Chapter 36 - About Samudera Alia

1213 Kata
Ini adalah hari yang berat untuk Embun. Menahan rasa sakit yang luar biasa saat semua orang sedang berlatih. Merasa jika dirinya adalah beban tim. Meski begitu, semua orang tetap ramah padanya. Tak ada yang menatapnya tajam dan menghakiminya. “Istirahatlah. Biar kami yang latihan.”ucap Samudera padanya. Dan hari ini dia di kamar tiduran seharian. Waktu yang membosankan. Tapi dia juga tak bisa pergi keluar karena kakinya masih dalam pemulihan. Dia harus cepat sembuh. “Ibu, aku rindu.”ucapnya sambil menangis. Ketika seseorang dalam kesendirian, maka bayangan masa lalu kerap datang. Seperti angin yang tiba-tiba melintas, perasaan itu tetap bertahan di dalam hati. “Bagaimana jika aku tak bisa kembali? Aku tak ingin terus disini. Aku ingin tahu tentang ibu.”gumamnya dengan kepala menunduk. Air matanya terus mengalir membasahi pipi. Hal itu terjadi dalam waktu yang lama, hingga tak terasa sudah tak bisa mengeluarkan air mata. Ia memeriksa tasnya dan memperhatikan semua kertas bukti yang pernah ia kumpulkan. Apakah semua ini akan jadi kesia-siaan belaka? Setidaknya, Embun perlu tahu kenapa Andari Kwari membuangnya ke Santara.  Hingga ia melihat daftar fakta yang pernah ia ambil di perpustakaan dulu. Tulisan dari seorang penulis anonim berinisial SA. Dia pasti tahu banyak tentang penyintas. Jika dia masih hidup, Embun ingin dipertemukan dengan penulis itu. Ya, hanya bertemu sesaat untuk mengetahui hal yang ingin Embun ketahui. Tiba-tiba terdengar pintu terbuka. Seseorang datang. Dengan cepat, Embun menyembunyikan semua benda-benda yang dirahasiakan itu. Dimas Anggara datang dan tersenyum padanya. “Sudah baikan?” “Sudah komandan! Maafkan saya!”teriaknya dengan posisi siaga. “Santai saja, aku kesini hanya untuk memastikan keadaanmu.” “Iya, terima kasih komandan.” “Maafkan saya karena jarang peduli pada kalian. Banyak hal yang saya lakukan di luar sana. Jika ada yang kamu butuhkan, bisa beritahu pada saya ya. Saya  kembali dulu.” “Komandan, saya ada pertanyaan.”ucap Embun menghentikan niat Dimas untuk pergi. Dimas duduk kembali. “Pertanyaan ini tidak ada sangkut pautnya dengan misi kita. Saya hanya penasaran tentang sistem kerajaan di Santara. Tentang pemindahan kekuasaan nya juga. Hanya ingin mengetahui lebih dalam.” “Hmm, untuk spesifiknya, apa yang ingin kamu ketahui?”tanya Dimas Anggara seakan tahu maksud dan tujuan Embun. “Gelar seorang pangeran.” “Gelar pangeran hanya akan diberi pada anak yang diresmikan dalam suatu acara. Seorang raja bisa punya banyak anak. Dari istri atau selir. Tapi gelar pangeran hanya untuk mereka yang akan disahkan di depan rakyat.” “Jadi, ketika seorang anak lahir, anak itu belum dilabeli pangeran?” “Tidak. Terkhusus untuk anak dari istri dan atas persetujuan pihak kerajaan, ada anak yang langsung diberi gelar ketika lahir ke dunia. Tapi untuk sah atau tidaknya, dia juga harus dilantik di depan rakyat.” “Oh begitu.”ucap Embun manggut-manggut. “Apakah komandan tahu siapa saja pangeran di seluruh kerajaan?” “Tentu saja tidak.” “Baiklah, komandan. Terima kasih banyak sudah menjelaskan kepada saya.” Dimas bersiap untuk pergi. “Sebenarnya kau bisa tahu, di gudang dokumen penyimpanan.”lanjutnya sebelum pergi. Hal itu membuat Embun sedikit bersemangat. Dia ingin sekali mengetahui siapa sebenarnya Samudera Alia. Apa alasan pria itu melakukan ini? Terutama karena Embun mengetahui kalau dia sebenarnya tahu maksud dan tujuan Embun. Samudera terlihat sekali sudah tahu tujuan Embun dan Langit. Dia tetap merahasiakannya. Tapi belum tentu hal itu terjadi di masa depan. Manusia bisa saja berubah. Untuk berjaga-jaga, Embun ingin mengetahui siapa dia sebenarnya. Waktu itu, ketika fajar datang, Embun memergoki Samudera sedang duduk dengan kepala bersandar di meja. Dan saat ia melihat tulisan di atas meja, dia yakin kalau Samudera tahu tujuannya. Dia tahu rahasia yang selama ini terkunci rapat. *** Gudang penyimpan dokumen kerajaan berada cukup jauh dari pesisir pulau. Dengan niat hendak melakukan pengecekan ke bagian kesehatan, Embun membuat alasan palsu untuk pergi ke kota. Dia juga belum seratus persen pulih. Dia belum bisa latihan dengan baik. Dimas Anggara menyuruhnya untuk memperbanyak istirahat saja.  Dengan kebaya yang sangat cantik, dia sampai di gudang penyimpanan dokumen kerajaan. Cukup mudah baginya masuk ke tempat itu. Tentu dengan bantuan kartu aksesnya. Sayangnya, dia perlu mencari di semua kerajaan yang ada di Santara. Dan dokumennya sangat banyak. Tidak mungkin dia membacanya satu persatu. Dia terlihat sangat frustasi hingga seorang pria paruh baya datang.  Dia sangat heran melihat Embun garuk-garuk kepala sejak sampai di tempat ini.  “Sedang mencari apa?”tanyanya dengan niat baik. “Ah, sebenarnya.”jawab Embun ragu. “Saya ingin melihat data pangeran dari setiap kerajaan.”lanjutnya masih penuh dengan keraguan. Dia langsung mengambil kertas dan pulpen. Menuliskan sebuah kode untuk mengetahui letak dokumen yang Embun cari. Lalu dia meletakkannya di atas meja. “Kalau kesulitan lagi, beritahu saja. Bercerita pada orang lain bisa jadi memberikan solusi.”ucapnya lagi. Dia segera pergi. Meninggalkan Embun yang tersenyum karena merasa sangat terbantu. Dia mencari letak kode yang diberikan pria tadi. Dan benar saja, dia sangat mudah menemukannya. Dalam satu barisan dokumen, semua  data tentang keturunan raja tercatat disana. Dan entah kenapa, mata Embun langsung tertuju pada Kerajaan Kalimantan.  “Mari mulai dari kerajaan paling tinggi.”gumamnya sambil duduk di lantai. Dan ketika dia membuka halaman pertama, ia mengenali wajah itu. Ya, Samudera Alia yang masih kecil sedang tersenyum di pangkuan ibu dan ayahnya. Dan ayahnya adalah Raja Kalimantan.  Dengan cepat ia membuka halaman berikutnya. Fakta tentang keluarga Raja Kalimantan. Dia memiliki dua orang anak. Anak laki-laki bernama Samudera Alia. Anak perempuan bernama Austin Frenanda. Mereka sudah diberikan gelar Pangeran dan Putri sejak lahir, sama seperti keturunan raja lainnya.  Embun sangat terkesan membacanya. Dengan segera, dia membuka ke halaman terakhir. Dan dia cukup kaget membacanya. Samudera Alia sudah lama tidak berada di kerajaan. Dia diberi hukuman oleh pihak kerajaan atas suatu masalah yang tidak bisa diberitahukan kepada publik. “Argh, sial. Informasinya tidak berguna.”keluh Embun. Setelah membaca semua yang penting, dia bergegas pulang dengan muka ditekuk. Hingga dia sampai di pintu masuk. Banyak sekali artikel yang berserakan. “Kalau mau, boleh dibaca dan diambil. Artikel itu sudah lama dan tidak penting lagi.”ucap pria yang bertugas disana. Embun tersenyum dan mengambil kartu identitasnya. Dia langsung duduk dan mencoba menghabiskan waktu dengan melihat artikel usang itu. Hingga dia melihat wajah Raja Kalimantan ada di sampulnya. Menarik dan pantas untuk dibaca lebih lanjut.  Samudera Alia, pangeran yang sudah diberi gelar sejak lahir ke dunia. Gelar yang rupanya tidak terlalu berguna. Dia dikeluarkan dari kerajaan karena melakukan kesalahan besar. Kebenciannya terhadap selir raja rupanya mampu membuat perilakunya menyimpang. Membunuh seorang selir yang dicintai raja. Tanpa segan-segan, raja membuangnya begitu saja.  Artikel yang sangat singkat. Dan Embun beralih ke catatan lain. Catatan dari orang yang berbeda. Pangeran tidaklah bersalah. Dia hanya difitnah. Tapi siapa yang akan membelanya? Bahkan Putri Austin saja dibungkam oleh pihak kerajaan. Kerajaan Kalimantan sangat tidak terpuji. Seketika Embun membelalak. Dunia ini sangat kacau. Entah kepada siapa dia harus percaya. Dua cerita yang bertolak belakang. Tapi setidaknya, Embun jadi tahu asal muasal Samudera Alia. Pria tampan yang memiliki kulit mulus itu. Dia memang terlalu indah untuk masuk sebagai anggota militer. Tampangnya saja sangat berbeda. Pantas saja, dia keturunan Raja Kalimantan, Raja paling kaya di Santara. Saat Embun berjalan dengan pikiran entah kemana. Dia menemukan sesuatu yang selama ini dia cari. Dia langsung tersenyum bangga. Sekali mendayung, dua pulau terlampaui.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN