika Awan tewas, mereka bertiga tetap hidup hanya karena saling solid. Mereka saling melengkapi untuk tetap hidup.  Henry memukul Anoda dengan keras. Mereka saling menonjok dengan kepalan tangan yang kuat. Darah bersih mengalir dari wajah mereka. Tak ada yang melerai mereka. Samudera langsung duduk dan menikmati daging yang masih panas. Sedangkan Langit sibuk membakar daging dan ikan. Yang lain juga memilih makan dan memulihkan tenaga. Mereka sangat kelelahan dan lapar.  “Bangsaat!1” “Kau yang b*****t! Tidak tahu diri!” “Sialan! Pergi saja sana. Tak usah bergabung jika memang tak mau. Jangan gara-gara kau, kami semua lapar.”teriak Anoda kepada Henry yang menjauh dari sana. Entah kemana dia akan pergi. Yang pasti, Anoda bangkit berdiri dan kembali ke tempat duduk. “Aku mau!”ucapnya tegas. Tanpa pikir panjang, Langit menaruh potongan daging di piringnya. Mereka menikmati makanan itu dengan lahap. Tak ada lagi yang lapar. Lapar kerap membuat pikiran mereka tidak tenang. Dan marah adalah akibat yang paling jelas terlihat. Beberapa orang bergegas untuk tidur. Langit hendak berhenti membakar. “Aku mau lagi.”ucap Embun tiba-tiba. “Kau masih lapar?” “Bukan untukku, tapi untuk Henry. Kau kira dia tidak lapar?” “Jangan luluh pada pria menyebalkan itu. Kau tak lihat perlakuannya padaku tadi?”tegas Anoda keras. “Sudahlah. Aku tak ingin ada yang mati lagi dari tim kita.”balas Embun singkat. Pernyataan yang membuat Anoda berhenti mengoceh. Bahkan Samudera dan Langit tidak berani ikut campur. Langit terus membakar hingga daging itu matang. Dengan segera, Embun menaruhnya di dalam kotak bekal. Dengan tambahan nasi dan sayuran. Dia pergi ke arah pantai, mencari keberadaan Henry. Dinginnya malam tak membuatnya mengurungkan niat. Di tepi pantai itu, dia melihat Henry sedang duduk di bawah lampu jalan.  “Makanlah.”ucap Embun sambil duduk disampingnya. Duduk di atas pasir yang dingin. Dia menaruh kotak bekal itu di depan Henry. “Tidak usah sok peduli.” “Aku tidak sedang peduli. Aku tak ingin kau mati karena tidak makan. Kita sudah menahan lapar sejak matahari datang. Kau tak sadar jika ususmu nanti hancur?”ucap Embun. Ucapan yang membuat Henry bingung. Dia tak faham struktur tubuh manusia. Dia hanya tahu kalau manusia diajarkan untuk makan jika lapar. Dan minum jika haus. Ya, sangat sederhana.  “Lupakan soal bicaraku tadi. Dan tentang Anoda, dia tak seegois yang kau kira.” “Kau membelanya karena dia temanmu. Kau tidak menganggap aku dan kedua temanku yang sudah mati itu?” “Siapa bilang? Aku membenci Anoda. Sangat membenci malah!”ucap Embun. “Tapi apa kau tahu ketika Awan mati? Dia melakukan banyak sekali hal yang tidak dapat kulakukan. Dia mengirim surat pada orang tua Awan, menyelamatkan Langit yang hampir bunuh diri, dan bahkan membuat petisi soal kematian itu. Agar mayatnya jangan dibakar sebelum keluarganya datang.”ungkap Embun dengan wajah sedih. Tak terasa, air mata mengalir di pipinya. “Sayangnya memang tak bisa.” “Itu karena Awan juga temannya.” “Tidak, Henry. Dia juga melakukan hal yang sama. Kau pikir, kemana saja dia ketika kau menangis? Dia menemui Ketua Mandala di pos. Dia ingin tidak ada pembakaran di tempat ini. Saran yang baik karena ini kampung halaman kita. Dan ya, semua itu disetujui.” Mendengar hal itu, Henry tak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa diam dengan mata yang memerah. “Makanlah. Kuharap, setelah itu kau bisa berpikir jernih.”lanjutnya. Dia segera pergi dengan kepala tegap. Mengelus bagian pundaknya karena kedinginan. Angin laut yang dingin mulai menusuk kulit. Dia berlari kecil agar bisa sampai dalam waktu cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN