Entah kenapa, Jaemin baru sadar bahwa d******i Jeno begitu menakutkan. Ia hendak menangis hanya karena Jeno yang memasukkan dildo kedalam lubangnya tanpa aba-aba, tanpa persiapan, ia yakin lubangnya terasa lecet dan begitu perih.
Di sisi lain, Jeno tak ambil pusing. Ia bisa toleransi karena hubungan mereka sebagai dominan and submissive, tapi lain ceritanya dengan orang lain.
Bagi Jeno, kamar adalah wilayah privasi. Ia tak suka batas privasinya dilanggar, belum lagi kemungkinan bagaimana berantakannya kamar ini nanti, ditambah kemungkinan terekspose nya hubungan mereka.
"Lain kali, sebaliknya kau meminta persetujuanku dulu. Mengerti, Jaemin?" Ujar Jeno dengan suara dalam. Kemudian ia menyalakan dildo tersebut dengan remote kontrol di titik paling rendah.
Jaemin mengangguk dengan kepala masih tertunduk. "Yes, Master." Jawabnya, air mata Jaemin tertahan dan hidungnya terasa panas karena menahan tangis.
***
Sesuai kesepakatan, kelompok 7 datang ke kamar Nomin untuk mengerjakan tugas. Jeno pun mengeset lagu dengan volume sedang, agar menutupi suara getaran dildo di lubang Jaemin.
Begitu mereka masuk, Jaemin merasakan getaran dildo itu menguat yang berarti mereka melanggar batas hanya dengan masuk kamar ini. Jaemin segera mengambil jaketnya untuk menutupi bagian bawahnya yang terasa sesak.
"Aku sudah mencari tahu sebelumnya, tapi cume ketemu struktur Jabatan Sekolah, untuk Osis dan Senate sepertinya tidak di publish secara luas." Jelas Renjun yang kembali diangguki Chenle.
"Lalu bagaimana?" Tanya Haechan.
"Gak masalah, aku sudah mendapat bagan lengkapnya. Hanya perlu kita salin ke karton dan diberi sedikit kreatifitas." Jelas Jeno langsung menunjukkan bagan lengkap di hapenya.
"Wahh, darimana kau mendapatkannya? Bahkan tidak ada senior yang mau memberitahu selengkap itu." Cetus Haechan.
"Kau tidak perlu tahu itu, yang jelas biar cepat kita bagi tiga tim. Yang ngerjain Struktur sekolah, OSIS dan Senate." Jeno langsung mengarahkan agar tugas ini cepat selesai, di sisinya Jaemin sudah menggenggam erat bajunya menahan desahannya.
"Kalau begitu, aku dan Chenle akan membuat struktur sekolah." Sahut Renjun, gesit mengambil tugas paling mudah.
"Cih, kau mengambil yang paling mudah. Kalau begitu aku dan Jisung mengambil bagian Senate karena setidaknya lebih sedikit dibanding OSIS. Hehe." Tukas Jaechan sambil melihat Jeno dan Jaemin.
Jaemin kini merasakan tubuhnya yang mulai berkeringat dingin, sejak tadi ia ingin sekali mendesah karena getaran dildo itu mencapai prostatnya.
Karena sudah terbagi tugasnya, masing-masing mengambil posisi yang lebih luas untuk mengerjakannya. Dan sialnya Jeno lagi-lagi menaikkan intensitas dildo tersebut karena Renjun dan Chenle mengambil tempat yang tepat berada di samping laci Jeno menyimpan semua s*x toysnya.
Akhirnya mereka mulai membuat tugas masing-masing. Jeno sengaja membelakangi empat orang lain untuk menutupi keadaaan Jaemin yang sudah memerah dan berkeringat.
Jeno mulai mengerjakan bagannya, sedangkan Jaemin hanya diam di sampingnya sambil terkadang mendesah pelan yang tertahan hingga menggeram.
Jaemin merasa tubuhnya sudah diambang batas, akhirnya tubuhnya jatuh bersender pada Jeno. Ia tak tahan lagi, sensasi ini menyiksanya namun tubuhnya justru merespon dengan keinginan meminta lebih.
"Jen,.. Please.. Hentikan, aku tak tahan." Bisik Jaemin di leher Jeno.
Posisi mereka jika dilihat dari sudut pandang Renjun, Chenle, Haecahn maupun Jisung hanya seperti Jaemin yang bersandar pada Jeno karena kelelahan. Namun..
Jaemin mencoba meredam desahannya dengan membungkam mulutnya di leher Jeno. Tapi iti justru berimbas sebaliknya, aroma Jeno justru membuat bagian bawahnya sangat sesak karena terangsang oleh aroma maskulin sialan itu.
Setelah beberapa saat Jeno menghiraukan Jaemin, baginya inilah hukuman bagi Jaemin yang harus menjadi pelajaran untuk berikutnya.
Waktu berlalu, pekerjaan mereka hampir selesai. Tiba-tiba terdengar rusuh dari arah Renjun dan Chenle karena mereka memperebutkan spidol untuk menyelesaikan tugasnya. Tak sengaja Renjun mendorong Chenle hingga membentur laci keramat itu, mata Jeno seakan melotot karena itu. Tapi yang kena akibatnya adalah Jaemin karena Jeno langsung menaikkan getaran dildo itu ke titik maksimal.
Jaemin yang terkejut langsung ingin mendesah kuat tapi karena sadar banyak orang, Jaemin justru menggigit bahu Jeno membuatnya meringis.
"Apa sekarang kau jadi anjing yang menggigit tuannya?" Bisik Jeno pada Jaemin yang masih menggigit bahu Jeno.
Jaemin hanya menggeleng, tak berani melepas gigitannya karena ia yakin akan mendesah. Terlihat jelas air mata Jaemin mengalir di bajunya.
Akhirnya Jeno menghela nafasnya, ia mengusap kepala Jaemin halus membiarkannya menggigit tubuhnya. Kemudian gigitan Jaemin berpindah di tulang selangkanya, Jeno kembali meringis dibuatnya.
Jeno pun meletakkan kepala Jaemin dipahanya dan menghadap keperutnya. Jaemin pun segera membungkam mutunya dengan mengeratkan pelukannya di perut Jeno yang keras.
"Apa kalian sudah selesai?" Tanya Jeno, ia harus segera menyingkirkan 4 orang ini agar bisa melepaskan Jaemin.
Renjun dan Chenle mengangguk sudah, sedangkan Haechan memberi isyarat sedikit lagi selesai. Oleh karena itu, mereka pun bersiap pergi tak lama kemudian.
"Apa Jaemin sudah tidur?" Tanya Renjun melihat bagaimana Jaemin yang tertidur di paha Jeno tak bergerak.
"Ia mungkin kelelahan karena kegiatan olahraga tadi siang. Tidak apa, aku yang akan mengurusnya nanti." Jawab Jeno sambil mengusap kepala Jaemin.
"Kau begitu lembut pada Jaemin. Beruntunglah ia menjadi teman sekamarmu." Cetus Haechan yang iri dengan intimasi Jeno dan Jaemin.
Jeno hanya terkekeh mendengarnya.
"Kalau begitu, kami kembali ke kamar. Kalian bertanggung jawab membawa tugasnya besok." Ujar Renjun lagi sambil berlalu keluar kamar.
Begitu mereka keluar, Jaemin langsung menarik baju Jeno, meremasnya kuat.
"Jen, maafkan aku untuk masalah tadi.... Tapi aku ingin klimaks." Ujar Jaemin sambil hendak mencium Jeno tapi langsung dihentikan oleh Jeno. Jeno pun menjauh dari Jaemin, membuatnya hanya terbaring lemas di lantai.
"Jen.. Pleeaseee." Desah Jaemin, ia tak tahan lagi. Ia butuh tambahan stimuli untuk klimaks.
"Apa begitu caramu memohon padaku?" Ujar Jeno menatap Jaemin datar.
Mendengar itu Jaemin menggigit bibirnya. Bagaimana mungkin ia menolak perintah master sialannya ini.
"Master... Please, let me cum." Ucap Jaemin dengan suara susah payah. Jeno tersenyum mendengarnya.
"Kuharap ini bisa menjadi pelajaran bagimu." Ujarnya yang kemudian diangguki oleh Jaemin.
Jeno pun mendorong masuk dildo di s**********n Jaemin lebih dalan menggunakan kakinya lagi. Hanya dengan itu, Jaemin berhasil klimaks sangat banyak di lantai itu.
"Mandilah, bersihkan dirimu. Kemudian bersihkan juga cairanmu itu." Ujar Jeno yang mulai membereskan tugas mereka dan bersiap tidur.
Jaemin masih terbaring, ia butuh mengumpulkan tenaga di kakinya terlebih dahulu. Ada sebuah perasaan yang tumbuh semenjak ia dan Jeno mulai mengembangkan hubungan ini.
***
TO BE CONTINUED..