Gustiawan Aires adalah putra pertama dari keluarga bangsawan Aires. Tanpa keraguan, keluarga Aires membiarkannya mencapai keinginannya untuk menjadi anggota militer. Mereka tidak tahu kalau niat itu berasal dari Langit Bebiru, pria yang selama ini bersamanya.
Tak ada pilihan lain. Mau tidak mau, siap tidak siap, mereka harus menghadapi hari ini. Ketika semua orang sedang berbahagia sampai di kampung halaman. Tapi tidak dengan Langit dan Embun. Mereka tak bersemangat sedikitpun. Dan sekarang mereka berdua sedang berada di mobil menuju rumah keluarga Bangsawan Aires.
Masa masa itu datang lagi. Ketika nyawa satu orang menghilang. Tak ada lagi tawa dan sosok yang selama ini dinantikan. Mereka terbawa lagi pada suasana duka di Kerajaan Sulawesi. Saat bersama Awan yang berakhir begitu cepat. Seandainya masih ada kesempatan, Langit ingin sekali mengucapkan terima kasih. Terima kasih untuk kesediaan hati Awan menjadi saudara laki-lakinya selama ini.
Begitu juga dengan Embun. Awan jadi orang pertama yang memberikannya bantuan. Tak hanya itu, semua kenangan mereka mengerjakan misi bersama bukan hal yang bisa dilupakan. Embun sangat merindukannya.
“Apa kita tidak usah datang? Ku rasa, mereka tak akan menantikan kita.”ucap Embun dengan kesedihan di wajahnya.
“Sejujurnya juga aku berpikir seperti itu, tapi tidak ada pilihan lain. Kita lebih tidak tahu diri jika tidak datang.”
Suara khas lagu Sumatera terdengar dari dalam mobil. Ketika mereka hendak melewati sebuah asrama wanita, Langit meminta mobil itu untuk berhenti sebentar. Dia ingin menemui seseorang. Disaat yang sama, Embun memilih menunggu di dalam mobile. Kaki tak kuat untuk berjalan lagi. Dia terlalu dipenuhi perasaan negatif hingga tak bisa menenangkan hatinya.
Langit berjalan perlahan. Dia kesana untuk menyampaikan sebuah pesan. Dia melewati beberapa taman bunga untuk bisa sampai ke ruang tunggu. Seseorang menyuruhnya untuk menunggu di sebuah kursi taman. Dia melihat ke arah jalanan. Kembali teringat ketika bersama dengan Awan melirik ke arah taman ini. Biasanya Awan yang paling antusias dan bersemangat. Tapi sekarang, Langit sudah tak bisa lagi merasakan hal yang seperti itu.
Seorang perempuan berkebaya warna merah datang. Dia menyapa dengan anggukan kepala. Kemudian dia duduk disamping Langit.
“Ada apa memanggil saya?”ucapnya dengan suara lembut.
“Aku Langit, temannya Awan.”ucap Langit memulai. Seketika raut wajah perempuan itu berubah. Dia terlihat sedih dan penuh dilema. Siapa yang tidak gundah saat kehilangan kekasihnya? Apalagi kehilangan yang tak mungkin lagi bisa ditemui? Kini bukan hati yang terpisah, bukan pula jarak. Tapi dunia yang fana ini yang memisahkan mereka.
“Aku hanya ingin memberikan ini.”ucap Langit sambil memberikan sebuah surat dan kotak yang diberikan pita warna hijau. “Dia menitipkan ini untuk diberikan padamu. Jika dia masih ada, dia pasti akan memberikannya sendiri.”ucap Langit dengan penuh hati-hati. Dia tidak tega jika harus melihat wanita itu menangis.
“Aku harap kau baik-baik saja. Aku harus pergi karena seseorang menungguku.”
“Baik. Terima kasih, Langit.”
Perempuan itu bernama Paramitha. Dia adalah kekasih Awan yang sudah sekian lama menjalin asmara. Awan sering menemui perempuan itu meski tanpa sepengetahuan Anambas dan Malaka. Dia tak ingin kedua orang tuanya tahu tentang Paramitha. Entah apa alasannya, Langit tidak tahu.
Ia hendak pergi tapi Paramitha mengatakan sesuatu. “Jangan pernah takut jika harus menemui aku. Walau aku terluka, aku tahu kalau kematian Awan bukan salahmu atau anggota militer itu. Semua sudah menjadi takdir. Aku harap, kau bisa berjuang demi Awan.”
Langit tersenyum kecil mendengarnya. Dia melangkah menuju ke mobil yang terparkir. Dia segera duduk dan mobil melaju lagi. Perkataan Paramitha barusan sedikit menenangkan hati Langit. Tapi tidak dengan Embun. Dia masih saja berpikiran yang negatif. Bagaimana bila Sang Wali menyiapkan senjata untuk menebas leher mereka? Atau Arafuru yang marah dan menjambak rambut Embun. Semua kekacauan itu ada dalam pikiran Embun. Mengikutinya seperti mimpi buruk di malam hari.
Mereka sampai disana. Tak perlu waktu lama karena tak ada kemacetan yang berarti. Rumah keluarga Aires mengalami perubahan yang signifikan. Banyak sekali rombakan di bagian depannya. Embun dan Langit bisa melihat perubahan itu.
Pelayan menyambut mereka dengan baik. Dan beberapa masih mengenali mereka dengan baik. Terutama Langit Bebiru. Durasi mereka hidup bersama cukup lama jika dibandingkan dengan Embun. Saat langkah kaki mereka masuk ke area singgasana Bangsawan Aires, mereka disambut oleh Anambas, Malaka dan Arafuru.
Langit segera memeluk dua wali itu dengan hangat. Pelukan ingin memohon maaf dan merasa menyesal. Juga rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Awan dari maut. Tidak bisa membawa Awan kembali ke rumah ini.
“Maafkan aku, Wali.”ucapnya disusul oleh tangisan yang luar biasa. “Maafkan aku karena tidak bisa kembali dengan Awan.”
Satu orang menangis bisa mempengaruhi orang lain untuk menangis juga. Itulah yang dirasakan oleh mereka semua. Tangisan yang pernah diluapkan beberapa bulan lalu kembali terdengar. Semua pelayan hanya bisa diam dan menahan diri untuk tidak ikut menangis. Mereka harus profesional bahkan disaat ada berita duka seperti ini. Kepergian putra satu-satunya keluarga seorang bangsawan tentu saja duka yang sulit dihilangkan. Duka yang membutuhkan ribuan tahun untuk mengubahnya menjadi suka.
Bukannya mendapat perlakuan tidak baik, mereka malah disambut dengan hangat. Disuruh menikmati makanan enak karena kalau di asrama tidak akan bisa. Embun masih saja terisak hingga makanan dihidangkan. Ia bisa mengerti perasaan Anambas dan Malaka. Duka ini sangat mendalam untuk mereka berdua.
“Aku tidak paham kenapa kamar ini masih saja rapi meski sudah tak kutinggali.”ucap Embun sambil memperhatikan semua sudut di kamar itu. Kamar besar yang pernah jadi tempatnya mengingat semua kejadian sewaktu ia ada di Indonesia.
“Ayah dan ibu tetaplah walimu. Semisal kau gagal di kemiliteran, ayah dan ibu tidak bisa lepas tanggung jawab.”
“Tidak bisa begitu. Aku kembali tanpa Awan. Kau tidak membenciku?”tanya Embun dengan teriakan.
“Awan mati bukan karena kau. Atau karena Langit. Semua ini sudah ketetapan Dewa.”
Perkataan yang membuat Embun bingung. Akan lebih baik jika mereka membenci Embun. Dan memang seharusnya mereka berbuat demikian. Ketika yang bukan anak mereka malah kembali. Sedangkan anak kandung mereka sudah menghilang terbawa angin. Lenyap tanpa wujud.
“Dewa memiliki ketetapan yang tidak bisa dirubah manusia. Salah satu ketentuan nya yang paling mutlak adalah kematian. Walau manusia bisa berusaha keras lepas dari kematian itu, tetap saja ketetapan Dewa tidak bisa dihindari.”
“Maafkan aku, Ara.”
“Tidak. Aku yang seharusnya lebih baik lagi. Aku tidak pernah menghargai Awan yang selama ini ada disampingku. Aku terlalu egois jadi seorang adik.”
“Awan tak pernah menganggapmu egois. Malahan, dia merindukanmu setiap saat.”ucap Embun mengumbar fakta itu. Bahkan di hari pertama mereka melakukan misi, Awan selalu bercerita tentang Arafuru. Bagaimana adiknya itu tak pernah berubah. Dia suka melakukan semuanya sendirian. Tapi dia juga manja untuk hal-hal tertentu.
Malam itu, Embun dan Arafuru saling bercerita. Tentang semua hal yang sudah terjadi. Pada hari Awan meninggal, rumah seperti diterpa badai dan angin p****g beliung. Waktu itu Anambas harus pulang malam. Tinggallah Malaka dan Arafuru duduk bersama dengan tangisan yang amat keras. Dua wanita yang berada di dalam duka.
Semuanya terasa seperti mimpi. Timbul keinginan untuk menyalahkan dunia ini. Tangisan mereka tak berhenti sampai Anambas datang. Anambas dengan tegas memaksa mereka agar berhenti menangis. Sebenarnya, Anambas jauh lebih sakit dibanding mereka berdua. Dia hanya berusaha menahannya agar tidak terlalu kelihatan. Semua cerita itu membuat Embun kembali meneteskan air mata.
Setelahnya, mereka terlelap tidur di kamar Embun. Kamar yang selalu dibersihkan oleh para pengawal. Tak cuma kamar Embun, bahkan untuk kamar Awan saja, mereka masih membersihkannya dengan baik. Akan ada saat dimana keluarga Bangsawan Aires memutuskan untuk berhenti melakukan itu. Ketika mereka sudah ikhlas dan sabar pada fakta ini. Kehilangan yang tak bisa dihindari ini.