Chapter 25 - News

1210 Kata
Semua tampak mencekam dengan pertarungan sengit di arena pertarungan. Pria berbadan tambun itu memperhatikan sambil menikmati rokok yang wanginya memenuhi indra penciumannya. Dia sangat suka membayar sejumlah uang untuk orang-orang miskin itu. Mereka mau saja memukul satu sama lain demi mendapatkan uang. Dan menurutnya, ada kepuasan tersendiri. Dia merasa senang jika tebakannya benar. “Panglima, Nyonya Indiri datang.”bisik pengawalnya. Dia mengangguk paham dan bergegas. Meninggalkan orang yang sedang bertarung itu. Terlebih dahulu dia membersihkan tubuhnya. Memastikan kalau tidak ada bau asap rokok. Jika Indiri tahu, dia pasti akan marah. Dia sudah mengenal perempuan itu dalam waktu yang panjang. Jelas saja dia mengetahuinya. “Selamat siang, paman!”balas Indiri dengan sopan. Dia segera duduk setelah mengucapkan salam itu.  “Ada apa? Apa kau mendapat masalah lagi?” “Bagaimana mengatakannya. Aku ingin pelantikan sebagai ratu dipercepat. Jika paman bisa melakukannya, maka aku akan berterima kasih.” “Kenapa harus buru-buru? Kita biarkan saja raja yang memutuskan. Aku tak ingin terlihat antusias. Akan ada tanggapan buruk tentang keluarga kita.” “Beberapa hari yang lalu, raja mengambil seorang perempuan untuk dijadikannya selir. Aku tak ingin hatinya terbagi pada selir itu.” “Kau terlalu berlebihan. Raja memang sudah sering seperti itu. Itu bukan hal berat yang bisa mengusikmu, Indiri.” “Bukan itu masalahnya. Perempuan itu terlihat sangat cantik. Berdasarkan informasi yang kuterima dari pengawal raja, raja sering ke tempatnya. Bahkan hampir setiap hari.” Pria itu menghela nafas. Dia meneguk kopi yang baru saja dihidangkan oleh pelayan. Kopi panas dengan makanan berbahan ubi kayu yang dimasak dengan rebusan air teratai. Makanan yang menyehatkan. Apalagi untuk manusia yang sudah berusia matang.  “Paman serahkan semua itu padamu. Kau bisa cari cara sendiri. Aku harus bersiap untuk menemani raja ke Gubuk Tua di Puncak Bukit Halimun. Pergilah sekarang.” Indiri terlihat sangat tidak puas. Dia berjalan gontai karena bingung hendak melakukan apa. Dia sangat tidak suka dengan perempuan baru itu. Seandainya paman bisa membantunya, membunuh perempuan itu juga tidak masalah. Semua demi keinginan Indiri yang tidak bisa lagi ditawar.  Langkah kakinya bergerak cepat untuk keluar dari singgasana itu. Para pelayan mengikutinya dari belakang. Indiri harus menunjukkan sikap ramah kepada masyarakat di luar sana. Sebab itulah yang mereka inginkan. Punya calon ratu yang bisa mendengar keluh kesah mereka. Indiri perlu mencari muka di depan manusia-manusia miskin itu. Dia akan sangat bangga jika berhasil duduk disamping raja. Perjuangannya selama ini sudah sangat panjang. Perjuangan yang sampai mengusir seseorang yang mengganggu rencananya. Dan lihat saja, dunia masih berpihak padanya. “Selamat siang, Nyonya!”sapa seseorang menghentikan langkahnya. Gina, putri dari pamannya yang kini tersenyum lebar di depannya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk bicara berdua di sebuah padepokan yang disekelilingnya terdapat budidaya teratai dan bunga-bunga lainnya. “Hmm, jadi ayah benar-benar tidak peduli?”tanya Gina seakan ikut merasa marah.  “Bukannya tidak peduli. Tapi dia ingin aku bersabar.” “Kalau begitu, kakak harus percaya pada ayah. Semua pasti akan baik-baik saja.” “Aku merasakan sesuatu yang tidak beres. Jika tidak dilakukan secepatnya, aku takut akan terjadi sesuatu. Sesuatu yang membuat pelantikan itu gagal.” “Percayalah, semua pasti akan baik-baik saja.”ucap Gina berusaha menenangkan. Berbicara dengan orang lain memang sangat berguna untuk melepas beban yang menguasai pikiran. Begitulah kodratnya bahwa manusia adalah makhluk sosial. *** Manusia berlalu lalang. Sangat ramai hingga pandangan mata tak bisa terhindar dari kepala manusia. Beberapa manusia berseragam tampak berkerumun di depan gerobak jajanan yang terbuat dari nasi lembek yang dicampur dengan bumbu kacang. Rasanya berbeda dengan yang ada di Indonesia karena ada campuran bumbu tertentu yang tidak diketahui asalnya.  Samudera duduk sambil menikmati makanan miliknya. Hingga akhirnya,  pandanganya tertuju pada penjual koran. Sebuah pemberitaan yang menampilkan seseorang yang dia kenal. “Pak, saya beli korannya.” “Oh baik. 2 keping saja.” Samudera mencari uang di dalam kantong celananya. Dia memberikan 3 keping. Satu keping sebagai bonus untuk pria lusuh itu. Dia kembali dan membaca halaman yang menampilkan berita tentang pelantikan ratu yang akan dilakukan bulan depan. Indiri Meghania, wanita yang dipuji oleh semua kalangan masyarakat. Dia sering memberikan bantuan cuma-cuma kepada para pengemis di depan rumahnya. Tanggapan masyarakat yang tidak sabar dengan hari pelantikan itu.  Semua berita itu membuat darah Samudera mendidih. Dia mengepalkan tangannya. Dendam nya semakin membara, dia sudah tak sabar ingin berhadapan dengan manusia-manusia jahat itu. Kalaupun harus mati, rasanya tidak masalah. Asalkan Samudera sudah berhasil membersihkan namanya. “Sam, ada apa?”tanya Embun heran. Samudera tampak cemberut saat membaca koran itu.  “Ah, tidak apa-apa.” “Aku suka sekali di tempat ini. Di Indonesia, aku adalah keturunan Jawa.” “Keturunan?”tanya Samudera bingung. Jawa itu adalah nama seorang raja. Jika Embun adalah keturunan Jawa, berarti dia adalah keturunan raja. Bagaimana bisa? “Di Indonesia, Jawa itu sebuah suku. Jadi, tidak masalah jika seseorang berkata dia orang jawa, sumatera, bali dan lain-lain.” Samudera tampak berpikir sejenak. Menelaah makna suku di Indonesia. Setelah berpikir beberapa saat, dia menemukan arti sesungguhnya dari kata itu. Suku adalah kelompok manusia yang mengelompokkan dirinya dalam satu garis keturunan yang sama. Meskipun berbeda dengan Santara, tapi banyak juga persamaannya.  “Ahh, aku mengerti.” “Aku cukup senang kita masih bisa menikmati satu hari dengan tawa. Kurasa, misi kita kali ini cukup berat.” “Tentu. Apalagi setelah ini kita akan ke Sumatera. Level terakhir sebelum ke Kerajaan Kalimantan. Kita sedang menuju level paling atas.” “Sejujurnya aku tidak takut. Tapi misi kita akan berat jika Ketua Mandala yang memberi tugas.” “Argh, kenapa aku melupakan itu? Dia pasti masih marah pada kita.” “Tidak. Dia malah sedang dipihak kita.”ucap Langit tegas. “Hah?” Secara mengejutkan, ide random Embun menghasilkan sisi positif. Tidak hanya untuk Pak Praja, tapi juga untuk ketua Mandala. Pihak Kerajaan Sulawesi memberikan banyak sekali bantuan untuk penanaman pohon. Walau begitu, mereka juga membiarkan Pak Praja menjalankan proyeknya kembali. Dan keuntungannya untuk Ketua Mandala, pria itu diberikan penghargaan karena bisa membawa terobosan baru untuk Kerajaan Sulawesi. Ajaib? Ya, ini seperti keajaiban yang tak pernah terpikirkan. “Kau memang hebat!”ucap Samudera. “Makasih pujiannya.” “Embun, aku ingin bicara berdua.”ucap Langit sambil menarik tangan Embun. Membuat cewek itu meringis kesakitan. Ada apa lagi dengan Langit? “Kenapa? Kalau ingin bicara, disana juga bisa kan?” “Kau tidak takut terlalu dekat dengan Samudera? Dia orang baru yang identitasnya tidak jelas.” Embun menarik nafas kesal. Pikiran negatif Langit tak kunjung sembuh. Dia selalu saja begini. Sikap yang tidak terlalu penting jika diteruskan. Sangat menyebalkan. “Apa yang harus ditakutkan? Dia orang baik. Dan lagi, dia selalu mengerti akan keadaanku.” “Kau tidak takut dia tahu tentang keinginan kita? Tentang kita yang bersikeras kembali ke Indonesia. Apa kau mau rahasia itu terbongkar?” “Sebenarnya, aku takut. Tapi kita harus percaya pada mereka. Siapa tahu mereka malah tidak masalah dengan tujuan kita itu.” “Bodoh! Jangan terlalu percaya pada orang lain. Ingat itu baik-baik. Agar tak ada pengkhianatan di masa depan.” Langit segera pergi meninggalkan Embun yang sedang merenung. Memahami setiap perkataan Langit yang menusuk bak pedang tajam menusuk hati. Embun paham tujuan baik Langit. Tapi dia terlalu negatif pada Samudera. Padahal Samudera tak seperti orang jahat. Dibanding jahat, dia lebih seperti orang yang mempesona.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN