Chapter 34 - We Are Here

1176 Kata
Bawalah bekal ketika kau akan pergi kemanapun kau mau. Bekal itu seperti kebutuhan untuk kondisi di masa depan. Langit dan Embun tidak menyangka kalau mereka akan dibekali banyak sekali hal oleh keluarga Bangsawan Aires. Mereka seperti malaikat yang memiliki hati suci.  “Aku akan bangga jika kalian berhasil sampai ke Kerajaan Kalimantan. Bukan sekedar karena uang, tapi kalian pasti membuat Awan bangga di atas sana.”ucap Malaka dengan wajah ramah. Embun dan Langit segera pamit. Dan tak lupa, Arafuru menyuruh Embun untuk tidak terlalu dengan Langit. Peraturan awal tetap masih berlaku. Langit adalah milik Arafuru.  Mereka pergi membawa banyak sekali makanan. Bukannya merasa beruntung, Embun juga diliputi rasa bersalah. Terutama karena dia masih merahasiakan tentang dirinya dari keluarga Bangsawan Aires. Embun tidak memberitahu tentang ingatannya yang sudah banyak kembali. Embun tidak memberitahu tentang tujuannya ingin berada di Kerajaan Kalimantan.  Setelah perjalanan panjang, mereka sampai di tempat tujuan. Tempat tinggal anggota militer dalam beberapa hari ke depan. Cukup jarang Tim X yang sudah tiba. Hanya ada Samudera sedang mengasah pedang yang biasa tersimpan di pinggangnya. Jelas saja, ini bukan daerah asalnya. Dari mana dia berasal, Embun tidak berani bertanya. Dia mengemasi barang-barangnya dan menaruh tumpukan bekal yang diberikan keluarga Aires. Sebenarnya dia tidaklah pantas menerima ini, terutama karena Awan telah tiada. “Sudahlah, berhenti bersedih. Semua harus berjalan bagi mereka yang masih hidup.” “Aku tahu. Hanya saja, semua terasa seperti mimpi buruk.” “Bahkan kekasihnya saja sudah rela, kita juga harus rela. Berjuang dengan baik agar tujuan kita tercapai.” “Ya, itu benar Langit.”ucap Embun dengan senyuman kecil di wajahnya. Sesungguhnya dia tidak menyangka akan sedekat ini dengan Langit. Ya, dia pria sombong yang sangat menyebalkan. Tak pernah terbesit di hatinya akan berteman baik dengan Langit. Embun kira mereka akan saling membenci sampai akhir. Tapi lihat sekarang, mereka malah bekerja sama karena memilih tujuan yang sama pula. “Oh ya, Arafuru akan merantau.” “Hah? Kenapa dia tidak bilang padaku?” “Aku tidak tahu.”balas Embun. Embun paham bagaimana perasaan Arafuru. Bicara dengan pria yang ditaksir selama ini. Pasti sulit mengungkapkan perasaannya. Apalagi Arafuru masih menimbang-nimbang dalam hati soal keinginannya untuk merantau. Dia akhirnya lulus sebagai seorang perias. Dan dia ingin merias di Kerajaan Kalimantan. Embun tahu alasannya adalah untuk bertemu Langit. Dia ingin bekerja di tempat yang sama dengan Langit. Kekuatan cinta memang sedalam itu. “Tahu begitu aku akan bicara banyak padanya.” Tiba-tiba Anoda datang dengan yang lain. Mereka terlihat bahagia setelah kembali dari rumahnya masing-masing. Rindu mereka sudah terbayar tuntas. Keluarga memang harta yang paling berharga. Keluarga yang pasti akan bangga kepada mereka karena sudah berhasil sampai ke tahap ini. Embun sangat iri melihatnya.  “Jangan iri. Aku juga sama, tak bertemu siapa-siapa.”ucap Samudera seakan tahu isi hati Embun. Embun langsung tertawa mendengarnya.  “Sebaiknya kita fokus pada sesuatu yang di depan mata.” “Apa?” “Misi kita di Kerajaan Sumatera.” “Komandan belum bilang apa-apa soal misi kali ini.” “Aku mendapat bocoran soal misi ini.” “Bagaimana bisa?”tanya Embun tidak percaya. Bahkan Komandan Dimas belum tentu mengetahuinya. Bagaimana bisa Samudera tahu? Apa mungkin dia menggunakan aksesnya sebagai seorang pangeran?  “Dari tim sebelah yang punya banyak informasi. Kerajaan Sumatera sangat berbeda dibanding kerajaan yang lain. Semua yang ada disini tertata rapi strukturnya.”ucap Samudera menjelaskan. “Semua tim akan diberikan misi yang mengandalkan kemampuan menggunakan pedang.”lanjutnya. Badan Embun seketika lemas. Misi yang seperti ini terlalu berat untuknya. Walaupun dia sudah berlatih setiap hari, tetap saja kemampuannya di bawah rata-rata. Bahkan, dia bisa dipecat karena luka atau sekarat. Sesuatu yang membuat Embun merinding. Semoga hal itu tidak terjadi secara nyata. “Argh, sial!”keluhnya lagi. “Tenang saja. Tetap berdiri disampingku, aku jamin keselamatanmu.” “Jangan berjanji jika tak bisa menepati.” “Selagi kau bersandar di sampingku, aku pastikan kau selamat.” “Baiklah.”balas Embun tersenyum. “Kau juga harus selamat. Jangan mati hanya untuk menyelamatkan orang lain.”lanjutnya tegas. Diselamatkan orang lain memang beruntung. Tapi tidak jika yang menyelamatkan malah mati mengenaskan. Dibanding begitu, Embun lebih memilih untuk mati saja. Mereka berunding sambil berbagi makanan. Dan tak lama harus berkumpul di lapangan untuk mendengarkan misi penting di Kerajaan Sumatera. Sebuah jembatan paling akhir untuk mereka sampai di Kerajaan Kalimantan. Ini tidak akan mudah karena sebenarnya tak ada yang mudah. Level kesulitan juga semakin meningkat di tiap level. “Selamat untuk kalian. Saya tahu yang kalian lewati selama ini tidaklah mudah. Dan saya tahu seberapa besar perjuangan kalian untuk sampai disini. Ini yang harus kita lakukan untuk kedepannya.”ucap Komandan Dimas Anggara mengawali pidatonya. Mereka semua mendengarkan dengan seksama. Misi kali ini adalah menghabisi para pihak asing yang masuk daerah pulau milik Santara di perbatasan Kerajaan Sumatera. Mereka adalah orang-orang yang dengan sengaja ingin cari masalah dengan Santara. Tak tanggung-tanggung, mereka selalu datang dua kali dalam seminggu hanya untuk mencuri ikan dan mengambil sumber daya di Santara. Perilaku ini belum termasuk dalam tindakan ilegal karena tidak ada perjanjian yang mengatur hal itu. Hanya saja, jika dilihat dari jarak, maka pemilik sumber daya itu adalah Santara.  Bahkan mereka sering melempari penjaga laut itu dengan batu. Ya, semacam preman yang berada dalam naungan organisasi. Separah itu. Fakta itu membuat semua orang emosi dan marah. Siapa yang tidak marah jika sumber daya miliknya direbut oleh pihak asing. Ditambah lagi, hampir semua Tim X berasal dari Kerajaan Sumatera.  “Besok kita akan berangkat langsung ke perbatasan pulau. Kalian mempersiapkan diri dengan latihan seperti biasa.” “Siap, komandan!!” Panah jadi alat penting untuk misi kali ini. Jika ada yang mencoba melewati perbatasan, jangan segan-segan untuk membunuh. Membunuh memang tidak mencerminkan kemanusiaan, tapi diperbolehkan untuk membela tanah air. Ya, itu semacam solusi terakhir untuk suatu masalah. “Sekarang kalian harus berlatih panah terlebih dahulu. Lalu setelah itu, kita latihan menggunakan senjata api. Keselamatan kita semua adalah hal yang penting. Jadi aku akan mengajari kalian.”ucap Samudera sambil menaruh alat-alat itu di lantai. Semua orang ternganga mendengar perkataan itu.  “Kau beneran manusia? Bagaimana bisa kau ahli di semua bidang?”tanya Anoda heran. Bahkan Anoda belum pernah menggunakan panah sekalipun. Dia juga tidak terlalu fasih menggunakan senjata api karena dia ahlinya menggunakan senjata biasa. Segera Embun memukul kepala Samudera bagian belakang. Samudera meringis kesakitan sambil memegang kepalanya.  “Itu dia kesakitan. Berarti dia manusia.”ucap Embun tanpa penyesalan. Dia malah tersenyum saat Samudera melihat tajam padanya. “Kita ikuti saja apa kata Samudera. Kurasa dia sudah berpengalaman. Ini kesempatan emas untuk kita karena Komandan Dimas tak punya banyak waktu untuk kita.”ucap Embun menghindari semua orang memojokkan Samudera dengan sejuta pertanyaan.  “Baiklah. Mari kita latihan.” Latihan kali ini dilakukan dengan serius. Semua orang berlomba-lomba untuk paham cara menggunakan panah. Sebab bukan lagi kemenangan saja yang mereka butuhkan tapi juga menyelamatkan nyawa masing-masing dari kematian. Semua juga tahu kalau orang yang akan mereka hadapi sangat kuat. Mereka bukan sembarang orang yang bisa disepelekan. Semangat semakin membara. Terlebih Kerajaan Kalimantan sudah di depan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN