bc

Kisah Cinta Kupu-kupu Malam

book_age18+
326
IKUTI
3.5K
BACA
one-night stand
escape while being pregnant
pregnant
heir/heiress
drama
bxg
city
friends with benefits
like
intro-logo
Uraian

"Adakah cinta yang tulus untuk seorang Kupu-kupu malam?"

"Mungkin, lebih baik aku hidup sendiri membesarkan Rara."

Elia dijadikan kupu-kupu malam oleh ibu tirinya. Pelanggan pertamanya adalah seorang laki-laki bernama Bagas. Saat itu, Bagas dalam pengaruh obat perangsang. Nahasnya, Bagas tidak memakai pengaman malam itu hingga dia menitipkan benih di rahim Elia.

Setelah malam itu, Bagas meninggalkan Elia begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Hal itu yang membuat Elia tidak bisa mencari keberadaannya. Dia harus berjuang membesarkan anak itu sendiri.

Delapan tahun kemudian, Bagas dipertemukan dengan seorang anak kecil yang wajahnya mirip dengannya. Sampai akhirnya, dia terpikir tentang kejadian malam itu. Dia memutuskan untuk mencari wanita itu untuk mencari tahu kebenarannya.

Akankah takdir mempertemukan mereka? Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apakah Bagas bisa mencintai Elia? Atau justru memberikan luka yang lebih dalam pada Elia?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Kupu-kupu Malam
“Cepat lepaskan pakaianmu dan layani aku! Aku sudah membelimu! Jadi, tolong bantu aku hilangkan panas karena obat perangsang ini!” Elia Ernita–wanita itu terpaksa menuruti semua permintaan pria yang kini sudah berada di atas ranjang. Ya, benar, pria pertama yang menjadi pelanggannya itu memang telah membelinya. Wanita yang biasa dipanggil Elia itu pun tak punya kuasa menolak setelah dijadikan kupu-kupu malam oleh ibu tirinya. Selesai melepas semua pakaiannya, pria bernama Bagas itu langsung menarik paksa tubuhnya. Setelah dijebak oleh Sonya, Bagas memilih untuk tak menyentuh wanita itu karena tak ingin terjebak hubungan lebih serius dengannya. Baginya, perjodohan yang sudah diatur oleh orang tuanya hanyalah omong kosong. “Tolong lakukan dengan perlahan, Tuan! Percayalah, ini pertama kali bagiku ….” Sambil menangis, Elia akhirnya pasrah membiarkan Bagas menggagahi. *** Delapan tahun sudah berlalu sejak kejadian itu. Saat ini, Elia masih belum berhasil lepas dari profesi kelamnya sebagai kupu-kupu malam. Tepat pukul tujuh malam, Elia tampak sudah bersiap untuk berangkat bekerja. Meski usianya dua tahun lagi kepala tiga, wajahnya masih seperti usia 23 tahun. Tubuhnya pun terlihat ramping tak kalah dengan seorang gadis. "Ra, Bunda berangkat dulu, ya. Ingat, jangan buka pintu rumah! Kalau nanti ada yang ngetuk pintu atau manggil kamu, kamu biarin aja ya, pura-pura gak dengar aja!" Pesan Elia sebelum dirinya pergi meninggalkan sang anak. "Bunda kapan libur? Rara pengen banget tidur sama Bunda," pinta Rara kepada sang bunda. "Memangnya, kamu gak mau makan? Gak mau sekolah? Bunda bisa saja gak kerja temenin kamu di rumah, tapi kamu harus siap puasa dan berhenti sekolah. Sudahlah, gak usah minta yang aneh-aneh! Kamu kira, gak capek jadi Bunda? Jangan kebanyakan ngeluh! Hidup ini butuh uang. Makan dan sekolah kamu butuh uang. Semua pakai uang, gak gratis," sungut Elia yang merasa kesal pada sang anak. Padahal, apa yang diminta Rara bukan sesuatu yang aneh. Dia hanya merindukan, bisa tidur dalam pelukan sang bunda. Tapi sayangnya, dia harus mengubur perasaan itu. Bundanya tidak akan pernah mengabulkan keinginannya. Rara hanya bisa menatap kepergian Elia dari balik tirai jendela. Selama ini, mereka hidup pas-pasan. Mereka hanya tinggal di sebuah rumah yang sederhana. Meskipun demikian, Rara sangat bangga memiliki bunda seperti Elia. Dia tidak pernah membenci sang bunda dan justru terus berjuang untuk mendapatkan cinta dari bundanya. "Ya Allah, Rara mohon tolong lindungilah bundaku di mana pun dia berada! Rara sayang sama Bunda, amin." Doa yang selalu Rara ucapkan saat sang bunda pergi meninggalkan rumah untuk bekerja. Anak sekecil itu sudah dipaksa untuk hidup mandiri dan berani. Hampir setiap malam dia tidur sendiri, karena Elia baru sampai rumah pukul 04.00 atau 05.00 pagi. Alhamdulillah Allah selalu melindunginya dari orang-orang yang berniat jahat padanya. Rara berusaha untuk memejamkan matanya. Namun, tiba-tiba saja. Dia teringat akan ucapan teman di sekolahnya yang mengatakan kalau dia anak haram karena tidak tahu siapa ayahnya. Tanpa sadar, dia meneteskan air matanya. "Kalau ayah Rara masih hidup, tolong pertemukan Rara sama ayah Rara, ya Allah! Rara ingin sekali bertemu dengannya, Rara mohon! Rara mau ngasih tahu mereka, kalau Rara sebenarnya punya ayah." Selesai berdoa, Rara coba memejamkan matanya untuk tertidur. *** Sementara itu, Elia baru saja sampai di tempat, di mana dirinya setiap malam menjajakan tubuhnya. Dia sedang menunggu tamu malam ini. Sudah delapan tahun lamanya, dia tidak pernah bertemu laki-laki yang membeli keperawanannya. Dia begitu membenci laki-laki itu karena membuatnya sampai memiliki seorang anak. Berbagai cara coba dia lakukan untuk melenyapkan Rara saat itu. Namun, Allah justru berkehendak lain. Kandungannya begitu kuat. Sampai akhirnya, dia pun menyerah untuk menggugurkannya. Malam sebelum dia ingin melakukan aborsi, Elia bermimpi didatangi seorang anak kecil yang menangis memohonnya untuk tidak membunuhnya. Dia yakin, kalau anak itu adalah anak dalam kandungannya. Hingga akhirnya, Elia merasa tidak tega. Dia pun akhirnya memutuskan untuk merawat bayi itu meski saat itu mami tirinya sangat marah padanya. Begitu berat jalan yang ditempuh dalam mempertahankan Rara. Terlebih dia harus tetap bekerja sebagai wanita malam. Tanpa Elia ketahui, kedatangannya sejak tadi menjadi perhatian seorang pria yang tak lain adalah Bagas Prayoga–pria yang dulu meninggalkan benih di rahimnya. "Bukankah dia … wanita yang aku tiduri malam itu?" gumam Bagas sembari berpikir. Mengingat dengan jelas karena memang sudah sangat lama dia tidak melihat atau bertemu lagi dengan Elia. Saat itu, dia sedang melintas dan dia melihat Elia dijemput seorang p****************g. Sayangnya, mobil itu langsung pergi meninggalkan tempat itu hingga Bagas tidak bisa bicara dengan Elia. "Sudah delapan tahun, kenapa aku masih saja mengingatnya? Apa mungkin karena aku ngerasa bersalah sudah merenggut keperawanannya? Gak, gak, seharusnya aku gak boleh mikirin wanita itu, apalagi dia itu kan cuma wanita malam yang aku beli saat itu." Bagas kembali melanjutkan mobilnya yang sempat terhenti saat tanpa sengaja melihat Elia. *** Keesokan paginya, lalu lintas tampak padat dan itu membuat Bagas merasa kesal karena dia harus mengejar penerbangan pagi ini untuk kembali ke Yogyakarta. Namun, di tengah rasa kesalnya, tiba-tiba pandangan matanya terhenti di satu titik. Ya, tepat di sisi kanan jalan, seorang anak kecil berhasil menarik perhatiannya. "Kenapa wajah anak itu sangat mirip sekali sama aku, ya?" gumam Bagas dalam hati. Tatapan Bagas semakin intens, menatap anak perempuan yang sedang makan begitu lahap seperti sedang kelaparan. Dia sampai menepikan mobilnya terlebih dahulu karena ingin menghampiri anak itu. Entah mengapa hatinya terpanggil, padahal dia tidak mengenal anak itu. Dia juga yang membayar nasi uduk anak itu. Setelah itu, Bagas memilih mencari tempat duduk menunggu Rara selesai makan. Saat itu, Rara tidak melihat Bagas, dia fokus pada makanannya. "Sudah dibayar tadi sama ayah kamu," kata Bu Siti penjual nasi uduk saat Rara ingin membayar makanan yang dia makan. "Ayah?" batinnya, Rara cukup terkejut saat mendengar ucapan Bu Siti. Dengan pikiran penuh tanya, dia akhirnya memilih untuk pulang. Tidak memperpanjang lagi. Namun, tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Bagas berjalan menghampirinya, membuat netra keduanya saling bertemu. Ada getaran tersendiri dibenak mereka berdua. Keduanya saling beradu pandang, tercengang kemiripan satu sama lain. "Om siapa? Apa Om yang tadi bayar nasi uduk aku?" Serentetan pertanyaan terlontar dari bibir Rara, tertuju pada Bagas yang kini berada di hadapannya. "Apa mungkin dia ayahku? Ah, gak mungkin! Aku gak pernah tahu, siapa ayahku," kata Rara dalam hati. Rara memilih membuang perasaannya itu. Dia tidak boleh berharap lebih. Tidak mungkin jika laki-laki yang di hadapannya itu adalah ayahnya. Terus kenapa wajahnya bisa sangat mirip dengannya? Rara pun menampik hal itu juga. Dia menganggap semua itu hanyalah kebetulan saja. "Iya, tadi Om yang bayar. Om ikhlas kok, Om cuma mau kenalan sama kamu. Apa Om boleh tahu siapa nama kamu?" tanya Bagas, masih terus menatap lekat anak perempuan yang tampak takut-takut berada di dekatnya, terlihat Rara sedikit mundur untuk menjaga jarak. "Kenalan!? Maaf, Om, tapi Om kan sudah besar. Masa iya mau kenalan sama aku. Lagian juga bundaku pasti gak akan ngizinin aku kenalan sama Om. Bunda bilang, aku harus hati-hati saat ketemu sama orang yang gak aku kenal. Oh ya, ini uang nasi uduk yang tadi aku makan. Aku gak mau punya utang budi sama Om." Rara menyerahkan uang sepuluh ribu yang langsung diterima Bagas dengan terpaksa. Setelah itu, Rara langsung pergi meninggalkan Bagas begitu saja. Ucapan sang bunda terus terngiang-ngiang di pikirannya. Elia tidak ingin, nasib Rara sepertinya. Dia sangat protektif kepada Rara. Selain sekolah dan untuk urusan sekolah, Elia jarang sekali mengizinkan Rara main. "Sebenarnya, apa yang kupikirkan? Kenapa aku sampai mau mengenal anak kecil itu? Ah, sudahlah! Aku harus segera pulang ke Yogyakarta. Lagian urusanku di Jakarta sudah selesai," batin Bagas. Akhirnya dia membiarkan Rara pergi begitu saja, tidak mengejarnya. Melihat Bagas tak lagi mengikutinya, Rara pun merasa lega. Dia percepat langkah kakinya untuk segera tiba di rumah. Rara takut kalau sang bunda sudah pulang lebih dulu. Pasti nanti bundanya akan marah padanya. Baru saja pikiran itu terlintas di pikirannya, ternyata dugaannya benar. Sang bunda tampak sudah berdiri di depan pintu dan terlihat masam wajahnya. "Dari mana saja kamu? Kamu tahu gak? Udah hampir 15 menit bunda nunggu kamu di luar. Bunda ini capek mau tidur, kamu malah bikin masalah begini," tegur Elia saat baru saja Rara datang. Bukannya minta maaf karena pulang terlambat dan membuat anaknya kelaparan. Elia justru memaki Rara. Meskipun demikian, Rara berusaha untuk tidak menangis. "Maafin Rara, Bun! Perut Rara lapar, udah sakit. Tadi Rara nunggu Bunda sampai jam delapan, tapi Bunda belum pulang juga. Makanya, Rara mutusin buat beli nasi uduk di depan gerbang. Terus tadi ada yang ngajak Rara ngomong. Kata Om itu, wajah Rara mirip dia," jelas Rara apa adanya. Mendengar hal itu, jantung Elia seakan berhenti seketika. Dia terkejut mendengar penuturan anaknya. Namun, dia berusaha menutupi perasaannya saat itu. Dia takut kalau nantinya Rara akan bertanya macam-macam padanya. "Untung aja kamu gak diculik sama dia. Berapa kali Bunda bilang sama kamu. Kalau ada yang ngajak kamu bicara, jangan mau! Itu hanya akal-akalan dia saja biar kamu mau dibodohi dan dibawa pergi sama dia. Dia pasti punya niat jahat sama kamu," sahut Elia ketus. "Tapi, Bun! Rara lihat dia laki-laki yang baik, dia juga orang kaya naik mobil mewah. Emang sih, Rara gak tahu maksud dia apa bicara seperti itu sama Rara. Tadi Rara sempat perhatiin wajah om itu, wajahnya emang mirip sama Rara. Sampai-sampai penjual nasi uduk depan gerbang aja bilang, kalau Om itu ayah aku. Om itu sempat bayarin nasi uduk yang dimakan Rara, tapi karena Rara gak mau punya utang budi, Rara langsung kasih uang ke dia sepuluh ribu," jelas Rara kepada sang bunda. "Ah, sudah, sudah! Bunda capek, Bunda malas ngebahasnya! Bunda mau tidur. Siapa pun orangnya, Bunda peringatkan sama kamu, jangan pernah mau diajak bicara sama orang yang gak kamu kenal! Lebih baik kamu lari, menjauh dari orang itu!” kata Elia dan Rara akhirnya mengiyakan ucapan sang bunda. Setelah mengatakan itu, Elia langsung pergi meninggalkan Rara. Dia memilih untuk mandi dan tidur. "Apa laki-laki itu lagi ada di Jakarta, ya? Ah, rasanya gak mungkin. Mungkin hanya kebetulan aja, iya, itu pasti bukan dia.” Elia menghela napas kasar. “Semoga aku gak akan pernah ketemu lagi sama laki-laki b******k itu. Aku sangat membencinya. Dia hanya membuat hidupku menderita. Aku yakin, dia pasti gak akan percaya kalau dulu dia udah bikin aku hamil, apalagi aku ini cuma wanita malam.” *** Keesokan harinya, sejak pertemuannya dengan Rara, Bagas terlihat sangat murung. Tak hanya dilema memikirkan wajah anak Rara yang sangat mirip dengannya. Dia juga dibuat pusing setelah kemarin sempat ketinggalan pesawat karena terlambat datang sampai bandara. "Apa mungkin ya anak itu anakku? Dulu, saat aku bercinta sama wanita itu, aku gak ingat apa aku memakai pengaman atau tidak.” Bagas terlihat mengacak-acak rambutnya. Dibuat pusing memikirkan semua itu. “Sepertinya aku harus mencari wanita itu dan mencari tahu, apakah benar anak itu adalah anakku? Tapi … dia kan wanita malam, bisa saja itu bukan anakku." Bagas tampak dilema. Masih terus berpikir sebelum memutuskan. "Ah, aku harus temui wanita itu dulu. Mau bagaimanapun, aku harus minta penjelasannya sebelum kembali ke Yogya," ucap Bagas tahu ke mana dia harus mencari tahu Elia.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook