7 - Orientasi

1100 Kata
Seperti pada umumnya hari pertama orientasi adalah hari yang dipenuhi perkenalan, dari kepala sekolah, guru, senior dan juga teman. Selama semua kegiatan formal di aula, Jaemin dan Jeno duduk berdampingan. Bukan karena apa, tapi memang mereka hanya mengenal satu sama lain. Secara bertahap, hubungan mereka mulai lebih natural dibanding sebelumnya yang hanya berkisar antara master and slave. Jaemin juga mulai melihat Jeno sebagai orang yang mudah diajak bicara sebenarnya. Memang pada umumnya orang-orang akan membuat batas bagi orang baru namun secara perlahan sering kali first impression itu akan berubah seiring waktu. Banyak hal yang tidak diketahui oleh Jaemin saat penjelasan mengenai hal-hal di sekolah oleh guru maupun senior, jadi tempat bertanya nya hanya Jeno yang entah kenapa bisa menjelaskan lebih simple dan jelas dibanding mereka. Setelah itu, barulah pembagian kelompok selama orientasi. Dan tidak disangka mereka masih satu kelompok, Jeno tersenyum miring melihat ekspresi Jaemin yang seakan enggan sekelompok dengannya. "Ini akan membosankan untuk terus bertemu denganmu. Aku ingin banyak teman baru." Keluh Jaemin pada Jeno. "Di kelompok kan banyak orang, kau bisa berteman dengan mereka. Lagi pula justru ini lebih baik, jadi seandainya ada tugas kelompok kita lebih mudah membuatnya bersama di kamar." Jelas Jeno, seakan tak peduli. "Apa akan ada tugas kelompok? Tugas seperti apa? Kenapa kau begitu banyak tahu?" Tanya Jaemin beruntun menuntut penjelasan. "Aku tidak sepertimu yang masuk tanpa informasi." Jawab Jeno sambil menjentik kepala Jaemin. Membuat Jaemin meringis sedikit, sungguh jentikannya cukup keras di dahinya. "Wait, kenapa aku merasa kau seakan menantikan mengerjakan tugas di kamar?" Selidik Jaemin, menatap Jeno merasa ganjil. Jeno mengangkat alis dan mengedik kedua bahunya. "Tentu saja, karena kau bisa menghiburku meski tugas banyak nanti." Ujar Jeno, sambil meletakkan tangannya diatas s**********n Jaemin dan sengaja menekannya. "Dasar, hormonmu terlalu berlebihan. Sialan" Ucap Jaemin sambil menutup tangan Jeno di selangkangannya, akan sangat memalukan jika ada orang lain yang menyadari itu. "Oh? Kau menyembunyikan, bukan menyingkirkannya? Sudah kuduga, kau memang ingin untuk bermain di depan banyak orang kan?" Bisik Jeno makin mendekatkan tubuhnya pada Jaemin dan mulai mengurut pelan little Jaemin di bawah sana. Jaemin tak menjawab, namun ia bisa merasakan seluruh wajahnya panas. Ia yakin sekarang wajahnya akan sangat merah. Jeno tersenyum dalam melihat pria mungil ini begitu menggemaskan. Senyum Jeno membuat dimple nya tercetak jelas, dan hal itu makin membuatnya. 'Apa-apaan senyum itu. Apa tidak ada yang pernah memberitahunya kalau senyum itu bisa membuat orang melakukan kriminal untuk itu? ' Batin Jaemin. Jeno menghentikan permainannya dan merangkul Jaemin seakan mereka teman akrab. Ia ingin tertawa melihat wajah Jaemin yang begitu menggemaskan tadi. *** Kelompok orientasi mereka, adalah kelompok 7, dan senior pembimbingnya adalah Lee Mark dengan anggota Jeno, Jaemin, Renjun, Haechan, Jisung dan Chenle. "Baiklah, aku adalah pembimbing kalian selama kegiatan ini. Namaku, Lee Mark asal Canada." Ujar Mark pertama kali setelah mereka berkumpul. "Lee Jeno, Korea." "Huang Renjun, China." "Lee Haechan, Korea." "Na Jaemin, Korea." "Zhong Chenle, China." "Park Jisung, Korea." "What The.. aku tidak menyangka adik bimbinganku ada yang dari luar negeri. Tapi lebih tidak menyangka lagi jika kelompok ini terdiri dari visual semua." Ujar Mark bangga. Ucapan Mark yang menyebut mereka visual dijawab oleh kekehan dari pada junior. Tidak salah ia bilang begitu, buktinya sudah banyak mata dari tadi yang menatap mereka. "Oh, aku termasuk senior yang easy-going. Kalian tidak perlu terlalu formal bersamaku." Lanjut Mark yang diangguki oleh semuanya kecuali Haechan. "Kalau begitu, apa aku bisa mengajakmu makan malam bersama malam ini?" Ujar Haechan dengan nada menggoda. Semua mata tertuju pada Haechan dan Mark bergantian. 'Gercep juga ni anak.' Batin Jeno. "Ah, aku takut malam ini semua anak baru akan makan malam bersama selama kegiatan." Jawab Mark kikuk, ia tak menyangka akan ada junior yang sefrontal ini. "Kalau begitu setelah kegiatan orientasi, gimana?" Desak Haechan. Kini semua mata tertuju pada Mark, apa ia masih akan menolak. "Baiklah, baiklah. Aku akan mengajak kalian makan malam setelah orientasi." Jawab Mark mati kutu ditatapi 6 anak ini. "He? Kenapa mengajak kami? Yang ngajak kan Haechan." Tukas Jaemin yang membuat yang lain senyum miring, mengerti apa yang harus dilakukan. "Betul, aku mengajakmu untuk makan malam berdua." Haechan makin mendesak. "Hyung, jangan gunakan kami sebagai alasan." Ujar Renjun sambil menatap datar. "Kalau mau nolak, tolak seperti laki. Jangan menghindar seperti pengecut." Bantu Jisung kemudian diangguki oleh Chenle yang masih belum masih korea jadi hanya bisa bantu angguk. "Ahaha, baiklah baiklah. Setelah orientasi." Jawab Mark kemudian menyerah didesak 6 junior mengerikan ini. Membuat Haechan tersenyum puas kemudian high five dengan timnya yang terkekeh puas dengan jawab Mark. 'Mereka lebih muda, tapi sangat menyeramkan. Apa mereka bahkan sudah kenal satu sama lain, hingga kerja samanya seperti ini." Batin Mark sambil tersenyum paksa. "Oh juga, ini tugas pertama kalian. Hapalkan lagu mars dan hymne sekolah, juga jangan lupa karena besok kegiatan outdoor jadi menggunakan seragam olahraga." Lanjut Mark mengalihkan topik. *** Jeno dan Jaemin sudah kembali ke kamar. Kini mereka berdua duduk di sofa sambil menghafal tugas mereka. Jaemin menghela nafas, ia kemudian merebahkan diri diatas paha Jeno. "Baru hari pertama tapi sudah melelahkan. Ditambah kejadian tadi malam, Jeno-ya aku capek." Keluh Jaemin. Jeno yang masih fokus dengan lembarannya, hanya mengusap rambut dan kepala Jaemin. Ia kemudian tersenyum dan melanjutkan menghafal. Sungguh Jaemin tidak pernah tenang selama menghafal. Jeno yang merasa terganggu meletakkan kertas hafalannya. "Apa yang kau mau?" Tanya Jeno sekarang. "Oh? Tidak ada. Hanya saja ini sulit sekali menghafalnya." Ujar Jaemin polos. "Kau mau kubantu menghafal?" Tanya Jeno yang diangguki oleh Jaemin. Jeno pun membalik tubuh Jaemin membuatnya tengkurap di pahanya. Kemudian ia menurunkan celana Jaemin dan mulai memainkan jarinya disana. "Hey, apa yang kau lakukan? Kau pikir.... Aaakkh.. Aahh.. Bagaimana aku menghafal seperti ini?" Ujar Jaemin diselingi desahannya. "Sekarang lakukan hafalanmu. Sebelum kau hafal aku tidak akan berhenti." Ujar Jeno sambil mengambil hafalannya. Jaemin akhirnya terpaksa kembali menghafal. Sensasi di lubangnya terasa tak berhenti, ia harus cepat menghafal mars dan hymne ini. Ia menatap Jeno yang bahkan tak berhenti sedikit pun jarinya sedangkan ia bisa menghafal dengan santai. Beberapa saat kemudian.. Jeno sudah selesai, ia pun hanya fokus memainkan lubang Jaemin sambil menambah sentuhannya di niple Jaemin. "Hey, aku sudah hafal." Gerutu Jaemin, ia tak tahan lagi. Ia ingin klimaks tapi Jeno tak membiarkan, ia selalu menghentikan jarinya setiap ia sudah dekat. "Sudah? Kalau begitu ini hadiahmu." Ujar Jeno sambil memporak-porandakan lubang Jaemin dengan jarinya. Karena memang sudah sensitif sejak tadi, akhirnya Jaemin klimaks dengan cepat. "Sekarang tidurlah. Besok kumpul cukup pagi dan kegiatannya akan melelahkan." Ujarnya sambil membiarkan Jaemin istirahat di sofa. Dalam Hati ia mengumpat pada Jeno, bagaimana mungkin ia bisa seperti ini jika tiap hari anak itu menggebor lubangnya. Membayangkan satu tahun masih terlalu lama. *** TO BE CONTINUED..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN