Chapter 23 - Embun De

1017 Kata
Tampak beberapa orang sedang mengangkut kayu yang sudah berubah jadi papan. Kualitas kayu yang dihasilkan sangat bagus. Dan mereka tidak ada yang mengindahkan Embun. Bisa dibayangkan jika Embun mengenakan kebaya. Bisa saja mereka melirik dan meneliti dari atas ke bawah. Sifat laki-laki yang seperti hal lumrah. Sifat yang membuat dunia kacau. Bahkan ketika terjadi p*********n, banyak yang malah menyalahkan korban dibanding pelaku. Gila bukan? Sebuah mobil terparkir tepat di depan kantornya. Dan muncullah pria yang kini mengenakan batik corak warna putih dan merah. Dia mengenakan kacamata hitam dan terlihat fokus untuk masuk ke dalam ruangan. Tanpa aba-aba, Embun dan Samudera langsung berjalan dengan serius. Dibelakang, Anoda dan Langit seperti penjaga. Ya, mereka ingin memastikan dua orang yang jago bicara itu tidak mendapat masalah. “Permisi, apa benar dengan Pak Praja?”tanya Samudera dengan sopan. Pria itu berhenti dan menoleh. “Iya. Ada apa?” “Saya ingin bicara!”seru Embun tegas. “Kalian bukan warga disini kan?” “Kami anggota militer yang sedang bertugas.” “Oh, kita bicara disini saja.” “Tidak pak. Saya ingin bicara panjang kali lebar. Saya rasa, jika kita bicara disini akan membuat kaki bapak kram dan kebas.” “Saya tidak ingin menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna.”ucap Praja menolak. Embun menghela nafas. Ternyata dia juga orang yang tidak peduli dengan orang lain. Dia tidak tertarik pada hal-hal yang tidak menguntungkannya.  “Saya ingin menawarkan sejumlah uang untuk anda.”ucap Embun segera. Perkataan yang membuat Praja berhenti melangkah. Perkataan itu membuat Langit dan Anoda bingung. Tawaran aneh ini tidak ada dalam daftar rencana. Dan lagi, darimana Embun mendapat uang yang banyak? Dan akhirnya, Praja mengizinkan mereka masuk. Embun dan Samudera bicara dengannya. Sedangkan Langit dan Anoda menunggu diluar. Embun pribadi merasa sangat takut. Apalagi wajah Praja tak seramah yang dibicarakan ibu-ibu di luar sana. Dia seperti pria paruh baya dengan kumis tipis yang sangat berwibawa. Saking berwibawanya, Embun dan Samudera tampak awas dan berada dalam posisi siaga. Bahkan jika dibandingkan dengan Komandan Dimas, maka Pak Praja jauh lebih menyeramkan. “Jadi bagaimana?”ucap Praja mengawali. Seketika Embun tidak bisa bicara. Dan dengan segera, Samudera mengambil alih. Dia menjelaskan semuanya. Termasuk rencana agar penebangan hutan dihentikan sementara. Tawaran uang diharapkan bisa jadi jaminan untuk hal itu. “Wah, tidak semudah itu. Saya akan rugi besar jika melakukannya. Apalagi perencanaan ini sudah berlangsung lama.” “Tolonglah, ini semua juga demi masyarakat yang akhir-akhir ini sering melakukan protes. Apa bapak ingin reputasi sendiri kacau?” “Reputasi seorang pebisnis itu ada di dalam bisnis itu sendiri. Malah, reputasi saya akan hancur jika menghentikan pekerjaan dengan alasan seperti itu. Mereka akan bilang saya tidak konsisten. Kalian tidak tahu betapa rumitnya pikiran seorang pebisnis.” Tak ada suara karena Samudera bingung bagaimana mencari cara. Tapi Embun terlihat mengumpulkan sesuatu di dalam dirinya. Tapi dia terlalu takut untuk bicara. “Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan. Kalian bisa pergi.” “Tunggu dulu pak.”ucap Embun segera. Kesempatan itu langka, memang ada yang datang dua kali. Tapi ada yang hanya datang satu kali saja. Selagi diberikan, maka harus dimanfaatkan dengan baik.  “Anda hanya perlu melakukannya satu pekan. Saya punya lima keping emas yang setara dengan penghasilan sebulan. Dalam satu pekan, anda bisa menghentikan semuanya. Dengan alasan ingin mengutamakan penanaman pohon. Dan tentu saja ingin meredakan perspektif negatif dari masyarakat sekitar.” “Maksudnya, saya bisa kembali dalam pekan berikutnya?” “Benar. Jadi anda hanya perlu meliburkan beberapa pegawai. Ini menguntungkan anda. Untuk modal bibit, tentu tidak seberapa dibanding emas yang saya berikan.” Praja tampak berpikir. Jiwa pebisnisnya memang tak bisa diragukan lagi. Jika menguntungkan, dia pasti berpikir untuk mengambilnya. Apalagi, tak ada resiko jika dia melakukan itu dalam satu pekan saja. “Dengan syarat, anda tidak membocorkan rencana ini.” “Hmm, sebenarnya apa yang kalian inginkan? Jika diberitahu jujur, saya akan bersedia melakukannya.” Perkataan itu berhasil membuat Samudera terkesima. Embun selalu punya ribuan cara untuk mencapai tujuannya. Mungkin dia memang sudah terdidik dengan baik. Tak seperti Samudera yang tak bisa mencari jalan lain jika jalan yang satu sudah selesai.  “Kami harus sampai di Kerajaan Jawa. Kami punya cita-cita yang ingin dicapai. Tapi ada yang membuat kami serba salah. Seseorang yang menginginkan kami gagal, tapi kami tidak menyerah semudah itu.”ucap Embun menceritakan. Matanya menerawangi kaca jendela. Pikirannya tertuju pada Indonesia dan ibunya. Dan yang terutama, Gustiawan Aires, orang yang sudah pergi dari hidupnya. Tekad Embun begitu kuat. Dia akan melakukan apapun untuk bisa berhasil. Dan jika dia dicurangi, dia akan membalas dengan cara yang sama. Sepertinya, hal itu cukup adil. Embun tidak bisa memaafkan dirinya jika diam saja dan tidak melakukan apa-apa. Itu sama saja seperti si pemalas yang hanya melihat semut bekerja keras. Tapi si pemalas itu tetap tiduran dikasurnya yang empuk. Dia tidak bisa mengambil hikmah dari kerumunan hewan. Padahal itu bisa jadi pelajaran hidup yang begitu berarti. Di dalam hatinya, Embun punya beberapa impian. Yang paling utama adalah ingin mengetahui tentang Indonesia. Bagaimana dia bisa berakhir di Santara? Negeri antah berantah yang kini memberinya sahabat dan keluarga yang luar biasa. Dan kemudian, dia ingin menebus dosanya pada keluarga Bangsawan Aires. Pada Arafuru yang selalu memberinya jalan untuk berjuang. Dan pada Malaka dan Anambas yang perhatian meski mereka hanya seorang wali. Mereka hanya diberi sekeping uang untuk mempertahankan gelar bangsawannya. Mereka sangat berjasa dalam hidup Embun.  Embun Deangkasa, mengingat banyak tentang hidupnya di masa lalu. Dia bukanlah anak yang baik. Dia punya segudang masalah di sekolah. Bagaimana ia membuat orang lain membencinya. Keberanian yang luar biasa hingga semua orang melakukan kekerasan pada tubuhnya yang lemah ini. Andari Kwari, ibu yang wajahnya masih samar-samar di ingatan Embun. Ibu yang ada di dalam ingatannya adalah ibu yang buruk. Tapi sepertinya di dalam kenyataan tidaklah demikian. Embun ingin membuktikan ingatan yang buruk itu. Dia masih percaya bahwa ibu yang melahirkannya adalah ibu yang baik. Ibu yang berkorban untuknya. Walau semua terkesan janggal, tapi pasti ada alasan mengapa Embun harus diungsikan ke Santara. Apakah itu menyangkut hidup dan mati? Atau memang ada alasan lain? Embun termenung dengan semua pertanyaan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN