8 - Batasan

1266 Kata
"f**k!! Ya!! Lee Jeno!!" Teriak Jaemin pertama kali saat baru bangun tidur. Bagaimana tidak, saat melihat jam sudah kurang 20 menit dari waktu berkumpul di ruang makan. Yang dipanggil hanya menatap santai dari bawah, Jeno sudah siap daritadi. "Kenapa kau tidak membangunkanku?" Seru Jaemin lagi sambil berlari ke kamar mandi, dengan tergesa-gesa ia menyikat gigi dan mencuci muka. "Salahmu sendiri, aku sudah membangunkanmu tapi kau yang tidak mau bangun." Jawab Jeno. "Apa kau bahkan tidak merasa bersalah? Jelas-jelas ini karena kelakuanmu tadi malam kan?" Tukas Jaemin, ia bersiap-siap mencari pakaian olahraganya. Tiba-tiba perhatian Jeno beralih ke bibir Jaemin yang sangat pink bahkan dipagi hari seperti ini. Dengan sekali hentak, ia mendorong Jaemin ke dinding untuk mencicipi bibir merah itu. Jaemin terkejut dengan tindakan tiba-tiba Jeno hingga kesadarannya kembali. Ia mendorong tubuh Jeno kuat. "미쳤어? (micheoss-eo?/ Kau gila?)" Ujar Jaemin. "Kita sudah hampir terlambat. Aku tidak pernah ingin dihukum selama masa orientasi, itu akan memalukan." Lanjut Jaemin sambil menjauhi Jeno. Bukan tak mau, tapi tak bisa. Hanya dengan ciuman paksa seperti itu saja hasratnya sudah cukup b*******h. Jika dilanjutkan diyakinkan ia yang tidak bisa berhenti untuk meminta lebih. Jeno mengelap bibirnya dengan jempol dan dilakukan dengan sangat seksi di depan Jaemin, membuatnya meneguk ludah. "Bibirmu bahkan lebih menarik dibanding dessert di ruang makan." Ujar Jeno sambil tersenyum miring, secara tak sadar Jaemin mengambil langkah mundur. "Ah, aku berharap kegiatan ini cepat selesai. Aku ingin segera bermain denganmu." Bisik Jeno sambil menuju ruang makan. Jaemin bergidik menantikan hal tersebut juga. Ia kemudian mengejar Jeno di ruang makan. Mereka sampai disana tepat waktu sebelum pintu di tutup. Dan ternyata kelompok 7 sudah menjaga kursi untuk mereka berdua. *** Seperti yang diharapkan, kelompok 7 menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Banyak teman-teman maupun senior yang mencoba mendekati anggota mereka namun tak satupun yang membuka jalan. Mereka dengan cepat beradaptasi satu sama lain dan mulai akrab hingga keluar sifat asli masing-masing. Hingga karena itu, mereka menjadi kelompok paling ribut diantara yang lain. Mark sendiri geleng-geleng kepala melihat bagaimana mereka sangat sinkron satu sama lain dalam hal kegesrekan. "Renjunie, ajari aku Bahasa Korea. Hanya kau yang mengerti ucapanku sekarang." Melas Chenle pada Renjun. "Bukankah kau sudah mengambil kelas Bahasa Korea?" Tanya Renjun. "Iya, tapi itukan hanya untuk percakapan sehari-hari." Jawab Chenle. "Tidak apa Chenle, dulu aku juga seperti itu sebagai murid internasional. Tapi lama-kelamaan kalian terus terbiasa berbicara dengan temanmu akan sangat membantu. Apalagi dilihat dari temanmu saat ini yang banyak omong." Jelas Mark, sambil mengucapkan kalimat terakhir dengan melirik Haechan. "Kenapa menatapku? Kau tertarik?" Tanya Haechan sambil melakukan wink. Mark langsung mengalihkan pandangannya dan mengabaikan Haechan. Kini mereka sedang duduk melingkar di lapangan per kelompok. "Kegiatan hari ini akan berkisar dalam permainan-permainan antar kelompok. Setiap game akan mengandung hal-hal mendidik dan menjadi penilaian bagi senior kalian untuk masuk organisasi-organisasi di sekolah nanti." Jelas Mark langsung pada intinya. Jaemin mendengarkan sambil bersender pada Jeno, ia masih mengantuk akibat tadi malam. Jeno sendiri membiarkan itu sambil menggeser rambut Jaemin yang menutup pandangannya. "Markeu, Jaemin dan Jeno terlihat sangat dekat. Aku juga mau." Ujar Haechan sambil menggembungkan pipinya. Karena namanya disebut, Jeno maupun Jaemin memperhatikan mereka. "Kenapa kau minta padaku?" Hindar Mark. "Karena kau yang di sampingku, mau bagaimana lagi?" Lanjut Haechan tak mau kalah. "Hyung, kau benar-benar tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu?" Cetus Jisung tiba-tiba melihat Mark yang terus menghindar dari Haechan yang jelas menggodanya. Mark mengalihkan pandangannya pada Jisung yang ternyata sudah menjadi tempat sandaran bagi Chenle dan Renjun karena ia cukup tinggi jadi tak akan menyakiti leher untuk bersandar padanya. "Maksudmu?" Tanya Mark balik. "Yasudah kalau ngga tahu, lagian apa susahnya sih, minjemin bahu doang." Balas Jisung seakan tak peduli bahunya dipakai dua orang. "Sudahlah Hyung, Haechan hanya minta sandaran. Sebagai pembimbing yang baik, anggap saja begitu." Ujar Jeno sambil terkekeh melihat wajah Mark yang tersudut lagi karena ucapan Jisung. Akhirnya Mark menyerah dan membiarkan Haechan bersandar padanya. Melihat itu yang lain pun terkekeh karena berhasil memainkan Mark. Kegiatan pun dilanjutkan, kelompok 7 beberapa kali menang dan beberapa kali juga kalah. "Waah, Jaemin-ah.. Aku tak pernah tahu kau begitu menjijikkan saat melakukan aegyo, aku serasa ingin memukulmu barusan." Ujar Renjun yang kemudian dibalas pelototan oleh Jaemin. Jaemin terpaksa mengikuti permainan aegyo karena ia satu-satunya yang belum berpartisipasi. Siapa sangka dia beneran menang. Jeno terkekeh pelan saat Jaemin duduk kembali di sebelahnya. "Sungguh kau sebaiknya tidak melakukan aegyo saat kita sedang berdua." Bisik Jeno kemudian dibalas Jaemin hanya dengan mengangkat alisnya. "Karena mungkin aku akan menghukummu." Lanjut Jeno. Jaemin mendengus mendengarnya, ia yakin selama kegiatan otak Jeno hanya merencanakan segala hal untuk dilakukan padanya. Akhirnya ia kembali bersender pada Jeno. "Jangan seperti itu lagi, bahuku pegal sejak tadi. Lebih baik kau duduk disini." Ujar Jeno sambil menunjuk tempat di depannya. Jaemin dengan malas menyeret diri ke depan Jeno kemudian merebahkan punggungnya ke d**a Jeno. Posisi ini membuat Jeno bisa memeluk Jaemin dari belakang. Dada Jeno sepertinya terlalu nyaman buatnya hingga mata Jaemin tertutup secara perlahan. "Kalian sepertinya dekat sekali." Ucap Jisung pelan melihat Jaemin tertidur. "Apa kalian sudah kenal sebelum ini?" Lanjutnya. "Hm, tidak. Hanya saja dia memang tipe yang mampu membuatku mendekat dan juga kami sekamar jadi wajar jika terlihat dekat." Jawab Jeno dengan sekian maksud dari jawabannya dan diangguki oleh Jisung. Setelah acara penutupan hari kedua, Mark akan memberikan tugas kelompok lagi, Jeno pun akhirnya membangunkan Jaemin namun sepertinya anak itu hanya matanya saja yang terbuka, terpaksa akhirnya Jeno mencubit p****g Jaemin sekilas. Alhasil Jaemin terbangun sempurna karena tersentak, ia kemudian menatap nyalang pada Jeno, yang hanya mengedikkan bahunya. "Untuk tugas besok, kalian harus membuat bagan organisasi penting di sekolah. Dari struktur Jabatan Guru, kemudian Struktur OSIS dan Senate." Ujar Mark, sambil memperlihatkan contoh tugas tahun lalu. "Ah, karena ini hanya 3 bagan tidak mungkin dibagi perorang. Jadi sebaiknya kalian berdiskusi dimana akan mengerjakan tugasnya." Lanjutnya. "Di kantin, bagaimana?" Saran Chenle pertama kali. "Tidak akan kondusif, kantin ribut belum lagi godaan buat makan akan memperlama bikin tugasnya." Bantah Jeno, Chenle pun mencibir karena yang dikatakan Jeno adalah niatnya untuk bisa makan. "Lalu dimana?" Tanya Renjun lagi. "Dikamar kami saja?" Usul Jaemin tiba-tiba. Jeno memberikan tatapan 'What the..?' "Kalian sekamar?" Tanya Haechan. "Ya begitulah." Jawab Jaemin "Okelah, lagian itu lebih dekat dibanding diluar asrama. Kalian kamar berapa?" Tanya Haechan lagi. "211" Jawab Jaemin, Jeno masih menatap Jaemin karena membuat keputusan sepihak. "Oke, jadi setuju dikamar Jeno dan Jaemin ya. 211, nanti jam 7." Ucap Haechan mengkonfirmasi yang disetujui oleh yang lain. *** "Kenapa kau menyarankan dikamar kita?" Ujar Jeno setibanya dikamar. "Memang kenapa? Dengan begini kita tidak perlu capek-capek keluar, cukup menunggu mereka datang." Jawab Jaemin seadanya, ia masih berniat melanjutkan tidurnya. "Apa kau lupa? Aku tidak suka ada yang melanggar batasku." Ucap Jeno dengan suara dalam, Jaemin langsung berbalik melihat Jeno yang menatapnya sambil menaikkan dagunya. Aura Dominan dari Jeno seakan diterima langsung oleh Jaemin, membuat tubuhnya bergetar. "Kau bahkan melupakan itu, dan mengundang orang lain seenaknya. Sepertinya aku perlu menghukummu." Ujar Jeno sambil mendorong Jaemin keatas sofa kemudian mengambil sesuatu di dalam box kemarin. "Awalnya aku berniat membiarkanmu tidur tenang malam ini karena melihatmu kelelahan tadi, tapi jangan salahkan aku. Kau memaksaku melakukan ini." Lanjut Jeno, ia membuka paksa celana Jaemin kemudian memukulnya beberapa kali. Jaemin meringis, ia bahkan tak bisa melawan dengan Jeno yang seperti ini. Jeno saat ini sangat menyeramkan. "Sampai tugas itu selesai, kau akan memakai ini di dalammu." Jeno pun memasukkan dildo ukuran sedang kedalam lubang Jaemin, membuatnya melenguh. "Berdoalah, agar mereka tidak ada yang melanggar batas selama disini. Setiap mereka melanggar batasanku, getaran benda ini akan terus meningkat." Ucap Jeno, matanya masih memandang Jaemin sinis.    *** TO BE CONTINUED..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN