Chapter 26 - Java Kingdom 1

1064 Kata
Kerajaan Jawa identik dengan suara lembutnya. Tak ada istilah suara yang memecahkan gendang telinga. Mereka dilahirkan untuk selalu lemah lembut. Suasana di sana belum terjamah oleh teknologi terbaru. Sesuai informasi, Kerajaan Kalimantan adalah satu-satunya kerajaan yang sudah tersentuh perkembangan teknologi.  Terlihat Tim X dibagi menjadi beberapa grup untuk melakukan latihan rutin. Dan kebetulan, Embun satu tim dengan Anoda dan Samudera. Kebetulan yang tidak disengaja. Semua ini diatur oleh Komandan Dimas Anggara. Mereka latihan dengan beberapa alat tradisional Kerajaan Jawa yang bisa digunakan jika suatu saat terjadi perang. Perang untuk menyelamatkan Santara atau untuk menyelamatkan Kerajaan Jawa. Ya, itu untuk lingkup besar dan kecil.  Anoda sibuk mengasah pedang. Di wajahnya tak terlihat kebahagiaan. Jelas sekali, dia pasti rindu dengan kekasihnya. Terakhir mereka bicara, Anoda dan Biella putus. Biella berkata, jika takdir mempertemukan mereka lagi, maka Biella akan memilih Anoda. Namun jika tidak, biar hidup mereka dijalani secara masing-masing. Tak ada yang bisa menebak rencana Dewa Agung Nan Mulia. Manusia hanya bisa menetapkan harapan. Dan jika harapan itu kesia-siaan belaka, maka manusia juga harus paham. Embun dapat memahami perasaan Anoda. Pria yang tadinya ceria sekali, sekarang berubah masam hanya karena seorang perempuan. Makanya ada istilah, dibalik pria yang sukses ada perempuan luar biasa. Dua jenis manusia itu memang tidak bisa dipisahkan. “Aku penasaran, apa disini ada seorang penyanyi?” “Jelas ada.” “Lalu, apa mereka juga berpenampilan seperti kita? Dengan kebaya dan batik?” “Aku rasa iya.”jawab Samudera ragu.  “Kenapa ragu begitu sih?” “Karena sebenarnya, aku tak pernah melihat pertunjukan nyanyi.”balas Samudera jujur. Kejujuran yang membuat Anoda bangkit berdiri. Dia terlihat heran dengan pernyataan Samudera yang tidak masuk akal itu. Bagaimana bisa orang sedewasa dia tidak pernah melihat pertunjukan nyanyi? “Kau serius? Di sekolah pasti ada acara yang mengundang artis ternama. Apa kau terlalu miskin sehingga tak bisa sekolah?”tanya Anoda tidak percaya. Jangankan sekolah, biasanya acara adat juga mengundang beberapa biduan. Jadi hal itu bukan hal yang sulit dilihat. Terkecuali bagi seorang anggota militer yang memang bekerja setiap saat. “Jadi bagaimana mereka berpenampilan? Jelaskan padaku.”ucap Embun bersikeras. “Ya tetap saja mengenakan kebaya. Tapi yang membedakan, kebaya yang mereka pakai penuh dengan gemerlap warna warni. Kesannya mewah dan memang, harga pakaian itu biasanya mahal.” “Oh, aku jadi penasaran ingin melihat mereka.” “Memangnya, bagaimana dengan Indonesia?” “Indonesia tak pernah membatasi manusia dalam berpakaian. Malahan, kebaya hanya digunakan sesekali. Hanya untuk acara penting. Malah perempuan dibolehkan memakai celana untuk sehari-hari.” Seketika Samudera dan Anoda saling lirik. Bagaimana bisa perempuan berpenampilan seperti pria? Jika itu di Santara, maka mereka akan diberikan hukuman sesuai dengan aturan yang berlaku dalam adat istiadat. Tiba-tiba Komandan Dimas datang. Mereka segera bersiap untuk latihan dengan serius. Mereka akan mendapat hukuman jika ketahuan hanya bermain-main dengan alat tradisional itu. Sebuah senjata yang memampukan manusia untuk membidik dari jauh. Terbuat dari kayu yang didalamnya ditaruh bara api. Dalam satu kali tembakan, senjata itu bisa menghabisi sejumlah orang. Jadi sangat tepat untuk peperangan jika suatu hari nanti terjadi. “Embun, tolong kesini sebentar.” “Siap komandan!”ucap Embun sambil bergegas berlari. “Ada apa komandan?” “Saya ingin memberitahukan sesuatu.”ucap Dimas serius. Dia berdiri tepat di depan Embun. Dengan badan tegak dan sikap siaga. Dia terlihat berpikir sebentar sebelum mengatakannya. Dan setelah beberapa menit dalam keheningan, dia bicara. “Ada rumor yang bilang kalau kau ingin mencari jati dirimu.”ucap Dimas dengan suara masih diatur. Dia tak terlihat sedang marah. Tapi Embun merasa sangat terpojok mendengarnya. “Saya tidak ingin mendengarkan penjelasanmu. Baik itu benar maupun tidak, saya hanya ingin kamu hati-hati. Rencanamu tidaklah penting bagi saya. Saya disini cuma berperan sebagai komandan saja. Pesan saya cuma satu, rahasia itu harus disimpan baik-baik.” Embun masih saja terdiam. Dia senang karena Dimas tidak masalah dengan tujuan Embun itu. Tapi dia juga takut, berarti ada orang lain yang juga mengetahuinya. “Ingat ucapan saya tadi. Sekarang kamu bisa pergi.” “Ah, siap komandan!”balas Embun sebagai salam perpisahan. Jantungnya bedetak lebih cepat. Siapa yang melaporkan hal ini? Apa benar kata Langit, tak ada yang bisa dipercaya di tempat ini? Bahkan Samudera sekalipun? “Komandan bilang apa?”tanya Samudera mendekati. “Ah, bukan apa-apa. Dia hanya ingin berterima kasih padaku. Karena sejauh ini, aku berbuat banyak.” Samudera mengangguk paham. Sedangkan Embun mulai curiga pada Samudera. Jika bukan Samudera, apakah Anoda? Argh, Embun merasa sangat kebingungan. Seorang penyintas diberikan cobaan yang sangat besar ketika menginjakkan kaki di Santara. Embu memahami itu. Dia suka diberi masalah, tapi jangan ada yang menyuruhnya berhenti. Dia tidak akan bisa berhenti sebelum menemukan Andari Kwari, ibunya. Dalam langkah kaki dan pengerjaan tangannya, dia memikirkan semua yang ada di kepalanya. Semua kepingan ingatan dan jawaban tentang Indonesia. Setiap orang yang keluar masuk Indonesia Santara, harus membeli dengan uang yang banyak. Santara memiliki ruang waktu untuk keluar masuk. Dan jangan salah, jika Embun ingin kesana, Embun harus memberikan tumbal. Entah tumbal apa yang dimaksud. Dan mengapa, para penyintas yang ingin kembali selalu mati di Santara. Mengapa mereka tak bisa kembali ke Indonesia? Meski hanya raga yang sudah tidak bernyawa. Embun masih tidak memahami ibunya. Bahkan sampai sekarang, ingatan tentang ibunya tak muncul lagi. Diantara semua hal yang terlintas di ingatannya, tak ada ingatan tentang Andari Kwari, ibu. Apakah ini semua rencana ibunya? Bisa saja bukan? Samudera mengangkat kayu besar yang menghalangi jalan. Kemudian sebuah foto terjatuh dari kantong celananya. Embun mengambil hendak memberikan kepada Samudera. Saat ia melihat foto itu, dia berhenti.  “Sepertinya, aku mengenal orang ini.”gumamnya dalam hati. Tapi kemudian, Samudera datang untuk mengambilnya.  “Itu siapa?” “Satu-satunya orang yang kupercaya.” “Hah?” “Namanya Hujan. Orang yang dulu pernah kuceritakan padamu.” Ah, Embun akhirnya ingat. Dia memberikan foto itu pada Samudera. “Apa dia seorang penyintas juga?”tanya Embun sembarang. Jika Embun mengenalnya, pasti dia juga seorang penyintas. “Jelas tidak. Aku bersamanya saat masih kecil. Dia lahir disini.” “Oh,” “Memangnya kenapa?” “Tidak apa. Aku cuma merasa sedikit mengenalnya. Mungkin dia mirip dengan seseorang yang kukenal itu.” Samudera mengangguk paham. Dia segera kembali untuk melatih kemampuannya. Dan Embun juga berusaha melupakan apa yang dia lihat barusan. Mungkin itu cuma perasaan sesaat. Ya, tidak masuk akal jika Embun mengenal orang yang dari lahir berada di Santara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN