Kerjasama kerajaan dengan mereka tak mungkin bisa berakhir semudah itu. Apalagi keuntungan yang diterima dengan penebangan hutan. Kerjasama yang membuat Kerajaan Sulawesi masuk dalam daftar kerajaan terkaya di Santara.
Kontrak yang dibuat bahkan sudah diperpanjang selama lima tahun ke depan. Jika ingin menyelamatkan lingkungan, maka bukan begini caranya. Misi kali ini adalah memastikan hutan terlindungi dan masyarakat tidak komplain. Jangan sampai terjadi bencana alam yang merusak semua perencanaan yang sudah dibuat.
Embun menghabiskan waktu menelaah semua dokumen yang diberikan Samudera. Dia tidak bisa komplain karena Samudera sudah berkorban banyak untuk mendapatkan dokumen itu. Jujur saja, benda itu serasa tidak berguna.
“Argh, aku mau mencari udara segar.”
“Aku ikut!”ucap Anoda tiba-tiba. Sikap yang membuat Samudera dan Langit saling berpandangan. Mereka terlambat bicara sampai gak bisa bilang ikut juga. Embun tidaklah peduli. Dia ingin mencari udara segar sambil memperhatikan proses pengambilan kayu yang setiap hari berlangsung. Dimas Anggara sengaja menempatkan mereka disana. Untuk sekedar tahu situasi secara nyata dan melakukan sesuatu. Walau diberi kesempatan, mereka kemungkinan akan gagal.
“Jangan sedih begitu, pasti ada cara.”
“Aku tidak bisa berpikir. Seakan ini semua tak berguna.”
“Embun, mending kita kesana.”ajak Anoda menunjuk ke arah kerumunan manusia yang sedang berlalu lalang. Sedang ada pagelaran akbar antar ayam yang dirawat seperti anak sendiri. Semua orang tampak antusias dengan pertarungan dua ayam jago yang cantiknya luar biasa. Kecantikan ayam-ayam itu bukan karena cat atau zat sejenisnya. Mereka memang terlahir sempurna dengan warna bulu yang unik dan bagus.
Anoda memberikan tepuk tangan untuk memeriahkan tempat itu. Cukup menyenangkan karena setiap ayam jago memberikan perlawanan yang sengit. Jadi tidak membosankan sama sekali. Embun ikut memperhatikan sama seperti orang-orang itu.
“Bagaimana ini bu, saya takut kita diberi hukuman oleh Dewa.”
“Saya juga begitu. Mereka tidak pernah memikirkan nasib kita. Bagaimana jika hutan itu ditebang semua. Bisa saja di musim hujan nanti, kita kebanjiran.”
“Itu dia. Jangan sampai tempat itu sama seperti Kerajaan Jawa. Kerajaan yang bahkan tak memperlihatkan hutan sedikitpun.”
“Kalau saja mereka bertanggung jawab, saya tidak masalah jika kayu itu diambil. Toh kita juga selalu mendapat uang dari mereka. Saya cuma khawatir dengan nasib kita di masa depan.”
“Nah itu, sebenarnya Pak Praja orangnya baik. Tapi kita tak bisa menemukan solusi.”
Begitulah percakapan ibu-ibu yang terdengar oleh telinga Embun. Dia mendengarnya tak sengaja. Saat matanya tertuju pada ayam jago yang sedang bertarung, sesuatu muncul di kepalanya. Sesuatu yang bisa dijadikan hal untuk mencapai tujuannya.
“Anoda, ayo kita kembali.”
“Tunggu dulu.”
“Cepatlah.”
“Baik-baik. Siap, tuan putri.”
Saat sampai di markas, Embun mengecek lagi data yang diberikan Samudera. Tertulis disana nama Praja sebagai pihak yang bekerja sama dengan pemerintah. Rakyat menginginkan sesuatu yang baik untuk mereka. Kesimpulan yang bisa diambil adalah kedua pihak harus saling diuntungkan. Ya, dengan begitu misi ini dapat diselesaikan.
“Apa yang kau pikirkan?”tanya Samudera melihat kesibukan Embun seorang diri. Dia terlalu gila dibanding teman-temannya.
“Kita hanya perlu bekerja sama dengan Pak Praja, Sam. Kita hanya perlu bicara baik-baik.”
“Bicara baik-baik bagaimana? Ini bisnis untuknya. Jika kau ingin menghancurkan bisnis dari seorang pebisnis, maka caranya bukan dengan bicara baik-baik.”
“Siapa bilang aku ingin menghancurkan bisnisnya?”
“Jadi apa?”
“Aku hanya ingin membuatnya berhenti sementara. Dan sebagai gantinya, aku beri solusi untuknya.”
“Solusi macam apa untuk orang seperti dia?”
“Kita rayu dia dengan fakta yang membuat terharu dan sedih.”
Samudera sejenak berpikir. Embun menjelaskan dengan detail. Dia ingin menambah penanaman pohon sebagai ganti kayu-kayu diambil. Memang sih, proses pohon bisa tumbuh besar butuh waktu yang panjang. Tapi setidaknya ada tanggung jawab untuk masyarakat. Mereka diberi jaminan masa depan yang berbeda dengan ekspektasinya. Ini merupakan hal yang baik bukan?
“Bagaimana bisa Pak Praja setuju?”
“Otomatis, kita harus ngasih sesuatu kepadanya.”
“Uang?”
“Betul sekali.”
“Uang dari mana? Kita tak punya uang yang banyak. Kalau kau ingin meminjam pada komandan, kurasa dia juga tak punya uang.”
“Kau sepele padaku?”
Samudera menggeleng. Sangat tidak masuk akal jika Embun punya uang yang banyak.
“KAU PUNYA UANG?”ucapnya dengan teriaknya. Saking tidak menyangka, dia sampai lupa mengatur suaranya.
“Punya. Aku mencuri saat di Kerajaan Papua. Rahasiakan hal ini ya.”
“Kau hanya mencuri satu keping. Itu yang kudengar dari Langit.”
“Wah, tidak ku sangka. Langit malah mengatakannya padamu.”
“Dia tidak sengaja mengatakan itu. Kau tahu kan, aku bisa memojokkan orang dengan satu kata?”
“Ya,ya.”balas Embun sambil tertawa. “Sebenarnya, aku mencuri sepuluh keping. Kusimpan di dalam kebayaku yang memiliki kantong rahasia.”bisik Embun sambil tersenyum bangga. Samudera ikut tersenyum mendengarnya. Baiklah, Samudera suka dengan perempuan seperti Embun. Perempuan yang fleksibel mengikuti arah arus. Menurut Samudera, tidak ada perempuan lain yang seperti Embun. Selain berani, dia juga punya sejuta cara yang tak disangka-sangka. Dari fakta ini dapat disimpulkan kalau dia perempuan yang pintar.
“Bagaimana?”tanya Embun dengan kepercayaan diri yang tinggi.
“Baiklah. Aku rasa kita bisa berhasil.”
Rencana itu diberitahukan kepada semua orang. Dan untuk menghindari sikap kriminal Embun, mereka tidak menceritakan soal kepingan emas yang dicuri itu. Takutnya, ada yang tidak sengaja mengatakan hal itu pada Komandan Dimas. Jadi, untuk berjaga-jaga lebih baik tidak usah diberitahukan secara detail.
“Kalau begitu, saya yang akan menjelaskan rencana kita.”ucap Samudera mengambil alih. Semua orang ditempatkan di posisi yang berbeda. Untuk misi pertama, cukup empat orang yang bicara dengan Pak Praja. Dan sisanya, tetap berada di markas. Berjaga-jaga jika komandan datang. Dan kalau ada yang terjadi di sekitar tempat itu, perlu diingat dan dilaporkan kepada Langit selaku perpanjangan tangan Dimas Anggara.
“Kita akan lakukan besok. Sesuai dengan informasi dari petugas, Pak Praja datang sekali seminggu mulai pukul 9 pagi. Malam ini, kita persiapkan semua. Kalian mengerti?”
“Ya. SIAP!!”
***
Embun selalu mengenakan setelan yang sama dengan pria. Dan dengan sengaja, dia selalu menggulung rambutnya. Dia tak ingin terlihat seperti perempuan. Banyak ruginya jika orang tahu dia perempuan. Mereka bisa sepele, bertingkah menjijikan hingga menghina. Tak cuma itu, nafsu bisa menguasai mereka. Apalagi untuk bagian tertentu yang mayoritas dihuni oleh pria. Embun hanya bisa percaya pada timnya. Kenapa? Karena dalam tim yang kecil itu, tak ada yang membuatnya merasa terasing. Mereka seperti kakak laki-laki yang melindungi adik perempuannya.