Chapter 35 - Attacking

1273 Kata
Darah yang sudah dikorbankan seperti penyemangat bagi mereka yang masih hidup. Apa gunanya dia mati jika ujungnya bukanlah keberhasilan? Kematiannya sudah cukup sebagai jaminan kemenangan. Dengan panah dan senjata api yang melekat di tubuhnya, tim X berangkat ke perbatasan pulau Sumatera. Seragam yang mereka pakai jadi identitas yang sangat membanggakan. Tak heran banyak masyarakat yang menyapa mereka dengan ramah. Merasa bahwa anggota militer adalah orang yang berjasa bagi Santara. Mobil bak terbuka itu membawa mereka ke sebuah desa yang jauh dari kata ramai. Hanya beberapa orang yang melintas di jalanan. Kebanyakan dari mereka sudah pindah dari pesisir laut karena takut dengan resikonya. Kehadiran preman pihak asing kerap membuat mereka trauma. Sulit menjalani hidup dari gangguan yang datang tiba-tiba. Mereka memilih untuk menjauh dari kawasan itu walaupun sumber hidup dari laut sangat besar. Seandainya tanpa gangguan, mereka bisa menangkap ikan yang banyak. Dan tentu saja hal itu bisa jadi sumber mata pencaharian yang potensial. “Hari ini kita akan mengatur posisi dan strategi. Saya harap semua sudah siap dengan amunisi masing-masing.”ucap Ketua Mandala di depan semua orang. Misi kali ini memang tidak hanya dilakukan oleh satu tim saja, tapi semua tim. Hanya saja, setiap tim mengandalkan senjata yang berbeda. Ada yang berjuang dengan bom hingga panah tajam.  “Siap, ketua!!” Semuanya mengambil posisi untuk menyiapkan semuanya. Mempersiapkan tempat persembunyian yang paling tepat. “Disini cocok kan?”tanya Anoda. Samudera memperhatikan tempat yang ditunjuk pria itu.  “Ya. Tetap ingat, harus ada jalan kita melihat ke depan. Bersembunyi bukan berarti menghindar. Kita harus tetap menyerang.” “Baik.” Mereka menaruh penyangga untuk menutup bagian tubuhnya. Batu besar jadi tempat persembunyian paling tepat. Dan mereka sudah memiliki lokasi terbaik untuk menyerang. Jika terjadi kegagalan, maka akan langsung berpindah ke tempat kedua. Sesederhana itu. Harinya pun tiba. Semua anggota militer bersiap di tempatnya masing-masing. Dengan persiapan yang matang mereka siap untuk melampaui target dan menyelamatkan perairan Santara. Tidak ada yang boleh mengambil hak dan milik orang lain. Itu namanya tidak adil. “Ini, makan dulu.”ucap Langit sambil memberikan satu bungkus roti kepada Embun. Perhatian yang bagi Embun seperti sebuah kebaikan dari partner kerja. “Oh, terima kasih.”ucapnya sambil membuka bungkus roti itu. “Apa kau tahu berapa orang yang akan datang?” “Akan banyak. Lebih banyak dari jumlah kita. Dan kurasa, mereka juga sadar kalau kita sedang bersiap disini.” “Hanya saja, mereka tidak tahu kalau kita penuh persiapan.” “Benar. Mereka tidak akan menyangka kalau kita akan menyambut mereka dengan panah runcing yang menebas tubuhnya.”Langit tampak bersiap untuk berganti posisi. “Kalau kau butuh bantuan, katakan padaku.”ucapnya lalu pergi. Tak lama Samudera datang dan berdiri di samping Embun. Sesuai janjinya, pria itu akan berada di sisi Embun selama misi berlangsung. “Jangan lengah ya. Tidak ada alasan untuk tidak membunuh mereka.” “Iya, aku tahu.” “Sekiranya kau sudah tidak sanggup, berlindung saja dibelakangku.” “Tidak mungkin aku begitu. Aku ini Embun, perempuan yang tidak akan melakukan itu.”ucap Embun dengan percaya diri yang tinggi. Dia menatap fokus ke depan. Tampak beberapa kapal sudah berjalan menuju pelabuhan. Bahkan ada suara tawa dari seberang sana. Saat mereka sudah tak terlalu jauh dari pelabuhan, komandan memberikan perintah. “Pertarungan dimulai!”teriak nya keras. Dan seketika, semua melakukan bidikan yang akurat. Melayangkan panah ke d**a lawan. Terdengar teriakan histeris dari seberang. Beberapa orang sudah mati bahkan jatuh ke air laut. Lawan membalas dengan senjata api yang dilayangkan dengan sembarang. Dan semua tim menyelamatkan diri dengan bersembunyi di balik batu besar yang berdiri kokoh. “Cepat!”teriak Samudera pada Embun yang masih mengisi peluru pada senjata api miliknya. Dia sangat lamban. Setelah berhasil, Samudera menatapnya dan mengangguk. Mereka bersiap untuk memberikan serangan kedua. “Tembak!!”teriak Samudera keras. Mereka menembak dengan target yang jelas. Tidak seperti lawan yang menghabiskan peluru hanya untuk target yang tidak terkunci. Samudera pernah berkata bahwa butuh keakuratan untuk memenangkan sebuah pertarungan. Jangan mau menghabiskan peluru hanya untuk sesuatu yang sia-sia saja. Satu buah peluru pun berharga nilainya. Sama seperti kesempatan yang tidak pantas untuk disia-siakan. Embun fokus pada tujuannya. Dia membidik lawan dengan perlahan. Walaupun jumlah orang yang ia bunuh tidak terlalu banyak, tapi itu sangat membantu. Sampai dia melihat sebuah granat melayang ke arahnya. “Duar!!!”semua orang berlindung. Cukup banyak yang terluka tapi tidak terlalu parah. Embun mengalami luka di bagian kakinya.  “Segeralah pergi ke sisi timur. Nanti aku akan kesana.” “Ah, baik.” Embun berlari ke sisi timur. Tapi ia tersandung. Hingga saat dia bangun, sebuah peluru menembus perutnya. Menggoyahkan pertahanan dirinya. Dia menahan sakit dengan usaha yang keras. Samudera datang dan menyelamatkannya. Dia sangat sekarat dengan wajah pucat itu. Tapi Samudera memapahnya untuk berlindung di sisi timur.  “Tetap dibelakangku. Aku yang akan menghabisi mereka.” “Maafkan aku!”ucap Embun dengan tangisan di wajahnya. “Tenang. Tak ada yang perlu minta maaf di antara kita. Semua anggota Tim X saling menopang dan membantu.”ucap Samudera dengan senyuman yang menentramkan hati Embun. Dia mendapat bantuan lagi dari teman yang lain. Samudera menggunakan segenap kekuatannya untuk menghabisi separuh jumlah musuh. Dia paham sekali bagaimana menggunakan semua alat itu. Dia pernah belajar panah ketika masih berstatus seorang pangeran. Dan ketika dia sudah diusir, dia mengalami banyak sekali problema hidup. Problema yang membuatnya semangat dan belajar keras untuk ahli dalam menggunakan senjata itu. Samudera sedikit banyak bersyukur karena bisa ada di posisi sekarang. Jika bukan karena Tim X yang solid dia tidak akan bisa sampai disini. Keberhasilan sudah di depan mata. Dan sebentar lagi, akan ada pelantikan seorang ratu. Ratu yang seharusnya tidak pantas disebut ratu.  Saat musuh mengetahui anggotanya hampir punah, mereka bergegar mundur. Membawa kapal yang masih bisa berfungsi dengan baik. Semua bersorak dan bernafas lega. Beberapa orang yang luka dibawa ke bagian medis untuk diperiksa.  “Tenang, jangan menangis di depan komandan.”ucap Samudera. “Argh, sial. Padahal aku tadi bilang tak akan berlindung disisimu. Yang terjadi malah sebaliknya.”ucap Embun seraya menahan rasa sakit di perutnya. Sakit yang semakin lama semakin perih. Dimas Anggara datang dan menyuruh Embun dibawa ke bagian penyembuhan. Dia pingsan karena kelelahan. Dan menurut medis, dia akan sadar dalam beberapa jam ke depan. Butuh waktu baginya untuk pemulihan. “Tenang, dia sudah tak apa. Dia butuh istirahat.”ucap Samudera saat Langit hendak masuk. Langit langsung lega. Dia duduk dengan pasrah. Tak lama, semua orang juga datang berbondong-bondong. “Aku hanya takut. Takut Embun bernasib seperti Awan.”ucap Langit dengan wajah sedih. Jika kehilangan itu menyakitkan, tak akan ada orang yang mau merasakannya dua kali. Satu kali saja sudah cukup menyedihkan. “Apa kita harus begini lagi besok?”tanya seseorang di antara mereka. “Tenang. Mereka akan datang dua hari lagi. Jika sesuai dengan kebiasaannya. Yang pasti, kita harus tetap berjaga.”jawab Anoda mencoba membuat tenang. “Aku sedikit takut. Mereka pasti sedang sangat marah saat ini. Bisa saja mereka langsung membalas kita besok.” “Tidak mungkin.”ucap Samudera. “Butuh waktu bagi mereka memahami yang barusan terjadi. Mereka tak akan semudah itu untuk kembali. Mereka butuh trik dan solusi.”lanjutnya. “Menurutku, lima hari lagi mereka akan kembali. Kembali dengan kesiapan yang lebih matang dari saat ini. Di waktu yang sama, kita juga harus mempersiapkan diri dengan baik.” Perkataan Samudera selalu dapat membuat semua orang terbuai. Seakan Samudera punya wibawa yang lebih besar dari Komandan Dimas Anggara. Bahkan jika dibandingkan dengan Ketua Mandala, Samudera jauh lebih berwibawa. Semua hening dan ngeri dengan fakta itu. Dan yang pasti, empat hari lagi, serangan yang mereka terima akan berlipat-lipat ganda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN